Reincarnation Room

Reincarnation Room
Mimpi


__ADS_3

'Ugh! Sepertinya aku telah terseret ke dunia lain …' pikir Ryan sambil menyentuh keningnya.


Alasan Ryan berpikir seperti itu adalah karena saat ini, Ryan mengalami Vertigo. Sensasi ini sama seperti saat Reincarnation Room mengirimnya ke dunia lain.


Setelah beberapa saat, Vertigo yang dirasakan Ryan mulai hilang. Ia kemudian melihat ke sekelilingnya dan merasa familiar dengan ruang terbuka ini.


Angin bertiup dari depan, mengangkat sudut pakaian Ryan. Akan tetap, hal ini memberi Ryan perasaan yang tidak terlalu nyata.


Perasaan itu hampir seperti sedang bermimpi.


"Mimpi …" Ryan bergumam seakan memahami sesuatu. Ia lalu mengangkat kepalanya dan melihat ke depan.


Di sana, seorang gadis muda berdiri di atas reruntuhan dan menyapa kembali tatapan Ryan.


Gadis itu mengenakan blus polos dan celana jeans. Ia memakai topi yang terlihat longgar.


Rambut berwarna kastanye menjuntai dari sekeliling pinggiran topi dan berkibar tertiup angin.


Melihat gadis muda ini, Ryan sedikit terkejut. "Sylvie?"


Gadis yang Ryan lihat adalah Sylvia. Namun, gadis itu terasa sangat berbeda dengan Sylvia asli yang memiliki aura luar biasa beberapa hari lalu.


Saat ini, Sylvia sedang menatap Ryan dengan wajahnya yang sedih.


Ekspresi sedih itu cukup untuk membuat siapa pun patah hati.


Tak lama kemudian, Sylvia membuka mulutnya. "Maafkan aku …"


Setelah mengatakannya, Sylvia mulai bergerak.


Jleb


Suara tusukan terdengar samar-samar.


Ryan benar-benar tercengang dengan semua ini.


Entah sejak kapan, Sylvia mendadak sudah berada di depan Ryan. Dia memegang Lux berbentuk pedang di tangannya, dan menusuk jantung Ryan.


Darah pun mulai bercucuran dari ujung pedang.


"Maaf …" Mata Sylvia mulai meneteskan air mata.


"Aku hanya ingin bertemu dengan Guruku …"


"Aku harus bertemu Ursula …"


"Tapi … tapi, Ursula berkata bahwa hanya dengan membunuhmu, dia akan kembali …"


"Jadi, maafkan aku …"


Mendengar suara lirih Sylvia, Ryan perlahan jatuh. Darah mulai membasahi tanah, membuat warnanya menjadi merah gelap.


Baru saat itulah Ryan menyadarinya. "Jadi begitu …"


"Tempat ini adalah Distrik Pembangunan Kembali …"


Setelah mengatakannya, kesadaran Ryan menghilang.


Saat itu juga, Ryan telah mati.


~***~


Dapat melihat masa depan dari rentang waktu tertentu. Terlepas dari lawan akan melakukan serangan apa, pengguna Pan-Dora dapat melihatnya melalui Kemampuan Khusus ini, Future Sight.


Pan-Dora memang memiliki Kemampuan Khusus yang cukup curang. Namun, biaya menggunakan Orga Lux ini adalah mengalami kematian di dalam mimpi.

__ADS_1


Entah itu kematian karena tua, kelaparan, kedinginan, terbakar sampai mati, terbunuh, dan lain sebagainya.


Semua kematian itu akan direproduksi melalui Kemampuan Pan-Dora secara utuh, dan akan diberikan kepada penggunanya melalui mimpi.


Oleh karena itu, orang yang menggunakan Pan-Dora harus mengalami kematian di dalam mimpinya setiap hari.


Akibatnya, penggunanya pasti akan selalu mengalami rasa takut dan rasa sakit yang tak terbayangkan.


Dan saat ini, Ryan terjebak dalam kematian yang tidak berujung.


Sepertinya, Pan-Dora sangat menyukai Ryan. Maka dari itu, Orga Lux yang memiliki sifat jelek ini langsung memaksa Ryan masuk ke dalam mimpi, dan menunjukkan berbagai kematiannya.


Selain dibunuh oleh Sylvia di awal, Ryan juga mati dibunuh oleh Fan Xinglou, Zhao Hufeng, Cecily Wong dan Li bersaudara.


Ryan juga diperlihatkan mati dibunuh lawannya ketika mengikuti Festa.


Mati tenggelam di tengah laut berbadai.


Mati terkena ledakan besar.


Mati kelaparan di jalanan Kota Akademi Asterisk.


Bahkan mati mendadak tanpa sebab apapun.


Berbagai jenis kematian terus mendatangi Ryan satu demi satu. Jika Ryan orang biasa, maka semua ini akan mempengaruhi jiwa dan raganya, hingga bisa mengalami Mind Break.


Namun sayang, Ryan bukanlah orang biasa. 


Di hadapan semua ini, Ryan seperti seorang pengamat. Dengan ketenangan yang tak terbayangkan, ia terus menjalani kematian.


Seiring berjalannya waktu, Ryan mulai bosan dengan semua ini.


"Ini terlalu kecil, membosankan …"


Semua yang dilihatnya adalah kematiannya sendiri. Padahal, konsep kematian itu luas.


Setidaknya, di dunia di mana Ryan menatap garis retak berkali-kali, kematian manusia hanyalah bagian terkecil.


"Dalam kasusku, konsep kematian yang aku pahami jauh lebih intens dan lebih luas ..."


Kematian manusia.


Kematian benda.


Kematian sebuah penyakit.


Kematian Kekuatan Super.


Kematian akan segala hal, Ryan telah melihat dan bahkan memahami semuanya.


Dibandingkan dengan apa yang diperlihatkan Pan-Dora, ini hanyalah permainan anak-anak.


Oleh karena itu, wajar saja jika Ryan bosan dengan semua ini.


Dalam kegelapan tak berujung, dalam mimpinya sendiri, Ryan perlahan mengangkat kepalanya.


Dengan cepat, Mystic Eye of Death Perception muncul di matanya.


Sambil memegang belati tajam di tangannya, Ryan berkata, "Kematian yang sebenarnya seharusnya seperti ini …"


Garis kematian yang terlihat seperti retakan muncul di hadapan Ryan. Garis tersebut adalah kematian dari sebuah mimpi.


"Lihat dan saksikan! Inilah yang disebut kematian …"


Setelah mengatakannya, belati di tangan Ryan langsung menebas garis kematian yang ada di depannya.

__ADS_1


Kratak Kratak


Pyar


Dengan suara seperti pecahannya kaca, mimpi gelap itu hancur lebur.


Lebih tepatnya, mimpi tersebut telah terbunuh.


~***~


Buuuuzzz


Di luar mimpi, di depan gerbang sekolah, jeritan sunyi seperti gelombang supersonik tiba-tiba terdengar sangat keras.


Sepasang pedang panjang yang dipegang erat oleh Ryan di tangannya bergetar dengan hebat.


“Oh?”


“Apa yang terjadi?”


Fan Xinglou dan Claudia terkejut melihat keanehan dari Pan-Dora. 


Di saat yang sama, baik Fan Xinglou maupun Claudia juga mendengar sebuah teriakan. Akan tetapi, teriakan ini seperti tidak nyata.


Itu adalah suara kepanikan dari Pan-Dora. Ratapan dan kesedihan itu dipenuhi dengan kengerian. Pan-Dora bertingkah seolah-olah melihat sesuatu yang menakutkan.


Pan-Dora sangat ingin membuka tangan Ryan dan lari. Sama seperti orang yang ingin lari dari monster mengerikan, ia benar-benar ketakutan.


Sebagai pengguna Ogre Lux, ini pertama kalinya Claudia melihat penampilan Pan-Dora seperti ini.


“Pan-Dora takut?” Claudia mau tidak mau terkejut dengan hal ini


‘Pan-Dora yang selalu menikmati kematian pemegangnya dan selalu memberikan berbagai pengalaman mati kepada pemegangnya, sekarang takut?’


‘Bagaimana mungkin?’ batin Claudia.


Buuuuzzzz Buuuuzzzz Buuuuzzzz


Saat kedua pedang di tangan Ryan bergetar lebih kuat lagi, Ryan perlahan membuka matanya.


Merasakan guncangan dari kedua tangannya, Ryan menundukkan kepalanya dan menatap Pan-Dora. Pada tatapan mata Ryan, muncul jejak sarkasme. “Payah …”


Setelah mengucapkan satu kata tersebut,, Ryan mengembalikan kedua pedang di tangannya langsung ke Claudia.


Claudia tiba-tiba tertegun dan tanpa sadar mengambil kembali Pan-Dora.


Weeeng


Kedua pedang panjang itu langsung meledak menjadi semburan cahaya dan membatalkan materialisasinya.


Cahaya yang menerangi sekeliling meredup hingga benar-benar menghilang. Seolah tidak terjadi apa-apa, semuanya kembali normal.


“Tampaknya sudah berakhir.” Fan Xinglou berkata kepada Ryan dengan senyum yang sulit dipahami. "Bagaimana perasaanmu?"


Ryan mengangkat bahunya dan menjawab dengan jujur. “Sangat membosankan. Apa yang diperlihatkan hanyalah sebagian kecil dari kematian.”


“Benarkah?" Fan Xinglou segera tersenyum bahagia. "Sepertinya kamu sangat memahami arti dari Kematian. Maka wajar saja jika konsep Kematian yang diberikan Pan-Dora terlalu kecil. Bahkan kali ini, konsep Kematianmu telah membuatnya takut.”


Fan Xinglou tampak sangat menikmati perkembangan ini.


Sedangkan Claudia, ia hanya bisa menatap Ryan dengan pandangan yang rumit. “Apa itu kematian?” bisiknya.


Ini benar-benar ironi terbesar bagi Claudia.


Bagaimanapun juga, Claudia telah menderita dari Kematian ini setiap harinya.

__ADS_1


__ADS_2