
Di saat yang bersamaan, Kinji juga menemukan namanya pada papan pengumuman.
Begitu melihat hasil pembagian kelas, Ryan dan Kinji terdiam.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pengumuman Pembagian Kelas
Ryan Herlambang Kelas 1-A
Tohyama Kinji Kelas 1-A
…
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dengan kata lain, Ryan dan Kinji tidak hanya satu kelas saat materi pelatihan Assault saja, tapi mereka juga satu kelas saat mata pelajaran umum.
"I-ini ti-tidak mungkin!"
”Hmm, sepertinya kita sudah ditakdirkan untuk selalu bersama, Tohyama-san."
Saat ini, baik Kinji maupun Ryan, bersama-sama mengungkapkan perasaan mereka. Ada yang berteriak seakan dunia telah berakhir, dan ada juga yang tertawa, seakan melihat hal yang lucu.
'Aku nggak nyangka bakal satu kelas dengan protagonis dunia ini. Ini benar-benar menarik, hahahaha …'
'Dengan begini, aku akan lebih mudah merebut semua anggota haremmu, Kinji …' gumam Ryan dalam hati.
Berbeda dengan Ryan, benak Kinji dipenuhi rasa takut dan panik. Baginya, Ryan tidak jauh berbeda dengan sosok Iblis yang kejam dan sadis.
Kinji sebenarnya sangat mengagumi Ryan. Tanpa kemampuan khusus, ia bisa melakukan menangkis peluru dengan sebilah belati. Hanya saja, sikap Ryan yang tadi menggunakan cara licik untuk memaksanya bercerita benar-benar membuatnya takut.
Kinji mulai membayangkan bahwa Ryan akan menekan dan merundungnya selama di kelas. Apalagi, selama Kinji tidak masuk mode Hysteria Savant Syndrom, maka ia tidak akan pernah bisa mengalahkannya.
Dengan begitu, kinji akan menjadi pecundang dan menempati posisi terbawah dalam rantai makanan.
Memikirkan hal itu, wajah kinji menjadi pucat. Ia pun mengacak-acak rambutnya sambil terus berbicara sendiri.
"Tidak tidak tidak!"
"Kalau begini caranya, maka kehidupan SMA ku telah berakhir!"
__ADS_1
Melihat penampilan Kinji yang seperti itu, Ryan merasa sangat senang. "Tenang saja, aku nggak akan mengancammu lagi kok. Apa yang kamu takutkan?"
Ryan lalu tertawa geli. "Paling aku hanya akan memintamu mengerjakan tugasku, membeli barang untukku, dan jika suasana hatiku sedang baik, mungkin aku akan memberimu tip."
"Apakah kamu memperlakukanku sebagai budakmu?!" protes Kinji.
"Hahahahahah …" Ryan benar-benar merasa rileks. Selama ini, dunia yang ia kunjungi selalu diambang kehancuran.
Ryan juga hanya punya waktu satu hari untuk beristirahat di dunia asalnya. Selain itu, hari-harinya selalu diisi dengan latihan. Makanya, kali ini Ryan ingin sedikit bersantai di dunia ini.
"Ryan, apakah kamu benar-benar dari SMP umum? Bukan dari SMP yang terafiliasi dengan Butei?"
Di mata dunia, citra Butei tidak selalu baik.
Meski ada murid yang berasal dari SMP umum mendaftar ke SMA Butei, tapi biasanya mereka akan takut saat awal-awal bersekolah. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka akan mulai terbiasa hidup sebagai Butei.
Namun, Ryan tidak memiliki kecenderungan ini sama sekali. Sebagai lulusan SMP umum, ia tidak menunjukkan rasa takut sama sekali.
Ryan juga bisa mengalahkan banyak peserta yang berasal dari SMP afiliasi Butei. Bahkan Ryan bisa mengalahkan Kinji mode Hysteria Savant Syndrom jika ia serius.
'Kemampuan khusus macam apa yang Ryan miliki? Tidak mungkin seorang murid SMP biasa memiliki keterampilan bertarung seperti ini!' Memikirkan hal ini, Kinji menjadi sedikit bingung.
"Jangan harap seorang penjahat akan mengakui kejahatannya tanpa ada bukti konkrit."
"Kamu sudah menganggap dirimu sebagai seorang penjahat?" Kinji tak kuasa melakukan tsukkomi.
Beberapa saat kemudian, Kinji menghela nafas. "Tapi, apa yang kamu katakan itu benar. Jika aku terus mengorek informasi tentang dirimu, maka aku akan melanggar privasimu. Jadi, aku akan berhenti bertanya, karena hal itu hanya akan membuatku semakin penasaran."
"Sip!" Ryan mengacungkan jempolnya.
"Tapi, jika kita melihat perkembangan sejauh ini, kita mungkin akan lebih sering bertemu di masa depan. Bahkan mungkin, kita juga akan mendapat satu kamar asrama yang sama, hahahaha …"
"Namun, aku rasa itu nggak mungkin. Dan aku juga berharap, kita tidak tinggal dalam satu kamar asrama yang sama." canda Ryan.
Setelah itu, Ryan berbalik dan berjalan menuju gerbang sekolah.
Di belakang Ryan, Kinji benar-benar tercengang. "Ini mustahil!"
"Penjurusan kelas yang sama, kelas umum yang sama, dan ada kemungkinan asrama yang sama?"
"Bukankah itu artinya, selama 24 jam penuh, aku akan selalu bersama Ryan?"
__ADS_1
Memikirkan hal ini, raut wajah Kinji sangat tidak bagus.
"Demi kehidupan SMA ku yang damai, aku harus memastikannya!" gumam Kinji. Ia kemudian segera mengejar Ryan.
Merasakan langkah kaki Kinji, Ryan bertanya padanya tanpa memandang ke belakang. "Kenapa kamu mengikutiku? Jangan-jangan …"
“Jangan-jangan apa?” Kinji memiringkan kepalanya.
“Kamu menyukaiku? Kamu ternyata pecinta sesama jenis? Tapi kalau begitu, seharusnya Hysteria Savant Syndrom nggak bakal terpicu oleh juliet.”
“Atau, semua pengakuanmu tadi bohong? Jangan-jangan, aku lah pemicu Hysteria Savant Syndrom? Pantas saja kamu membenci wanita.” ucap Ryan dengan ritme yang sangat cepat.
“Siapa yang pecinta sesama jenis! Aku masih normal! Aku cuma ingin melihat di mana kamar Asramamu!” teriak Kinji. Namun, teriakan ini malah membuat murid-murid di sekitar mereka melihat Kinji dengan tatapan aneh.
“Hei lihat, sepertinya murid pria itu pecinta sesama jenis.”
“Hati-hati, jangan dekat-dekat dengannya.”
“Katanya dia juga mau mengikuti murid pria di depannya sampai ke asramanya. Tapi murid pria itu sepertinya menolaknya.”
“Kasihan ya dia, diikuti stalker. Kalau Stalkernya wanita sih masih wajar ya, karena murid pria itu sangat tampan. Nah ini, yang jadi stalker seorang pria!”
Mendengar semua pembicaraan ini, wajah Kinji menjadi merah. Ia sangat ingin mengubur dirinya untuk menghilangkan rasa malu ini.
Sementara Ryan, ia tetap berjalan santai seakan tidak terpengaruh dengan omongan yang ada di sekitarnya. “Jadi, kenapa kamu ingin melihat asramaku?”
Melihat ekspresi Ryan yang tampak biasa setelah menuduhnya yang tidak-tidak, Kinji ingin sekali memukul wajah Ryan. Tapi, melakukan hal itu sama saja bunuh diri. Ia pun hanya bisa menghela nafas panjang.
“Aku hanya ingin mengecek, apakah kita tinggal di satu kamar asrama yang sama atau tidak. Aku hanya berharap itu tidak terjadi.”
“Ah, benar juga. Kalau kamu satu kamar asrama denganku, maka kamu tidak akan bisa membawa gadis juliet tadi karena keberadaanku.” Ryan lalu menoleh ke arah Kinji yang kini ada di sampingnya. “Aku nggak nyangka, ternyata kamu mesum juga …”
“Bukan begitu!” Kinji kembali berteriak dan menghela nafas panjang. “Haah~”
“Aku tidak akan melakukannya. Bahkan, aku sangat membenci wanita! Dan yang pasti, aku tidak mau satu kamar asrama denganmu!” Secara tidak sadar, ucapan Kinji ini malah mempertegas bahwa dirinya tidak normal.
Dengan begini, Ryan dan Kinji terus bertengkar sambil berjalan menuju gerbang sekolah. Mungkin, bertengkar ada penjabaran yang salah, karena hanya Kinji yang terus berteriak pada Ryan.
Namun, saat keduanya hendak meninggalkan gerbang sekolah, sebuah suara malu-malu muncul.
"Permisi, siapakah di antara kalian yang bernama Tohyama Kinji?"
__ADS_1