
"AAAARRRGGGGHHH!"
Rasa sakit yang tidak masuk akal menyerbu tubuh Ryan. Ia bahkan tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak sekencang mungkin.
Perlahan, tenaga di kedua lengan Ryan memudar. Tanpa ada tenaga lagi, baik Seraph maupun Moon Blade, keduanya terlepas dari genggaman tangannya.
Kedua ular Python yang menggigit lengan Ryan ternyata berasal dari punggung Sydonay.
Melihat serangannya berhasil, wajah Sydonay tersenyum menyeringai. Ia kemudian berjalan mendekati Ryan dan berkata, "Manusia, harus aku akui kamu memang kuat. Tapi, inilah akhirnya. Sekarang, berikan aku Reiji Maigo."
Mendengar suara Sydonay, Ryan yang kedua tangannya digigit dengan erat oleh dua ular Python, mengangkat kepalanya. Ia melihat wajah buas Sydonay dari jarak yang sangat dekat.
Kini, kedua pupil mata Ryan yang sebelumnya berwarna biru sedingin es, telah kembali menjadi gelap. Kedua tangannya juga terbujur lemas ke bawah tanpa memegang senjata lagi.
Namun, meski Ryan sudah terpojok, api semangat di matanya sama sekali belum padam.
Mengabaikan rasa sakit yang teramat sangat di kedua tangannya, bagaikan palu, kaki kanan Ryan langsung menghantam wajah Sydonay.
Boom
Sydonay yang tak menyangka dengan kegigihan Ryan ini, akhirnya menerima tendangan telak Ryan hingga menciptakan gelombang kejut yang menyebar di sekitarnya.
Ryan telah mencurahkan banyak Prana dalam satu serangan ini. Selain itu, efek sarung tangan Heavy Silver juga menyebabkan serangan Ryan ini membawa efek kerusakan ganda.
Menggunakan Prana sebagai kekuatan serang, ditambah dengan efek kerusakan ganda Sarung Tangan Heavy Silver, bisa dibayangkan betapa kuatnya tendangan Ryan ini.
Di bawah tendangan mengerikan ini, tubuh besar Sydonay langsung terbang terlempar ke belakang dengan kecepatan tinggi.
Dua kepala ular Python yang menggigit lengan Ryan ikut tertarik tubuh Sydonay dan menyebabkan lengan Ryan tercabik hingga tulang lengan atas Ryan terlihat.
Seonggok potongan daging dari kedua lengan Ryan jatuh ke tanah dengan penuh darah. Luka Ryan yang cukup dalam ini membuat wajah Ryan semakin pucat. Ia benar-benar telah kehilangan banyak darah dari pertarungan ini.
Boom
Tubuh Sydonay yang terlempar akibat tendangan kuat Ryan langsung menabrak batu tiang penyangga jembatan Misaki dan menghancurkannya.
Melihat tubuh besar Sydonay yang tertutup kerikil dan debu, Ryan yang berlumuran darah tersenyum menyeringai pada Sydonay.
“Jangan mimpi! Aku tidak akan pernah menyerahkan Reiji Maigo padamu!”
Setelah berkata seperti itu, Ryan menghentakkan kakinya ke tanah dan langsung meluncur ke depan. Bagaikan sesosok hantu, Ryan segera tiba di depan Sydonay, dan sekali lagi melepaskan tendangan kuat ke wajah Sydonay. Tendangan kuat ini membawa angin kencang tajam yang membuat efek tendangan bertambah kuat.
“Kurang ajar! Dasar manusia!”
Melihat Ryan dengan berani melepaskan tendangan ke arah wajahnya lagi, mata Sydonay dipenuhi oleh keganasan. Ia bahkan sama sekali tidak berkedip, dan hanya mengangkat cakarnya untuk menghadapi tendangan brutal yang datang ke arahnya.
__ADS_1
Di satu sisi adalah manusia, dan di sisi lain adalah Crimson Lord. Kedua belah pihak tidak ada yang ingin mengalah dalam pertarungan ini.
Dengan cara seperti ini, telapak kaki Ryan dan cakar tajam Sydonay saling bertabrakan dengan dahsyat.
Boom
Suara hantaman keras seperti bom terdengar nyaring. Gelombang kejut kecil yang tercipta di antara Ryan dan Sydonay membuat udara di sekitarnya bergetar.
“Ugh!” Ryan dan Sydonay sama-sama mengerang sembari.mundur selangkah setelah saling bertukar serangan berat.
Ryan yang memiliki keterampilan dalam Teknik Membunuh Nanaya pertama-tama menghancurkan sisa-sisa daya serang yang mendorongnya mundur. Segera setelahnya, ia menstabilkan tubuhnya dan langsung menapakkan kakinya dengan kuat ke tanah.
Sambil menahan rasa sakit, Ryan mengangkat tangan kanannya yang penuh dengan darah dan mengepalkannya. Seketika itu, darah dari luka pada lengan atas Ryan mengalir seperti air mata. Di saat yang sama, seluruh Prana yang terpancar dari sekujur tubuh Ryan berkumpul menjadi satu pada kepalan tangan Ryan dan mengubahnya menjadi kekuatan serang.
Tanpa menunggu waktu lama, pukulan penuh Prana ini langsung menghantam dada tubuh binatang buas Sydonay
Boom
Sebuah pukulan berat dan kuat meledak di dada Sydonay.
Serangan lanjutan Ryan ini membuat Sydonay terkejut sekaligus mengerang kesakitan. Akan tetapi, Sydonay yang tidak mau kalah begitu saja langsung menyerang balik Ryan. Dengan tatapan yang ganas, Sydonay membuka mulut penuh taringnya, dan langsung menggigit Ryan yang ada di depannya,
Croot
Taring tajam ini pun langsung menancap di bahu Ryan cukup dalam.
“Uuuugggh!”
Tak lama kemudian, dengan menggunakan kedua tangannya, Ryan meraih kepala Sydonay. Bagaikan sebuah roket, lutut Ryan meluncur dan menghantam dada Sydonay.
Boom
Serangan dahsyat itu berubah menjadi gelombang kejut yang meluas di dada Sydonay.
“Grrrrrr!”
Kesakitan yang teramat sangat melanda Sydonay, sehingga ia tidak bisa menahan diri untuk mengendurkan taringnya di bahu Ryan.
Dalam hal ini, Ryan yang masih mencengkram erat kepala Sydonay, mengumpulkan semua Prana dari tubuhnya ke bagian dahinya. Segera setelahnya, Ryan langsung membenturkan dahinya ke kepala Sydonay dengan keras.
Boom
Serangan penuh tekad dan perasaan tidak takut ini ternyata sangat berdampak pada Sydonay. Serangan ini menyebabkan kepala Sydonay pusing dan membuatnya melepas gigitan di bahu Ryan.
“Haaaaaaaah!”
__ADS_1
Ryan, yang bermandikan darah, berteriak dengan keras dan kembali melemparkan serangan.
“Roooooooooar!”
Sydonay yang hanya hanya merasakan semburan darah mendidih di jantungnya, menjerit dan mengaum.
Detik berikutnya, kedua belah pihak menghasilkan hantaman demi hantaman yang sangat intens.
Boom Boom Boom Boom
Angin kencang berhembus kencang bersamaan dengan suara tabrakan yang terus-menerus terdengar.
Setiap pukulan dan cakar keduanya bertemu, terjadi ledakan gelombang kejut yang menyebar luas dengan cepat, menyebabkan kondisi angin dan tanah disekitarnya kacau balau.
Selain bertukar serangan, mereka berdua juga bertukar luka. Tak jarang pukulan Ryan berhasil menuju tubuh binatang buas Sydonay. Dan begitu juga sebaliknya, tak jarang cakar Sydonay merobek pakaian dan kulit Ryan.
Akibatnya, gelembung darah tumpah ke langit. Goresan demi goresan tercetak semakin banyak di sekujur tubuh Ryan.
Di sisi lain, suara tulang yang retak mulai terdengar renyah dari tubuh Sydonay. Otot-otot di tubuhnya yang juga tampak lebam dan membiru.
Ryan dan Sydonay saling beradu pukulan dengan cara yang paling biadab, bagaikan inkarnasi ksatria gila yang hanya bisa berpikir untuk bertarung tanpa mempedulikan nyawanya. Ini benar-benar pertarungan yang dapat mengguncang hati siapapun penontonnya.
Tidak ada keraguan bahwa ini adalah pertarungan paling kejam di dunia. Pertarungan paling keras dan juga paling berdarah yang pernah dialami Ryan maupun Sydonay.
Namun, Ryan dan Sydonay sama-sama tidak ada yang mau menyerah. Mereka berdua terus bertarung sambil berteriak, membuat suasana di dalam Fuuzetsu menjadi sangat sengit.
Semua adegan pertarungan ini terlihat jelas oleh Shanna. Oleh karena itu, hati Shana benar-benar terguncang.
Walau tubuh Ryan dipenuhi banyak darah, Shana dapat melihat Ryan terus menggigit giginya sendiri dengan erat dan mati-matian menghadapi binatang buas yang ganas itu. Bahkan jika jari-jemarinya patah dan ototnya semakin membiru, Ryan tak henti-hentinya terus menyerang dengan gaya yang mengesankan.
Melihat semua ini, Shana hanya bisa berbisik, “Kenapa?”
Ini adalah satu-satunya pertanyaan di benak Shana.
“Dia jelas-jelas hanya seorang manusia, tapi kenapa dia tidak ragu untuk bertarung sampai titik seperti ini?"
Ini merupakan pukulan besar bagi Shana.
Sebab, dalam benak Shana, misi melawan Denizen selalu menjadi misi Flame Haze. Sedangkan manusia, mereka adalah objek yang harus diberi perlindungan dari para Denizen jahat.
Namun, Ryan, yang jelas-jelas hanya seorang manusia, tidak segan-segan bertarung sampai berdarah-darah seperti itu.
Dengan situasi seperti ini, bisa dibayangkan seberapa besar pengaruh adegan yang ada di depannya terhadap Shana.
“Kenapa kamu mau terus bertarung sampai seperti ini?”
__ADS_1
Shana hanya bisa terus membisikkan pertanyaan ini.