
"Yo." Ryan menyapa Kinji seperti biasa.
Begitu Ryan melihat lingkaran hitam pada sekeliling mata Kinji, Ryan penasaran dan bertanya padanya. "Kinji, apakah kamu mengalami trauma sampai nggak bisa tidur?"
Mendengar pertanyaan Ryan, Kinji berteriak. "Kamu kira salah siapa aku sampai tidak bisa tidur! Kalian berdua sangat berisik tadi malam!"
Ryan menggaruk-garuk hidungnya sambil tersenyum. "Hehehehe, maaf-maaf …"
"Tapi omong-omong, tidak biasanya kamu berangkat sepagi ini?"
Kinji menghela nafas panjang dan berkata, “Karena aku adalah salah stau korban dalam kejadian kemarin, pagi ini aku harus memberi kesaksian pada Departemen Administrasi Akademik."
Kinji kemudian menatap Ryan dan Aria. "Jadi dia teman olahragamu tadi malam?"
Ryan menganggukkan kepalanya seakan hal ini sudah biasa.
Akan tetapi, reaksi berbeda ditunjukkan oleh Aria. Wajahnya benar-benar merona sampai mengeluarkan asap.
Dengan sigap, tangan Aria langsung mengambil kedua pistol dari bagian belakang tubuhnya dan langsung menodongkannya pada area dada dan dagu Kinji.
"Aku memperingatkanmu, jika sampai berita mengenai kegiatan malam kami tersebar, aku akan melubangi kepalamu!"
Kinji yang secara reflek mengangkat kedua tangannya langsung berbicara dengan cepat. "Te-tenang, tenang … aku janji akan merahasiakan ini semua. Aku juga janji tidak memberitahu Shirayuki."
Mendengar janji Kinji, Aria menarik kembali kedua pistolnya. "Aku pegang janjimu …"
"Lagipula, kalian berdua telah menolongku kemarin. Sudah sewajarnya aku membantu kalian merahasiakan apa yang terjadi semalam."
Setelah mengatakannya, Kinji segera pergi seakan ia ingin secepatnya menjauh.
Melihat Kinji yang secara bertahap pergi, Aria bertanya, "Apakah dia Tohyama Kinji yang berhasil mendapatkan peringkat S bersamamu di kelas satu?"
Ryan mengangkat alisnya. "Apakah kamu juga menyelidikinya?"
"Aku mendengar tentangnya saat mencari informasi tentangmu di kelas Assault."
Aria berkata, "Mereka semua mengatakan bahwa sebelumnya, kecuali saat Tohyama Kinji masih di Assault, tidak ada yang bisa menjadi teman lawan latih tandingmu. Maka dari itu aku juga mengumpulkan informasinya."
"Benarkah?" Ryan bertanya dengan rasa penasaran. "Kenapa kamu nggak memilih Kinji sebagai pasanganmu?"
"Kalau kamu tidak ada, maka aku akan memilihnya. Tapi karena aku telah mendapatkanmu, maka pria muram itu otomatis tersingkir."
Di saat Aria membicarakan Kinji, pria yang disebut muram oleh Aria itu mendadak bersin saat akan menuruni tangga. Alhasil, Kinji pun jatuh.
"..."
"..."
Ryan dan Aria hanya bisa tertegun melihat semua kejadian ini.
"Apakah dia benar-benar mendapatkan peringkat S saat tes masuk?" tanya Aria dengan penuh keraguan.
"Yah, pria itu agak istimewa. Seperti Chutei, ia terkadang memiliki kekuatan yang luar biasa. Namun saat kemampuan khususnya nggak aktif, maka ia nggak akan ada bedanya dengan orang biasa."
Ryan menggaruk-garuk hidungnya dan berkata, "Jadi, kamu bisa menganggap Kinji memiliki dua mode, yaitu mode sampah dan mode Hysteria."
"Sebagai seorang Butei, dia sangat tidak stabil. Jika aku berpartner dengannya, kepalaku pasti akan sangat pusing. Tidak diragukan lagi, aku pasti akan sering menembaknya." ucap Aria.
Entah kenapa, Ryan merasa ucapan Aria ini memang akan terjadi jika ia memilih Kinji. "Untungnya, Aria tidak memilih Kinji sebagai partner."
Sebagai tetangga Kinji, Ryan merasa temboknya tidak akan mampu menahan kebisingan yang dihasilkan dari pertengkaran antara Aria dan Kinji jika mereka manjadi partner.
'Sepertinya, merebut Aria dari Kinji adalah pilihan yang tepat. Kalau nggak, hidupku nggak akan bisa tenang!' batin Ryan.
Aria dan Ryan kemudian saling berbincang sambil berjalan ke sekolah.
Setibanya mereka berdua di ruang kelas 2-A, Aria dan Ryan disambut dengan tepuk tangan meriah oleh murid-murid kelas 2-A.
Plok Plok Plok Plok
"Terima kasih atas kerja kerasnya kemarin."
"Kalian benar-benar pahlawan!"
"Kalian luar biasa!"
"Kalian tim terbaik di kelas 2 ini!"
Ryan dan Aria pun membalas sorakan mereka dengan senyuman.
__ADS_1
Suasana kelas yang riuh ini membuat seolah-olah sedang ada pesta di kelas tersebut.
Hal ini wajar, karena akhir-akhir ini sudah sangat jarang Butei menghadapi insiden besar seperti ini. Oleh karena itu, murid-murid Butei, terutama kelas 2-A sangat heboh.
Sementara itu, Kinji hanya duduk diam menyendiri di sudut ruangan sambil terus melihat keluar jendela dengan wajah yang membosankan. Tidak mengikuti apa yang murid-murid lainnya lakukan.
Saat sedang ramai-ramainya, tiba-tiba muncul sosok mungil dari kerumunan.
"Hiks hiks …" sosok tesebut berjalan ke depan Ryan sambil terisak menangis.
"Ri-Ri tega sekali, hiks hiks … apa aku dan Shirayuki masih belum cukup? Sekarang malah mendadak kamu akrab dengan perempuan lain, hiks hiks … "
"Apa yang Ri-Ri lakukan itu jahat, hiks hiks …"
Melihat Riko yang terisak di sana, Ryan tidak bisa menahan tawanya. Karena apa yang dilakukan Riko terlalu palsu.
Namun, Aria dengan mudah mempercayainya "Kamu … kenapa kamu tiba-tiba menangis?"
Sambil menundukkan kepalanya, Riko terus menangis. Namun, Ryan dapat melihatnya. Mulut Riko tersenyum dengan senyuman jahat.
Dari semua murid kelas 2, mungkin hanya Ryan yang pernah melihat Riko tersenyum seperti ini.
Ryan pun mendapat firasat buruk dari tingkah Riko ini. Ia telah bersama Riko sejak kelas satu. Jadi sudah sewajar ya Ryan memahami kepribadian gadis remaja bertubuh molek ini.
Singkatnya, Riko adalah orang yang ceria, lincah, naif dan juga sedikit idiot.
Akan tetapi, Riko juga memiliki sifat usil yang tak banyak diketahui orang. Ryan sering kali menjadi korban keusilan Riko.
Misalnya saja, ketika Ryan meminjam buku catatan Riko, diam-diam Riko menyelipkan foto-foto tidak senonoh di dalamnya. Akibatnya, guru yang kebetulan melihatnya langsung menghukum Ryan dengan memotong kredit poinnya.
Contoh lainnya, ketika Riko memeluk Ryan, diam-diam ia mengambil ponselnya, dan mengganti wallpaper ponselnya dengan foto seksi Riko.
Alhasil, saat Ryan membuka ponselnya di depan Shirayuki, sikap Shirayuki mendadak berubah seakan dunia telah berakhir. Ia lalu memburu Riko menggunakan Kemampuan Ramalannya dan mengejarnya mati-matian.
Jadi, gadis yang tampak tidak bersalah dan naif ini sebenarnya menyembunyikan setan kecil di dalam dirinya.
Dan saat ini, sangat jelas bahwa Riko ingin mengusili Ryan lagi.
Ryan berusaha menghentikan aksi usil Riko ini.
Namun, Riko telah melihat keinginan Ryan ini dan berkata kepada Aria sambil terisak menangis. "Aria mengambil pacar Riko. Padahal Ri-Ri telah berjanji hanya akan berpacaran dengan Riko dan Shirayuki saja. Itu artinya Aria telah merebutnya dari kami. Dasar wanita jahat!"
Beberapa saat kemudian, suara murid-murid penghuni kelas 2-A meledak.
"Oooooooooooooooh!"
Semuanya bersikap berlebihan seakan menemukan bahan gosip yang hot.
"Aku kira kemesraan Riko pada Ryan hanyalah sebuah candaan."
"Sama, aku juga mengira begitu."
"Padahal Ryan sudah memiliki Hotogi-san."
"Pantas saja Hotogi-san sangat akrab dengan Riko. Aku sering melihat Hotogi-san mengejar Riko. Jadi mereka berdua pacar Ryan."
"Itu artinya, Kanzaki-san adalah orang keempat?"
Sekelompok murid perempuan saling berbisik membicarakan Ryan.
Sedangkan untuk murid laki-laki, mereka hanya diam dan menatap Ryan dengan penuh emosi.
Hal ini membuat Ryan menghela nafas panjang. Ryan kemudian ingin mengeluarkan hawa membunuhnya untuk membungkam keributan yang diciptakan Riko.
Akan tetapi, sebelum Ryan melakukannya, tiba-tiba terdengar suara tembakan.
Dor Dor Dor
Dengan tembakan ini, pada langit-langit ruang kelas 2-A, terdapat 3 lubang peluru.
Hal ini langsung membungkam seisi kelas.
Ting Ting
Tiga longsongan peluru kosong jatuh ke tanah dan mengeluarkan suara yang tajam.
Di depan pintu kelas, Aria mengangkat satu pistolnya ke atas.
"Siapa yang berani bicara lagi, akan aku lubangi tubuhnya!" ucap Aria dengan suara yang mirip anak kecil.
__ADS_1
Tidak ada yang berani bicara lagi di hadapan Butei peringat S yang sedang dalam keadaan mengamuk.
Aria kemudian melihat ke arah Ryan seperti seekor singa betina yang sedang marah. "Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu punya gadis lain selain aku dan Shirayuki?!"
Ryan tak menjawab pertanyaan Aria. Akan tetapi ia memanggil Riko yang sejak tadi berusaha menahan tawanya.
"Hei, iblis kecil. Kamu seharusnya tahu kan kalau aku orangnya pendendam?" ucap Ryan sambil tersenyum. Namun mata Ryan sama sekali tidak tersenyum.
Melihat hal ini, mau tidak mau Riko tertawa. "Hahahaha …“
Mata Riko kemudian sedikit menyipit dan berkata, “Riko hanya bercanda. Itu hanya lelucon kok. Ri-Ri pasti bisa memahaminya."
"Ya, aku mengerti kok." Senyuman di wajah Ryan menjadi lebih ramah, tetapi hal itu malah membuat bulu kuduk murid-murid kelas 2-A bergidik.
"Jadi, aku pikir aku perlu berbicara sebentar denganmu. Ayo ikut aku keluar." Setelah mengatakannya, Ryan langsung mencengkram kepala Riko yang akan melarikan diri dan membawanya keluar kelas.
~***~
Tak terasa, matahari telah berangsur-angsur terbenam.
Setelah kelas pelatihan Assault selesai, Aria pergi ke gedung Connect dan juga Amdo. Aria sepertinya sedang mempersiapkan peralatan untuk menangkap gelombang radio yang digunakan oleh Butei Killer.
Ryan meminta tolong pada Aria untuk membelikannya peluru yang akan ia gunakan sendiri. Mereka kemudian berpisah dan Ryan pulang sendirian.
Namun, Ryan yang baru saja keluar dari gedung Assault, tiba-tiba dicegat oleh seorang gadis imut.
"Jang jang! Riko telah datang!"
Melihat Riko memasang tampang dan gestur yang hanya bisa digunakan saat pesta kejutan, Ryan hanya tersenyum seakan tidak mempedulikan gestur yang ia lakukan.
"Tidak biasanya kamu menemuiku sepulang sekolah? Biasanya kamu ada agenda otaku jam segini."
"Hei, Riko hanya ingin mengejutkan Ri-Ri." Riko lalu datang ke sisi Ryan dan memeluk lengan Ryan.
Riko kemudian berkata dengan manja, "Ri-Ri telah melakukan begitu banyak hal pada Riko pagi ini. Jadi, bisakah Ri-Ri memberikan Riko sedikit kompensasi?"
"Tentu saja." Sebagai pria normal, tentu Ryan tidak menolaknya. Apalagi ia mendapat pelukan erat dari gadis seimut Riko. Selain itu, kedua gunung kembar Riko menjepit lengannya.
“Hehehe …” tawa Riko setelah mendapat persetujuan. Setelah itu, mereka berdua berjalan keluar dari sekolah.
Di bawah sinar matahari terbenam, adegan di mana seorang gadis cantik memegang lengan lawan jenis akan membuat orang-orang mengira mereka adalah sepasang kekasih.
Jika Shirayuki melihat pemandangan ini, dia pasti akan mengejar Riko dan membunuhnya.
Untungnya, Shirayuki masih berada di gunung Osore menjalani Camp Pelatihan.
Sepanjang perjalanan, Ryan dan Riko sama sekali tidak berbicara.
'Hmm … ini aneh … tidak biasanya Riko diam. Biasanya dia banyak bicara.' pikir Ryan sambil mengerutkan dahinya. Ia merasa keadaan Riko agak aneh.
Saat Ryan akan mengatakan sesuatu, tiba-tiba Riko memulainya terlebih dahulu. "Hubungan Ri-Ri dengan Aria sepertinya sangat baik."
"Tentu saja, kami bahkan lebih dari sekedar partner." jawab Ryan sambil menggaruk-garuk pipinya.
"Riko tahu, cepat atau lambat hubungan kalian akan berkembang sampai sejauh ini."
"Hanya saja, Riko tidak menyangka hubungan Ri-Ri dengan Aria akan berkembang begitu cepat dan mulus." Riko memegang tangan Ryan dengan sedikit remasan.
Senyum di wajah Riko juga sedikit memudar. "Bagaimanapun juga, Aria sangat membutuhkan partner. Lain halnya dengan Ri-Ri yang sama sekali tidak membutuhkan partner. Keduanya bisa saling bersatu dengan cepat, Riko benar-benar tidak menduganya."
Tentu saja Ryan tidak bisa memberitahu Riko bahwa hubungan Ryan dan Aria semakin dekat karena mereka berdua telah melakukan olahraga malam.
Jadi, Ryan hanya tersenyum atas ucapan Riko.
Mendadak, Riko mengganti topik pembicaraannya. "Jika Riko suatu hari menghilang dari SMA Butei, apakah Ri-Ri akan merasa sedih?"
Mendengar hal ini, dahi Ryan berkerut. "Apa maksudmu?"
Riko tidak menjawab pertanyaan Ryan, melainkan berkata pada dirinya sendiri, "Selama setahun Riko bersekolah di SMA Butei, Riko sangat senang."
Dari ucapan ini, Ryan merasa Riko seakan sedang bernostalgia.
"Kamu tahu?" Riko menunjukkan senyum indahnya pada Ryan. "Setelah Riko berusia delapan tahun, tidak pernah ada orang yang membantu Riko merayakan ulang tahunnya. Dan semua itu terus terjadi hingga Riko masuk SMA Butei."
Setelah menyelesaikan ucapannya, Riko tiba-tiba menjinjit dan mencium pipi Ryan.
Mendapat sentuhan lembut dari bibir Riko di pipi, Ryan sedikit terkejut.
Setelah itu, Riko perlahan melepas pelukannya. Ia lalu berlari mendahului Ryan dan melambaikan tangannya padanya. Kali ini, Riko memperlihatkan senyum bahagia yang sangat tulus.
__ADS_1
Melihat Riko terus berjalan menjauh menuju ke arah matahari terbenam, Ryan merasakan perasaan yang tidak enak. Ia merasa bahwa Riko telah mengucapkan salam perpisahan selamat tinggal padanya dan ia tidak akan pernah melihatnya lagi.