
Melihat semua ini, Sayonaki menunjukkan senyum lebarnya. Baginya, melihat ekspresi penuh kecemasan dari Aria dan Riko adalah yang terbaik.
"Hahahaha … aku suka melihat manusia yang menunjukkan ekspresi ketakutan seperti ini."
Sayonaki lalu melihat ke arah Ryan, berharap ia dapat melihat wajah Ryan yang dipenuhi rasa takut.
Namun sayang, Ryan sama sekali tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ryan hanya berdiri diam sambil menatap tajam Sayonaki.
Tampak dari tatapan matanya, tersembunyi amarah yang meledak-ledak. Namun Ryan menahannya sehingga ia terlihat bersikap tenang.
Sayonaki tersenyum sabar sambil mengarahkan pistol di tangannya ke arah Ryan. "Seperti yang diharapkan dari Butei peringkat S. Kamu sama sekali tidak takut dengan identitasku sebagai Vampir."
Mendengar ucapan Sayonaki, Ryan mengangkat alisnya. "Takut? Jangan bercanda. Aku sudah banyak melihat makhluk sejenismu."
Di dunia Kabaneri The Iron Fortress, kabane memiliki naluri untuk menghisap darah manusia yang sama seperti Vampir. Dan Ryan sudah terbiasa membunuh mereka. Jadi, Ryan sama sekali tidak memiliki alasan untuk takut dengan Vampir.
“Dan sebaliknya, sepertinya aku tahu alasan mengapa kamu membenciku.”
Mata Sayonaki sedikit terangkat mendengar hal ini.
Di hadapan Sayonaki yang seperti itu, Ryan berbisik, "Di matamu, nilai manusia hanyalah gen yang bisa digunakan untuk memperkuat dirimu. Maka dari itu, kamu mengurung Riko karena ingin mendapatkan gen dari keturunan Lupin.”
"Kamu, yang mengagumi gen orang-orang hebat, selalu memandang orang biasa hanya memiliki gen inferior dan berpikir bahwa mereka tidak sepantasnya hidup."
“Tapi, anomali seperti diriku muncul di hadapanmu.”
“Aku tidak memiliki nenek moyang yang hebat. Akan tetapi, aku berhasil meraih peringkat S hanya dengan mengandalkan gen orang biasa.”
“Jadi, keberadaanku ini seakan membuktikan bahwa teori yang kamu percaya itu salah. Maka dari itu, kamu tidak dapat mentolerir keberadaanku, dan berusaha menyingkirkanku.”
"Apakah aku benar?" Ryan memandang Sayonaki sambil tersenyum. “Sayonaki-sensei …"
Senyuman Sayonaki perlahan menghilang. Matanya menatap Ryan dengan tajam dan penuh kemarahan. Ucapan Ryan benar-benar telah menusuk hati Sayonaki.
"Benar." Aria mengarahkan pistolnya ke arah Sayonaki lagi, dan dengan suaranya yang unik seperti anak kecil, ia berteriak, "Nilai manusia bukan hanya berdasarkan gen yang mereka miliki. Keberadaan Ryan telah membuktikannya! Jadi teorimu benar-benar salah!"
"Bukan hanya berdasarkan gen …" Tubuh Riko tidak lagi menggigil. Ia memandang Ryan dan tidak bisa berhenti berbisik, "Bukan hanya berdasarkan gen … bukan hanya berdasarkan gen …"
Menghadapi situasi ini, Sayonaki tiba-tiba tersenyum. "Tidak, nilai manusia tetap berdasarkan gen mereka. Sama seperti hewan peliharaan, hanya ras yang baik yang akan digemari.”
"Tapi, dalam sebuah persilangan, terkadang ada satu atau dua orang yang bermutasi dan mengalami peningkatan kualitas gen. Dan Itulah kamu, Ryan.”
Senyum di wajah Sayonaki berangsur-angsur menjadi dingin. “Namun, hibrida tetaplah hibrida. Jika menurut mereka, gen yang mereka miliki dapat bermutasi menjadi varietas berlevel tinggi, itu hanya sebuah lelucon.”
__ADS_1
“Bahkan jika gen mereka bermutasi menjadi lebih baik, tetap saja mereka tidak dapat mengatasi batasan yang dibawa oleh gen buruk mereka.”
"Sekarang biarkan aku membuktikannya."
“Atas nama Count Dracula dan Vlad of The Endless Sin"
Sayonaki lalu mengarahkan moncong pistolnya ke pelipis kepalanya.
"Aku baru saja mengatakan bahwa Vlad akan bangun ketika ia merasakan rangsangan yang hebat sehingga otak menghasilkan neurotransmitter."
"Vlad berhasil melakukan semua itu dengan menduplikasi gen dari keluarga Tohyama."
Setelah mendengar penjelasan Sayonaki, Ryan tiba-tiba teringat tentang Kemampuan Khusus Kinji.
'Bukankah Mode Hysteria Savant Syndrome milik Keluarga Tohyama adalah Kemampuan Khusus yang memungkinkan tubuh untuk mengeluarkan neurotransmitter yang disebut Beta-Endorphin?' pikir Ryan.
"Hysteria Savant Syndrom adalah kekuatan yang berasal dari naluri untuk memperbanyak keturunan."
"Namun Vlad tidak menginginkan hal seperti itu. Ia pun menemukan cara lain untuk memicu Hysteria Savant Sindrom tanpa perlu melalui peningkatan libido."
"Yaitu dengan cara mati mendadak."
"Selama aku berhasil memasuki kondisi kematian mendadak, maka aku dapat memicu Hysteria Savant Syndrom."
Sluuuup
Di bawah efek peredam yang membuat suara tembakan terdengar sangat halus, darah dari pelipis kepala Sayonaki mulai mengalir membasahi pipinya seperti air mata.
Tubuh Sayonaki yang telah tewas itu, tiba-tiba bergerak bagaikan boneka Marionet, seakan tubuh bagian atasnya menggantung.
"Auuuuuuuu!"
"Auuuuuuuu!"
Satu demi satu serigala perak mulai melolong. Suara lolongan ini penuh dengan semangat dan juga gairah.
Beberapa saat kemudian, tubuh Sayonaki tiba-tiba membengkak.
Kraak
Tuksedo yang Sayonaki pakai pun langsung robek berkeping-keping dan membuat serpihan kainnya terbang kemana-mana.
Tubuh Sayonaki yang membengkak itu mulai tumbuh bulu-bulu pada sekujur tubuhnya. Otot-ototnya pun juga menggembung.
__ADS_1
Pada saat Sayonaki mengangkat kepala dan membuka matanya, sepasang mata itu telah menjadi mata seekor binatang buas. Dari mulutnya, perlahan keluar gigi taring.
Tak lama kemudian, transformasi Sayonaki telah usai. Ia kini telah berubah menjadi sesosok monster setinggi 2 meter dengan rambut berwarna gelap di sekujur tubuhnya.
Selain bulu berwarna gelap, di beberapa bagian tubuhnya, terdapat tato putih dengan simbol menyerupai gambar mata.
Menyaksikan manusia serigala bertubuh besar itu, mata Riko membelalak. Rasa takut bercampur dengan trauma masa lalu membuatnya kembali gemetaran.
Bahkan Aria, saat ini mau tidak mau menggigit gigi dan berbisik, "Vlad ..."
Dalam sejarah Rumania, Vlad dikenal sebagai Vampir Count Dracula. Walau dia seorang Vampir, karena selama berabad-abad ia terus berevolusi, akhirnya ia memiliki wujud menyerupai manusia serigala.
Lalu sekarang, Vlad yang telah hidup ratusan tahun ini bergabung dengan IU dan menjadi orang nomor dua di sana.
"Auuuuuuuu!"
"Auuuuuuuu!"
Semua serigala yang telah mengepung Ryan, Aria, dan Riko melolong ke arah Vlad dan menundukkan kepala mereka seakan memberi hormat pada sang raja.
Mendengar suara para serigala tersebut, Vlad juga mulai meraung.
"Roaaaaar!"
Raungan menakutkan itu berubah menjadi gelombang suara yang menyebar bagaikan angin dan mengikis geladak.
Di saat yang sama, Aria dan Riko berteriak. "Ahh!"
Tubuh mungil Aria dan Riko terhempas oleh gelombang suara Vlad hingga membuat mereka berguling beberapa kali di atas lantai geladak.
Tanpa menunggu waktu lagi, Ryan langsung melepaskan tembakan beruntun.
Kilatan cahaya tiba-tiba muncul disertai suara tembakan yang terdengar nyaring.
Dor Dor Dor Dor Dor
Dengan cepat, peluru-peluru tersebut menembus satu persatu kepala serigala perak Kaukasus dan langsung menewaskan mereka.
Setelah Ryan membunuh para serigala itu, ia terdiam sejenak sambil menatap tajam manusia serigala yang ada di depannya.
Dor
__ADS_1
Dengan suara tembakan mendadak ini, sebuah kilatan api muncul di depan Ryan dan memuntahkan Invisible Bullet yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Bagaikan sebilah pisau, peluru tersebut meluncur dengan kasar ke arah Vlad.