
Ding
[Nomor Serial 124.888 telah berhasil mendapatkan kemampuan -Flashing Sheath (Sensa)-]
______________________________________________________________________
Kemampuan Spesial :
- Mystic Eye of Death Perception
Kemampuan Pasif :
- Pembantai (Lv.1)
Kemampuan Aktif ;
- Stigma (Lv.1)
- Flashing Dash (Sensō) (Lv.1)
- Flashing Sheath (Sensa) (Lv.1)
Keterangan :
Kecepatan Serang +50%,
Kekuatan Lengan +50%,
Dalam setiap serangan, terkadang muncul efek mengabaikan pertahanan lawan,
Dalam setiap serangan, memiliki efek pertahanan,
Level kemampuan ini dapat ditingkatkan.
______________________________________________________________________
Saat suara notifikasi terdengar di telinga Ryan, mendadak seluruh ingatan Tohno Shiki mengenai Teknik Flashing Sheath (Sensa) merasuk ke dalam pikirannya.
Dengan begini, kemampuan Ryan dalam Teknik Membunuh Nanaya telah sepadan dengan Tohno Shiki.
Sekarang, hanya ada satu hal yang perlu Ryan lakukan.
__ADS_1
"Bunuh!"
Slash
Kecepatan tebasan Ryan mendadak meningkat tajam dan menimbulkan efek bayangan aurora. Seketika itu juga, belati di tangan Ryan langsung menghantam kepala Dyaus Pita (Heavenly Father).
Di saat yang sama, bilah Moon Blade tiba-tiba mengeluarkan cahaya bulan yang menyilaukan. Cahaya ini merupakan salah satu efek khusus dari Moon Blade, yaitu efek kejut (stun) yang dapat membuat lawan tidak bisa bergerak selama beberapa saat. Kemungkinan efek ini muncul sangatlah kecil, tidak sampai 10%.
Akibatnya, penglihatan Dyaus Pita (Heavenly Father) mengalami kebutaan sementara. Ia pun langsung berhenti bergerak selama beberapa saat.
Karena kecepatan tangan Ryan, belati di tangannya berubah menjadi pisau cahaya aurora dan langsung dengan mudah menebas wajah Dyaus Pita (Heavenly Father).
Croot
Rahang bawah berjanggut itu langsung terbang ke udara hingga akhirnya jatuh ke tanah. Darah bagaikan air mancur keluar dari luka tersebut.
Dari kejauhan, Mata Alisa terbelak melihat semua kejadian ini.
Wajah Dyaus Pita (Heavenly Father) kini telah terpotong sebagian. Ia tidak lagi memiliki rahang bawah.
"GROOOAR!"
Deru teriakan kesakitan terdengar dari mulut Dyaus Pita (Heavenly Father) yang tinggal bagian atasnya saja.
BOOM
Kilat merah darah ini membuat tanah di sekitarnya hancur dan mengalami evaporasi. Satu demi satu, area di sekeliling tubuh Dyaus Pita (Heavenly Father) runtuh.
Menghadapi kekuatan mengerikan itu, yang ada di pikiran Ryan adalah menghindar. Tak lama kemudian, tubuh Ryan tertelan oleh gelombang ledakan.
Melihat pemandangan ini, Alisa tak kuasa menahan nafasnya. Ini pertama kalinya ia melihat kekuatan penuh dari Aragami Deusphage secara langsung.
"Tapi aku tidak pernah mendengar Dyaus Pita (Heavenly Father) memiliki kekuatan petir merah seperti ini!"
"Apakah ini kekuatan yang sengaja disembunyikan oleh Dyaus Pita (Heavenly Father)? Andai aku yang sedang melawannya sekarang, aku pasti sudah mati terkena serangan ini!" gumam Alisa.
Sementara itu, Ryan kini sedang terbaring di tanah akibat hempasan gelombang ledakan. Ryan sebenarnya bisa menghindari petir merah itu dalam waktu singkat, namun ia salah memperhitungkan efek gelombang ledakan yang tercipta.
'Sial! Aku sudah tahu kalau Dyaus Pita (Heavenly Father) memiliki kemampuan petir merah yang akan aktif ketika ia terpojok, sama seperti yang ada dalam game. Tapi aku gagal memperhitungkan daya hancurnya. '
'Aku lupa bahwa dunia ini bukanlah dunia game, melainkan dunia nyata yang memiliki setting mirip dengan game dan animenya. Ini adalah pelajaran berharga untuk.’
__ADS_1
Karena kesalahan inilah, Ryan akhirnya terhempas dan jatuh ke tanah. Tanpa ada jeda untuk beristirahat, ia kembali bangkit sambil berlutut dengan satu kaki.
"GROOOAAAAR"
Dyaus Pita (Heavenly Father) yang tubuhnya bermandikan petir merah terlihat sangat mengerikan. Ia tak henti-hentinya meluapkan kekesalannya dengan mengeluarkan aumannya secara terus menerus. Apalagi, ia gagal membunuh Ryan dengan kekuatan penuhnya. Ia benar-benar sangat ingin membunuh Ryan.
Bagi Dyaus Pita (Heavenly Father), mempermainkan buruannya adalah caranya menghabiskan waktu dan bersenang-senang. Namun, apa yang dilakukan Ryan ini telah merusak kesenangannya.
Terlebih lagi, sebelumnya Dyaus Pita (Heavenly Father) sama sekali hanya memandangnya sebagai target buruan yang lemah. Ia tidak menyangka bahwa target buruan yang selalu ia anggap lemah itu bisa sekuat ini dan berbalik menyerangnya, bahkan melukainya.
Ryan yang masih berlutut, melihat ke arah Dyaus Pita (Heavenly Father) dengan tatapan sedingin es. “Pada seranganku selanjutnya, akan ku pastikan kali ini aku membunuhmu!”
Mendengar ucapan Ryan, tiba-tiba auman Dyaus Pita (Heavenly Father) berhenti. Amukan kilat merah yang ada di sekujur tubuhnya pun ikut padam. Ia memandang Ryan dengan mulut bagian bawah yang telah hilang.
Dengan kecerdasan yang dimiliki Dyaus Pita (Heavenly Father), ia tahu bahwa apa yang dikatakan Ryan itu bukanlah gertak sambal. Namun ia akan benar-benar terbunuh saat Ryan menghunuskan belatinya lagi. Dan yang membuatnya bingung, Ryan dapat melukainya hanya dengan sebilah belati, bukan menggunakan God Arc.
Kemarahan yang ada dalam hatinya, membuat instingnya sebagai Aragami ingin segera menyerang dan memakan Ryan. Tapi, akal sehat dan kecerdasan yang ia miliki terus memberinya peringatan. Dyaus Pita (Heavenly Father) pun tidak ingin bertindak gegabah menghadapi anomali seperti Ryan.
“Grrrrrr” Dyaus Pita (Heavenly Father) menggeram dengan suara rendah. Setelah beberapa saat ia menggeram, Dyaus Pita (Heavenly Father) akhirnya memilih untuk mundur.
Dengan cepat, ia berbalik arah dan melompat ke gedung yang ada di dekatnya. Sosoknya pun menghilang di tengah kegelapan malam.
Kesunyian kini akhirnya kembali menemani reruntuhan tempat mereka berdiri. Darah dan bongkahan daging Aragami terlihat berserakan di beberapa tempat, yang menjadi penanda bahwa telah terjadi pertumpahan darah di tempat ini.
Alisa hanya bisa terdiam saat melihat musuh bebuyutannya kabur. Setelah beberapa menit ia terus memandang ke arah perginya Dyaus Pita (Heavenly Father), Alisa mengalihkan pandangan ke tempat Ryan berada.
Di sana, Ryan masih mempertahankan postur berlutut dengan satu kaki sambil terus memegang belatinya erat-erat. Api putih yang ada di sekujur tubuhnya juga sedikit demi sedikit meredup, hingga akhirnya api suci tersebut benar-benar menghilang.
Setelah Alisa menunggu beberapa saat, Ryan tidak kunjung bergerak dari posisinya.
Melihat hal ini, Alisa menjadi sedikit khawatir dengan keadaan Ryan. Akhirnya, dengan susah payah, Alisa memaksa tubuhnya yang masih lemah dan penuh luka itu untuk berdiri. Ia kemudian dengan penuh perjuangan berjalan perlahan untuk mencapai tempat Ryan.
Saat Alisa tiba di belakang Ryan, ia mulai membuka mulutnya. “Ryan, apa kamu tidak apa-apa?”
Namun Ryan sama sekali tidak memberikan respon atas pertanyaan Alisa.
Alisa menjadi semakin khawatir dengan keadaan Ryan. Ia lalu mengulurkan tangannya dan menepuk bahu Ryan. Tiba-tiba, tubuh Ryan roboh.
“Ryan!” Tanpa memperdulikan lukanya, Alisa secepat kilat berlutut dan memegang dada Ryan untuk menopang tubuhnya. Dari sentuhan tangannya, Alisa dapat merasakan jantung Ryan yang masih berdetak.
Alisa pun sedikit bernafas lega setelah memastikan bahwa Ryan masih hidup. Ia tidak ingin melihat orang yang ia kenal mati di depan matanya. Terlebih lagi, semua ini dimulai akibat dirinya yang dengan gegabah menyerang Dyaus Pita (Heavenly Father).
__ADS_1
Setelah memastikan keadaan Ryan, Alisa mulai melihat ke arah di mana Helikopter berada. “Dengan Helikopter itu, aku bisa segera kembali ke cabang Rusia. Tapi …”
Melihat kondisi Ryan saat ini, Alisa pun menjadi ragu. Tapi, setelah beberapa menit berpikir, Alisa akhirnya membulatkan keputusannya.