
'Perasaan tidak enak apa ini?!'
Tiba-tiba, dalam benak Ryan terbesit mengenai SMS yang ia terima tadi malam.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Darah seorang penyihir akan tumpah di tanah ini.
– Butei Killer –
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sampai saat ini, SMS tersebut masih tersimpan di dalam ponsel Ryan.
Dan sekarang, getaran ponsel di sakunya membuat Ryan mengingat kembali tentang masalah ini.
'Jadi begitu … sekarang aku tahu mengapa aku tadi merasa sudah melewatkan sesuatu! Dan jika perkiraanku benar, maka …'
Melihat Aria yang sedang mengangkat bom plastik di tangannya, mata Ryan menyipit.
Dor
Suara tembakan terdengar sangat keras. Tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya muncul di depan Ryan.
Sebuah peluru meluncur dengan cepat dan terus melaju ke depan.
Ini adalah tembakan yang bahkan peringkat S seperti Aria tidak dapat menghindarinya.
Saat kilatan cahaya tergambar di mata Aria, peluru ini dalam sekejap menghantam dengan keras sebuah plat besi pada permukaan bom plastik yang ada di tangan Aria.
Clang
Bersamaan dengan suara benturan logam, semburan percikan api muncul sebagai tanda benturan.
Seketika itu juga, bom plastik yang ada di tangan Aria itu terlempar ke belakang.
"Eh?" Aria sangat terkejut hingga tidak bisa bergerak.
Tanpa pikir panjang, Ryan berlari ke depan Aria, lalu mendekapnya dengan erat, dan membalikkan badannya membelakangi bom yang masih melayang di udara.
BOOM
Di bawah suara ledakan yang memekakkan telinga, semburan api meledak tepat di belakang bus yang melaju kencang.
Jalan di belakang bus pun tertutupi cahaya api yang cukup besar. Air hujan di sekitarnya juga langsung menguap.
__ADS_1
Ledakan ini menghasilkan gelombang kejut yang menyerupai amukan badai, dan langsung menyebar ke segala arah. Bahkan bus yang Kinji dan Ryan tumpangi sampai hampir terangkat akibat efek ledakan ini.
Setelah beberapa saat, api ledakan itu menghilang.
Di atas atap, Ryan terus mendekap tubuh Aria dan mempertahankan postur berlutut dengan satu kaki sambil melihat ke belakang.
Saat ini, Aria benar-benar terkejut. Jika saja Ryan tidak segera menembak bom di tangannya, maka tidak diragukan lagi nyawanya akan tamat.
Memikirkan hal ini, Aria mau tak mau mengangkat kepalanya dan menatap wajah Ryan yang tampak gagah. Melihat Ryan seperti itu, ia benar-benar terpesona dengan aksi dan juga wajah Ryan.
Setelah teror bom berakhir, kecepatan bus yang sudah rusak cukup parah ini mulai melambat hingga akhirnya berhenti.
Tak lama kemudian, suara sirine mobil polisi mulai terdengar, yang artinya, bantuan telah tiba.
Setelah bantuan tiba, Ryan dan Aria menyerahkan penyelidikan kasus ini kepada pihak berwajib. Mereka berdua pun segera naik ke Helikopter dan kembali ke gedung divisi Assault.
Setibanya di gedung Assault, Aria memanggil Ryan yang akan pergi. “Ryan, jangan pergi dulu. Ada yang mau aku diskusikan denganmu. Jadi, tunggulah sebentar.”
Aria lalu masuk ke ruang ganti dan segera mengganti pakaian CE Equipment dengan seragam SMA Butei Tokyo.
10 menit kemudian, Aria keluar dari ruang ganti. "Maaf sudah menunggu. Ayo pergi."
Ryan mengangguk dan pergi bersama Aria keluar gedung Assault menuju ke gedung sekolah pelajaran umum. Tepatnya, mereka pergi ke Departemen Administrasi Akademik SMA Butei untuk memberi laporan.
Sambil berjalan, Aria bertanya kepada Ryan tentang bom yang tiba-tiba meledak itu. “Bagaimana kamu tahu bahwa bom tersebut akan meledak?”
"Apa?" Aria berkata dengan sangat terkejut: "Dengan kata lain, kamu mendapat pesan ancaman dari Butei Killer?"
“Aku juga awalnya berpikir SMS itu hanyalah sebuah ancaman. Akan tetapi, sekarang, aku sadar bahwa SMS ini bukan ancaman, melainkan peringatan.”
Ryan mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan SMS Butei Killer pada Aria. "Sang Pelaku sepertinya dari awal memang telah mengincarku. Dia sengaja memasang bom tersebut di dalam bus yang penuh dengan murid SMA Butei untuk memancingku.”
“Dia mengirimkan SMS dengan nada ancaman untuk menutupi rencana yang sebenarnya.”
“Jadi begitu … “ Aria berkomentar setelah membaca isi SMS Butei Killer.
“Alasan sang pelaku menanam bom di dalam bus adalah untuk memancingmu menyelamatkan penumpang bus. Setelah memastikan kamu ada di dalam bus, dia akan meledakkan bom tersebut dari jarak jauh.”
“Itu benar.” Ryan mengangguk berkata, “Dengan daya ledak sebesar itu, tank saja bisa hancur, apalagi bus biasa. Ini menandakan sang pelaku benar-benar serius ingin membunuhku.”
‘Tapi, yang menjadi pertanyaan, jika sang pelaku benar-benar serius ingin membunuhku, kenapa dia tidak segera meledakkan bomnya ketika kita mendarat di atap bus pertama kali? Apakah ini hanya sebuah peringatan?’ pikir Ryan.
Saat Ryan berpikir sejenak, Aria berjalan mendahului Ryan dan berhenti tepat di depannya. Ia lalu berbalik menghadap Ryan sambil menunjuk Ryan dengan jari telunjuknya. “Kamu memiliki intuisi yang bagus. Hanya dengan beberapa petunjuk kecil saja, kamu dapat langsung mengambil keputusan dengan cepat.”
“Jujur saja, saat itu aku benar-benar takut. Kamu tiba-tiba menembak yang bahkan aku tidak tahu kapan kamu melakukannya, lalu mengenai bom dan membuatnya terlempar ke belakang.”
__ADS_1
“Ini benar-benar teknik yang menakjubkan!”
"Berkat ini, aku akhirnya bisa memastikan Kemampuanmu."
“Maka dari itu, Ryan … jadilah partnerku!”
Mendengar ucapan Aria, Ryan sedikit terkejut. Ia tak menyangka Aria akan mengajaknya untuk menjadi partner.
Ryan yang sudah sejak awal memiliki niatan jelek, tentu tidak akan melewatkan tawaran ini.
"Tentu saja Aria. Bagaimana mungkin aku bisa menolak tawaran gadis seimut kamu." ucap Ryan sambil tersenyum hangat.
Aria menjadi sedikit terbata-bata mendengar ucapan Ryan. "I-i-imut katamu?"
Melihat reaksi Aria yang sangat imut ini, Ryan berjalan mendekat dan memegang dagu Aria dengan lembut. Ia lalu mengangkat kepala Aria hingga mata Ryan dan Aria saling berpandangan.
"Itu benar, kucing kecilku. Kamu sangatlah imut dan cantik. Kamu juga kuat dan tangguh. Aku sangat menyukai gadis tangguh dan imut sepertimu."
Raut wajah Aria kali ini benar-benar merah hingga mengeluarkan asap panas. “Ta-tapi, aku mendengar bahwa kamu telah memiliki seorang pacar?”
“Sudah menjadi hukum alam, sosok pria kuat dan hebat selalu memiliki banyak wanita hebat yang selalu ada disampingnya. Dan itu termasuk dirimu, Aria …” ucap Ryan dengan lembut.
"A-apa kamu serius?"
"Tentu saja Aria."
"Beri waktu aku untuk berpikir." balas Aria yang masih tersipu malu.
Beberapa saat kemudian, Aria sudah kembali tenang. Ia tampaknya masih belum siap untuk menjawab perasaan Ryan, jadi Aria memutuskan untuk menahan dulu jawabannya.
Setelah tenang, Aria kembali melanjutkan pembicaraannya. "Karena kamu telah bersedia menjadi Partnerku, kita bisa segera mendaftarkan tim kita ke Departemen Administrasi Akademik SMA Butei."
Di SMA Butei, ada peraturan di mana murid kelas dua wajib membentuk sebuah tim. Tim ini harus didaftarkan ke Departemen Administrasi Akademik sekolah sebelum akhir September.
Nantinya, tim ini akan terus berlanjut hingga lulus sekolah dan menjadi Butei Profesional.
Maka dari itu, penentuan anggota tim ini sangatlah penting, karena akan berpengaruh pada masa depan ketika menjadi Butei Profesional.
Dengan adanya tim, maka para anggota tim akan dapat saling melengkapi dan menutupi kelemahan masing-masing. Inilah alasan mengapa SMA Butei sejak awal telah membagi murid-muridnya berdasarkan kelas spesialisasi yang diambil saat baru masuk SMA.
Akan tetapi, bulan September masih berjarak 6 bulan lagi. Jadi masih terlalu dini untuk melakukan pendaftaran sekarang.
Melihat sikap Aria yang terkesan terburu-buru, Ryan merasa Aria memiliki alasan tersembunyi. Maka dari itu, Ryan mencoba untuk menggali informasi darinya.
“Aria, kenapa kamu begitu terburu-buru dalam membentuk tim?”
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Ryan, Aria terdiam. Ekspresinya pun berubah seakan ia sedang mengingat hal yang menyakitkan.