Reincarnation Room

Reincarnation Room
Lawan Telah Ditentukan


__ADS_3

Setelah semua kejadian itu, Fan Xinglou dengan senang hati bertanya mengenai Amagiri Ayato. Akan tetapi, ia sama sekali tidak menyebut atau membahas tentang Valda-Vaoth.


Bagaimanapun juga, Ryan yang baru saja masuk ke Jie Long, tidak mungkin mengetahui hal-hal mengenai Valda-Vaoth.


Akan tetapi, saat Ryan berhadapan dengan Valda-Vaoth, ia jelas mengetahui banyak hal. Jadi, jika Fan Xinglou bertanya, itu bukanlah hal yang aneh.


Namun, Fan Xinglou tidak menanyakan masalah ini dari awal hingga akhir. Akhirnya, Ryan mengambil inisiatif untuk menyebut nama Valda-Vaoth.


Fan Xinglou pun merespon, "Sebelumnya aku pernah mengatakannya, bahwa aku hanya bertanggung jawan untuk mengajarimu Teknik Bela Diri. Selain hal itu, aku tidak akan peduli."


Dengan sifat Fan Xinglou, dia memang tidak akan mencampuri urusan murid-muridnya. Bahkan jika Ryan dalam bahaya saat berurusan dengan Valda-Vaoth, Fan Xinglou tidak akan membantunya.


Setelah selesai berbicara dengan Fan Xinglou, Ryan segera kembali ke kamarnya sambil memikirkan banyak hal.


Awalnya, Ryan juga ingin menelepon Sylvia dan membahas mengenai Valda-Vaoth.


Namun Ryan mengurungkannya. Ia merasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya dengan Sylvia.


~***~


Keesokan harinya, semua Ketua OSIS atau wakilnya pergi ke Sirius Dome untuk menghadiri pengundian babak 32 besar. Mereka akan mewakili peserta dari sekolahnya masing-masing untuk mengambil undian jadwal pertandingan.


Dengan segera, hasil pengundian pun diumumkan.


Di ruang latihan, Ryan dan Cecily Wong yang baru saja menyelesaikan latihan, melihat hasil pengundian yang ditampilkan di layar hologram.


Tak lama kemudian, Cecily Wong tertawa. "Hahahaha, kali ini, aku bisa menikmatinya!"


Lawan kali ini, memang tidak mudah bagi Cecily Wong. Bahkan, Ryan juga harus turun tangan tangan agar tidak kalah. 


Pada layar hologram di depan mereka, tercetak informasi mengenai lawan Ryan dan Cecily Wong.     


[Ryan Herlambang × Cecily Wong VS Ernesta Kühne × Camilla Pareto]


Lawan Ryan dan Cecily Wong pada babak 32 besar ini adalah perwakilan dari Akademi Arlequint. Untuk maju ke babak 16 besar, mereka harus menang melawan boneka buatan Ernesta, Ardi dan Rimsy.


"Aku nggak menyangka bahwa lawan berikutnya adalah mereka." Ryan mengerutkan kening dan berpikir agak tak berdaya. 'Sepertinya ini bukan waktunya untuk memikirkan Valda-Vaoth.'


Lagipula, kekuatan kedua boneka itu sangat kuat. Di awal babak penyisihan, salah datu lawan mereka adalah Page One. Namun Ardi dan Rimsy dapat memenangkan pertandingan dengan mudah.


"Mereka adalah musuh yang langka." Cecily Wong mengutarakan perasaannya yang tulus dan berkata, "Ryan-kun, kali ini kamu tidak bisa menganggur lagi.”


"Tentu saja." Ryan tersenyum kecil dan menyentuh Seraph di pinggangnya. Ia lalu berbisik dengan suara rendah. "Saatnya bermain, Seraph."


Tubuh putih Seraph pun sedikit bergetar seakan sedang bersemangat.


~***~

__ADS_1


Di saat yang sama, Ernesta dan Camilla juga sedang membaca hasil undian babak 32 besar.


"Argh! Keberuntungan kita benar-benar buruk!" keluh Ernesta sambil menggebrak meja di laboratorium penelitiannya 


"Jadi, mereka lawan kita berikutnya?" Camilla mengerutkan dahinya. "Cecily Wong telah membuat banyak kemajuan sejak Phoenix Festa terakhir, belum lagi dia mempelajari Seisenjutsu dalam beberapa tahun terakhir. Kita tidak memiliki banyak data tentangnya, analisis kekuatan saat ini juga tidak lengkap.”


“Apalagi informasi tentang Ryan yang masih menjadi misteri hingga saat ini. Jujur saja, ini benar-benar tidak menguntungkan bagi kita.”


Mendengar ini, Ernesta menghela nafas panjang, Namun, tak lama kemudian, ia tertawa. “Tapi, setelah memikirkan apa yang akan terjadi pada kedua anakku saat melawan musuh yang kuat, jantungku jadi berdegup kencang. Ini sangat mengasyikkan!”


Menciptakan boneka yang sama sekali tidak berbeda dengan manusia adalah cita-cita Ernesta, terutama dalam aspek hati dan perasaan. Ia ingin membuat boneka yang dapat menangis, tertawa, cinta, benci, dan perasaan lainnya yang dimiliki manusia pada umumnya.


Jadi, meski Ardi dan Rimsy adalah sebuah boneka, tapi keduanya telah belajar mengenai perasaan manusia.


Oleh karena itu, Ernesta sangat menantikan apa yang akan terjadi pada Ardi dan Rimsy saat menghadapi lawan yang kuat.


Berbeda dengan Ernesta, Camilla sebaliknya terlihat sangat tenang. "Secara pribadi, aku tidak peduli apakah kita menang atau kalah. Bagiku, Festa hanyalah tempat untuk mengumpulkan data performa Ardi dan Rimsy, serta Lux yang mereka gunakan."


"Jangan seperti itu!" Ernesta menggembungkan pipinya dan berkata, "Aku ingin memenangkan Festa ini! Dan kemudian, aku ingin membuat Ardi dan Rimsy masuk ke Akademi Arlequint seperti manusia pada umumnya."


"Bahkan jika kamu berkata seperti itu, tapi kali ini lawannya tidak mudah untuk dihadapi." Camilla menghela nafas dan berkata, "Terutama Orga Lux, apakah kamu punya solusi?"


"Hahahaha ..." Ernesta tertawa misterius dan berkata, "Bukannya kita punya kartu as?"


Mata Camilla sedikit lebih besar dan dengan ragu-ragu berkata, "Mungkinkah kamu berniat membiarkan Ardi dan Rimsy untuk menggunakan itu?"


Ernesta mengangkat bahunya. "Jika tidak terpaksa, mungkin kita tidak perlu menggunakannya."


~***~


Mungkin karena cuaca, orang-orang di Kota Akademi Asterisk ini juga mengalami emosi yang luar biasa tinggi. 


Satu per satu tempat umum telah membuka layar hologram dan menonton siaran langsung pertandingan yang dilaksanakan di Sirius Dome.


Hal ini membuat restoran, kafe, dan juga keenam sekolah penuh dengan orang. Semuanya bersama-sama menonton layar hologram besar yang tersedia di sana.


Sedangkan orang beruntung yang berhasil mendapatkan tiket, mereka berbondong-bondong masuk ke Sirius Dome.


Meski permainan belum dimulai, sorakan penonton masih terdengar memenuhi tribun. Hal ini membuat suasana telah mencapai puncaknya.


Padahal, pertandingan hari ini masih akan dilaksanakan 20 menit lagi. Mereka sangat antusias karena hari ini adalah pertandingan antara Ryan x Cecily Wong dengan Ardi x Rimsy.


Namun, saat ini Ryan dan Cecily Wong tidak berada di lounge khusus peserta Sirius Dome, melainkan berada di ruang audiensi Kuil Naga Kuning.


"Boneka ya …” Fan Xinglou duduk di kursi singgasana dan melihat ke layar hologram yang tergantung di depannya. Wajahnya yang agak kekanak-kanakan selalu tersenyum sejak awal.


"Gadis-gadis kecil Akademi Arlequint sangat luar biasa. Mereka benar-benar dapat menciptakan hal semacam itu. Era ini banyak dipenuhi orang-orang berbakat."

__ADS_1


Ketika semua orang yang ada di ruang audiensi mendengarnya, merek semua memandang Fan Xinglou dengan ekspresi tak berdaya.


Di antara mereka yang hadir, selain Ryan dan Cecily Wong yang berdiri berdampingan di depan Fan Xinglou, Zhao Hufeng juga hadir di samping Fan Xinglou.


"Hanya saja, lawan kali ini tidak diragukan lagi sangat sulit." Zhao Hufeng mengemukakan pendapatnya sendiri dan berkata, "Terutama, boneka bernama Ardi. Dia tampaknya memiliki semacam kemampuan pertahanan yang kuat. Dengan kekuatan serang Adik Seperguruan dan Cecily, diperkirakan serangan mereka tidak akan bisa menembus perisai itu."


Perisai pertahanan yang digunakan Ardi memang sangat kuat. Bahkan, sampai sekarang belum ada yang sanggup menghancurkannya


Sirius Dome sebenarnya memiliki perisai pertahanan yang sama di atas arena. Itu diatur di sekeliling arena untuk melindungi penonton agar tidak terkena serangan nyasar. Perisai pertahanan yang digunakan Ardi memiliki jenis yang sama.


"Mereka tidak akan bisa menghancurkan perisai pertahanan Ardi, kecuali Guru membiarkan Adik Seperguruan menggunakan itu." ucap Zhao Hufeng. 


Cecily Wong penasaran dengan ucapan Zhao Hufeng dan dengan cepat bertanya, "Apa itu? Mungkinkah itu adalah kekuatan yang Guru larang untuk Adik Seperguruan gunakan?"


"Benar …"  Zhao Hufeng menatap Ryan dalam diam. Ia kemudian berkata dengan sangat serius kepada Fan Xinglou, "Guru, maukah Guru membiarkan Adik Seperguruan menggunakan Kemampuan itu?"


"Meskipun itu juga sangat menarik, tetapi pertandingan itu jadi tidak menegangkan. Itu tidak menyenangkan sama sekali. Karena ini adalah kompetisi, maka kesenangan adalah kuncinya." Fan Xinglou tersenyum dan segera menatap Ryan dengan pandangan yang dalam. "Lagipula, meskipun tidak menggunakan sepasang mata itu, bukankah kamu bisa menghancurkan tembok pertahanan itu?"


Mendengar ini, Ryan sedikit mengangkat alisnya. Ia tidak menjawab pertanyaan Fan Xinglou, tetapi ia balik bertanya padanya. "Karena Guru tidak mengizinkan menggunakan mataku, bolehkah aku diizinkan untuk menggunakan Seraph?"


Begitu kalimat ini keluar, Zhao Hufeng langsung menyahut dengan nada cemberut sebelum Fan Xinglou sempat mengatakan apapun. "Adik Seperguruan, meskipun lawannya adalah boneka, tetapi mereka tidak menggunakan Orga Lux. Jika kamu menggunakan Orga Lux untuk menang, bukankah itu tidak baik?"


Seperti biasanya, Zhao Hufeng tidak suka jika seseorang terlalu bergantung pada kekuatan eksternal seperti Orga Lux. 


"Kemampuan menggunakan senjata yang bagus juga merupakan salah satu kekuatan." Ryan menyeringai menanggapi ucapan Zhao Hufeng.


"Kamu benar." Zhao Hufeng masih bersikeras pada pendapatnya sendiri dan berkata, "Tetapi menggunakan senjata yang kuat akan menciptakan ketergantungan. Terlepas dari Lux, Orga Lux adalah individu dengan kekuatan yang kuat. Lebih baik tidak menggunakannya.”


"Kakak Senior, tapi aku telah sepenuhnya menyembunyikan Kemampuanku. Dengan kondisi seperti ini, masa aku tidak boleh menggunakan Orga Lux?” Ryan merentangkan tangannya dan berkata, "Ini sama saja kita mengalah sebelum permainan dimulai. Bukankah itu tidak adil untuk lawan kita?"


Saat Zhao Hufeng membuka mulutnya dan ingin mengatakan sesuatu, Fan Xinglou berbicara terlebih dahulu.


"Ya, pendapat kalian semua tidak salah. Kalian tidak perlu berdebat seperti ini."


Fan Xinglou melihat ke arah Ryan dan berkata, "Karena kamu tidak akan menggunakan kekuatan mata, maka aku mengizinkanmu untuk menggunakan Seraph."


Zhao Hufeng pun langsung terdiam dan tidak mengatakan apa-apa lagi 


Ryan juga tersenyum dan tidak berkata apa-apa lagi.


"Oke, pertandingan akan segera dimulai." Fan Xinglou menepuk tangannya dan tersenyum bahagia, "Aku harap kalian berdua tidak mengecewakanku."


Ryan dan Cecily Wong segera menjawab, "Baik Guru!"


Tak lama kemudian, Fan Xinglou melambaikan tangannya. Tiba-tiba ruang di belakang Ryan dan Cecily Wong terpelintir bagaikan pusaran air, dan langsung menelan keduanya.


Dalam waktu singkat, kini Ryan dan Cecily Wong telah berada di lounge khusus peserta Sirius Dome.

__ADS_1


Ryan dan Cecily Wong saling memandang. Mereka serempak tersenyum dan melangkah keluar dari lounge untuk pergi menuju arena.


Begitu Keduanya keluar dari pintu tribun, jeritan sorak-sorai penonton langsung bergema di seluruh Sirius Dome.


__ADS_2