
Ryan berkali-kali menempelkan kartu identitas yang ia miliki pada kunci elektrik, namun pintu tersebut tetap saja tidak terbuka.
"Mungkin pangkat kedua orang tadi tidaklah tinggi, jadi ada beberapa pintu yang tidak dapat diakses menggunakan kartu identitas mereka berdua. Tapi biasanya, semakin tinggi hak akses suatu area, semakin penting area tersebut."
"Baiklah, kalau begitu aku terpaksa harus melakukan ini!" gumam Ryan sambil melihat ke arah pintu.
Dalam sekejap, sebuah belati yang berkilau seperti cahaya bulan muncul di tangannya. Setelah itu, pupil mata Ryan tiba-tiba berubah menjadi biru es. Garis-garis Kematian yang menyerupai retakan tampak jelas memenuhi padangan Ryan.
Ryan kemudian menatap pintu besar di depannya dan memusatkan pandangannya pada garis kematian yang ada pada bagian pengunci pintu. Tanpa ragu, Ryan langsung menebas garis kematian itu.
Slash
Dengan presisi, Ryan memotong pengunci pintu besar tersebut. Tapi di saat yang sama, sirine yang ada di samping pintu berbunyi.
Tet Tet Tet Tet
Dengan cepat, Ryan langsung menusuk sirine tersebut hingga tidak berbunyi lagi. Ryan lalu melihat kembali keadaan sekelilingnya dan mengkonfirmasi bahwa tidak ada tentara yang datang.
"Fiuh~ untunglah belum ada yang datang ..."
Setelah itu, Ryan membuka pintu yang sudah dirusak kuncinya itu, dan menutupnya kembali rapat-rapat.
Saat Ryan berjalan menyusuri lorong menuju ruang komando, Ryan tidak sengaja menengok ke arah sebuah pintu yang ada di sampingnya. Samar-samar, ia mendengar suara teriakan Aragami dari ruangan itu.
"Mengapa ada suara Aragami di dalam fasilitas ini? Apakah ini ada kaitannya dengan penyerbuan yang dilakukan Venus?"
Ryan kemudian mengintip melalui jendela kaca yang ada pada pintu. Namun, adegan yang di depannya membuatnya terkejut.
"ROOAAR!" Teriakan Aragami yang memekakkan telinga terdengar dengan jelas.
Kepala Aragami tersebut memiliki wajah seperti ogre dan ekor yang besar. Bagaikan binatang buas, sekelompok Aragami tersebut terus melaju di atas tanah yang tandus.
Di depan Aragami-Aragami itu, seorang gadis muda terlihat mengangkat senjatanya dengan tenang.
Gadis itu sangat cantik. Ia memiliki rambut perak panjang seperti cahaya bulan. Usianya yang muda, membuat wajah cantiknya masih sedikit kekanak-kanakan. Tapi itu malah membuatnya jadi semakin imut.
Walau masih muda, gadis itu memiliki tubuh seksi dan dada yang berkembang dengan sangat baik.
Saat ini, gadis tersebut sedang memegang erat sebuah pedang besar berwarna perunggu. Ia menatap Aragami di depannya dengan ekspresi acuh tak acuh, seakan ia tidak peduli dengan semua hal di dunia ini.
__ADS_1
Gadis tersebut kemudian bergerak maju. Dengan pedang besar di tangannya, ia menebas wajah salah satu Aragami yang ada di depannya.
Boom
Dengan tebasan tersebut, tubuh Aragami yang jauh lebih besar dari gadis itu terlempar dan menghantam ke tanah. Gadis itu kemudian membalikkan tubuhnya dan terus menyerang Aragami-Aragami yang mengelilinginya. Meski begitu, kemampuan gadis itu masih belum terlalu bagus itu.
"Alisa Ilinichina Amiella …" gumam Ryan.
Sama seperti Mumei dalam Dunia Kabaneri The Iron Fortress, Alisa juga salah satu heroine dalam serinya. Ryan sebagai kaum pria, tentu tertarik dengan karakter Alisa. Dalam Game dan Anime, dia selalu digambarkan mengenakan pakaian yang cukup terbuka.
Tiba-tiba, salah satu Aragami yang Alisa lawan menggigit pedang miliknya. Ia tampak panik sehingga ia tidak menyadari bahwa ada Aragami lain yang telah membuka mulutnya dengan lebar di belakangnya. Dalam sekejap, Aragami itu melahap kepalanya.
Seketika itu, semua Aragami di sekitarnya menghilang. Bahkan tanah kosong yang tandus itu tiba-tiba menghilang, menyisakan sebuah ruang kosong.
Di tengah ruangan tersebut, Alisa menundukkan kepalanya sambil menggertakkan giginya.
Melihat semua ini, Ryan akhirnya mengerti. Bahwa ruangan ini adalah fasilitas simulasi yang digunakan God Eater untuk berlatih.
"Aku mengira bakal menemukan sesuatu di sini, ternyata ruangan ini hanya tempat latihan saja. Walau begitu, aku cukup beruntung bisa bertemu dengan Alisa di sini, hehehe …" gumam Ryan sambil berbalik.
Saat ia akan melanjutkan kembali misinya, tiba-tiba pintu di belakangnya terbuka. Di sana, telah berdiri Alisa sambil membawa pedang latihan miliknya.
Alisa begitu terkejut melihat keberadaan Ryan. "Siapa!?"
Bagaimanapun juga, Alisa adalah seorang God Eater. Jadi meski pedang yang digunakan Alisa hanyalah pedang latihan, namun kekuatan yang dikeluarkan Alisa cukup kuat. Jika terkena itu, seorang tentara terlatih pun akan tewas.
Dihadapkan dengan pedang raksasa itu, Ryan sama sekali tidak takut. Ryan langsung menjatuhkan diri ke belakang. Pedang raksasa itu lewat tepat di atas wajah Ryan dan menghasilkan gelkmbang angin.
Pada saat yang sama, Ryan berpijak pada satu tangan ke tanah dan mengayunkan tubuhnya untuk menendang pergelangan tangan Alisa.
Buk
Clang
Pedang berukuran besar itu langsung jatuh menghantam tanah.
Alisa begitu terkejut dengan performa Ryan. Ia tidak menyangka bahwa Ryan sekuat ini.
Mengabaikan pedangnya yang jatuh, Alisa langsung melancarkan tendangan ke dada Ryan.
"Pemula? Menggunakan kekuatan secara berlebihan bukanlah hal yang baik!" ucap Ryan dengan suara rendah dan halus sambil menundukkan kepala dan membiarkan topi tentara menutupi wajahnya.
__ADS_1
Bagaikan angin, Ryan berhasil menghindari tendangan Alisa. Ia kemudian mencengkeram lengan Alisa yang terkena serangan Ryan tadi dan memelintirnya dengan keras untuk mengikatnya ke punggung Alisa. Setelah itu, Ryan mendorong Alisa ke dinding dan menekannya.
"Lepaskan aku!" Alisa terus meronta untuk melepaskan diri. Ryan pun dapat merasakan kekuatan fisik yang besar dari perlawanan Alisa ini.
Meski Alisa adalah seorang pemula dalam hal bertarung, tapi kemampuan fisik Alisa telah ditingkatkan menggunakan Sel Oracle.
"Kalau kamu ingin tetap hidup, jawablah pertanyaanku dengan jujur!" bisik Ryan sambil menodongkan senapannya.
Setelah mendengar ucapan Ryan, perlawanan Alisa mendadak berhenti. "Siapa kamu? Kenapa kamu menyelinap masuk ke tempat ini?" tanya Alisa.
Ryan tidak menjawab pertanyaan Alisa. Ia tidak ingin terlalu banyak berbicara, karena hal itu bisa saja membuat identitasnya terbongkar.
"Katakan padaku, di mana posisi ruang komando?" bisik Ryan di samping telinga Alisa.
Namun Alisa hanya diam saja. Ia sama sekali terlihat tidak ingin menjawab semua pertanyaan yang diajukan Ryan.
"Kalau kamu memang tidak mau menjawab, aku akan membuatmu tidur di tempat ini …"
Tanpa Ryan sadari, tangan kiri Alisa meraba-raba permukaan dinding dan menekan sebuah tombol. Seketika itu, suara sirine terdengar sangat keras.
Tet Tet Tet Tet
Lorong dipenuhi oleh cahaya merah. Sesaat kemudian, muncul banyak tentara berseragam lengkap dengan senapan di tangannya.
Saat mereka melihat seorang God Eater sedang ditekan pada dinding oleh orang misterius berseragam tentara, mereka akhirnya sadar.
"Ada penyusup!" Satu persatu, para tentara tersebut mengacungkan senapannya pada Ryan.
Melihat hal ini, Ryan langsung membuang senapannya. Ia segera mengeluarkan Moon Blade dari cincin Black Space dan menekannya pada leher Alisa.
"Ka-kamu …" Alisa sedikit takut dengan aksi Ryan.
Bisa dikatakan, pose Ryan dan Alisa saat ini sangat erotis. Bagaimana tidak, saat ini tubuh Ryan dan Alisa yang saling menempel dengan sangat erat. Dan untuk mencegah Alisa melarikan diri, tangan Ryan yang memegang belati juga merangkul tubuhnya sehingga lengan Ryan menempel erat pada buah dada Alisa.
Namun saat ini, Ryan sama sekali tidak memiliki pikiran kotor. Ryan perlahan menggiring mundur tubuh Alisa ke ruang latihan yang digunakan Alisa tadi.
"Cepat kejar dia!" Satu persatu tentara masuk ke dalam ruang latihan sambil terus mengacungkan senapannya.
Ryan terus mendekap Alisa dan perlahan berjalan mundur hingga punggung Ryan menyentuh dinding ruangan di mana ia tidak bisa mundur lebih jauh lagi.
Situasi ini sangatlah buruk. Ruang latihan adalah ruang tertutup, sehingga ruangan ini tidak memiliki jalan keluar selain pintu masuk yang kini sudah dipenuhi oleh tentara Rusia.
__ADS_1