
Ketika suara ini muncul, Ryan dan Kinji berhenti secara bersamaan dan berbalik untuk melihat ke belakang.
Seketika itu, Ryan dan Kinji tertegun melihat sosok orang yang ada di sana.
Di belakang mereka, berdiri seorang gadis muda yang juga memakai seragam SMA Butei. Kulitnya sangat indah seperti salju. Rambutnya pun hitam lurus panjang, bagaikan air terjun, menggantung rapi dan lentur di belakangnya.
Di kepalanya, terdapat pita putih yang lucu. Dia benar-benar seperti seorang gadis cantik yang keluar dari lukisan.
Hanya saja, saat ini, wajah gadis itu terlihat seperti sedang resah dan ragu.
'Bukankah orang ini adalah gadis muda yang dikejar sekelompok preman tadi? Berdasarkan plot, dia adalah salah satu anggota harem kinji, seorang gadis miko.' pikir Ryan.
Mendengar gadis itu menyebutkan namanya, Kinji menatap gadis itu dengan tatapan penuh kecurigaan. Ia secara tidak sadar mundur selangkah dengan ekspresi takut di wajahnya.
Kinji takut Hysteria Savant Syndrom miliknya akan terpicu dengan kehadiran gadis cantik berdada besar di depannya.
Kinji dengan hati-hati bertanya pada gadis itu. "Aku Tohyama Kinji. Kalau boleh tahu, ada perlu apa ya denganku?"
Agar tidak masuk ke mode Hysteria Savant Syndrom, Kinji menatap mata gadis itu dengan penuh kewaspadaan.
Hal ini sepertinya membuat gadis itu panik dan mulai terus berteriak pada Kinji. "Maafkan aku!"
"Aku tahu aku yang salah! Tidak seharusnya aku bertemu dengan Anda secara mendadak! Seharusnya saya juga membawa bingkisan untuk Anda, maafkan aku!" Gadis itu membungkukkan badannya untuk meminta maaf pada Kinji.
Tohyama Kinji merasa malu atas perbuatannya pada gadis itu. "Sudah sudah, kamu tidak perlu membungkuk lagi!"
"Ini masih di depan gerbang sekolah! Nanti akan timbul kesalahpahaman jika kamu bersikap seperti ini."
Tapi semua itu sudah terlambat. Banyak murid yang telah melihat kejadian ini.
"Si pecinta sesama jenis itu berulah lagi."
"Sepertinya gadis itu menyatakan cintanya pada si pecinta sesama jenis. Tapi dia ditolak mentah-mentah."
"Iya, lihat saja tatapan mata pria itu, terlihat sekali dia jijik dan ingin segera pergi dari sana."
"Wajar saja dia jijik, dia kan doyan laki-laki. Padahal gadis itu sangat cantik."
Telinga Kinji sedikit merah mendengar semua ini. Ia pun segera mengalihkan perhatiannya. "Jadi, ada perlu apa kamu mencariku?"
__ADS_1
Gadis itu kemudian memperkenalkan dirinya. "Namaku Hotogi Shirayuki. Aku berasal dari kuil Hotogi di pinggiran Aomori."
"Hotogi Shirayuki?" Kinji mencoba mengingatnya sambil kembali melihat wajah gadis itu.
"Selamat siang Hotogi-san, kita berjumpa lagi." sapa Ryan dengan senyum hangatnya.
Mendengar sapaan Ryan, Shirayuki mengarahkan pandangannya pada Ryan. Beberapa saat kemudian, ia terkejut dan berkata, "Bukankah kamu murid yang menyelamatkanku pagi ini?"
Ryan menganggukkan kepalanya. "Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan.”
“Terima kasih banyak! Terima kasih banyak! Terima Kasih banyak!” Shirayuki terus membungkukkan badannya berkali-kali pada Ryan.
Melihat ketulusan Shirayuki, Ryan meletakkan telapak tangan kanannya pada dadanya sendiri dan berkata dengan nada yang lembut, “Kamu nggak perlu berterima kasih sampai seperti itu padaku, Hotogi-san …”
“Melihat gadis cantik sepertimu nggak terluka sedikitpun, itu sudah cukup bagiku,”
“Ga-gadis cantik?” Shirayuki tertegun mendapat pujian dari Ryan. Ia lalu sedikit tersenyum sambil memegang pipinya.
“Itu benar Hotogi-san. Malah seharusnya, akulah yang berterima kasih padamu.”
“Be-berterima kasih?”
Wajah Shirayuki langsung memerah. Bahkan muncul asap putih dari kepalanya.
Dari samping, Kinji melihat semua ini dengan perasaan canggung. ‘Kata-kata dan sikap ini … bukankah ini mirip denganku saat masuk ke mode Hysteria Savant Syndrom?!’
Saat Shirayuki masih dalam keadaan malu, ia secara tidak sengaja melihat punggung tangan Ryan. Lebih tepatnya, ia samar-samar melihat sebuah tato putih berbentuk bintang David di sana. Butuh kejelian ekstra untuk bisa melihat tato Stigma ini.
Seketika itu, ekspresi Shirayuki pun berubah menjadi serius dan berbisik, “Apakah itu dia?”
Suara ini sangat kecil, sehingga Ryan tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Ia kemudian bertanya kepada Shirayuki: "Kamu bilang apa?"
"Tidak, tidak ada apa-apa kok." Dengan cepat, Shirayuki langsung kembali bersikap seperti sedia kala. Namun, secara sembunyi-sembunyi, Shirayuki beberapa kali melirik ke arah simbol Stigma, seakan ia ingin mengkonfirmasi sesuatu.
Sikap aneh Shirayuki membuat Ryan bingung. 'Apakah aku salah mengucapkan sesuatu? Atau rayuanku malah membuatnya marah?'
Tidak mau terus berada dalam situasi seperti ini, Ryan berbicara pada Kinji untuk mengalihkan pembicaraan. "Tohyama-san, kenapa kamu nggak memberitahuku kalau kamu mengenal gadis cantik seperti ini?"
"Aku tidak mengenalnya. Justru sekarang ini aku baru pertama kali bertemu dengannya." jawab Kinji.
__ADS_1
"Baru pertama kali? Tapi Hotogi-san jelas sedang mencarimu tadi. Aku kira dia teman masa kecil yang terlupakan."
Karena Ryan tidak ingat hubungan Shirayuki dan Kinji, ia jadi mengira bahwa mereka berdua adalah teman masa kecil sebagaimana plot anime harem biasa terjadi.
Kali ini, Shirayuki yang menjawab pertanyaan Ryan. "Maafkan aku. Seharusnya aku menjelaskannya terlebih dahulu."
"Sebenarnya, Kuil Hotogi meminta saya untuk menyapa putra kedua Keluarga Tohyama setelah memasuki SMA Butei. Kami mendengar bahwa Tohyama Kinji juga masuk SMA Butei tahun ini."
Mendengar kata-kata Shirayuki, Kinji mengetuk telapak tangannya. "Ah!"
"Aku ingat sekarang! Kakakku juga memberitahu bahwa tahun ini, Miko Kuil Hotogi juga akan mendaftar ke SMA Butei. Dan selama masa sekolah, aku diminta untuk membantumu. Apakah yang dimaksud kakakku itu kamu?"
"Iya." Shirayuki menjawab dengan sopan. "Karena Kuil Hotogi terletak jauh di dalam pegunungan, jadi kami sangat jarang berkomunikasi dengan dunia luar."
"Kebetulan keluarga kami sangat dekat dengan keluarga Tohyama. Maka dari itu mereka memintaku untuk menyapa Anda."
“Iya, Kakak juga memberitahuku bahwa Keluarga Tohyama dan Kuil Hotogi sudah lama berhubungan dekat satu sama lainnya.”
Kinji mengerutkan kening dan berkata, "Namun, kata kakak, ketika aku masih muda, secara tiba-tiba Kuil Hotogi melarang siapapun untuk lewat ataupun keluar dari wilayahnya. Kalau boleh tahu, kenapa kalian melakukannya?
Shirayuki hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Kinji. Hanya saja, ia secara diam-diam memandangi mata Ryan.
Kali ini, Ryan menyadari tatapan mata Shirayuki. Ia dapat merasakan keseriusan dari Shirayuki.
Ini membuat Ryan merasa sedikit bingung. 'Apakah dia mewaspadaiku? Sial, aku nggak ingat tentang latar belakang Shirayuki! Aku jadi nggak tahu apa yang terjadi padanya!'
Dibanding dengan Shirayuki, Ryan merasa lebih mudah dalam menangani Mumei dan Alisa. Setidaknya ia memahami kepribadian kedua gadis tersebut.
Tapi untuk Shirayuki, Ryan benar-benar benar-benar bingung bagaimana menanganinya.
Hal ini membuat Ryan menyadari satu hal. Bahwa selama ini, Ryan terlalu mengandalkan ingatan mengenai plot anime yang sudah ia tonton.
Padahal, dunia misi tidak selalu berada pada timeline yang sama dengan plot animenya. Contohnya saja pada misi di dunia God Eater. Ryan tiba di sana satu tahun sebelum plot game dan anime dimulai.
Walau ia tiba satu tahun sebelum plot, Ryan masih tahu latar belakang para tokoh dalam game.
Namun sekarang, Ryan tidak lagi bisa memanfaatkan hal itu lagi.
'Aku nggak akan menyerah! Apapun yang terjadi, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku seperti halnya yang lain, Hotogi Shirayuki!'
__ADS_1