
Di kamar asrama Ryan, Aria duduk di sofa sambil meminum secangkir air hangat. Raut wajahnya pun sudah tidak pucat lagi seperti sebelumnya.
"Bagaimana?" Ryan bersandar ke dinding di ruang tamu dan bertanya, "Apakah kamu baik-baik saja?"
"Aku tidak apa-apa kok. Wanita tersebut selalu menembak seragam anti peluruku."
"Hanya saja, seiring berjalannya waktu, peluru yang dia tembakkan semakin mendekati titik vitalku."
"Awalnya, dia hanya menembak bagian perut. Namun, pada tembakannya berikutnya, ia mengincar dadaku, lalu tulang selangka, dan terakhir ia mengincar kepalaku."
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi wanita itu serius." Aria merasa kesal telah kalah telak dari Kana.
"Jika kamu tidak datang menyelamatkanku, aku yakin tembakan terakhirnya akan menembus kepalaku!"
Mendengar cerita Aria, Ryan hanya diam dan mengerutkan dahinya.
Setelah mengalahkan Kinji di landasan pacu, Kinji memberi tahu Ryan bahwa Aria dalam bahaya. Ia juga memberitahu lokasi di mana Kana akan membunuh Aria. Informasi inilah yang membuat Ryan datang tepat pada waktunya. Jika tidak, mungkin Aria akan benar-benar tewas.
Untuk alasan mengapa Kana mengincar Aria, Ryan masih belum mengetahuinya. Karena begitu ia mendapat informasi mengenai lokasi Aria, Ryan langsung berlari secepat kilat ke tempat Aria dan meninggalkan Kinji sendirian di landasan pacu.
Ryan baru saja mencoba menghubungi Kinji. Namun, nomor miliki Kinji tidak lagi aktif.
"Wanita itu bernama Tohyama Kana, kan?" Aria memandang Ryan dan bertanya, "Siapa dia? Bagaimana dia bisa begitu kuat?"
Aria adalah seorang Butei peringkat S. Akan tetapi, seseorang dengan identitas misterius datang dan mengalahkan Aria dengan mudah. Hal ini tentu menyakiti harga dirinya yang tinggi.
"Wanita itu dapat menggunakan Teknik Invisible Bullet sama sepertimu!" Aria memandang Ryan dengan tatapan skeptis. Ia lalu berkata dengan sedikit terbata-bata. "Itu ... wanita itu ... mungkinkah dia mantan pacarmu?!"
Mendengar ucapan Aria, tubuh Ryan tiba-tiba merinding. Ryan pun langsung menyangkalnya dengan keras. "Itu nggak mungkin! Aku masih normal! Aku masih menyukai cewek tulen!"
Tohyama Kana, adalah Kakak laki-laki dari Tohyama Kinji yang suka berpenampilan sebagai wanita. Pria yang memiliki nama asli Tohyama Kinichi ini merupakan putra pertama dari Keluarga Tohyama saat ini.
Oleh karena itu, meskipun Tohyama Kana terlihat sangat cantik, namun dia adalah lelaki tulen.
Mode Hysteria Savant Syndrom Keluarga Tohyama adalah Kemampuan Khusus yang memungkinkan orang memperoleh kekuatan seperti Manusia Super dalam waktu yang terbatas.
Katalis untuk mengaktifkan Kemampuan Khusus ini adalah melalui rangsangan secara seksual.
Akan tetapi, rangsangan secara seksual tidak harus selalu melalui lawan jenis. Ada beberapa orang memiliki fetish tertentu yang dapat membangkitkan nafsu selain melalui lawan jenis.
Dan Kakak Kinji termasuk dalam tipe ini. Ia akan secara alami masuk ke dalam Mode Hysteria Savant Syndrom ketika ia mengenakan pakaian wanita dan menyamar sebagai wanita.
Dengan kata lain, Tohyama Kana adalah mode Hysteria Savant Syndrom dari Tohyama Kinichi.
Maka dari itu, sangat mustahil Tohyama Kana adalah mantan pacar Ryan. Memikirkannya saja, Ryan sudah merinding dan ingin muntah.
“Benarkah?” Aria tampak sedikit takut dengan sikap Ryan yang sangat berlebihan ini. "Kalau bukan, maka itu lebih baik."
__ADS_1
Ryan menggaruk pipinya, seolah ingin membuka topik pembicaraan, dan bertanya, "Jadi, mengapa kamu bisa ada di sana?"
"Aku tadi mendapat telepon anonim yang memintaku untuk pergi ke sana."
Aria mendengus ringan. "Hump! Kupikir ada orang yang ingin memberikan Komisi Pribadi kepadaku, ternyata ini malah jebakan!"
Butei bebas menerima Komisi Pribadi secara langsung. Hanya saja, Komisi Pribadi ini tidak boleh melanggar hukum.
Biasanya misi yang mereka berikan ada di wilayah abu-abu. Seperti permintaan menyelidiki kelemahan pesaing bisnis. Misi tersebut tidak melanggar hukum, akan tetapi tidak etis.
Maka dari itu, misi yang seperti itu tidak akan dipasang di Papan Buletin Misi.
Biasanya, orang-orang seperti ini akan menghubungi langsung Butei dengan nomor anonim dan mengajaknya untuk bertemu di tempat tersembunyi.
Aria berpikir orang yang menghubunginya akan memberikan Komisi Pribadi semacam itu. Makanya Aria bersedia datang ke tempat itu.
Ryan lalu berusaha mendeduksi mengenai kejadian ini. "Menurutku, ada yang aneh dengan Kana. Dia meminta Kinji untuk menghalangiku pergi ke tempatmu. Akan tetapi, kenapa dia nggak langsung membunuhmu?"
"Dia seharusnya punya banyak kesempatan untuk membunuhmu saat aku belum tiba di sana."
Menurut Kinji, Tohyama Kinichi seharusnya sudah mati. Hal inilah yang mendorong Kinji mundur dari Butei.
Tapi sekarang, Tohyama Kinichi tiba-tiba kembali. Tidak hanya masih hidup, tapi juga berubah menjadi Tohyama Kana.
Ryan berpikir bahwa ada alasan khusus kenapa Kana mengincar Aria. Di saat yang sama, Kana juga tampak enggan untuk membunuh Aria.
"Lagi pula, Butei tidak boleh membunuh siapa pun dalam keadaan apa pun. Tohyama Kana jelas tidak mau mematuhi hukum dan peraturan ini."
"Tapi, kenapa dia melakukan semua itu?"
Ketika Ryan jatuh ke dalam pikirannya sendiri, Aria mulai berbicara.
"Jangan khawatir tentang hal ini." Aria mengalihkan pandangannya ke Ryan dan berkata, "Sekarang kita harus memusatkan perhatian kita pada IU."
"Masuk akal." Ryan hanya bisa mengangguk.
Setelah berbincang-bincang mengenai rencana penyerangan, mereka memutuskan untuk beristirahat dahulu dan berangkat saat pagi buta.
~***~
Keesokan paginya, Ryan dan Aria bersiap-siap untuk pergi ke pelabuhan Pulau Akademi.
Mereka berdua kini mengenakan seragam anti peluru SMA Butei. Berbeda dengan Ryan yang mengenakannya seperti sedang bersekolah, Aria memakai ikat pinggang yang penuh dengan magazin peluru. Bahkan ia juga mengenakan tas kecil di belakang pinggangnya.
Melihat tas itu, Ryan sedikit penasaran. "Apa isi tas itu?"
"Akhirnya kamu bertanya juga." Aria tersenyum manis mendengar pertanyaan Ryan. Ia lalu berkata, "Rahasia ..."
__ADS_1
Sikap Aria ini membuat Ryan terpana. “Aria, kamu sangat manis sekali hari ini. Seandainya kita nggak menyerang IU hari ini, aku sudah mengajakmu berolahraga pagi sekarang.”
"Olahraga pagi?" Aria berpikir sejenak. Namun, begitu menyadari maksud perkataan Ryan, Aria tersipu malu.
"A-ayo … ayo kita harus segera pergi ke pelabuhan." ajak Aria dengan nada terbata-bata.
Ryan tersenyum melihat betapa imutnya reaksi Aria.
Tidak lama kemudian, taksi yang mereka tumpangi telah tiba di pelabuhan.
Ryan kemudian berjalan mengikuti Aria menuju tempat di mana alat transportasi yang akan mereka gunakan bersandar.
Setelah sampai di tempat tujuan, Ryan melihat sebuah kapal selam kecil yang memiliki bentuk seperti peluru.
Kapal selam ini memiliki warna gelap, dan berukuran lebih kecil dari speedboat. Ryan memperkirakan kapal selam ini hanya sanggup memuat 2 sampai 3 orang saja.
"Kamu pasti mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk menyewanya." ucap Ryan dengan ekspresi kagum.
Aria merespon ucapan Ryan seakan ini hal biasa. "Divisi Logi memiliki segalanya. Kamu bisa menemukan berbagai macam kendaraan di sana asal uangmu cukup."
Ryan pun ingat betapa kayanya Aria. Ia bahkan dapat menyewa Helikopter dari divisi Logi dengan mudah saat insiden bus.
"Tapi, bisakah kamu mengemudikan kapal selam ini?" tanya Ryan.
"Tenang saja, aku sudah membaca buku manual mengemudi yang diberikan Logi sebelumnya. Jadi tidak akan ada masalah."
Mendengar jawaban Aria ini, Ryan benar-benar meragukan kemampuan Aria dalam mengemudikan kapal selam.
Akan tetapi, keinginan kuat Ryan untuk menyelamatkan Shirayuki membuatnya mau tidak mau harus mempercayai kemampuan Aria.
Aria kemudian masuk ke dalam kabin kapal selam kecil tersebut. Melihatnya masuk, Ryan juga mengikuti Aria.
Seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, kabin kapal selam ini hanya bisa menampung dua orang saja, satu kursi pengemudi, dan satu kursi penumpang.
Di depan kursi pengemudi terdapat banyak instrumen canggih.
Aria duduk langsung di kursi pengemudi dan memasukkan pola sinyal pada instrumen tersebut.
Setelah selesai, Aria mulai bertindak seperti seorang komandan, dan memberi perintah pada Ryan. “Ryan, segera tutup pintunya! Kita segera berangkat!”
Ryan segera menutup pintu kabin sesuai perintah Aria. Aria lalu memberikan sedikit penjelasan pada Ryan.
"Pola sinyal IU sudah aku masukkan ke dalam konsol. Sekarang, radar kapal selam ini dapat mendeteksinya."
"Jadi, kita tinggal mengikuti petunjuk dari radar dan pergi ke sana. Mudah-mudahan, lokasi IU tidak berada di laut dalam. Kapal selam kecil ini tidak bisa menyelam terlalu dalam."
Aria kemudian memegang sebuah joystick yang ada di depannya dan menariknya perlahan. Kapal selam kecil itu pun, secara perlahan, mulai menyelam ke dalam laut dan menghilang dari permukaan.
__ADS_1