
Akhirnya, hari di mana operasi penyerangan Aragami pun tiba. Kondisi langit saat ini sangat mendung dan gelap, seakan langit tahu bahwa hari ini adalah hari yang sangat berat.
Di sebuah lapangan terbuka, tepat di depan pintu gerbang dinding cabang Rusia, telah berkumpul banyak tentara. Tidak hanya tentara, namun juga para God Eater yang ikut dalam misi penyerangan ini juga berkumpul di sana. Barisan Helikopter terlihat berjejer dan siap untuk mengangkut mereka semua.
Satu persatu, mesin Helikopter mulai dinyalakan. Lindow, Soma, dan Sakuya pun bersiap menaiki salah satu Helikopter tersebut.
“Kapten Amamiya, Sakuya-san, Soma-san, tolong berhati-hatilah …” ucap Hibari dengan penuh kekhawatiran. Karena posisi Hibari sebagai seorang Operator, ia tidak ikut maju ke garis depan.
Kekhawatiran Hibari pada trio God Eater memang sangat wajar. Bagaimana tidak, misi yang cabang Rusia berikan pada Lindow, Soma, dan Sakuya adalah membunuh Venus. Sedangkan God Eater lainnya hanya melawan pasukan Aragami yang dipimpin Venus.
"Walau kita berhati-hati, tetap saja ini misi yang berbahaya. Kalau memang sudah nasib kita mati, mau bagaimana lagi ..." Lindow mengangkat bahunya, dengan ekspresi sedikit pasrah. "Yang perlu aku tekankan di sini, siapa yang membuat kita menerima tugas berbahaya seperti ini?"
“Itu benar. Siapa di antara para petinggi cabang Rusia yang bertanggung jawab atas hal gila ini? Aku benar-benar tidak percaya, kalau mereka akan mempercayakan misi seperti ini pada kita, yang merupakan unit bantuan dari cabang Timur Jauh.” gumam Sakuya
Soma tidak berkomentar apa-apa, ia hanya diam dan memegang God Arc-nya dengan erat.
"Terlepas dari jebakan licik cabang Rusia, memang sudah seharusnya ada God Eater yang menghentikan Venus. Semua masalah yang terjadi ini bersumber dari Venus. Jadi kalau kita ingin keluar dari krisis ini, satu-satunya jalan adalah membunuh Venus." Lindow mencoba mengambil sisi positifnya.
Dengan nada sedikit depresi, Ryan menyahut pembicaraan mereka. "Bisa atau tidaknya Unit Pertama cabang Timur Jauh melawan Venus, cabang Rusia sepertinya nggak akan peduli. Terlebih lagi, Kapten Amamiya, Soma, dan Sakuya bukanlah God Eater cabang Rusia. Kalau kalian mati, maka cabang Rusia tidak akan kehilangan apa-apa. Kita benar-benar digunakan sebagai alat yang mudah untuk dibuang."
Sakuya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ekspresi tak berdaya. “Bagaimanapun juga, ini adalah misi yang diberikan pada kita. Jadi mau tidak mau, kita harus menyelesaikannya.”
“Itu benar. Lagi pula, tidak hanya kami yang maju ke garis depan. Misi kami hanya mengalahkan Venus, sedangkan Aragami lainnya, akan dikalahkan oleh God Eater cabang Rusia.” ucap Lindow. Ia kemudian memegang God Arc-nya dan menaiki Helikopternya.
"Aku akan terus memberikan informasi terbaru kepada kalian semua." Hibari berkata dengan cepat. "Kalian semua sangat kuat. Aku yakin kalian pasti bisa melewati semua ini dan kembali hidup-hidup!"
Mendengar ini semua, ketiga God Eater itu pun tersenyum.
“Haah~ tidak hanya kalian bertiga yang diberikan misi berbahaya seperti ini. Aku juga harus maju ke garis depan untuk memasang ranjau. Selain Hibari, kita semua hanyalah alat.” keluh Ryan.
Dengan nada bercanda, Lindow menanggapi keluhan Ryan. “Kalau kamu takut, masih belum terlambat untuk melarikan diri sekarang.”
“Hahahahaha … Kapten pasti tahu sendiri bahwa aku nggak akan semudah itu mundur.”
‘Apalagi ini adalah kesempatanku untuk menyelesaikan Misi Pertama dan Kedua dari Reincarnation Room.’ ucap Ryan dalam hati.
Lindow tersenyum mendengar ucapan Ryan. “Kalau begitu, aku punya tiga perintah untukmu.”
“Jangan mati!”
“Ketika kamu dalam keadaan terancam, larilah!”
“Setelah itu, bersembunyilah!”
“Jika ada kesempatan, bunuh semua musuhmu!”
__ADS_1
Setelah mengucapkan kata-kata ini, Lindow melambaikan tangannya dan segera menutup pintu Helikopternya.
Melihat kepergian mereka, Ryan hanya bisa menghela nafas panjang. “ Itu jelas-jelas empat perintah, Kapten …”
Setelah itu, kini hanya ada Ryan dan Hibari di sana.
“Ryan …” Hibari menatap Ryan dengan penuh kesedihan. “Kembalilah hidup-hidup …”
“Aku berjanji akan kembali ke sisimu, Hibari.”
Rian membelai rambut Hibari dengan penuh kehangatan. Perlahan, Wajah mereka semakin dekat, dan akhirnya mereka pun berciuman.
Selama 5 menit penuh, mereka saling berpagutan di depan banyak tentara Rusia tanpa ada rasa malu. Ketakutan Hibari akan kehilangan Ryan telah menghapus rasa malu tersebut.
“Tunggulah aku, Hibari.”
kemudian Ryan segera bergegas masuk ke dalam Helikopter tim pertama.
"Aku akan selalu menunggumu, Ryan …" ucap Hibari sambil melihat Helikopter Ryan lepas landas.
Dalam misi ini, Rusia membagi para tentara menjadi 24 tim. Ryan berada pada tim pertama bukanlah sebuah kebetulan.
Posisi tim pertama berada paling dekat dengan medan pertempuran. Dengan melihat misi berbahaya yang diberikan cabang Rusia pada Unit Pertama Lindow, sudah sewajarnya Ryan juga mendapat perlakuan yang sama.
Satu persatu, pintu Helikopter terbuka. Para tentara pun mulai turun dari Helikopter sambil membawa sebuah kotak besar dan juga senapan.
Ketika 24 tim telah keluar dari Helikopter dan berbaris rapi, pintu helikopter terakhir terbuka.
Orang yang turun dari Helikopter itu bukan lagi seorang tentara biasa yang mengenakan seragam, melainkan seorang wanita muda dengan pakaian kasual seksi dan gelang besar di pergelangan tangannya. Terlihat sebuah pedang besar berwarna merah di tangannya.
'Jadi itu God Arc Tipe Baru (New-Type) milik Alisa?' gumam Ryan.
Walau God Arc yang Alisa pegang saat ini berbentuk pedang, tapi jika dibutuhkan, God Arc tersebut dapat bertransformasi menjadi senapan.
Di belakang Alisa, mulai turun beberapa God Eater pemula yang bertugas menjaga tim penanam ranjau dari serangan Aragami.
"Alisa, misi kita kali sangatlah mudah. Jadi kamu hanya perlu diam dan melihat." ucap salah satu God Eater pemula. Mendengar ia bicara, para God Eater pemula lainnya pun ikut-ikutan berbicara pada Alisa.
"Berdasarkan perhitungan, kemungkinan Aragami menyerang tempat ini sekarang hanya 20%."
"Kita hanya perlu berada di sini 4 sampai 5 jam saja. Setelah mereka semua selesai menanam ranjau, kita akan segera kembali."
"Santai saja Alisa, sangat kecil kemungkinan Aragami menyerang kita."
__ADS_1
Para God Eater pemula itu mulai tersenyum santai.
Melihat penampilan para pemula ini, hati para tentara yang telah berbaris rapi sejak tadi mulai tumbuh rasa jijik.
Dalam situasi ini, Alisa menoleh ke arah para God Eater. Alisa dapat melihat mereka semua tersenyum tanpa beban dan menganggap remeh misi ini. Melihat semua ini, wajah Alisa masih saja terlihat cuek dan dingin.
"Jangan samakan aku dengan kalian." ucap Alisa dengan nada yang datar, namun keras.
Setelah itu, Alisa menghadap para tentara yang sejak tadi berbaris menunggu perintah. "Semuanya, mulai bekerja!"
"Siap!"
Mendapat perintah dari Alisa, semua tentara langsung bergegas menuju lokasi yang telah ditentukan.
Setiap tim, memiliki wilayah tersendiri yang harus ditanami ranjau. Begitu juga dengan tim 1, mereka mendapat wilayah tanam yang paling dekat dengan medan pertempuran.
Di saat yang sama, para God Eater mulai menggerutu pada ucapan Alisa.
"Sial!"
"Apa-apaan dengan sikapnya itu!"
"Jangan mentang-mentang kamu Tipe Baru (New-Type) ya, sudah berani sombong kayak gitu."
"Jika bukan karena wajahmu yang cantik, aku tidak akan bicara padamu …"
Para God Eater Pemula itu benar-benar marah dengan sikap Alisa. Mereka tak henti-hentinya mencemooh Alisa.
Alisa sendiri tidak peduli dengan mereka semua. Ia kemudian mengangkat God Arc miliknya dan menggeser stang yang ada pada pedangnya dengan keras.
Klik
Dalam sekejap, pedang Alisa bertransformasi menjadi sebuah senapan mesin.
Melihat kejadian ini, para God Eater Pemula itu langsung menutup mulut mereka.
Dari kejauhan, Ryan melihat semua yang terjadi dengan Alisa.
"Menarik sekali …" senyum Ryan. Ia kemudian berjongkok, dan mulai menanam ranjau.
Tanpa Ryan sadari, dari kejauhan, Alisa juga melihat ke arah Ryan yan sedang menanam ranjau.
Mengingat kekalahannya yang sangat memalukan pada malam itu, Alisa menggenggam God Arc miliknya dengan erat.
__ADS_1