Reincarnation Room

Reincarnation Room
Pembantaian Berlanjut


__ADS_3

Swooosh


Suara angin kencang mulai terdengar nyaring. Tangan Crimson Denizen yang kekar itu meluncur dengan keras ke arah Ryan, berusaha menjangkau dan menangkap tubuh Ryan.


Kecepatan ayunan tangannya tidaklah cepat. Tapi, jika targetnya adalah manusia pada biasa, maka mustahil untuk untuk menghindar.


Namun sayang, Ryan bukanlah manusia biasa.


Menghadapi ejekan dari segala arah dan juga lengan besar yang jatuh ke arahnya, Ryan hanya mengangkat kepalanya dan menonton semua ini dengan tenang.


Mata dengan pupil gelap milik Ryan, dengan cepat berubah menjadi pupil berwarna biru sedingin es. 


Kilatan cahaya dingin melintas dengan cepat dan melewati lengan besar yang jatuh ke arahnya.


Slash


Di bawah suara tebasan tajam, lengan berukuran besar itu patah. Dengan cepat api panas menyala dan membakar habis potongan tangan tersebut.


"Aaaaaargghh!"


Orang Utan raksasa dengan wajah mencibir sesaat sebelum lengannya terpotong, kini mengerang dengan keras.


Sayangnya, penampilan seperti itu tidak menimbulkan rasa iba sedikitpun di hati sang pembantai.


Pada saat berikutnya, beberapa kilatan cahaya dingin muncul bagaikan bilah angin yang tak terlihat. Bilah-bilah tersebut langsung jatuh ke area dada, panggul, paha, dan leher Orang Utan.


Croot


Suara butiran api yang muncrat seperti darah bergema memenuhi ruangan besar itu.


Seketika itu, suara rintihan Orang Utan itu langsung menghilang tanpa jejak.


Di saat yang sama, tubuh Orang Utan yang ukurannya beberapa kali lebih besar dari Ryan itu langsung terpotong-potong menjadi lima bagian dan jatuh ke tanah.


Wuuush


Api mulai membakar potongan-potongan tubuh Crimson Denizen tersebut, hingga akhirnya berubah menjadi debu dan menghilang tertiup angin.


"..."


"..."


Suara-suara ejekan yang memenuhi ruangan tersebut langsung berhenti. Mata semua Crimson Denizen terbelalak, sementara wajah para Rinne berubah pucat. 


Bahkan Ribesal, yang merupakan seorang Crimson Lord membeku melihat adegan yang terjadi di depan matanya ini. 


Setelah beberapa saat membeku, Ribesal berbisik, "Ini tidak mungkin!"

__ADS_1


Para Crimson Denizen ini tidak ingin mempercayai apa yang dilihatnya. Secara tidak sadar, mereka ingin melarikan diri dari kenyataan dan menganggap semua yang dilihatnya adalah mimpi.


Namun sayang, semua adegan yang ada di depan mereka bukanlah mimpi, tapi kenyataan yang tidak dapat dibantahkan.


"Apakah dengan penampilanku ini, kalian masih tetap meremehkanku, yang hanya manusia biasa ini?" ucap Ryan sembari menginjak sebuah potongan tubuh yang belum terbakar habis.


Ryan lalu melihat ke sekelilingnya dan memandangi satu persatu Crimson Denizen yang hadir di ruangan ini. Dengan ekspresi yang dingin, Ryan berkata, "Aku bukanlah makanan, tapi aku adalah tukang jagal kalian. Di mataku, kalian tidak lebih dari hewan ternak yang menunggu untuk disembelih."


Ucapan Ryan ini membuat para Crimson Denizen emosi dan meluapkan kemarahannya.


"Bunuh!"


"Bunuh dia!"


"Dasar manusia rendahan!"


"Beraninya kamu merendahkan kami"


"Ayo kita bunuh dia!"


Sebagai Crimson Denizen, tentu saja mereka tidak menyukai mendapat ejekan dari seorang manusia, yang bagi mereka hanyalah makhluk rendahan dan sumber makanan bagi mereka.


Provokasi Ryan ini telah berhasil membuat para Wanderers kehilangan ketenangan.     


Ribesal pun tidak lagi bersikap sombong seperti sebelumnya. Ia kini telah dipenuhi amarah yang telah memuncak. Tanpa sadar, ia mengepalkan telapak tangannya dengan erat, dan memandang Ryan dengan tatapan tajam.


Setelah suara Ribesal jatuh, seorang Wanderers melompat ke depan Ribesal. "Biar aku yang melakukannya!"     


Sosok Wanderers tersebut adalah seorang Crimson Denizen dengan wujud gorilla berwarna putih.


"Aku akan membalaskan dendam sahabatku yang baru saja kami bunuh!"


Gorila putih itu meraung dengan keras. "GROOAR! Dan aku akan memakanmu!"


Duum Duum Duum Duum


Gorilla putih itu menginjak-injak tanah hingga tanah di sekitar terguncang hebat.


Setelah puas, gorilla putih tersebut menghentakkan kakinya ke tanah dan meluncur ke arah Ryan dengan kecepatan yang cukup tinggi.


"Mati kau!"


Dengan raungan seperti itu, sosok gorilla putih mengangkat lengan kekarnya dan mengepalkan telapak tangannya dengan erat, menghadap ke arah Ryan yang ada di depan.


Angin mengamuk berkecamuk di sekitar tinju besar yang jatuh. Ledakan sonik meledak di bawah tinju keras dan menghancurkan udara yang dilewatinya.


Kekuatan pukulan itu hampir menandingi batu berukuran besar yang jatuh dari langit, sehingga angin kencang meniup pakaian Ryan dan membuatnya melambai-lambai ke belakang.

__ADS_1


Dari segi kekuatan, gorilla putih ini seharusnya tidak jauh berbeda dengan Orang Utan sebelumnya.


Hanya saja, Orang Utan sebelumnya tidak memandang Ryan di matanya, sehingga ia tidak melawan Ryan dengan kekuatan penuhnya. Alhasil, dalam waktu tidak sampai lima detik, Orang Utan itu mati tanpa bisa melawan balik.


Sementara gorilla putih ini, ia sedari awal telah mengerahkan kekuatan penuhnya. Ditambah efek Pesatir Handal yang digunakan Ryan, kekuatan target yang terpicu amarahnya akan meningkat sebanyak 2%. 


Dengan kata lain, gorilla putih ini lebih kuat dari kondisi biasanya.


Hal ini dapat dilihat dari pukulan keras yang dilepaskan oleh Crimson Denizen berwujud gorilla putih itu.


Manusia biasa jelas tidak akan mungkin bertahan hidup menahan serangan bak batu besar yang jatuh dari langit itu.


Sudah sangat jelas, efek Pesatir Handal mempengaruhi pikirannya dan membuat gorilla putih itu ingin membunuh Ryan secara langsung. Padahal, berdasarkan perintah Manajer, Ryan harus ditangkap hidup-hidup.


Melihat pukulan yang membawa momentum besar itu, tidak ada fluktuasi apapun di mata biru sedingin es Ryan. Dengan tenang, ia mengangkat Moon Blade di tangannya.


Dengan segera, ia langsung melambaikan belati tajam di tangan kanannya.


Slash


Kilatan cahaya dingin melintas bagaikan sinar laser.


Croot


Api memercik seperti darah.


Bagaikan dejavu, lengan kekar gorilla putih itu terpotong dengan rapi dan terbang ke atas.


Hanya saja, tidak seperti Orang Utan sebelumnya, gorilla putih tersebut sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk berteriak. Tubuhnya langsung dihujani kilatan cahaya putih bagai hembusan angin ribut.


Croot


Dalam percikan api yang muncrat seperti gunung meletus, kepala gorilla putih itu terbang ke langit.


Tanpa ada jeda, Ryan melompat tinggi, dan berputar di udara. Dengan keras, Ryan langsung menendang keras kepala gorilla putih tersebut ke arah Ribesal.


Boom


Suara hantaman keras yang mencekik terdengar sangat nyaring.


Kepala gorilla putih itu pun terjepit kedua lengan Ribesal yang sedang dalam pose bertahan.     


Ekspresi kemarahan yang teramat sengat tercetak di wajah Ribesal. Ia kemudian berteriak keras hingga mengguncang seluruh ruangan. "Semuanya, maju dan bunuh manusia brengsek itu!"


"Oooooooh!"


Seluruh Crimson Denizen dan prajurit Rinne sama-sama bersorak keras. Mereka kemudian menyerbu Ryan dengan beringas.

__ADS_1


__ADS_2