Reincarnation Room

Reincarnation Room
Final Phoenix Festa


__ADS_3

Pasca serangan Laminamors dan Valda-Vaoth, Ryan menghabiskan waktunya untuk beristirahat. Hal ini menyebabkan Ryan tidak sempat menemui Ayato untuk melepas segelnya.


Pada awalnya, Ryan masih agak khawatir jika Ayato akan kalah dan menyebabkan misi sampingannya gagal.


Akan tetapi, ternyata Ayato benar-benar bisa menang walau dengan banyak keterbatasan. Dia benar-benar tokoh utama dunia ini.


Kini Ayato telah resmi menjadi lawan Ryan di babak Final Phoenix Festa.     


'Aku nggak menyangka ini benar-benar terjadi. Apakah Reincarnation Room telah memprediksi semua hasil ini?'


Pada titik ini, Ryan mulai bertanya-tanya mengenai tiga misi sampingan yang diberikan Reincarnation Room. Ryan merasa misi ini bukanlah sebuah kebetulan, yang muncul akibat Ryan meremehkan Ayato sebelumnya.


Namun setelah beberapa saat berpikir, Ryan memilih untuk menyimpannya dan memikirkannya nanti. Masih banyak misteri dan keanehan dari Reincarnation Room yang membuat Ryan semakin penasaran dengan Dewa Pencipta Reincarnation Room.


'Baiklah, sekarang aku harus fokus pada pertandingan Final besok!'


Dengan pikiran seperti itu, Ryan pergi ke ruang latihan.


~***~


Phoenix Festa diselenggarakan selama dua minggu. Minggu pertama digunakan untuk babak penyisihan, sementara minggu kedua digunakan untuk babak utama.


Dengan kata lain, sudah hampir seminggu sejak pertandingan melawan Ardi dan Rimsy serta penyergapan yang dilakukan oleh Laminamors dan Valda-Vaoth.


Dalam minggu ini, selain pertandingan melawan Ardi dan Rimsy, Ryan telah menjalani tiga pertandingan lainnya. 


Namun, dalam tiga pertandingan itu, Ryan sama sekali tidak menggunakan Prananya dan hanya diam di belakang Cecily Wong, membiarkan rekannya bertarung sendirian.


Karena hal inilah, sekarang Prana Ryan telah pulih sepenuhnya. Seperti air yang mengalir, tubuh Ryan kini telah kembali dialiri Prana yang kaya.


Maka dari itu, untuk pertama kalinya dalam minggu ini, Ryan pergi ke ruang latihan untuk melakukan pemanasan.


Pertandingan final besok sangatlah penting bagi Ryan. Karena Final besok sangat mempengaruhi Misi Utama dan Misi Sampingan Ryan.


Misi Utama 1 Ryan adalah berhasil meraih minimal perempat final dalam Festa manapun, dan misi ini telah berhasil dicapai dengan mudah.


Tapi, semakin tinggi peringkatnya, semakin tinggi pula evaluasi penyelesaian misi. Maka dari itu, Ryan bertekad untuk menang. 


Selain itu, memenangkan Phoenix Festa adalah satu-satunya jalan untuk mendapatkan kembali tubuh Ursula secara baik-baik tanpa perlu berkonfrontasi lagi dengan organisasi di belakangnya.


Lalu untuk Misi Utama 2, Ryan diharuskan untuk mendapat Urm Manadyte. Misi ini dapat diselesaikan dengan Urm Manadyte Seraph. Akan tetapi jika, menyerahkan Seraph pada Reincarnation Room untuk menyelesaikan misi, maka Ryan akan kehilangan Seraph.


Ryan tentu tidak ingin kehilangan Seraph. Namun, Urm Manadyte adalah Manadyte dengan kemurnian tertinggi di dunia, plus bisa digunakan untuk membuat Orga Lux. Maka dari itu, hampir semua Urm Manadyte berada di tangan Integrated Enterprise Foundation. Itu bukan sesuatu yang bisa didapatkan dengan mudah.


Mengingat hal ini, Ryan berharap menggunakan keinginan sebagai pemenang Phoenix Festa untuk mendapatkan Urm Manadyte dan menyelesaikan Misi Utama 2.


Pada Misi Utama 3, Ryan diwajibkan mendapat 20.000 poin. Ini adalah total jumlah poin yang bisa didapatkan jika Ryan berhasil menyelesaikan ketiga Misi Sampingan.


Dengan kata lain, final besok akan sepenuhnya menentukan berhasil atau tidaknya Ryan dalam menyelesaikan Misi Utama. 


Hanya dengan menang, Ryan dapat menyelesaikan Misi Utamanya di level tertinggi dan juga menolong Sylvia.


Saat Ryan tiba di ruang latihan, Cecily Wong ternyata sudah tiba terlebih dahulu.


Ryan melihat Cecily Wong sedang duduk di lantai, memegang kuas tulis dan membuat kaligrafi di selembar kertas putih dengan ekspresi yang sangat serius.


Ryan dapat merasakan bahwa dalam setiap gerakan tulisnya, Cecily Wong menanamkan Prana-nya ke dalam kertas putih tersebut.


Kertas itu dengan halus menyerap Prana, dan kaligrafi di permukaannya mulai memancarkan sedikit cahaya, seolah-olah itu mendapatkan kekuatan.

__ADS_1


Itu adalah hal yang sangat aneh.


Karena Prana tidak seperti Mana, Prana tidak selalu bisa menyatu dalam semua benda. Hanya Manadyte atau tubuh Genestella itu sendiri yang dapat menyerap Prana dengan baik.


Senjata biasa saja tidak bisa menyerap Prana dengan sempurna, apalagi kertas biasa.


Namun, kertas yang ditulis Cecily Wong ini dapat menyerap Prana dan menyimpannya dengan baik. Lebih tepatnya, Prana tersebut disimpan bersama dengan Seisenjutusu.


"Jadi begitu …" Ryan dengan nada rendah bertanya, "Apakah Kak Cecily sedang membuat jimat?"


Cecily Wong mendengar suara Ryan, tetapi ia tidak menoleh ke arahnya. Ia sepertinya telah menyadari kedatangan Ryan sejak tadi.


Tak lama kemudian, Cecily Wong membuka mulutnya. “Strega, Dante, dan juga Daoshi memerlukan banyak konsumsi Prana untuk menggunakan Kemampuan mereka. Maka dari itu, aku perlu mempersiapkan banyak jimat, agar aku tidak kehabisan banyak Prana saat menggunakan Seisenjutsu besok.”


Daoshi dapat menyegel Seisenjutsu yang akan digunakan ke dalam jimat. Dengan begitu, Daoshi tidak perlu mengeluarkan banyak Prana saat bertarung. Mereka hanya perlu menyuntikkan sedikit Prana ke dalam jimat untuk membuka segel dalam jimat dan melepaskan serangan yang sangat kuat..


“Terakhir kali aku tampil di babak final adalah ketika aku berpartner dengan Hufeng. Saat itu, kami kalah dan hanya menjadi Runner-Up.”


Cecily Wong menoleh ke arah Ryan. Pandangan mata Cecily wong tampak penuh dengan api semangat bertarung.


“Ryan-kun.” Cecily menyeringai dan berkata: "Kali ini, kita harus memenangkan Phoenix Festa."


Ucapan ini membuat Ryan mengerti. Final besok tidak hanya penting untuk dirinya saja, tapi juga penting untuk Cecily Wong.


Ryan ingin menang untuk tujuannya sendiri. Sedangkan Cecily Wong ingin menang untuk menghapus rasa malu atas kekalahannya pada Phoenix Festa musim sebelumnya.


Menanggapi ucapan Cecily Wong, Ryan tersenyum dan mengangguk.


~***~


Malam berlalu dengan cepat. Keesokan harinya para warga Kota Akademi Asterisk mulai berbondong-bondong ke Sirius Doma. 


Walau mereka menonton di tempat yang berbeda-beda, namun mereka semua menonton final Phoenix Festa dengan pandangan mata yang sama, yaitu pandangan mata penuh harapan.


Hal ini sangatlah wajar, karena pertandingan hari ini akan menjadi pertandingan terakhir Phoenix Festa tahun ini.


Yang lebih menarik adalah, dalam laga final kali ini, tiga dari empat orang pesertanya adalah orang-orang yang tidak memiliki peringkat. Sebelum Phoenix Festa, ketiga orang ini hampir tidak pernah terdengar namanya. Phoenix Festa tahun ini benar-benar telah dipenuhi oleh kuda hitam yang kuat.


Poin ini tampaknya telah digunakan dengan sangat baik oleh media sebagai propaganda, sehingga popularitas Phoenix Festa tahun ini melonjak jauh melebihi Phoenix Festa sebelumnya.


Belum lagi di laga final ini, dua pesertanya juga memiliki Orga Lux. Oleh karena itu, pertandingan terakhir ini telah menarik perhatian seluruh dunia.


Dengan keadaan seperti ini, waktu dimulainya laga Final sudah semakin dekat.


Di luar hiruk-pikuk penonton, di lounge Sirius Dome khusus peserta dari Institut Ketujuh Jie Long, Ryan dan Cecily Wong duduk di sofa sambil menutup matanya.


Waktu teras berlalu begitu lambat. Suasana hening pun mengisi lounge tersebut.


Jika ada seseorang di sini, mereka pasti akan samar-samar dapat melihat fluktuasi Prana dari tubuh Ryan dan Cecily Wong.


Itulah teknik pernapasan yang diajarkan oleh Fan Xinglou.


Dengan menggunakan teknik pernapasan ini, tidak hanya dapat membuat pemulihan Prana lebih cepat, tapi juga dapat membuat Prana aktif untuk waktu yang singkat, dan akan lebih mudah untuk dimobilisasi dalam pertarungan.


Selain itu, teknik pernapasan yang diajarkan Fan Xinglou berbeda-beda, bergantung dari karakteristik masing-masing muridnya.


Misalnya saja Ryan, ia memiliki Prana dengan sifat yang tenang, seperti iblis pembunuh yang bersembunyi dalam kegelapan pekat dan dingin.


Sementara Cecily Wong, ia memiliki sifat Prana yang sombong, seperti kilat dari surga, kuat dan juga terang.

__ADS_1


Oleh karena itu, sebagai murid Fan Xinglou, teknik pernapasan yang digunakan Ryan dan Cecily Wong berbeda, sesuai dengan sifat Prana mereka masing-masing. Walau begitu, teknik pernapasan yang mereka gunakan memiliki efek yang serupa.


Setelah beberapa saat, Ryan dan Cecily Wong perlahan membuka matanya.


"Kak Cecily." Ryan belum melihat jam, tetapi ia berkata dengan sangat yakin, "Waktu kita sudah habis, ayo kita segera ke arena."


"Baik.” Cecily Wong mengangguk atas pemberitahuan dari Ryan.


Mereka berdua kemudian berdiri dari sofa dan berjalan menuju arena.


~***~


"Oooooooooooooooh!"


Sorak-sorai penonton di Sirius Dome hari ini lebih tinggi tiga kali lipat dari biasanya. Hal ini menyebabkan udara menjadi bergejolak sehingga langit-langit stadion tampak sedikit bergetar.


Dalam suasana meriah seperti itu, suara komentator mulai terdengar.


"Penonton sekalian! Setelah dua minggu lamanya Phoenix Festa diselenggarakan, akhirnya kita telah mencapai babak terakhir Festa!"


"Seperti Phoenix Festa sebelumnya, salah satu tim yang bertanding dalam babak final kali ini juga berasal dari Jie Long. Sebagai alumni, aku sangat merasa bangga."


"Tentu saja, sebagai lawan mereka, tim yang berasa dari Akademi Seidokan juga sangat. Aku yakin pertandingan Final ini pasti akan seru!"


"Setidaknya, pertandingan sebelumnya telah membuktikan hal ini."


"Kalau begitu, mari kita memulai menyambut penampilan dari masing-masing tim. Pertama-tama, mari kita sambut perwakilan dari Akademi Seidokan, Amagiri Ayato dan Sasamiya Saya!"


Lampu di atas arena tiba-tiba menjadi gelap, dan lampu-lampu itu semua berkumpul menjadi satu di pintu sisi timur.


Di sana, Ayato dan Saya secara perlahan berjalan keluar dengan ekspresi yang berbeda. Ayato memasang wajah serius, sedangkan Saya memasang wajah tanpa ekspresi. 


Sorakan penonton segera naik menyambut munculnya perwakilan Seidokan.


Suara komentator kembali bergema di tengah suara riuh penonton.


"Dari sisi berlawanan, hadir perwakilan dari Institut Ketujuh Jie Long. Mari kita sambut, Ryan Herlambang dan Cecily Wong!"


Seketika itu, sebagian lampu sorot di atas arena mulai menerangi pintu sisi barat.


Ryan dan Cecily Wong berjalan perlahan lurus ke depan menuju arena di bawah sorakan keras para penonton.


Kedua tim telah memasuki arena. Mereka pun saling memandang dengan tatapan serius. 


Melihat wajah familiar di seberangnya, Ryan tersenyum dan berkata, "Akhirnya kita bertemu, Amagiri Ayato."


"Eh?" Ayato sedikit terkejut. Dengan agak tidak yakin, ia bertanya pada Ryan, "Apakah kamu mengenalku?"


"Tentu saja. Akan sangat aneh jika aku nggak mengenalmu." Ryan tertawa, "Aku memang mengenalmu, tapi ini adalah pertama kalinya kita bertemu."


"Hmm, jadi begitu." Ekspresi Ayato sama sekali tidak menunjukkan ketegangan. Ia lalu tersenyum bingung, "Mungkin kamu mendengar tentangku dari Kakak kelasmu."


Lagipula, di pertandingan sebelumnya, Ayato telah mengalahkan dua tim Jie Long termasuk Li bersaudara, dan semuanya adalah murid Banyuu Tenra.


Jadi, Ayato mengira bahwa Ryan mengetahui informasi tentang dirinya dari Kakak kelasnya dan ingin membalas dendam mereka.


Sayangnya, hal ini salah besar.


"Aku harap kemenangan dan kekalahan pada pertandingan ini nggak menimbulkan rasa saling benci di antara kita."

__ADS_1


Ryan berkata dengan acuh tak acuh. "Aku harus memenangkan pertandingan ini untuk tujuanku sendiri. Maka dari itu, aku akan mengalahkanmu!"


__ADS_2