Reincarnation Room

Reincarnation Room
Kekacauan


__ADS_3

“Ini!” Ryan terkejut dengan apa yang ia lihat. “Seekor Aragami muncul dari tangki berisi cairan bening? Bagaimana mungkin?!”


Setelah mengingat pipa yang tersambung dari tangki kaca Amor, akhirnya Ryan paham. “Cairan bening ini bukan air biasa, akan tetapi sel Oracle!”


PYAR


PYAR


Satu persatu tangki kaca yang ada di dalam laboratorium pecah. Dari tangki-tangki tersebut, muncul berbagai macam Aragami. Mulai dengan Aragami kecil, Ogretail, Aragami Medium, Koungou, dan Aragami Besar, Vajra.


Bagaikan binatang buas yang kabur dari sangkarnya, mereka mengaum dengan keras,.


“GROOOAAAR”


Auman keras itu  berubah menjadi gelombang suara dan mengguncang seluruh ruang laboratorium.


Melihat semakin banyaknya Aragami yang tercipta dari sel Oracle, Ryan menjadi bingung. “Kenapa semua sel Oracle di sini berubah menjadi Aragami?”


‘Aragami adalah kumpulan dari banyak sel Oracle, dan sel Oracle yang dapat diteliti semuanya telah dimodifikasi sampai batas tertentu agar tidak berubah menjadi Aragami. Jadi seharusnya semua kejadian ini nggak mungkin terjadi!’


“Mungkinkah, semua ini karena …” Ryan langsung menempelkan kepalanya ke permukaan tangki Amor.


Di sana, ekor putih yang patah itu terus berkedut sepanjang waktu, sehingga banyak gelembung memenuhi seluruh tangki kaca tersebut. Bagaikan magma, cairan di dalam tangki kaca itu tampak panas dan mendidih.


"Amor!"


"Kenapa Amor bereaksi seperti ini? Apakah karena aku membunuh Kapten Alexei? Tapi seharusnya Amor tidak memiliki kesadaran maupun perasaan."


Ryan tidak tahu bahwa demi ketamakannya sendiri, Kapten Alexei menghabiskan satu dekade penuh, tidak hanya ia meningkatkan produksi hormon Amor secara maksimal, tetapi juga mempererat hubungannya dengan Amor dengan menanamkan sebuah chip.


Dengan chip ini, Kapten Alexei bisa menggunakan Amor untuk memanipulasi pasukan Aragami. Dan chip ini ditanamkan di kepala Kapten Alexei.


Sekarang, Ryan telah membunuh Kapten Alexei, yang akhirnya menyebabkan putusnya komunikasi antara Amor dan Kapten Alexei. Hal ini membuat Amor hilang kendali.


Akibatnya, Amor mengirimkan sinyal dan meminta sel di sekitarnya untuk langsung berubah menjadi Aragami.


"Groooaaar!"


Di bawah suara amukan Aragami, seekor Ogretail melompat tinggi dan terbang ke arah Ryan.



Melihat Ogretail yang melompat ke arahnya, Ryan tetap tenang seakan ia tidak peduli. Tubuh Ryan tiba-tiba menghilang dari tempatnya berdiri.


Boom


Tubuh Ogretail yang besar dan berat itu mendarat di lantai baja hingga membuat lantainya retak.


Pada saat yang sama, Ryan seperti hantu mendadak muncul di depan Ogretail.  Dengan Moon Blade di tangannya, Ryan melancarkan serangan balik.


Slash


Belati yang sangat tajam itu dengan mudah mengenai tubuh Ogretail. Dengan tebasan dari Ryan, kulit Ogretail tersebut langsung robek. Tak ayal, darah pun mulai muncrat dari robekan itu .


Darah tersebut langsung memercik ke wajah Ryan, membuat wajah Ryan ditambah mata biru sedingin es itu semakin menyeramkan.

__ADS_1


Namun, Aragami yang sekarang dalam kondisi berserk akibat sinyal Amor, sama sekali tidak takut dengan Ryan.


"Groooar"


"Grooaar"


Akibatnya, satu demi satu Aragami mulai meraung satu demi satu dan bergegas menuju Ryan.


"Haah~ ini benar-benar menjengkelkan!"


Ryan kemudian mengangkat mayat Ogretail yang baru saja ia bunuh. Ia lalu berputar-putar dan melempar mayat tersebut ke depan.


Seketika itu juga, mayat Ogretail berubah menjadi seperti bola bowling yang menghantam sekelompok Aragami di depannya.


Boom


Bersamaan dengan suara hantaman itu, sekelompok Aragami yang ingin menyerang Ryan langsung terhempas.


Dari keadaan berdiri diam, sosok Ryan langsung berakselerasi hingga kecepatan maksimum dan meluncur ke depan.


Slash


Moon Blade di tangan Ryan menjelma menjadi cahaya bulan putih kebiruan, bergerak lurus memotong kepala besar Kongou dan mencabut nyawanya.



Slash Slash Slash


Di antara suara tebasan yang tajam, senjata bernama Moon Blade itu berhasil menggores kulit hingga memotong daging yang ada pada kepala Aragami. Hal ini menyebabkan darah berceceran dan memercik ke mana-mana.


Setelah memahami Flashing Sheath (Sensa) dan Flashing Dash (Sensō), Ryan semakin mirip dengan seorang pembasmi iblis dalam serial Tsukihime. Baik dalam hal menyerang atau menghindar, Ryan mulai membawa niat membunuh yang sangat kuat. 


Akibat efek Mystic Eye of Death Perception, jiwa Ryan terus menerus mencatat kematian. Maka dari itu, semakin Ryan banyak membunuh, semakin berat juga niat membunuh yang ada dalam dirinya. Terlebih lagi, Teknik Membunuh Nanaya juga memiliki efek untuk menaikkan aura membunuh dalam diri seseorang.


Setelah Ryan berhasil membunuh sebagian Aragami hanya dalam beberapa detik, ternyata sebagian lainnya telah keluar dari laboratorium dan mulai menyerang ke fasilitas-fasilitas lainnya.


Dari luar ruangan, terdengar suara teriakan para tentara.


“Awas, ada Aragami!”


“Bagaimana mungkin ada Aragami di sini?!”


“Cepat tembak!”


Dor Dor Dor Dor


“Grooaar!”


“Grooaar!”


Suara tembakan dan juga suara auman Aragami bercampur menjadi satu. Orang-orang yang ada di dalam gedung utama mulai panik. Kekacauan semakin menyebar hingga ke luar gedung utama.


Walau dengan keadaan seperti ini, Ryan tidak segera mengejar Aragami-Aragami yang kabur tersebut. Ia tetap diam di dalam laboratorium dan terus memperhatikan Amor yang terus menggeliat bak cacing kepanasan itu. 


Kratak Kratak

__ADS_1


Perlahan, tangki yang menampung Amor mulai retak. Cairan bening mulai sedikit merembes keluar.


Dalam pandangan Ryan, terlihat banyak garis kematian pada ekor putih milik Venus. Melihat semua garis kematian itu, wajah Ryan menunjukkan keraguan.


“Jika aku membunuh Amor di sini, Venus akan semakin mengamuk karena kehilangan ekornya untuk selamanya.”


“Membunuh ekor ini juga tidak akan menghentikan amukan Aragami yang ada di luar.”


“Sepertinya, satu-satunya cara adalah memindahkan Amor dari cabang Rusia.”


Saat Ryan sedang berpikir, tiba-tiba terdengar suara aneh dari sudut ruangan yang remang-remang ini.


“Umm … umm … umm …”


Ryan kemudian melihat ke pusat suara tersebut berasal. Melihat sosok di sudut ruangan itu, Ryan hanya bisa sedikit menyipitkan matanya. "Hibari?"


Saat ini, tangan dan kaki Hibari sedang terikat tali. Mulut Hibari juga disumpal dengan kain. Maka dari itu, ia hanya bisa mengeluarkan suara ‘umm’ untuk memanggil Ryan.


Ryan dengan cepat melangkah maju dan melepaskan semua ikatan Hibari. Ryan terlihat sangat khawatir dengan kondisinya. "Hibari, kamu nggak apa-apa?"


"Ryan!" Hibari langsung memeluk Ryan setelah semua ikatan dan sumpalannya dilepas. Ia membenamkan wajahnya pada dada Ryan yang lapang.


Perlahan, suara isak tangis mulai terdengar. "Hiks … hiks … hiks …"


Dengan lembut, Ryan mengusap-usap punggung Hibari. "Sudah … sudah …"


"Kamu nggak perlu takut lagi Hibari … selama aku di sini, nggak akan ada yang bisa melukaimu …" ucap Ryan dengan lembut.


Setelah beberapa menit, akhirnya Hibari mulai tenang.


"Hibari, katakan padaku, siapa yang menyekapmu? Nggak akan kubiarkan orang yang berani menyekap wanita milikku hidup!"


Mendengar ini, hati Hibari terasa hangat. "Terima kasih Ryan … tapi, kamu telah membunuhnya …"


"Membunuhnya? Maksudmu, pelakunya adalah Kapten Alexei?"


Hibari menganggukkan kepalanya pada Ryan. "Setelah kamu meninggalkan cabang Rusia, Kapten Alexei memanggilku. Saat aku datang ke ruangannya, ia tiba-tiba saja menodongkan pistolnya padaku. Setelah itu aku di sekap di tempat ini." 


Hibari menggigit bibirnya dan melanjutkan ucapannya. "Aku tidak menyangka kaptennya adalah orang seperti itu."


'Aku sudah menduga Kapten Alexei itu memang licik. Tapi aku nggak menduga ia melakukan semua ini sampai seperti ini.'


'Tapi tampaknya Kapten Alexei nggak mengetahui hubunganku dengan Hibari.'


'Jika ia mengetahuinya, nggak mungkin Kapten Alexei hanya menodongkan pistolnya saja, ia pasti akan menggunakan hibari sebagai sandera.'


'Itu artinya, hibari akan digunakan untuk mengancam Lindow dan lainnya. Namun sayang, aku lah yang datang kemari.' pikir Ryan.


"Hibari, karena kamu sudah ada di sini sedari tadi, kamu pasti paham tentang situasi saat ini." Ryan berkata langsung kepada Hibari. "Aku berencana membawa Amor keluar dari Cabang Rusia. Jadi, carilah tempat aman untuk bersembunyi."


Mendengar kata-kata Ryan, Hibari mengencangkan wajahnya. "Aku akan membantumu!"


"Apa?!" Ryan cukup terkejut dengan respon Hibari.


"Kamu adalah pria yang aku cintai …  jadi, aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian. Aku akan berjuang bersamamu!"

__ADS_1


__ADS_2