
Setelah meninggalkan dunia Aria the Scarlet Ammo, Ryan menghabiskan waktu setengah tahun di dunia The Asterisk War untuk berlatih.
Dengan kata lain, Ryan sudah hampir setengah tahun lebih tidak bertemu Aria.
Shana memiliki sosok yang mirip dengan Aria dalam banyak aspek.
Oleh karena itu, Ryan mau tidak mau teringat kembali dengan gadis imut yang bandel itu.
Melihat wajah Ryan seperti itu, ekspresi bahagia di wajah Shana mulai menghilang dan menjadi sedikit kesal.
Shana sendiri paham mengapa ia merasa jengkel mendengarnya.
Karena, dibandingkan dengan Ryan, sebagai Flame Haze, Shana tidak bisa bertarung bersama, makan bersama, dan juga menghadapi semua musuh bersama.
Flame Haze hampir selalu bertarung sendirian, kecuali ada Crimson Lord kuat yang mengharuskan Flame Haze bekerja sama. Selain kasus khusus seperti itu, Flame Haze selalu bertarung sendirian.
Itu telah menjadi hal umum di dunia ini, dan Shana juga sudah terbiasa dengan pola pikir ini.
Namun, melihat ekspresi Ryan yang dipenuhi rasa nostalgia dan juga rindu, Shana merasa ia telah kehilangan sesuatu yang penting, dan ia merasa sangat kesal dengan perasaan ini.
Beberapa saat kemudian, Shana melontarkan kata-kata yang keren, "Kebutuhan akan Partner membuktikan bahwa kamu belum dewasa."
Shana sadar bahwa kemarahannya pada Ryan sangat tak berdasar. Akan tetapi, suasana hati Shana yang jelek membuat dirinya tidak bisa mengendalikan sikapnya.
Sebaliknya, Ryan yang melihat ekspresi jengkel Shana malah tersenyum hangat. "Kalau begitu, bukankah itu artinya semua Flame Haze belum dewasa?"
"Lagipula, di dalam tubuhmu, ada Crimson Lord yang bersemayam kan? Apakah kamu tidak menganggapnya sebagai Partner?"
Shana pun langsung terdiam begitu mendengarnya.
Alastor yang sejak tadi mendengar percakapan Ryan dan Shana juga ikut terdiam.
Saat ini, dalam benak Shana dan Alastor, mereka menyadari bahwa manusia yang ada di depan mereka jauh lebih paham mengenai esensi Flame Haze dibanding mereka sendiri.
Saat keduanya sedang merenung, Ryan tiba-tiba kembali berbicara. "Oke, sudah aku putuskan! Kalau kalian tidak punya tempat untuk pergi malam ini, maka tinggallah bersamaku!"
"Eh?!"
Shana sangat terkejut begitu mendengar ajakan Ryan untuk tetap tinggal.
Bahkan Alastor tampak merasa sangat cemas bahwa Ryan memiliki agenda lain terhadap Shana dan dirinya.
Maka dari itu, Alastor langsung bertanya pada Ryan. "Bukankah sebelumnya kamu telah menolak kami untuk mengikutimu?"
"Saat itu, kalian memang telah menetapkan Friagne sebagai target kalian. Maka dari itu aku keberatan jika kalian mengikutiku. Aku khawatir kalian akan menghalangiku."
"Akan tetapi, sebelum kalian pergi, kalian telah berjanji padaku untuk nggak akan ikut campur lagi dengan urusan Friagne."
__ADS_1
"Jadi, selama kalian masih memegang janji tersebut, aku mengijinkan kalian untuk tinggal di sini."
"Apalagi, aku tahu kalian nggak punya tempat untuk berteduh dari hembusan angin malam yang dingin. Aku nggak tega membiarkan gadis seperti Shana tidur kedinginan di luar."
Kata-kata persuasif Ryan ini membuat Alastor tidak dapat menyanggahnya.
Shana menatap Ryan sambil mengernyitkan dahinya dan berkata, "Kamu benar-benar pria yang aneh."
"Aku nggak ingin mendengarnya darimu." Ryan menyeringai tak percaya dan berkata, "Singkatnya, kalau kamu tidak memiliki tempat untuk pergi, tinggallah di sini bersamaku. Kamu boleh tidur di tempat tidurku, sedangkan aku bisa tidur di bawah."
"Kamar mandi ada di sebelah kamar." Ryan menunjuk ke satu arah dan berkata kepada Shana, "Jika kamu ingin mandi, kami bisa langsung menggunakannya."
Melihat Ryan mengatur segalanya, Shana menganggukkan kepalanya. Shana lalu melihat ke arah liontin yang ia kenakan.
Alastor sepertinya tahu apa yang dipikirkan Shana dan langsung berkata, "Manusia ini cukup cerdas. Friagne adalah Crimson Lord yang licik. Untuk menghindari serangan mendadak Friagne di tengah malam, dia meminta kita tinggal bersama agar tetap aman."
"Baik, aku mengerti ..." Shana mau tidak mau mengangguk.
Namun, Shana tidak berniat untuk mandi. Karena Flame Haze tidak butuh mandi.
Umumnya, Flame Haze membersihkan tubuhnya menggunakan kekuatan Crimson Lord yang ada di dalam tubuh mereka. Kekuatan itu disebut Api Pemurni (Purifying Flame).
Dengan Api Pemurni (Purifying Flame), Flame Haze dapat menghilangkan berbagai kotoran di tubuh mereka. Dari segi efisiensi kekuatan ini jauh lebih efisien daripada mandi.
Akan tetapi, Ryan menghancurkan ide Shana untuk tidak mandi.
"Setelah mandi, kamu bisa tidur lebih pulas. Walau memang cara ini tidak efisien, tapi cukup untuk membantu kesehatan mental. Cobalah dulu …"
Shana menemukan bahwa apa yang dikatakan Ryan sangat logis. Ia kemudian pergi ke kamar tidur untuk meletakkan pedang dan liontinnya di atas tempat tidur.
Setelah itu, Shana bergegas pergi ke mandi, dan melepas pakaiannya satu demi satu.
Sambil melepas pakaiannya, Shana berkata dengan nada kesal, "Apa-apaan sih manusia itu?!"
Meskipun Shana sangat jarang berkomunikasi dengan manusia, tapi ini adalah kali pertamanya Shana merasa ditekan oleh seorang manusia hingga tidak bisa berkutik.
"Jelas, dia hanya seorang manusia yang sangat sombong. Tapi mengapa aku tidak bisa berbuat apa-apa di depannya? ini benar-benar mengesalkan!"
Shana sangat ingin bisa membantah semua perkataan Ryan. Tapi jika ia melakukannya, Shana merasa ia akan kalah dan jatuh lebih dalam lagi.
"Manusia yang sangat mengerikan …"
Dengan pemikiran seperti ini, Shana melangkah ke dalam bak mandi.
~***~
Di sisi lain, Ryan masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya setelah membereskan beberapa kantong roti melon yang memenuhi meja.
__ADS_1
Di atas tempat tidur, liontin Shana terus memancarkan bubuk api merah kekuningan.
Liontin itu sebenarnya adalah Artefak.
Apa yang disebut Artefak adalah alat yang digunakan untuk mengekspresikan keinginan Crimson Lord yang tertidur di dalam tubuh Flame Haze.
Setiap Flame Haze pasti memiliki artefak yang digunakan sebagai media komunikasi antara Kontraktor dan Crimson Lord.
Saat manusia melakukan kontrak dengan Crimson Lord, manusia tersebut harus membiarkan Crimson Lord masuk ke dalam tubuhnya untuk memberikannya kekuatan sebagai Flame Haze.
Akan tetapi, manusia adalah makhluk yang sangat lemah. Oleh karena itu, agar Crimson Lord dapat masuk ke dalam tubuh kontraktor, Crimson Lord harus meminimalkan kekuatan mereka sendiri. Dan untuk melakukannya, Crimson Lord berdiam diri di dalam Flame Haze dalam keadaan tidur.
Dalam kondisi seperti itu, Crimson Lord yang tertidur lelap akan menampung sedikit eksistensinya pada Artifact untuk berkomunikasi dengan dunia luar.
Dan liontin ini adalah Artefak yang digunakan untuk mewakili kehendak Alastor.
Oleh karena itu, meskipun Alastor sedang tertidur di dalam tubuh Shana, kehendak Alastor tetap berada pada liontin ini, dan ia juga dapat melihat dunia luar melalui liontin ini.
Jadi, saat Shana mandi, Alastor tetap dapat berbicara dengan Ryan.
"Dua hari terakhir ini kamu telah melenyapkan Torch banyak, tetapi Hunter belum juga muncul. Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"
"Apa yang akan aku lakukan? Tentu saja aku akan tetap melakukan itu!" Ryan berkata dengan santai sambil mengganti pakaiannya, "Torch di kota ini memiliki arti yang sangat penting bagi Friagne. Bahkan jika dia memiliki kesabaran, dia pasti nggak akan tinggal diam saat melihat Torch yang dia buat semakin berkurang."
"Cepat atau lambat, dia akan muncul dihadapanku."
"Benarkah?" Alastor berkata dengan serius, "Apakah itu benar-benar City Devourer?"
"Sepertinya kamu sudah dapat menebak tujuan Crimson Lord itu." Ryan menyeringai dan berkata, "Namun, dia tidak akan berhasil."
Perkataan ini, Ryan ucapkan dengan nada yang santai dan penuh kepercayaan diri.
Namun, justru karena itulah, perkataan Ryan ini memberi orang lain rasa aman dan percaya.
Ini adalah salah satu Teknik persuasif yang Ryan pelajar di dunia Aria the Scarlet Ammo sebagai murid kelas Assault.
Maka dari itu, Alastor merasa nyaman dengan ucapan Ryan tadi.
"Haah~" Alastor mengeluarkan suara mirip orang yang menghela nafas dan berkata, "Kamu benar-benar manusia yang sangat menarik."
~***~
Malam datang begitu cepat. Di kamar Apartemen Ryan, lampu tampak telah padam, dan suasana menjadi sangat hening.
Baik Ryan dan Shana, mereka berdua telah tertidur. Hanya liontin milik Shana yang terus memancarkan cahaya butiran api seakan sedang menghembuskan napas.
Tidak ada seorang pun yang tahu. Dari luar Kota Misaki, ada hal lain yang akan mendatangi kota ini.
__ADS_1
Kota Misaki yang berbalut indahnya bintang di langit, tampak terlihat tenang dan damai, seakan-akan kota ini adalah perahu yang akan menghadapi badai.