Reincarnation Room

Reincarnation Room
Dua Faksi


__ADS_3

Siiing


Ujung pedang yang tajam jatuh menusuk tanah, menciptakan suara keras yang menggema ke sekeliling aula. Dalam sekejap, peluru-peluru yang meluncur ke arah Ryan membeku dan jatuh ke tanah.


Hal ini membuat banyak anggota IU di lantai dua terkejut.


Ryan melihat ke arah Jeanne yang telah berdiri membelakanginya di depan. Jeanne tampak masih mengenakan baju zirah ringan sambil menggenggam erat-erat pedangnya yang menancap di lantai aula.


"Inilah adalah waktunya kita bergerak!" ucap Jeanne dengan lantang.


Seketika itu juga, sebagian anggota IU di lantai dua tiba-tiba berbalik dan mengarahkan senjatanya ke rekan sesama anggota IU lainnya.


“Jeanne!"


"Sial, kenapa dia memilih melakukannya di saat seperti ini?!”


Sebagian anggota IU yang menjadi sasaran senjata ini menunjukkan ekspresi kesal di wajah mereka. Mereka akhirnya juga berbalik mengarahkan senjatanya ke arah teman mereka sendiri.


Dalam sekejap, seluruh anggota IU benar-benar terpecah menjadi dua kelompok dan memulai konfrontasi.


"Ini …" Ryan benar-benar bingung dengan semua ini. "Apa yang sedang terjadi? Mengapa mereka saling bertempur satu sama lainnya?"


Saat Ryan menyuarakan kebingungannya, sebuah suara indah menyahut pertanyaannya. “Tenanglah … lambat laun, situasi seperti ini pasti akan terjadi juga.”


Orang yang menjawab pertanyaan ini ternyata adalah Tohyama Kana. Di saat yang sama, Kana langsung melompat dari lantai dua dan pergi ke samping Ryan.


Bersama dengan Kana, Kinji juga mengikuti jejak kakaknya dna berdiri di samping Ryan.


“Apakah sudah waktunya?” Tohyama Kinji memegang pistol Beretta di tangannya dan berkata dengan nada tidak berdaya. "Ini benar-benar seperti yang kamu katakan, Kana."


“Maaf, Kinji, aku telah melibatkanmu juga.” Kana dengan lembut menyentuh kepala Kinji. Ia lalu menoleh ke arah Ryan, dan berkata dengan lembut. “Karena waktunya sudah matang, sekarang saatnya untuk memasuki tahap terakhir.”


“Tahap terakhir?” Ryan mengerutkan kening dan bertanya, “Apa yang kamu bicarakan?”


“Apa Mine Riko tidak menjelaskannya dalam informasi yang dia berikan padamu?” Kana kemudian memberi Ryan petunjuk. “Di IU, ada dua faksi dengan tujuan yang berbeda..”


Mendengar petunjuk yang kana berikan, Ryan langsung mengerti. “Jadi begitu, ini adalah pertempuran antara faksi Daio dan faksi Ignatis.”


IU adalah organisasi yang mengabaikan seluruh hukum di dunia ini. Dan IU sendiri juga tidak memiliki aturan yang mengikat di dalam organisasi.


Anggota IU dapat melakukan apa saja sesuka hati dengan tujuan menjadi lebih kuat. Cara apa pun diperbolehkan untuk mencapai tujuan tersebut.


Dalam kondisi seperti itu, IU terus merekrut banyak orang dengan berbagai latar belakang dan sifat yang berbeda-beda, termasuk pelaku kriminal.


Pada akhirnya, tercipta dua faksi di dalam organisasi IU. Faksi tersebut adalah Daio dan Ignatis.


Filosofi faksi Daio adalah terus berlatih dan meningkatkan kekuatan. Mereka tidak peduli dengan segala sesuatu diluar itu.


Sementara itu, filosofi faksi Ignatis adalah menciptakan sebuah pasukan tempur yang lebih kuat dari negara manapun. Dengan pasukan ini, mereka berharap dapat menaklukan dunia, menebar benih perang di seluruh dunia, dan juga melakukan pembunuhan massal.


Tidak diragukan lagi, kedua faksi itu jelas memiliki filosofi yang berbeda.


Hanya saja, selama ini pertikaian di antara kedua faksi tidak terjadi karena Sherlock Holmes, yang menjadi Pemimpin IU adalah anggota faksi Daio. Maka dari itu, Sherlock dapat meredam pertikaian ini.


“Hari ini, nyawa tuan Sherlock hampir mencapai batasnya. Maka dari itu, IU akan memasuki periode perubahan." Tohyama Kana berkata kepada Ryan, "Dalam kondisi seperti itu, kontradiksi di antara Daio dan Ignatis tidak dapat dihindari lagi."


"Selama ini, orang-orang faksi Ignatis selalu menonton dan menunggu Sherlock mati. Setelah Sherlock mati, mereka akan segera mulai memperebutkan tahta kepemimpinan IU!” 


Kinji tampaknya telah mempelajari keseluruhan cerita dari mulut Kana. Dia juga ikut berbicara kepada Ryan. “Faksi Daio ingin memilih seorang pemimpin yang dapat mewarisi posisi Sherlock. Dan orang itu harus memiliki filosofi yang sama dengan faksi Daio.”


Mendengar ucapan Kinji, Ryan menyadari sesuatu. “Aria dipilih oleh faksi Daio untuk memimpin IU?"

__ADS_1


‘Jadi begitu, inilah alasan Kana ingin membunuh Aria.’ batin Ryan.


Keluarga Tohyama adalah keluarga yang menjunjung tinggi keadilan. Maka dari itu, Kana menyusup ke dalam IU dan berpura-pura bergabung. Ia lalu berusaha mencari waktu yang tepat untuk menghancurkan IU.


Kematian Sherlock adalah sebuah kesempatan.


Setelah Sherlock mati, perselisihan di antara Faksi Daio dan Ignatis tak terelakkan lagi. IU akan pecah dan terjadi perang saudara. Dengan pecahnya perang ini, maka Kana memiliki kesempatan untuk menghancurkan IU.


Akan tetapi, jika Aria mewarisi posisi pemimpin IU, maka konflik kedua belah pihak bisa jadi tidak meletus. Tentu saja hal ini membuat Kana tidak dapat menghancurkan IU.


Untuk mencapai tujuannya, Kana menemui Kinji dan mengajaknya bergabung dalam misi menghancurkan IU.


"Weapon Wizard …" Jeanne melirik ke arah Ryan dan berkata, "Aku adalah anggota faksi Daio. Jadi aku berniat menjadikan Aria sebagai pemimpin IU, dan menghancurkan ambisi Ignatis."


"Tuan Sherlock pernah berkata, meskipun Aria menjadi pimpin IU, ia tidak cukup kuat untuk menekan kekuatan orang-orang yang ada di sini. Faksi Ignatis juga tidak akan pernah berhenti dan terus berusaha merampas kepemimpinan IU."


"Untuk menghindari situasi seperti itu, kata Tuan Sherlock, kehadiranmu sangatlah penting."


"Maka dari itu, sebelumnya aku pernah berkata, bahwa Aria tidak seharusnya datang kemari. Karena sekali dia kemari, dia tidak akan pernah bisa kembali."


"Faksi Ignatis ingin menyingkirkan Aria dan menjadi pemimpin IU. Tentu saja, mereka juga ingin menyingkirkanmu." Jeanne menoleh ke Ryan dan dengan tegas membuka mulutnya.


"Faksi Daio tidak akan membiarkanmu mati di sini, jadi kamu bisa pergi ke tempat Tuan Sherlock dan bertarung dengannya. Sementara itu, kami akan menghalangi Faksi Ignatis di sini."


Kana tersenyum dan berkata kepada Kinji, "Kinji, pergilah dengan temanmu."


Kinji mengangguk berat menatap Ryan.


Ryan terdiam beberapa saat. Setelah itu, dia langsung berlari ke arah pintu yang digunakan Sherlock.


Melihat Ryan pergi, Kinji segera mengikutinya.


Di lorong remang-remang, Ryan dan Kinji berlari lurus ke depan.


Saat sedang berlari, Kinji membuka mulutnya. "Ryan …"


"Kamu tidak perlu mengatakan apa-apa." Ryan menghela nafas dan berkata, "Sekarang, aku sudah mengerti mengapa kamu menahanku saat itu."


"Maaf …" Kinji dengan sungguh-sungguh meminta maaf.


"Saat Kakakku tiba-tiba muncul di depanku dan menceritakan semuanya, aku menjadi ragu." 


"Walau aku tahu bahwa semua yang dilakukan Kakak adalah untuk keadilan, tapi tetap saja mengorbankan Kanzaki-san untuk keadilan adalah sesuatu yang tidak benar."


"Tapi untuk melenyapkan IU, membunuh Aria juga merupakan jalan pintas, kan?” Ryan menyeringai. "Mengapa Kana tidak membunuh Aria sejak awal?"


"Kakak sebenarnya tidak ingin membunuh Kanzaki-san." Kinji menggelengkan kepalanya. "Jadi, Kakak akan bertaruh pada dirinya sendiri dan bertaruh apakah kamu bisa datang sebelum dia membunuh Kanzaki-san."


Aria berkata bahwa saat berhadapan dengannya, Kana dengan sengaja menembak bagian perut yang bukan merupakan titik vital.


Namun, seiring berjalannya waktu, Kana secara bertahap mulai mengincar titik vital.


Alasan Kana melakukan semua ini karena ia berharap Ryan bisa datang. Jika Ryan tidak bisa datang tepat waktu, maka Kana akan membunuh Aria. Tapi jika Ryan datang sebelum Kana membunuh Aria, maka Kana akan menyerah.


"Kakak tahu bahwa IU adalah organisasi yang mengerikan. Jika kita ingin memisahkan IU, kita harus menyingkirkan pemimpin yang menahan mereka." 


Kinji menjelaskan rencana Kana, "Dengan cara ini, Kakak hanya memiliki dua pilihan. Salah satunya melenyapkan Aria saat Sherlock mati. Membiarkan puncak kepemimpinan IU vakum."


"Dan satunya lagi adalah dengan langsung membunuh pemimpin IU saat ini, Sherlock Holmes. Setelah membunuhnya, kita harus membawa kabur Aria dari tempat ini. Dengan begitu, perang saudara ini akan menghancurkan IU."


Memang mudah mengatakannya. Akan tetapi, Sherlock sangat kuat 

__ADS_1


Meskipun Ryan baru menyerangnya sekali, Ryan dapat merasakan kekuatan Sherlock. Ia dengan mudahnya menangkap tangan Ryan yang serius ingin membunuhnya.


Walau saat itu Ryan tidak menggunakan Teknik Membunuh Nanaya dan Stigma, tapi tetap saja itu tidak menampik betapa kuatnya Sherlock.


Detektif terkenal dari Inggris ini tidak hanya kuat dengan kemampuan deduksi penalaran, tetapi juga menguasai banyak teknik bertarung.


Teknik Senjata, Seni Bela Diri, dan Teknik Pedang, semuanya merupakan teknik yang dikuasai dengan baik oleh Sherlock.


Ini semua adalah informasi yang bisa didapatkan dari buku pelajaran Butei. Namun, setelah lebih dari 100 tahun, dan Sherlock terus menyerap berbagai Kemampuan Khusus di IU, tentu Sherlock yang sekarang jauh lebih kuat dari yang dulu.


Jadi, meskipun Kana lebih kuat dari Kinji, tapi dia bukanlah lawan Sherlock.


Justru karena hal ini, Kana mencoba opsi pertama, yaitu membunuh Aria.


"Alasan Kakak langsung menyerah dan pergi ketika kamu tiba, adalah karena Kakak ingin bertaruh padamu, untuk mengalahkan Sherlock." ucap Kinji.


"Jadi begitu …" gumam Ryan. Kini, akhirnya semua misteri telah terpecahkan.


Walau begitu, Ryan merasa masih ada yang mengganjal. Seakan ia masih belum menemukan satu kepingan puzzle yang hilang.


Dengan perasaan seperti itu, Ryan terus berlari ke depan hingga akhirnya, ia melihat sebuah pintu keluar di ujung lorong.


Melihat pintu keluar yang tampak terang itu, Ryan dan Kinji berhenti.


Setelah beberapa saat, Kinji berinisiatif untuk angkat bicara.


"Aku akan tetap di sini. Jika ada yang datang, baik itu faksi Ignatis ataupun Daio, aku akan menghentikan mereka."


Dengan kata lain, Kinji bermaksud untuk menyerahkan urusan membunuh Sherlock pada Ryan.


Ini adalah pilihan yang bijak. Sebab, kini Kinji sedang dalam mode sampah. Tanpa Hysteria Savant Syndrom, Kinji hanyalah manusia biasa.


Jika ia membantu Ryan bertarung dengan Sherlock, Kinji hanya akan menjadi beban.


Memikirkan semua ini, Ryan hanya tersenyum. "Aku nggak peduli apa tujuanmu. Tapi, jika kamu mati di sini, aku nggak akan menangisinya."


"Aku juga tidak akan menangisi kuburanmu kok kalau kamu mati." Walau Kinji berkata seperti itu, tapi wajahnya penuh dengan senyuman.


Tak lama kemudian, suara Kinji terdengar pelan. "Jangan mati."


Mendengar ini, Ryan juga tidak bisa menahan tawa dan mengatakan hal seperti ini. "Aku akan mencobanya …"


Meninggalkan pernyataan ini, Ryan segera keluar dari lorong tersebut di bawah tatapan Kinji.


~***~


Saat Ryan keluar dari lorong, sebuah aula yang luas hadir menyambutnya.


Berbeda dengan aula sebelumnya, aula ini tampak seperti ruang audiensi raja. Tidak hanya mewah, tapi suasananya juga terlihat megah.


Di depan aula seperti itu, Detektif paling terkenal di dunia kembali menghadap Ryan.


"Era baru selalu dipimpin oleh anak muda."


"Dan aku, hanya orang tua yang akan mendekati ajalnya."


"Orang tua sepertiku memang harus menghilang."


"Biarkan aku mengobarkan api pertama di era baru ini."


"Sebagai gantinya, silahkan ambil nyawaku, itupun kalau kamu memang bisa mengambilnya …"

__ADS_1


__ADS_2