
Perlahan, mata biru sedingin es Ryan berubah kembali menjadi mata berwarna gelap.
Ryan lalu menghela nafas panjang, sehingga tubuhnya yang menegang menjadi sedikit rileks. Aura membunuh di sekitar tubuhnya yang sejak tadi telah berfluktuasi, kini mulai kembali ke keadaan normal.
Ryan kemudian meregangkan tubuhnya sedikit dan bergumam dengan riang, "Aaah … ini benar-benar sarana melepas penat yang paling ampuh. Sudah lama sekali aku tidak melakukan pembantaian massal seperti ini. Benar-benar membuat pikiranku semakin segar."
Ryan yang telah dalam kondisi rileks akhirnya kembali melihat ke sekeliling. Di ruangan yang luas ini, hanya terlihat beberapa titik yang mengalami kerusakan.
Sementara tubuh para Crimson Denizen dan juga Rinne, semuanya telah menghilang dan telah berubah menjadi api Power of Existence.
Oleh karena itu, tidak ada mayat atau darah yang tertinggal di ruangan ini.
Jika bukan karena banyaknya senjata yang berserakan di tanah, dan juga beberapa tempat yang masih terbakar, maka orang lain yang datang ke sini untuk pertama kali pasti tidak akan percaya bahwa di tempat pernah terjadi pembantaian massal.
"Crimson Denizen yang ada di sini tadi hanyalah sebagian kecil dari Bal Masqué.”
Meskipun jumlahnya tampak luar biasa, tapi dari semua pasukan yang mengepung Ryan, jumlah Rinne adalah yang paling banyak. Sementara jumlah Crimson Denizen kurang dari seratus.
Rinne hanyalah seorang pelayan yang dibuat oleh Crimson Denizen menggunakan Power of Existence. Bahkan jika semua Rinne yang diciptakan musnah, selama masih memiliki Power of Existence, maka Rinne dapat terus dibuat.
Maka dari itu, Ryan berpendapat bahwa lawan dalam pertempuran yang baru saja ia jalani hanyalah sebagian kecil dari Bal Masqué.
"Aku menduga, sebagian besar anggota Bal Masqué sedang tidak berada di Seireiden dan tersebar di seluruh dunia. Seandainya mereka semua ada di sini pun, aku yakin bisa menanganinya. Selama aku belum bertemu Crimson Lord kuat, maka semua akan baik-baik saja."
Walau Ryan telah melakukan semua pembantaian ini seperti sedang berjalan-jalan di taman bermain, tapi Ryan tetap tidak bersikap sembrono. Ia tetap menganalisa pertempuran tadi dengan sangat tenang.
Setelah beberapa saat, Ryan bergumam, "Oke, karena aku sudah mengusir para Denizen lemah itu, ini adalah saat yang tepat untuk kembali mencari jalan keluar dari Seireiden."
Ryan kembali menutup matanya untuk merasakan arah angin di ruangan ini. Tak sampai dua detik, Ryan telah menganalisa jalur dan arah yang harus diambil.
Dengan segera, Ryan mulai mempercepat langkahnya dan hendak pergi ke pintu yang baru saja diblokir oleh pasukan gabungan Rinne-Crimson Denizen.
Namun tiba-tiba saja, suara angin yang berhembus menghilang.
"!!!"
Ryan, yang berencana untuk pergi ke arah gerbang, merasa bahwa udara di sekitarnya telah berubah. Bahkan jantung Ryan berdegup dengan kencang seolah-olah akan melompat keluar.
__ADS_1
Perasaan krisis dan bahaya melonjak dari hati Ryan.
Namun sayang, Ryan tidak punya waktu untuk menanggapi semua ini.
Detik berikutnya, dunia berubah warna.
BOOM
Dengan deru raungan yang sangat keras, seluruh lantai di ruangan tersebut meledak.
Gelombang api merah gelap mengamuk dengan ganas membawa berbagai macam pedang tajam yang menembus tanah dan menguapkan udara di sekitarnya. Bagaikan gunung berapi yang meletus dari kedalaman bawah tanah. lantai ruangan tersebut berterbangan dan menyebar ke mana-mana.
Skala api merah tua yang mengamuk begitu besar sehingga sulit untuk dibayangkan. Hanya dalam sepersekian detik, seluruh ruangan dengan luas yang sebanding dengan ukuran lapangan sepak bola itu hancur.
Pilar batu berubah menjadi puing-puing dalam amukan api.
Langit-langit pada akhirnya hancur di bawah pengaruh pedang dan api yang bergelombang bagaikan tsunami.
Dalam sekejap, ruangan megah dan luas itu berubah menjadi reruntuhan.
Bahkan jika itu adalah sebuah kota, di bawah kekuatan yang begitu menakutkan, kota tersebut akan langsung berubah menjadi reruntuhan, hanya menyisakan pemandangan penuh puing-puing dan asap hitam.
Kekuatan serangan ini tanpa ampun akan mengubah daerah sekitarnya menjadi neraka, membiarkan pedang tajam itu pergi ke segala arah, dan api merah gelap mengamuk menyapu ruang, menghancurkan semua yang ada di sekitarnya.
Bencana mengerikan itu berlangsung selama beberapa saat, hingga akhirnya nyala api yang mengerikan itu, seperti letusan gunung berapi, menyatu dan menghilang.
Setelah gelombang api merah tua itu menghilang, ruangan yang sebelumnya megah tersebut menghilang tanpa meninggalkan lantai dan langit-langit. Kini, semua puing-puing yang tersisa telah berserakan pada lantai di bawah ruangan megah tersebut.
Puing-puing yang berserakan tersebut tampak masih terus terbakar api merah tua, hingga membuat reruntuhan tersebut menjadi lautan api.
Tak Tak
Beberapa kerikil dan debu jatuh langsung langit, dan menghantam tanah, menimbulkan suara yang renyah. Api merah tua menutupi setiap sudut area sekitarnya, meninggalkan seluruh reruntuhan yang terbakar dipenuhi asap.
Di salah satu sudut reruntuhan seperti itu, sebuah tangan tiba-tiba muncul dari tumpukan puing kerikil, menahan bebatuan di atasnya, dan perlahan menopang tubuhnya..
“Ugh …”
__ADS_1
Dengan suara meringis, Ryan keluar dari puing-puing yang menindih tubuhnya
Tap Tap
Sejumlah besar darah merembes keluar dari tubuhnya, menetes ke bawah dan secara bertahap membentuk genangan darah kecil. Meski tidak sampai menimbulkan luka serius, namun hal tersebut cukup memprihatinkan.
Walau begitu, Ryan tetap merasa lega dengan kondisinya saat ini.
“Untungnya, di saat-saat terakhir, aku berhasil menggunakan Prana untuk memperkuat pertahananku hingga mencapai batasnya.” bisik Ryan dengan nafas beratnya.
Selain itu, Peralatan (Equipment) baru Ryan, Light Armour, yang saat ini dikenakannya, memiliki efek mengurangi dampak serangan hingga setengahnya. Oleh karena itu, Ryan dapat selamat dari bencana yang mengerikan ini dan hanya menderita luka seperti ini.
Jika tidak, Seireiden pasti akan menjadi tempat peristirahatan terakhir Ryan.
“Seingatku, hanya ada satu orang dalam Anime Shakugan no Shana yang memiliki kekuatan seperti ini."
Ryan mengangkat kepalanya dan melihat ke depan.
Di sana, bayangan gelap muncul diam-diam dari dalam kobaran api merah gelap. Bayangan tersebut tampak memegang pedang tajam, dan perlahan berjalan mendekati Ryan.
“Aku tidak menyangka kamu bisa bertahan di bawah Madder Red Surging Wave (Akaneiro no Dotou) yang aku lepaskan.”
Nada suara yang sangat dalam keluar dari mulut orang tersebut.
“Ini pertama kalinya aku melihat seseorang yang mampu melakukannya. Dan terlebih lagi, orang tersebut adalah manusia.”
Tap
Sriiing
Bayangan gelap tersebut tiba-tiba bergerak maju dengan kecepatan yang sangat mencengangkan. Dan dalam sekejap, ia telah berada di depan Ryan sembari melepas tebasan kuat ke leher Ryan.
Clang
Suara tabrakan di antara dua logam terdengar tajam. Belati berlambang bulan sabit dengan presisi memblokir serangan pedang yang datang ke arahnya.
Melihat sosok yang tiba-tiba muncul di depannya, Ryan berbisik, “Destructive Blade (Kaijin), Sabrac …”
__ADS_1