
Sore dengan cepat berganti menjadi malam.
Setelah latihan yang memakan waktu seharian itu, Ryan dan Shana berjalan di jembatan Misaki menuju ke area pemukiman.
Tentu saja, keduanya tidak berjalan berdampingan.
Langkah santai Ryan yang seperti sedang berjalan-jalan menikmati pemandangan malam sungai, membuatnya tampak berkharisma.
Sementara di depan Ryan, Shana melangkah dengan sangat kasar dan memancarkan aura yang sangat tidak menyenangkan.
Merasakan derap langkah kaki santai di belakangnya, Shana sama sekali tidak menoleh ke belakang dan hanya terus menggerutu melampiaskan isi hatinya.
'Benar-benar pria yang menyebalkan!'
Walau Shana berpikiran seperti itu, tapi di saat yang sama, Shana merasa bahwa ia tidak benar-benar membenci Ryan.
Meski sikap Shana pada Ryan sering kali kasar, namun Ryan telah sering memberikan Shana banyak bantuan. Bahkan ketika Shana kalut seperti hari ini, Ryan tak ragu membantunya dan membuatnya kembali bersemangat.
Selain itu, Ryan juga tampak sangat bisa diandalkan.
Penampilannya yang selalu santai saat hari-hari biasa, tetapi berubah menjadi tenang dan haus darah saat bertarung.
Ryan terlihat tidak begitu serius, tetapi setiap pendapat yang dikemukakan sangat akurat dan tepat.
Dan lebih penting lagi, tekad tak kenal menyerah yang diperlihatkan Ryan. Dengan tubuh manusia yang terluka parah, Ryan tak pernah mundur sama sekali.
Semua faktor ini membuat Shana tidak bisa membenci Ryan. Bahkan, di mata Shana, Ryan sebenarnya tampak bersinar.
'Aku tidak tahu mengapa, walau di sangat menyebalkan, tapi Ryan juga terlihat semakin keren dan tampan …'
Dua suasana hati yang sangat berbeda ini telah menyebabkan Shana jatuh ke dalam kekacauan yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Bahkan hari ini, Shana merasa bahwa pelukan Ryan seharian tadi sangatlah hangat. Dan itu membuat Shana merasa sangat nyaman dengan Ryan. Tapi tentu saja, dengan harga dirinya yang tinggi, sampai mati pun Shana tidak akan pernah mengakuinya.
Tidak mau jujur dengan perasaannya, inilah alasan Shana selalu jengkel dan marah dengan Ryan.
Dalam keadaan seperti itu, tampaknya bahkan Alastor dapat dengan jelas merasakan kemarahan Shana dan memilih untuk tetap diam.
__ADS_1
Setelah beberapa saat berjalan dalam suasana diam, akhirnya Ryan mulai membuka mulutnya. "Shana, kapan kamu akan pergi dari sini?"
Deg
Jantung Shana serasa mau meloncat begitu mendengar ini. Kaki Shana mau tidak mau berhenti dengan kasar.
Shana tidak menyangka bahwa pertanyaan ini akan muncul secara tiba-tiba. Apalagi, ini terjadi di saat Shana mulai bisa menerima keberadaan Ryan dalam hidupnya.
"Aku menyarankanmu untuk meninggalkan kota Misaki." Ryan juga menghentikan langkahnya. Dengan nada santai tapi serius, Ryan melanjutkan ucapannya. "Selanjutnya, serahkan urusan Bal Masqué atau Crimson Denizen lainnya yang mengincar Reiji Maigo padaku. Aku tidak ingin melihatmu terluka lagi."
Tanpa mau mendengarkan penjelasan Ryan lagi, Shana langsung menyela. "Aku tidak akan pergi sampai kita menyelesaikan semua masalah ini bersama."
Sejujurnya, Shana sendiri cukup terkejut dengan kata-kata yang barusan ia ucapkan. Karena selama ini, Shana tak pernah sekalipun berpikir untuk melawan Crimson Denizen bersama orang lain.
Ryan tersenyum usil dan berkata, "Apakah karena misi Flame Haze? Atau karena kamu nggak sanggup berpisah denganku?"
Shana dengan pipi merahnya dan nada bicara yang sedikit canggung berkata, "Ten-tentu saja tidak mungkin. A-a-aku cuma tidak ingin Reiji Maigo jatuh ke tangan Bal Masqué atau Crimson Denizen lainnya. Akan jadi masalah besar jika benda itu jatuh ke tangan mereka. Benar, itulah alasanku tetap di sini."
Meski cara bicara Shana terlihat tidak meyakinkan, Ryan hanya bisa tersenyum lembut dan mengangkat bahunya. "Sudah aku duga kamu akan berkata seperti itu."
Setelah itu, Ryan kembali melangkah ke depan melewati Shana yang masih berdiri diam di depannya.
Saat mereka berdua kembali berjalan dalam hening, sekarang giliran Alastor yang berbicara.
"Apakah kamu tidak pernah berpikir untuk pergi meninggalkan kota ini? Aku khawatir ini bukanlah hal yang baik jika kamu terus tinggal di sini."
Ucapan Alastor ini memang benar. Keberadaan Reiji Maigo di tangan Ryan ini membuatnya menjadi seperti kue yang lezat. Hal ini tentu mengundang kedatangan Crimson Denizen maupun organisasi besar seperti Bal Masqué ke kota ini.
Tidak diragukan lagi bahwa kedatangan para Crimson Denizen ini tidak akan membawa manfaat bagi Kota Misaki.
Jika seseorang tidak dapat melakukannya dengan baik, maka seluruh manusia di kota ini mungkin akan dilahap habis oleh Denizen yang mencari Reiji Maigo.
Ryan tentu tidak mempedulikan hal itu.
Tapi lain halnya Shana dan Alastor. Kalau sampai itu terjadi, bisa dibayangkan betapa besarnya distorsi yang tercipta di kota ini.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan." Ryan tidak menoleh ke belakang dan dengan tenang berkata, "Tapi aku berpikir bahwa lebih baik aku tetap tinggal dan menunggu kedatangan mereka di sini."
__ADS_1
"Menunggu kedatangan mereka di sini?" Shana tidak memahami maksud Ryan.
"Kenapa?" Alastor mengajukan pertanyaan secara langsung.
Menghadapi pertanyaan ini, suara Ryan perlahan terdengar. "Dari zaman dahulu hingga sekarang, selalu ada beberapa tempat yang akan menjadi pusat pusaran air seperti halnya sebuah takdir. Pusaran ini menarik kehadiran berbagai makhluk dan menjadi tempat berperang.”
"Dan Kota Misaki adalah tempat seperti itu." Ryan berkata dengan sangat tegas, "Bahkan tanpa keberadaanku atau keberadaan Reiji Maigo, tempat ini telah menjadi pusat medan pertempuran."
"Tentu saja, pusaran air takdir ini masih terus akan menarik semua jenis makhluk, entah itu Crimson Denizen ataupun Flame Haze lainnya "
"Aku yakin kamu juga bisa merasakannya?"
"Udara di sini, selalu ada bau asap."
Mendengar penjelasan Ryan, baik Shana maupun Alastor sama-sama terdiam terdiam.
Kata-kata Ryan tidak memiliki dasar sama sekali.
Namun, seperti yang dikatakan Ryan, baik Shana maupun Alastor memiliki perasaan bahwa kota ini memang dipenuhi dengan suasana yang tidak biasa.
Suasananya sepert daerah perbatasan yang kerap menjadi medan pertempuran. Ada bau asap yang tidak dapat dilihat orang lain.
Oleh karena itu, baik Shana maupun Alastor setuju dengan perkataan Ryan.
Kota Misaki pasti akan menjadi medan pertempuran.
Dan itu sudah ditakdirkan.
"Lagipula, Friagne telah berencana untuk mengaktifkan City Devourer di kota ini. Ia sudah menelan banyak manusia dan menciptakan Torch dalam jumlah besar. Bahkan jika distorsi di kota ini dapat ditenangkan, tapi itu hanya sementara."
Ryan berkata, "Distorsi di kota ini telah mencapai ke tingkat yang tidak dapat diabaikan. Bahkan tanpa keberadaanku, tanpa Reiji Maigo, distorsi ini sendiri akan menarik berbagai macam orang dengan berbagai alasan dan tujuan."
Melihat distorsi yang terjadi, Flame Haze pasti akan datang.
Dan Crimson Denizen dengan berbagai tujuan, pasti akan terlibat dengan cara yang sama seperti lebah yang tertarik dengan bunga beracun.
"Jadi, daripada pergi, lebih baik tetap tinggal dan bersiap menghadapi badai yang akan datang."
__ADS_1
Ryan menyeringai. "Aku jadi tak sabar untuk segera mempermalukan tamu yang akan datang."