Reincarnation Room

Reincarnation Room
Tohyama Kana


__ADS_3

Boom


Suara ledakan terdengar dari tubuh Kinji.


Kecepatan Kinji yang telah mencapai kecepatan suara membuat tubuhnya menembus penghalang angin dan menciptakan gelombang ledakan suara.


Saat jarak Kinji semakin dekat dengan Ryan, Kinji menembakkan tinjunya dengan kuat bagaikan peluru berkecepatan supersonik.


Kelembaban di udara menyentuh ujung kepalan tangan yang memecahkan penghalang angin. Hal ini menyebabkan kelembapan di udara berubah menjadi embun, membentuk kerucut uap yang melayang di sekitar lengan Kinji.


Pada kecepatan puncak seperti itu, kulit pada lengan Kinji robek terkena gelombang kejut supersonik, menyebabkan darah beterbangan, dan bercampur di kerucut uap.


Pemandangan ini hampir seperti kelopak bunga sakura yang melayang di sekitar lengan Kinji.


Kinji lalu meneriakkan nama teknik ini sambil melepaskan pukulan supersonik. "Cherry Blossom (Ouka)!" 


Pukulan yang diluncurkan Kinji sangat cepat hingga sulit untuk dihindari. Selain itu, kekuatan pukulan ini juga sangat kuat. Bahkan, walau pukulan ini belum mengenai Ryan, kulit tubuh Ryan terasa seperti tercabik-cabik oleh hembusan angin pukulan Kinji,


“Ini!” Ryan tidak menyangka kekuatan pukulan yang diperlihatkan Kinji benar-benar di luar ekspektasinya.


Walau Ryan dihadapkan dengan situasi seperti ini, namun Ryan sama sekali tidak ada keinginan untuk menggunakan Mystic Eyes of Death Perception dan juga Moon Blade.


Hal ini disebabkan karena Ryan masih menganggap Kinji sebagai teman. Ryan berpikir, bahwa Kinji pasti memiliki alasan tersendiri sampai ia berani melawan Ryan. 


Selain itu, Ryan juga tidaklah lemah. Selama setahun terakhir, Ryan terus-menerus berlatih Teknik Membunuh Nanaya di waktu luangnya.


Bahkan jika tidak ada senjata, pengguna Teknik Membunuh Nanaya masih bisa menjadi Iblis Pembunuh hanya dengan mengandalkan tubuh fisiknya.


Tanpa gerakan dramatis seperti milik Kinji, tanpa adanya efek seindah kelopak sakura yang berterbangan di sekitar tangan Kinji, Ryan mulai mengeluarkan tekniknya. 


"Flashing Dash: Full Moon (Sensō: Meigetsu)!"


Hembusan angin tiba-tiba berkumpul di bawah kaki Ryan. Saat bulan purnama bersinar dengan terang di langit malam, tubuh Ryan berubah menjadi kilatan cahaya, dan melompat ke depan bagaikan meteor.


Tak lama kemudian, bagaikan sehelai bulu, Ryan melayang di udara dan melepaskan tendangan super cepat.


Di satu sisi, ada pukulan berkecepatan supersonik yang bercampur dengan guguran kelopak bunga sakura.


Di sisi lainnya, sebuah tendangan meteor yang bercahaya bagaikan sinar bulan datang menyambar.


Seketika itu juga, kedua serangan tersebut bertemu di udara dan saling bertumbukan.


BOOM


Seiring dengan suara gemuruh guntur, amukan gelombang kejut yang berpusat pada Ryan dan Kinji langsung meluas dengan liar.


Kratak Kratak Kratak


Di bawah amukan gelombang kejut, aspal landasan pacu yang kokoh itu langsung hancur dan menciptakan lubang sedalam satu meter.


Tak ayal, debu pun berterbangan menutupi area tersebut.


Seketika itu juga, mereka berdua terbang terpental ke belakang dan berguling-guling beberapa kali di atas landasan pacu.


Perlahan, angin sepoi-sepoi menghapus debu yang berterbangan di sana.


Situasi landasan pacu kembali menjadi hening, sama seperti sedia kala. Yang tersisa di sana hanya sebuah lubang dengan diameter lima meter dan kedalaman satu meter.


Kini, Ryan berlutut dengan satu kaki di bawah. Tampak darah mengalir dari mulutnya. Walau begitu, luka yang dialami Ryan sama sekali tidak parah.


Namun, hal yang berbeda ditunjukkan Kinji. Ia juga berlutut dengan satu kaki di bawah sama seperti Ryan. Akan tetapi, tangan kanannya dipenuhi luka mengerikan dan kulit yang terkelupas. 

__ADS_1


Seragam Butei yang ia kenakan juga terlihat compang-camping. Tubuhnya benar-benar dipenuhi darah yang terus mengalir.


Ryan mengangkat kepalanya dan memperhatikan Kinji, yang lengan kanannya mengalami luka serius. Ryan lalu menyeka darah dari mulutnya dan perlahan berdiri.


Melihat hal ini, Kinji tersenyum dan mengatakan sesuatu. "KAMU MENANG!"


Setelah mengatakannya, Kinji tak dapat menahan beban tubuhnya lagi dan akhir jatuh ke tanah. Nafas Kinji begitu berat sehingga dadanya terus naik dan turun tidak beraturan.


Efek samping Cherry Blossom (Ouka) membuat luka Kinji lebih parah dari Ryan. Dengan kata lain, Kinji telah kehilangan kemampuannya untuk bertarung.


Sedangkan Ryan yang hanya menderita luka ringan, masih bisa terus bertarung. Apalagi, Ryan belum menggunakan Stigma sama sekali.


Dari sini, sudah jelas siapa yang menang dan kalah.


"Seperti yang diharapkan dari Ryan!" Kinji tertawa sambil berbaring di atas aspal landasan pacu. "Aku masih tetap tidak bisa menang darimu."


"Jika kamu tidak keluar dari kelas Assault di tengah jalan, mungkin keadaannya akan sedikit berbeda." ucap Ryan dengan nada bercanda.


Kinji lalu menutup matanya, dan berkata pada Ryan. "Kamu harus segera pergi ke tempat Kanzaki-san."


"Kakakku ingin membunuhnya "


Kata-kata ini membuat mata Ryan terbelalak. 


Tanpa basa-basi, Ryan langsung bertanya pada Kinji. "Katakan padaku, di mana mereka sekarang?!"


~***~


"Haah haah haah haah …"


Suara nafas tersengal-sengal bergema di sebuah bangunan terbengkalai yang ada di Pulau Akademi.


Di dalam gedung itu, Aria tergeletak di tanah dengan nafas yang berat. Kedua tangannya terus bergetar sembari menggenggam erat pistol kembarnya.


Sepintas, Aria seperti orang baru saja melakukan olahraga berat dan butuh waktu untuk memulihkan staminanya yang telah habis.


Namun, semua murid Butei pasti paham dengan apa yang terjadi pada Aria.


Aria roboh karena terkena banyak tembakan yang mengenai seragam anti pelurunya. Ini artinya, Aria sedang bertarung dengan seseorang 


Di saat yang sama sebuah suara terdengar di telinga Aria.


"Exodus 9:34, ketika Firaun melihat bahwa hujan, hujan es, dan guntur telah berhenti, dia berdosa lagi."


Bersamaan dengan suara ini, seorang gadis muda muncul di depan Aria. Ia menatap Aria yang sedang berbaring di atas tanah dengan wajah acuh tak acuh.


“Sayangnya, orang sering kali tidak dapat mengandalkan Tuhan untuk keadilan. Jika mereka ingin menyelamatkan dunia dan memerangi kejahatan, maka mereka harus bergantung pada kekuatan mereka sendiri.”


Gadis muda tersebut terlihat cantik bagaikan seorang wanita yang keluar dari dalam mimpi. Penampilannya tersebut memberi perasaan yang tidak nyata dan juga memenangkan hati.


Menyaksikan gadis cantik yang seperti mimpi ini, Aria menggigit bibirnya dan bertanya, "Siapa kamu?"


"Kamu tidak perlu tahu itu. Kamu hanya perlu tahu bahwa tidak akan ada yang akan dapat menyelamatkanmu malam ini. Demi keadilan, kamu harus mati."


Setelah mengatakannya, tangan santai gadis itu tiba-tiba bergerak.


Dor


Suara tembakan terdengar sangat keras. Di saat yang sama, sebuah kilatan api muncul di depan gadis itu.


Dengan cepat, peluru tersebut menghantam bagian dada Aria.

__ADS_1


Bukk


"Argh!" Aria menjerit kesakitan. 


Walau begitu, Aria tetap mencengkram pistolnya, dan menatap gadis yang berdiri di depannya. 


Aria lalu menggertakkan giginya dan berkata, "Itu adalah Teknik Invisible Bullet. Bagaimana mungkin kamu bisa menggunakan ini?! Ini jelas teknik milik partnerku!"


Mendengar klaim Aria, gadis muda itu berkata, "Jika yang kamu maksud Weapon Wizard, aku mendengar bahwa dia juga menggunakan senjata yang sama denganku." 


"Tapi, sebelum gelar Weapon Wizard muncul, aku sudah terlebih dulu menggunakan teknik ini. Jadi, meskipun kamu mengira bahwa aku mencuri tekniknya, aku hanya bisa mengatakannya kepadamu. Maaf …"


"Selain itu …" Gadis itu menatap Aria dan mengatakannya dengan nada yang dalam. "Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa Invisible Bullet adalah teknik yang digunakan Weapon Wizard?"


"Apa maksudmu?" tanya Aria.


"Exodus 17: 8, Yosua mengalahkan tentara Amalek dengan pedangnya. Ini artinya, Yosua sangat ahli dalam menggunakan pedang. Sama halnya dengan Ryan, ia bukan seorang ahli dalam menggunakan pistol, melainkan ahli dalam menggunakan pisau belati."


Setelah itu, gadis itu mengabaikan Aria, dan menggerakkan jarinya.


Dor


Lagi-lagi, sebuah kilatan cahaya muncul di depan gadis muda tersebut.


Namun, peluru tersebut tidak mengenai tubuh Aria. Melainkan mengenai sebuah peluru yang ditembakkan dari arah lain di saat yang hampir bersamaan ketika gadis muda itu menggunakan Invisible Bullet.


Clang


Di bawah suara tabrakan yang tajam, dua peluru yang tidak dapat dilihat dengan mata t3l4njang saling bertabrakan di udara,  menimbulkan percikan api, dan akhirnya memantul.


Setelah melihat ini, alis gadis cantik itu bergetar dan kemudian melihat ke arah pintu masuk gedung terbengkalai ini.


Di sana, Ryan berdiri sambil mengarahkan pistol Glock 18 cadangan ke arah gadis itu.


Sejak awal, Ryan memang memiliki dua pistol. Satu untuk digunakan sehari-hari, dan satu lagi untuk cadangan.


Saat melawan Kinji, Ryan memang enggan untuk menggunakan pistol keduanya. Karena ia ingin tahu, sampai sejauh mana kekuatan Kinji berkembang.


Ryan lalu melihat ke arah Aria yang tergeletak di lantai. Ia pun menghela nafas lega begitu memastikan keselamatan Aria.


"Sepertinya aku tepat waktu."


"Ryan!" Wajah muda Aria yang menawan pun dipenuhi kegembiraan.


"Kamu datang?" Gadis muda itu terdiam dan menghela nafas. "Aku sudah tahu bahwa Kinji akan kalah. Tapi aku tidak menduganya bakal secepat ini."


Mendengar ini, Ryan melihat ke arah gadis itu. "Apakah kamu Tohyama Kana?"


Dari nama keluarganya saja, sudah tidak diragukan lagi bahwa orang ini adalah saudara dari Tohyama Kinji.


"Sama seperti yang Kinji katakan." Ryan berkata kepada Kana, "Kamu belum mati."


"Jadi begitu, apakah Kinji memberitahumu semuanya?" Kana bergumam, tak lama kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Ryan.


"Jika aku tidak dapat membunuh Aria sebelum kamu tiba, maka misiku telah gagal."


"Walau begitu, aku berpikir bahwa kita pasti akan bertemu lagi."


Setelah mengucapkannya, Kana langsung berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu.


Ryan tidak menghentikan Kana sama sekali dan membiarkannya pergi begitu saja.

__ADS_1


Melihat kepergian Kana, Ryan bergumam, "Tohyama Kana … dia itu musuh, atau teman?"



__ADS_2