
"Berdasarkan laporan, beberapa orang melihat sekelompok Aragami berjumlah besar di perbatasan Rusia. Berdasarkan arah gerak mereka, kelompok Aragami tersebut sedang bergerak maju menuju Fenrir cabang Rusia."
"Diperkirakan, dalam 3 hari, sekelompok Aragami tersebut akan tiba di dinding pertahanan Fenrir cabang Rusia. Misi kita kali ini adalah membantu Fenrir cabang Rusia untuk berperang melawan kelompok Aragami itu."
Ryan terkejut mendengar penjelasan Lindow. "Melakukan misi di Rusia? Aku nggak pernah dengar ada misi ini di anime maupun gamenya! Seingatku, semua misi dalam game di lakukan di wilayah Fenrir cabang Timur Jauh. Kalau begini caranya, aku tidak bisa memanfaatkan pengetahuanku di sini!" gumam Ryan.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Ryan menyadari sesuatu. "Sepertinya, misi ini dilakukan sebelum plot di dalam game-nya dimulai. Karena jika memang plot dalam game sudah dimulai, seharusnya sang protagonis sudah bergabung dengan Unit Pertama. Namun sekarang, aku tidak melihat sang protagonis ada di sini. Sepertinya misi kali ini lebih berat dari misi sebelumnya …"
Suara Lindow kembali terdengar. "Waktu kita terbatas. Kita harus secepat mungkin tiba di cabang Rusia sebelum sekelompok Aragami itu menyerang. Aku juga harus berbincang dengan mereka dan melakukan banyak persiapan."
Lindow menutup matanya dan menghisap rokoknya. "Seperti yang kalian lihat, kami bertugas dalam hal membunuh Aragami. Untuk hal lainnya, aku serahkan semua pada kalian."
Pasukan yang ikut dalam misi ini dibagi menjadi beberapa unit. Unit logistik yang bertugas mengatur perlengkapan dan suplai, unit medik yang bertugas untuk perawatan dan pengobatan, unit operator yang bertugas untuk komunikasi, serta unit transportasi yang bertugas membawa kendaraan. Ryan sendiri, berada di unit logistik
"Apakah ada pertanyaan? Kalau tidak ada, kita lebih baik berangkat sekarang." tanya Lindow sambil melihat ke arah barisan tentara.
Dan tentu saja, semua tentara hanya diam, terkecuali Ryan.
"Apakah hanya kalian bertiga, God Eater yang dikirim oleh cabang Timur Jauh?"
Mendengar pertanyaan Ryan, semua tentara melihat Ryan dengan tatapan penasaran. Karena sangat jarang ada tentara yang mempertanyakan misi God Eater.
Lindow dan Sakuya sendiri cukup terkejut dengan hal ini. Sementara Soma, ia hanya melirik Ryan sebentar, kemudian memalingkan wajahnya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu meragukan kemampuan kami?" tanya Lindow.
Ryan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Yang aku tahu, Unit Pertama milik Fenrir cabang Timur Jauh adalah Unit God Eater terbaik."
"Haa~ evaluasimu terhadap kami cukup memberatkan. Jadinya kami harus mengerjakan tugas dengan lebih serius lagi agar sesuai ekspektasimu … " Lindow menghela nafas seakan tidak ingin melakukan pekerjaan berat. "Lalu, kenapa kamu bertanya seperti itu? Padahal kamu yakin dengan kemampuan kami?"
__ADS_1
Ryan pun tak ragu mengutarakan maksud pertanyaannya. "Aku cuma ingin memastikan saja. Tapi kalau memang dibutuhkan, aku juga bisa membantu kalian menghadapi Aragami."
Misi pertama Ryan adalah membunuh Aragami. Maka dari itu ia ingin mendapat izin untuk dapat maju ke garis depan. Apalagi sekarang Ryan masuk ke dalam unit logistik yang jelas-jelas tidak mungkin berada di garis depan.
Hanya saja, pertanyaan Ryan ini membuat semua orang menatap Ryan seakan melihat orang yang pikirannya tidak waras.
"Kamu ingin bertarung melawan Aragami?" Lindow tersenyum. "Ucapanmu sangat menarik."
"Kamu cuma tentara biasa, bukan seorang God Eater. Kamu tidak akan bisa berkutik melawan Aragami." sahut Sakuya.
"Tanpa God Arc, kamu tidak akan pernah bisa melawan Aragami." ucap Soma tanpa melihat ke arah Ryan. "Jangan buang nyawamu sia-sia."
Setelah mengatakan itu, Soma masuk ke dalam Helikopter meninggalkan Lindow dan Sakuya di luar. Melihat hal ini, Mereka berdua saling berpandangan dan merasa tidak berdaya menghadapi sikap Soma.
Lindow kemudian melemparkan senyuman ke arah Ryan. "Jadi, begitulah … lakukan tugasmu sendiri dan kami juga akan melakukan tugas kami sendiri. Jadi, jangan coba berpikir untuk maju ke garis depan."
"Semuanya, segera naik!" Perintah Lindow.
~***~
Saat ini, kondisi cuaca tidak terlalu bagus. Seluruh langit tampak mendung dan sangat suram. Bukan hal yang aneh rasanya jika petir tiba-tiba menyambar.
Di bawah langit seperti itu, beberapa Helikopter militer memutar baling-baling terbang beriringan dalam badai.
Dalam salah satu Helikopter, Ryan duduk di kabin sambil memandangi pemandangan di luar Helikopter. Tidak seperti Ryan, semua tentara yang ada di dalam kabin duduk dengan wajah yang serius sambil terus memegang senapan.
Dari jendela, Ryan melihat banyak reruntuhan gedung. Tanah juga terlihat sangat tandus. Tidak ada satu pun pohon tumbuh. Beberapa bayangan juga terlihat mengendap-endap di balik reruntuhan.
“Haah~” Ryan hanya bisa menghela nafas panjang melihat betapa hancurnya dunia ini. ‘Dunia kabaneri masih tidak ada apa-apanya dibanding dengan dunia ini ...’
__ADS_1
Melihat Ryan menghela nafas panjang, seorang tentara wanita yang duduk di sebelah Ryan tiba-tiba berbicara. “Dunia kita perlahan hancur. Tapi manusia terus menerus berusaha bertahan hidup di dunia yang penuh Aragami ini.”
Ryan kemudian menoleh ke arah wanita yang ada di sampingnya itu. Wanita tersebut memiliki rambut berwarna merah dan dikepang menjadi 2. Dia terlihat sangat imut walau memakai seragam militer. ‘Sepertinya aku pernah melihatnya, hmm …’
“Ah, maafkan aku, tiba-tiba saja berbicara denganmu, padahal kita tidak saling mengenal.” Wanita itu tersipu malu. “Namaku Takeda Hibari. Dalam misi kali ini, aku bertugas pada unit operator. Salam kenal …”
‘Takeda Hibari?’ Ryan akhirnya ingat siapa wanita ini. ‘Hibari juga cukup sering muncul dalam game, Dia adalah junior dari Sakuya. Awalnya, Sakuya juga bekerja sebagai operator. Namun setelah Sakuya menemukan God Arc yang cocok dengannya, akhirnya posisi operator tersebut digantikan oleh Hibari. Aku nggak nyangka bakal bertemu dengannya dalam misi ini.’
“Namaku Ryan.” Ryan menjabat tangan Hibari sambil tersenyum hangat. “Aku hanyalah seorang tentara biasa. Salam kenal Hibari, kamu sungguh sangat imut. Keberadaanmu di sini bagaikan oasis di tengah padang gurun yang gersang.”
Ucapan Ryan memancing amarah semua tentara laki-laki yang ada dalam kabin, Mereka semua memelototi Ryan dengan tatapan penuh hawa membunuh. Bagaimana tidak, banyak pria yang menaruh hati pada Hibari. Namun karena mereka masih dalam misi, mereka pun bersepakat untuk berkonsentrasi pada misi yang sedang berjalan dan berencana mendekati Hibari setelah misi berakhir.
Tapi sayang, buaya seperti Ryan tidak mengenal tempat dan waktu dalam merayu wanita.
“Terima kasih …” Pipi Hibari terlihat merona mendengar pujian Ryan.
“Tapi jujur saja, tidak ada tentara biasa yang berpikir untuk ikut bertarung melawan Aragami sepertimu. Bahkan orang-orang tidak menyangka kamu akan mengajukan pertanyaan seperti itu.” bisik Hibari.
“Lho, emangnya kenapa kalau aku bertanya seperti itu? Apakah itu aneh? Kapten Amamiya sendiri yang bertanya apakah ada pertanyaan atau tidak.” jawab Ryan dengan entengnya.
“Secara umum, tidak akan ada orang yang berpikir akan bertarung melawan Aragami selain God Eater. Jika orang biasa bisa bertarung dengan Aragami, dunia ini tidak akan bernasib seperti ini.” Suasana pun menjadi berat. Para tentara yang ada dalam kabin menjadi sedikit depresi memikirkan hal ini.
Tiba-tiba saja, suara pengemudi Helikopter terdengar. “Kita telah tiba di cabang Rusia ,,,”
Tidak sampai beberapa detik setelahnya, suara pengemudi Helikopter terdengar panik. “Ini … bagaimana mungkin!”
Mendengar suara panik ini, semua orang melihat ke luar jendela. Di luar helikopter, terdapat banyak gedung tinggi yang dikelilingi tembok tinggi, Samar-samar, terlihat titik-titik hitam seperti semut yang mengerumuni tembok.
“Aragami!” seru Hibari.
__ADS_1