Reincarnation Room

Reincarnation Room
Munculnya Fused Colony


__ADS_3

Swoosh


Di saat Biba akan mengayunkan pedangnya, sebuah pisau tajam meluncur dengan cepat dari tangan Ryan. Bagaikan sebuah peluru, pisau tersebut bergerak memecah udara menuju ke mata Biba.


Reflek, Biba menangkis pisau tersebut. Namun tak disangka, Ryan mendadak bangun sambil memeluk Mumei dan menendang dengan keras dada Biba.


Buk


"Ugh!" Biba pun terpukul mundur beberapa langkah. Ia kemudian berjongkok sambil memegangi dadanya.


"Uhuk uhuk …" Ryan memuntahkan banyak darah karena memaksa bergerak dengan cepat saat perutnya mengalami luka yang dalam. 


Hal yang sama pun terjadi pada Mumei. Ia memuntahkan banyak darah di tubuh Ryan akibat gerakan mendadak yang Ryan buat tadi.


"Kamu benar-benar pantas menjadi pahlawan terkenal. Seorang pahlawan yang tanpa ragu menusuk adiknya sendiri dari belakang. Ini benar-benar membuatku malu." ucap Ryan dengan sarkasme.


Biba melihat Ryan yang sedang berlutut menggunakam satu kaki sambil terus memeluk Mumei. Tidak ada emosi yang terpancar dari matanya. "Apa kamu tahu? Kamu telah menghancurkan semua rencanaku."


"Hahahaha ... kamu pantas mendapatkannya, Biba! Lalu bagaimana, apakah kamu mau menambahkan namaku ke dalam daftar balas dendam mu sekarang?" balas Ryan.


"Tidak. Aku tidak akan melakukannya." Biba terdiam sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya. "Hari ini, organisasi Hunter sudah hancur. Kokujou juga telah jatuh. Jadi, aku tidak bisa lagi pergi ke Kongoukaku. Mungkin, aku sudah tidak punya kesempatan lagi untuk balas dendam."


"Kamu pasti menyesal telah mengundangku masuk ke dalam Kokujou?" senyum sarkas Ryan.


Biba menggelengkan kepalanya. "Tidak … aku tidak menyesalinya. Malahan, aku senang bisa bertemu denganmu."


Biba kemudian mulai bercerita. "Sejak aku kecil, aku dipaksa untuk melihat betapa kejamnya dunia ini. Melihat betapa busuknya hati manusia. Dan semua itu aku pahami saat aku masih berumur 12 tahun!"


"Ayahku hanya menganggapku sebagai sebuah alat yang dapat dibuang begitu saja. Saat aku dikirim Ayah untuk berperang, aku sangatlah takut. Aku bahkan tidak berani memerintahkan pasukanku untuk berkonfrontasi secara langsung dengan kabane."

__ADS_1


"Padahal sebelumnya, para pejabat senior itu selalu memujiku bahwa aku adalah jenderal yang hebat seperti Ayah. Namun, ternyata penampilanku sangat memalukan. Mereka memujiku hanya agar aku bersedia memimpin pasukan untuk melakukan perang yang memang mereka harapkan untuk kalah."


"Mereka semua dari awal tidak pernah berpikir untuk memerangi Kabane. Mereka hanya ingin hidup tenang di balik tembok besi yang mereka bangun!"


"Melihat semua ini, aku sadar, dunia ini sudah sangat salah!" 


"Semua orang takut dengan kabane! Semua orang takut untuk bertarung! Semua orang takut untuk memikirkan masa depan! Bahkan, mereka semua takut dengan manusia lainnya …"


"Dunia ini sudah membusuk karena orang-orang seperti itu!" Lalu Biba menatap mata Ryan secara langsung. "Tapi kamu berbeda. Kamu tidak takut kabane. Kamu tidak takut dengan kematian! Bahkan untuk mencapai tujuanmu, kamu tidak ragu untuk menghadapiku dan juga para Hunter. Dan lihatlah hasilnya, kamu berhasil menghancurkan kami!"


"Aku selalu menghormati orang-orang yang kuat sepertimu. Maka dari itu, aku sangat menghormatimu. Aku tidak sedih atas apa yang kamu perbuat padaku. Malahan, aku sangat senang!”


“Namun sayang … hidupku hanya aku dedikasikan untuk balas dendam. Sekarang, semua yang aku persiapkan untuk balas dendam sudah kamu hancurkan. Jadi, hanya ini bisa aku lakukan sekarang.” Setelah mengatakannya, Biba mengambil sebuah sebuah serum berwarna hitam dari dalam bajunya.


Mata Ryan terbelak melihat serum tersebut. “Bukan kah itu Darah hitam!? Kamu gila! Apakah kamu berencana membunuh kami semua!?”


Tanpa menjawab pertanyaan Ryan, Biba langsung menyuntikkan serum tersebut ke dadanya. “Selamat tinggal …”


Suara detak Biba terdengar sangat kuat dan keras. Bahkan Ryan dapat mendengarnya dengan jelas. Getarannya pun terasa sampai ke seluruh kereta.


Setelah Biba menyuntikkan Darah Hitam, seketika itu juga, jantung Biba yang tadinya berwarna merah keemasan, berubah menjadi biru. Dari dalam tubuh biba, keluar banyak tombak besi yang menyerupai kaki laba dan menyebar ke area sekitarnya. Satu persatu kabane yang ada di dalam gerbong tertusuk tombak besi tersebut. Kabane yang tubuhnya telah tertusuk tombak tersebut akan dibawa oleh tombak tersebut menuju tubuh Biba. 


Lama kelamaan, tubuh Biba semakin membesar seiring banyaknya tubuh kabane yang menyatu dengan tubuhnya. Kini tubuh Biba juga sudah tidak terlihat lagi. Yang terlihat hanyalah tumpukan kabane yang menyatu membentuk sebuah makhluk raksasa yang menyerupai asap hitam.


“GRAAAAAA”


Seperti bayi yang baru lahir, makhluk tersebut berteriak.sangat keras seakan sedang menangis.


“Aku nggak nyangka akan melihat transformasi Fused Colony secara langsung, hehehe …  hehehe” gumam Ryan dengan tawa yang canggung.

__ADS_1


Monster yang terlahir dari kumpulan tubuh kabane, itulah Fused Colony. Kabane yang menjadi inti dari makhluk ini memiliki jantung yang berwarna biru. Kabane berjantung biru tersebut akan mengumpulkan tubuh kabane di sekitarnya dan menarik mereka hingga tercipta sesosok makhluk raksasa yang menyerupai asap hitam.


Fused Colony hanya bisa dibuat menggunakan Darah Hitam. Jadi bisa dibilang, Fused Colony adalah kabane buatan manusia. Orang yang mendapat suntikan ini akan kehilang seluruh kemanusiaannya. Yang ada dalam pikirannya hanyalah menghancurkan semuanya.


Menghadapi monster seperti ini, Ryan hanya bisa lari. Terlebih lagi, saat ini Ryan tidak memiliki senjata apapun. Pisau yang tadi ia lempar pada Biba telah menghilang entah kemana. Selain itu, Ryan juga sedang memeluk Mumei yang terkulai lemas tak sadarkan diri.


Bam Bam Bam


Makhluk itu berjalan dengan langkah yang berat. Seluruh Kereta pun bergetar dengan langkahnya.


Dengan menahan rasa sakit pada perutnya, Ryan secepat kilat berlari menuju Koutetsujou sambil menggendong Mumei. “Anjir! Untuk membunuh Fused Colony, aku harus menusuk jantung Biba yang kini menjadi inti Fused Colony!” gumam Ryan sambil melirik Fused Colony yang masih mengejarnya.


Beberapa detik kemudian, Ryan melihat gerbong milik Koutetsujou.


“Ryan!”


“Ryan!”


Di gerbong paling belakang Koutetsujou yang masih tersambung dengan gerbong Kokujou, berdiri Ayame, Ikoma, dan juga Kurusu. Ikoma terus melambaikan tangannya pada Ryan. 


Saat Ayame melihat bayangan hitam mengejar Ryan, ia sangat terkejut. Bahkan kurusu sampai berteriak. “Monster apa itu!?”.


“Ryan, cepat!” teriak Ikoma.


“Dasar orang-orang bodoh …” gumam Ryan. Walau ia berkata seperti itu, namun bibirnya tersenyum lebar. Ryan kemudian melompat ke tempat Kurusu dan lainnya berdiri. 


Di depan Ayame, Ryan menyerahkan tubuh Mumei yang masih terkulai lemas. “Ayame, aku titip Mumei. Aku mau menyelesaikan urusanku terlebih dahulu.” 


“Urusan? Kamu mau kemana?” tanya Ayame.

__ADS_1


Ryan hanya tersenyum mendengar pertanyaan Ayame. Ia lalu melihat ke arah Kurusu. “Kurusu, aku pinjam ya, hehehe …” Dengan cepat Ryan mengambil pedang Kurusu yang ada di pinggangnya dan berbalik menghadap ke arah Fused Colony. Di saat yang sama, mata Ryan berubah menjadi biru.


Slash


__ADS_2