Reincarnation Room

Reincarnation Room
Alasan Alisa


__ADS_3

Pada awalnya, Alisa mengira Ryan hanyalah orang yang memiliki fisik kuat dan sangat berpengalaman dalam bertarung. Tapi ternyata semua persepsi itu salah.


“Bagaimana mungkin?”


“Bagaimana mungkin manusia biasa yang bukan seorang God Eater dapat membunuh Aragami hanya dengan sebilah belati!?” teriak Alisa.


“Bukankah hanya God Arc yang dapat membunuh Aragami? Tapi kenapa belati milik Ryan dapat membunuh mereka!?”


Ketika Alisa masih dalam kondisi Shock dan tidak bisa mengendalikan emosinya, Ryan telah mengakhiri pembantaiannya.


Ryan kini berdiri antara tumpukan mayat Aragami dengan pakaian yang dipenuhi bercak darah. Ia kemudian melihat sekelilingnya dan merenung. "Aku bisa dengan mudah menyelesaikan misi pertamaku. Yang jadi masalah sekarang adalah, bagaimana caranya aku bisa membunuh Aragami tanpa menghancurkan Inti (Core)?”


Tiba-tiba, Ryan teringat akan sesuatu. "Tunggu, bukankah God Arc memiliki mode untuk mengambil Inti (Core) Aragami?" Memikirkan hal ini, Ryan melihat ke arah Alisa yang masih tercengang. 


"Tapi meminta tolong pada orang seperti Alisa sangatlah sulit. Rayuanku pun nggak mempan padanya. Sepertinya aku harus mengatur siasat agar dia bersedia membantuku mengumpulkan Inti (Core)." gumam Ryan.


Di saat Ryan sedang mengatur siasat untuk menipu Alisa, hati Alisa masih terus bergejolak. 


'Apa rahasia Ryan dapat memotong dinding ruang latihan terletak pada belati di tangannya?' 


Alisa mencoba memperhatikan belati di tangan Ryan dengan seksama. 'Tapi sepertinya belati itu bukanlah God Arc.'


'Kalau belati itu bukan God Arc, lalu bagaimana cara Ryan membunuh Aragami? Secara umum, tidak mungkin membunuh Aragami tanpa menggunakan God Arc!' Kepala Alisa mulai pusing memikirkan semua ini.


Ryan kemudian berjalan melintasi ladang pembantaian Aragami dan menghampiri Alisa.


Tanpa sadar, Alisa secara reflek mundur selangkah dan ingin menjauh dari Ryan.


Melihat hal ini, Ryan mengangkat alisnya dan tersenyum tipis. "Apa kamu takut denganku?"


Alisa hanya berdiri diam membisu. Namun, tingkah laku Alisa sudah menjelaskan semuanya. 


Menghadapi sesuatu yang asing dan misterius, Alisa akhirnya menunjukkan kelemahannya.


'Aku nggak nyangka bakal membuat Alisa ketakutan. Jauh di lubuk hatinya, dia hanya seorang gadis kecil yang takut akan sesuatu hal yang tidak dapat dilogika dan misterius.' pikir Ryan


"Ayo pergi …" Ryan kemudian berbalik dan mulai berjalan ke depan.


Melihat punggung Ryan yang semakin menjauh, Alisa hanya bisa menundukkan kepala dan perlahan mengikuti Ryan.


Sepanjang perjalanan, Ryan dan Alisa hanya diam dan tidak berbicara satu sama lainnya.


Alisa tampaknya benar-benar kehilangan harga dirinya di depan Ryan. Ia terus menundukkan kepalanya selama perjalanan. Hal ini membuat suasana di antara keduanya menjadi canggung.


Ryan sendiri sengaja mengabaikan Alisa. Ia memang ingin memberi pelajaran pada Alisa untuk menjadi lebih baik. 


Cara biasa dan halus tidak akan mempan pada Alisa. Maka dari itu, Ryan menempuh jalan yang keras untuk menyadarkannya.


Dalam perjalanannya, Ryan dan Alisa beberapa kali bertemu Aragami. Namun, Aragami yang mereka temui biasanya sendirian. 


Kalau pun berkelompok, mereka kebanyakan hanya terdiri atas Aragami bertipe Kecil. Aragami bertipe Besar seperti Vajra tidak pernah muncul lagi.


Ryan dengan mudah membunuh Aragami-Aragami tersebut. Hanya dengan satu serangan, nyawa Aragami-Aragami tersebut melayang.

__ADS_1


Karena Ryan selalu membunuh mereka secara instan, akhirnya Alisa sama sekali tidak bertarung.


Tidak butuh waktu lama bagi langit untuk menjadi gelap. Sinar rembulan pun keluar dari persembunyiannya.


Akhirnya, Ryan dan Alisa memutuskan untuk beristirahat. Mereka sendiri juga sudah tidak berharap lagi dapat mengejar Venus yang telah lama hilang dari pandangan mereka.


Lagi pula, melakukan perjalanan di malam hari sangat berbahaya.


Apalagi tubuh Ryan masih menderita beberapa luka. Dari pada terburu- dan kehabisan energi saat melawan Venus, lebih baik beristirahat dulu sambil memulihkan luka-lukanya.


Untungnya, tidak lama setelah malam tiba, Ryan dan Alisa menemukan reruntuhan bekas bangunan di padang tandus ini. Mereka pun sepakat untuk bermalam di reruntuhan ini.


Dengan menggunakan barang yang ia temukan pada reruntuhan tersebut, Ryan membuat api unggun. 


Ryan duduk berhadap-hadapan dengan Alisa, namun mereka berdua sama-sama menundukkan kepala. Keheningan pun menyeruak di antara mereka. Sampai akhirnya, Ryan mengeluarkan dua bungkus kue dari cincin Black Space.


Kue tersebut adalah Kue Kering Penambah Energi yang Ryan pernah beli sebelum menjalankan misi di dunia Kabaneri The Iron Fortress.


Di dunia sebelumnya, Ryan baru memakan 1 bungkus Kue Kering Penambah Energi. Jadi sekarang ia masih punya 9 bungkus lagi.


Setelah mengambil satu bungkus, Ryan melemparkan satu bungkus lainnya kepada Alisa. "Makanlah … satu bungkus kue tersebut dapat membuatmu kenyang seharian."


Alisa duduk terdiam sambil melihat sebungkus kue kering di tangannya. 'Kue yang dapat membuat orang kenyang seharian? Aku belum pernah mendengarnya!'


'Di era seperti ini, di mana Aragami menjadi penguasa, makanan adalah masalah terbesar kedua bagi umat manusia.'


'Kalau efek ini benar adanya, bukankah ini akan menjadi solusi krisis pangan dunia? Tapi Ryan dengan mudahnya mengeluarkan benda seberharga ini!' Hal ini membuat kepala Alisa semakin pusing.


Ryan melirik Alisa yang sedang makan. Melihatnya makan, Ryan pun berusaha menyembunyikan senyum menyeringainya. 'Kena kau, hehehehe … kamu kira makanan itu gratis, hahahaha …'


'Oke, saatnya fase kedua …'


"Alisa, apa alasanmu ikut denganku?" tanya Ryan dengan nada santai.


Alisa berhenti mengunyah makanannya ketika mendengar pertanyaan Ryan.


"Kamu pasti punya alasan tersendiri. Tidak mungkin orang sepertimu akan mendekati monster mengerikan seperti Venus tanpa alasan yang jelas." jelas Ryan sambil bersandar pada dinding reruntuhan.


Alisa hanya diam menundukkan kepalanya sambil melihat bungkus kue yang ada di tangannya. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu dengan serius.


Ryan tidak terburu-buru untuk mendengar jawaban Alisa. Karena ini semua sudah sesuai dengan ekspektasinya.


Setelah menunggu selama 10 menit, akhirnya Alisa mulai berbicara dengan suara rendah. "Aku memiliki musuh yang harus aku kalahkan."


"Dia adalah musuh yang telah membunuh orang tuaku." Sedikit demi sedikit, genggaman tangan yang membawa sebungkus kue kering semakin erat. Nada bicaranya pun menjadi sedikit mengerikan.


"Dan semua itu terjadi tepat di depan mataku …"


Dengan kata lain, Alisa menyaksikan orang tuanya dibunuh secara langsung. Alisa tidak dapat berbuat apa-apa saat itu. Hal ini lah yang membuat Alisa haus akan kekuatan dan mendorongnya menjadi God Eater.


"Bukankah kamu mengatakan bahwa aku terlalu gegabah saat melawan Vajra?" Alisa memandang wajah Ryan dan berkata, "Itu karena pembunuh orang tuaku adalah Dyaus Pita (Heavenly Father)!"


__ADS_1


Dalam sejarah Hindu, Dyaus merupakan Ayah dari Dewa Agni dan Dewa Indra. Dari sini, sudah dapat ditebak bahwa Dyaus Pita (Heavenly Father) adalah Aragami bertipe Deusphage, di mana semua Aragami bertipe ini memiliki nama yang berasal dari mitologi.


Wujud Dyaus Pita (Heavenly Father) sendiri sangat mirip dengan Vajra. Bisa dibilang, Dyaus Pita (Heavenly Father) adalah salah satu varian Vajra. Yang membedakan adalah ia memiliki tubuh yang lebih besar dan kuat.


"Aku bergabung dengan cabang Rusia hanya untuk mengalahkannya!" Alisa perlahan menghancurkan kue kering di tangannya. Matanya terlihat penuh dengan obsesi dan kebencian yang tak ada habisnya.


"Setelah mengetahui bahwa perang ini disebabkan oleh hormon Venus, aku memutuskan bahwa aku harus menemukan Venus. Dengan begitu,  mungkin saja aku bisa bertemu dengan Aragami itu!"


"Yang aku inginkan sekarang hanyalah balas dendam!"


“Apa kamu yakin kamu bisa membalaskan dendammu? Dengan kemampuanmu yang seperti ini? Jangan mimpi!” ucap Ryan dengan sangat pedas.


Ucapan ini membuat tubuh Alisa bergidik. Ia kemudian mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Ryan.


Saat ini, di mata Alisa tidak ada lagi sikap dingin dan tajam. Di sana juga tidak ada kelemahan dan ketekunan yang tampak jelas sebelumnya. Yang ada sekarang hanyalah tatapan penuh amarah yang sangat kuat.


"Kamu bicara apa tadi!?"


Ryan mengabaikan amarah Alisa. "Aku hanya bicara berdasarkan fakta."


"Kamu pikir aku tidak bisa mengalahkannya?" Suara Alisa semakin tinggi. Ia kemudian mengangkat God Arc di tangannya dan berkata kepada Ryan, "Aku sekarang adalah seorang God Eater! Aku bukan lagi seorang wanita lemah yang tidak bisa menyelamatkan siapapun! Aku ya– "


Belum selesai Alisa menyelesaikan ucapannya, Ryan langsung memotongnya. "Apapun yang kamu bicarakan, tetap saja itu tidak mengubah fakta bahwa kau masih pemula."


"Kalau Aragami bertipe Deusphage mudah dikalahkan, dunia ini pasti sudah lama damai!"


“Bukannya aku merendahkanmu, tapi aku ingin kamu untuk membuka matamu. Menjadi seorang God Eater nggak menjamin dirimu akan menjadi kuat!”


“Memang kamu bisa menjadi kuat dengan terus berlatih dan menambah pengalaman bertarungmu. Tapi untuk saat ini, kamu masih sangat lemah …”


Kalimat terakhir yang Ryan ucapkan benar-benar membuat mental Alisa runtuh.


“Arghhh!” Alisa berteriak dengan keras seperti orang kesakitan. Ia kemudian berjongkok dan memegangi kepalanya.


“Mama … Papa …” 


“Arghhh!”


Melihat kondisi Alisa yang seperti itu, Ryan menjadi panik. ‘Anjir, sepertinya kali ini aku sudah benar-benar keterlaluan!’


Ryan pun bergegas menghampiri Alisa. Saat Ryan tepat berada di depan Alisa, mendadak Alisa berdiri dan memeluk Ryan dengan erat.


Alisa membenamkan wajahnya pada dada Ryan. Perlahan, ia mulai menangis dengan keras. “Hiks hiks hiks … Huaaaa~” 


Ryan benar-benar merasa bersalah telah membuat Alisa seperti ini. Setelah beberapa menit, tangisan Alisa mulai mereda. 


Di luar dugaan, alisa tiba-tiba menggigit lengan Ryan. Karena rasa bersalahnya, Ryan membiarkan Alisa terus menggigit lengannya. 


Dengan sabar, Ryan terus menahan rasa sakit pada lengannya. Darah pun perlahan mulai mengalir keluar.


“Kamu jahat …” bisik Alisa.


‘Anjir, kalimat ini membuatku merasa jadi seperti pelaku pelecehan!’ teriak Ryan dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2