
Shiiiiiiiii
Cahaya putih cemerlang terus menerus bersinar dari Urm Manadyte yang putih bersih. Seperti halnya Ardi, ia bersinar di atas arena dengan cahaya yang menyilaukan.
"Itu!" Ardi terkejut. Jelas, Ardi mengenali dengan jelas apa yang ada di depannya. Lagi pula, ada hal yang sama di dalam tubuh Ardi.
Tidak hanya Ardi, tetapi penonton juga langsung juga menyadarinya.
"Para pemirsa sekalian, silahkan lihat! Manadyte dari Lux Ryan ternyata berwarna putih!"
"Semua Manadyte pasti berwarna hijau. Tidak ada Manadyte yang berwarna putih!"
"Dengan kata lain, itu bukanlah Manadyte, tapi Urm Manadyte?"
"Benar, Ryan tidak menggunakan Lux, tapi Orga Lux!"
Mendengar suara komentator, satu per satu penonton di stadion semuanya kagum dan bersemangat.
Dalam game ini, performa Ryan benar-benar melampaui ekspektasi semua orang.
Semuanya tidak menyangka bahwa Ryan, yang tidak pernah sekalipun bertarung, sebenarnya memiliki kekuatan yang begitu kuat dan juga memiliki Orga Lux.
"Sudah hampir waktunya untuk mengakhiri semua ini." ucap Ryan sambil mengangkat Seraph di tangannya dan menunjuk ke arah Ardi.
"Aku tidak ingin berhenti di sini. Jadi tolong, jadilah batu loncatanku dan biarkan aku melangkah lebih jauh!"
Saat kata-kata itu diucapkannya, tubuh Ryan tiba-tiba mengeluarkan Prana yang sangat besar.
Kali ini, Ryan mengerahkan semua Prana yang ia miliki dan menuangkannya ke Orga Lux ada keraguan sedikit pun.
Shiiiiiiiiii
Urm Manadyte Seraph mengeluarkan cahaya putih yang lebih menyilaukan dari sebelumnya, menerangi seluruh arena.
Swoosh
Di bawah sinar cahaya, angin di sekitar tiba-tiba mulai bergetar, seolah berputar ke pusaran angin yang berpusat pada bilah pedang Seraph.
Sekilas, seperti ada aliran angin yang mengalir dari seluruh penjuru arena berkumpul ke arah Ryan. Dengan adanya Prana yang terus masuk ke dalam Seraph, pemandangan di dalam arena hampir seperti sebuah Nebula, sangat indah dan menawan.
Hanya Ardi yang bisa merasakannya. Di bawah pemandangan indah itu, ada krisis mematikan yang tersembunyi.
Namun, Ardi sama sekali tidak terkejut. Malahan, ia sangat senang.
"Datanglah!" teriak Ardi dengan lantang. "Kami telah berkomitmen untuk memenangkan pertandingan ini!"
Cahaya biru tiba-tiba mekar dari tubuh Ardi. Cahaya yang tak kalam mempesona dari Seraph.
Segera setelah itu, kecemerlangan yang menyilaukan ini berkumpul di Wolnir Hammer. Ardi kemudian mengangkatnya dan bersiap untuk melempar.
Di saat yang sama, kepala palu godam itu bercahaya biru itu mukai berputar lagi bagai roda angin yang menyilaukan.
Sementara itu, di sisi lain, embusan aliran angin mulai menyatu di bawah cahaya putih
Ryan dan Ardi sama-sama mengerahkan seluruh kekuatannya dalam satu serangan ini.
"Haaaah!" Ryan dengan rendah berteriak sambil mengayunkan Orga Lux-nya.
Aliran angin yang tiba-tiba mengamuk berkumpul di bilah pedang putih murni dan berubah menjadi angin tornado. Itu seperti mata bor yang sangat besar, dengan keras menembak ke depan.
"Rasakan ini! Wolnir Hammer!"
Bersamaan dengan aksi Ryan, Ardi juga mengayunkan palu godam di tangannya, menyebabkan kepala palu yang seperti roda angin itu terlepas dan meluncur ke depan dalam cahaya biru yang menyilaukan.
Angin tornado yang memecah atmosfer bergerak lurus ke depan. Dan dari arah berlawanan, roda angin biru berputar dengan keras menyambutnya.
Kedua serangan ini membuat tanah yang dilewatinya hancur.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, kedua serangan itu bertemu.
BOOM
Deru ledakan terdengar keras dan nyaring.
Angin tornado dan roda angin biru bertabrakan dan meledak. Hal ini memicu gelombang kejut dan juga api yang mengerikan, menghasilkan ledakan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Gelombang kejut beserta kerikil menyapu ke segala arah dan langsung menghantam perisai pertahanan arena, menciptakan gesekan yang sangat sengit.
Semua penonton dapat melihat semua ini dengan jelas.
Arena hingga seluruh Sirius Dome berguncang hebat.
Tabrakan yang mengerikan ini membuat penonton satu persatu menunjukkan ekspresi terkejut. Walau begitu, mereka semua tetao duduk di tempat masing-masing.
Bahkan orang yang menontonnya lewat siaran langsung pada layar hologram, semuanya menahan nafas mereka, bahkan detak jantung mereka berdegup dengan kencang.
Setelah beberapa saat, gelombang kejut ledakan akhirnya perlahan mulai mereda. Pergerakan di atas arena juga menjadi tenang.
Semua penonton segera melihat ke dalam arena dengan intens.
Hingga akhirnya kedua sosok itu muncul di pandangan mata semua orang.
Ryan berlutut dengan satu lutut di tanah, sementara Seraph di tangannya menusuk dan menopang tubuhnya. Ia terlihat mengambil nafas pendek dengan pandangan mata yang penuh lelah.
Di depan Ryan, Ardi berdiri di tempatnya. Palu di tangannya telah kehilangan kepala palunya, tetapi dia tidak bisa berdiri tegak lagi.
Akan tetapi, di tubuh Ardi, banyak retakan justru mengisi tubuhnya.
Melihat adegan ini, penonton kehilangan kemampuan berbicara.
Hingga akhirnya terdengar suara retakan di saat yang bersamaan.
Kratak
Seketika itu, suara mekanis terdengar di arena.
"Ryan Herlambang, lencana sekolah rusak."
"Ernesta Kühne, lencana sekolah rusak."
Keduanya tersingkir pada saat bersamaan.
Hanya saja, ini adalah pertandingan pasangan ganda, bukan pertandingan tunggal.
Jadi, sementara yang lain terpana dengan hasil ini, Cecily Wong yang berada di pinggir arena, tersenyum pada Rimsy yang ada ternyata ada di dekatnya. Rimsy pun cukup terkejut dengan kemunculan Cecily Wong.
Tidak butuh waktu lama untuk suara mekanis berbunyi lagi.
"Camilla Pareto, lencana sekolah rusak."
"Permainan selesai. Pemenangnya, Ryan Herlambang x Cecily Wong."
Penonton terdiam sejenak, seakan sedang memproses apa yang terjadi dalam pertandingan ini.
Setelah beberapa saat, sorakan yang luar biasa meledak dari penonton dan tidak berhenti untuk waktu yang lama.
"Sayang sekali, kita kalah …"
Di lounge khusus peserta Sirius Dome, Ernesta menggebrak meja dengan kecewa. Ia terlihat lemas dan tak ingin beranjak dari tempatnya duduk.
Sebaliknya Camilla, ia sama sekali tidak kecewa. Malah ada semacam perasaan senang. "Meski kita kalah, tapi kita telah mendapat banyak data berharga. Ini sudah sangat cukup. Apakah kamu belum puas?"
Bagi Camilla, tujuan mengikuti Phoenix Festa hanyalah untuk bereksperimen dengan karya yang ia ciptakan sendiri. Ia sama sekali tidak memiliki alasan lain.
Jika mereka menang, tentu saja itu lebih baik. Tapi kalau mereka kalah, maka tidak ada yang perlu dikecewakan.
Lagi pula, performa Ardi dalam pertandingan kali ini meningkat karena ia menggunakan tenaga Urm Manadyte, yang tentu membuatnya setara dengan Orga Lux.
__ADS_1
Keberadaan Orga Lux sangat bertentang dengan tujuan Faksi Ferrovius.
Jadi, kekalahan Ardi, menurut Camilla, justru merupakan hasil yang bagus.
Paling tidak, Camilla berhasil mengumpulkan informasi yang dibutuhkan. Ia tidak ingin menang dengan kekuatan yang tidak seusai dengan prinsip miliknya.
Camilla lebih memilih untuk kalah daripada menang.
Hanya saja, Ernesta tidak berpikir begitu. "Aku berharap Ardi dan Rimsy menang, sehingga mereka bisa bersekolah di Arlequint."
Ernesta lalu berkata dengan nada sangat tidak puas, "Kalau begini caranya, bukankah semua rencanaku sia-sia?"
"Ngomong-ngomong, kamu tidak berencana untuk menyerah kan?" Camilla menghela nafas, seakan tahu bahwa rekannya ini hanya berpura-pura kecewa.
Camila lalu berkata dengan nada dan gaya bicara Ernesta, "Bagiku, Ardi dan Rimsy masih jauh dari akhir. Setelah ini, mereka pasti akan menjadi boneka yang lebih baik dan sempurna."
"Saat itu terjadi, aku juga berniat untuk membiarkan mereka pergi ke sekolah. Lalu mengikuti Festa lagi dan menjadi pemenangnya."
"Tehe~" Ernesta seperti anak kecil yang tertangkap basah. Ia mengulurkan lidahnya, menutup satu matanya, dan menjitak kepalanya sendiri. "Sudah ketahuan."
"Hahahaha …" Camilla tidak bisa lagi menahan tawanya.
Di saat yang sama, pintu lounge terbuka. Ardi dan Rimsy masuk dari pintu luar. Ardi masuk dengan tawa yang berani, sedangkan Rimsy dengan wajah yang dingin, benar-benar kontras.
Melihat kedatangan mereka, Ernesta segera tersenyum dan dengan cepat menyapa sambil melompat, "Akhirnya kalian kembali juga. Biarkan Mastermu melihat betapa buruknya kalian."
Camilla mengangguk dan berkata kepada Ardi dan Rimsy, "Terima kasih atas kerja keras kalian."
Setelah mendengar ini, Rimsy segera menundukkan kepalanya dan berkata, "Maafkan saya, Master, kami kalah."
"Jangan pikirkan iru." Camilla menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tujuanku bukan untuk membuatmu menang. Selama kamu memiliki hasil yang cukup, maka itu akan baik-baik saja."
"Ya, itu benar." Ernesta sepertinya sudah benar-benar melupakan penampilan dan wacana sebelumnya. Dia tertawa dan berkata, "Festa diadakan lebih dari sekali, dan kalian bisa mengikuti Festa berikutnya."
Mendengar perkataan Ernesta, belum sempat Rimsy berdiri, Ardi mengangguk bangga dan berkata, "Rimsy, Master benar. Kekalahan bukanlah hal yang paling penting. Yang penting kita sangat menikmatinya. Manusia bernama Ryan itu sangat menarik. Lain kali, aku ingin bertarung dengannya lagi."
"Diam kamu besi tua." Rimsy berkata dengan acuh tak acuh, "Jika kamu memang kuat, kamu tidak akan kalah begitu parah dalam keadaan kekuatan penuh! Lebih baik kamu dibuang saja ke tempat penampungan besi tua."
Ucapan Rimsy tidak salah. Meski Rimsy sudah memberikan kontrol penuh pada Ardi, tapi dia tetap saja kalah.
Hal ini membuat Ardi pun tertunduk dan berbisik, "Jangan bilang begitu, aku juga tidak mau seperti ini."
Ernesta dan Camilla langsung saling memandang. Padahal, kedua orang itu tahu mengapa Ardi bisa kelah sampai seperti itu.
Keretakan di tubuh itu tidak hanya disebabkan oleh konfrontasi terakhir antara Ardi dan Ryan. Tetapi juga karena Ardi mengerahkan kekuatan penuhnya, sehingga ia tidak dapat sepenuhnya mengendalikan energi Urm Manadyte dengan tubuhnya. Alhasil, tubuh Ardi menjadi terbebani.
"Tapi, lain kali, itu tidak akan pernah terjadi lagi." Ardi, seolah-olah telah mendapatkan kembali semangat juangnya, mengepalkan tangannya dan berkata, "Setelah pertarungan ini, aku jadi memiliki kendali lebih besar atas kekuatan di dalam tubuh ini daripada sebelumnya. Kini aku telah menjadi lebih kuat dari sebelumnya!"
"Oooh!" Ernesta langsung bertanya dengan heran, "Apakah itu benar?"
"Betul Master!" Ardi mengangkat jempolnya dan tertawa. "Kalau bukan karena lencana sekolah yang telah rusak pada saat itu, aku pasti masih bisa tetap bertarung! ”
Faktanya, apa yang dikatakan Ardi benar. Terlebih lagi, Ryan telah kehabisan Prana, sehingga Ryan tidak memiliki kemampuan untuk bertarung lagi.
Tentu saja, jika itu benar-benar terjadi, Ryan pasti akan terpaksa menggunakan Stigma untuk bisa bertarung kembali.
"Aku juga mulai tertarik dengan Nii-chan itu." ucap Ernesta sambil tersenyum bahagia.
"Aku harap aku bisa bermain bersama lagi dengannya di lain waktu."
~***~
Pada saat yang sama, Ryan dan Cecily Wong yang kelelahan kembali ke lounge dan berbaring di sofa.
Nyatanya, yang kelelahan hanyalah Ryan, sementara Cecily Wong hanya mengalami beberapa luka ringan.
"Aku tidak menyangka, baru babak 32 besar saja sudah sangat sulit." ucap Cecily Wong dengan ekspresi penuh kelegaan.
Setelah bertemu lawan yang kuat, Cecily Wong sendiri tidak punya alasan untuk mengeluh.
Adapun Ryan, ia hanya melihat langit-langit dan melamun memikirkan kembali apa yang telah ia lalui tadi.
__ADS_1