
Mereka berdua tak menyangka bahwa jawaban Ryan sesederhana itu. Hal itu membuat Shana dan juga Sydonay tertegun.
Sesaat setelahnya, Sydonay tertawa terbahak-bahak. "Hahahahahaha …"
"Ya, kamu benar. Karena kami, Denizen dapat memperlakukan manusia sebagai makanan, maka manusia secara alami memiliki hak istimewa untuk melawan."
"Selain itu, melindungi barang berharga milikmu sendiri juga merupakan hakmu. Bisa dibilang, alasanmu sangat sederhana, namun logis."
Sambil berkata seperti itu, Sydonay mulai membuka sayapnya lebar-lebar dan mengepakkannya.
"Manusia, aku akan mengingatmu!"
"Lain kali, aku pasti akan merebut Reiji Maigo dari tanganmu. Jadi, berhati-hatilah!"
Meninggalkan perkataan seperti itu, Sydonay segera terbang ke kejauhan meninggalkan Fuuzetsu.
Melihat Sydonay pergi, Shana yang masih duduk di tanah segera langsung berdiri.
Akan tetapi, tiba-tiba saja, Shana merasakan kengerian dari Sydonay, yang membuat tubuhnya sedikit lemas dan berkeringat dingin.
Sepertinya, kekalahan Shana dari Sydonay, dan juga pertarungan brutal Sydonay dengan Ryan, secara tidak sadar menanamkan rasa takut dalam diri Shana.
Selain itu, kondisi tubuh Shana yang masih lemah membuatnya mustahil untuk bertarung lagi.
Akibatnya, Shana tidak jadi mengejar Sydonay dan membiarkannya pergi
Ketika Sydonay telah pergi, api ungu keruh yang menopang dinding Fuuzetsu mulai memudar. Hal ini menyebabkan dunia di dalam Fuuzetsu bergetar.
"Gawat, ini tidak bagus!" Alastor yang sejak tadi diam akhirnya mulai buka suara dari dalam liontin yang Shana kenakan.
"Fuuzetsu ini akan segera hancur! Cepat pertahankan!"
Mendengar ini, Shana pun bersiap untuk menggunakan Mantra Tak Terbatas.
Bagaimanapun juga, ini bukan masalah sepele.
Fuuzetsu adalah Mantra penghalang yang dapat memotong hukum sebab akibat antara dunia di luar dan di dalam Fuuzetsu. Hal ini membuat waktu di dalam Fuuzetsu berhenti.
Dengan kata lain, karena hukum sebab akibat terputus, maka semua akibat yang terjadi di dalam penghalang ini hanyalah keadaan sementara.
Dalam hal ini, selama Fuuzetsu belum terbuka, maka semua kerusakan yang terjadi di dalam dunia merah ini dapat diperbaiki menggunakan Power of Existence.
Manusia yang telah ditelan oleh Denizen juga dapat digunakan residunya untuk membuat Torch, yang tentu akan meringankan distorsi dunia.
Ketika Fuuzetsu dilepas, maka hukum sebab akibat antara dunia luar dan dunia dalam Fuuzetsu akan kembali terhubung, membuat waktu mengalir kembali. Saat itu terjadi, semua kejadian yang ada di dalam penghalang akan menjadi kenyataan dan tidak bisa diperbaiki.
Jadi, semisal ada lubang-lubang di tanah, sungai yang terbelah, dan jembatan misaki yang terpotong di tengahnya, semua ini akan menjadi kenyataan dan tidak akan dapat diperbaiki setelah Fuuzetsu dibuka.
__ADS_1
Kalau itu benar-benar terjadi, sudah pasti akan timbul kekacauan besar dan juga berdampak serius pada kota Misaki.
Oleh karena itu, Fuuzetsu tidak boleh terbuka sebelum semua kekacauan di dalam dunia merah ini diperbaiki.
Sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, Shana mengangkat tangan kanannya dan berkata dengan lantang. "Fuuzetsu!"
Seketika itu, pada dinding Fuuzetsu yang bergetar, api ungu keruh benar-benar menghilang dan digantikan api menyerupai teratai berwarna merah.
Itu adalah nyala api yang dimiliki oleh Flame of Heaven Alastor, dan juga kontraktornya, Flame-Haired Burning-Eyed Hunter.
Apa teratai merah yang membakar dinding penghalang telah mengubah Fuuzetsu ini menjadi milik Shana. Dengan menggunakan Shana sebagai sumber energi baru, Fuuzetsu akhirnya kembali stabil.
Shana menghela napas lega setelah ia berhasil menstabilkan Fuuzetsu tepat waktu.
Tak lama kemudian, Shana melihat Ryan yang berlumuran darah, tampak lemas dan jatuh ke tanah.
Shana benar-benar terkejut melihatnya.
"Haah~" Alastor menghela napas seakan-akan ia lega melihat Ryan jatuh. "Akhirnya kamu telah mencapai batasnya …"
Jika kali ini Ryan belum jatuh juga, maka Alastor benar-benar harus mulai meragukan apakah Ryan benar-benar manusia atau tidak.
Dengan tubuh lemahnya, Shana berjuang untuk bangkit dan berjalan ke arah Ryan.
Ketika Shana tiba di samping tubuh Ryan yang terkapar, Shana benar-benar dibuat kagum oleh ketahanan tubuh Ryan. Jika manusia biasa menerima luka separah ini, sudah pasti dia akan mati.
Dengan kata lain, genangan merah itu adalah darah segar dari tubuh Ryan yang tak henti-hentinya mengalir keluar
Pertarungannya dengan Sydonay menyebabkan tubuh Ryan dipenuhi banyak luka. Otot-otot seperti otot bahu, lengan, perut, dan juga rongga dada, semuanya memiliki luka bekas cakaran yang cukup dalam. Belum lagi luka bekas gigitan ular dan juga gigitan taring Sydonay.
Dengan cedera yang begitu serius, tidak perlu diragukan lagi bahwa Ryan berada dalam keadaan kritis.
Setidaknya, jika ini terus berlanjut, cepat atau lambat Ryan akan mati karena pendarahan yang berlebihan.
Sebenarnya, luka separah ini, baik bagi Flame Haze maupun Crimson Denizen, adalah hal biasa. Bagi mereka yang telah lama hidup hingga ribuan tahun, perang dan kematian merupakan sebuah hal yang normal.
Namun, karena itulah, hati Shana mau tidak mau bangkit untuk menolak kenormalan ini.
Maka dari itu, tanpa sadar Shana berkata, "Aku tidak ingin melihat orang ini mati …"
Shana kemudian berbicara pada liontin yang ia kenakan. "Alastor, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak mau membiarkan orang ini mati. Aku ingin menyelamatkannya."
Alastor terdiam sejenak.
Tak lama setelahnya, Alastor berkata, "Kamu seharusnya tahu bahwa Mantra penyembuhan bukanlah keahlian kita."
"Sebagai Dewa Pembalasan, keahlianku adalah memberi hukuman, bukan menyembuhkan. Maka dari itu, sebagai kontraktorku, kamu juga tidak bisa menggunakan Mantra Tak Terbatas di bidang penyembuhan."
__ADS_1
Dengan kata lain, Alastor dan Shana tidak memiliki cara untuk menyelamatkan Ryan.
Hal ini tentu membuat Shana semakin cemas. Hingga akhirnya, suara lemah terdengar masuk ke dalam telinga Shana.
"Di dalam kantong …"
Shana tiba-tiba mengangkat matanya dan menatap Ryan.
Raut wajah Ryan yang pucat tampak kesulitan untuk berbicara.
"Di dalam kantong … sebuah Kristal …"
Shana membalas, "Sebuah Kristal?"
'Apa maksudnya?'
Dengan pemikiran seperti itu, Shana tanpa ragu meraba-raba kantong celana Ryan.
Beberapa saat kemudian, Shana berhasil menemukan sepotong Kristal.
Melihat Kristal tersebut, Shana tampak penasaran.
"Hmm …" Alastor juga sepertinya sedang mengamati Kristal di tangan Shana dari liontin. Lalu ia berkata, "Aku dapat merasakan ada semacam kekuatan misterius dari dalam Kristal tersebut. Seharusnya benda itu adalah Treasure Tool (Hogu), tapi aku sama sekali belum pernah melihatnya."
Tentu saja Alastor belum pernah melihat Treasure Tool (Hogu) seperti itu, dan apa efeknya bagi Ryan.
"Karena dia menyebut Kristal ini dengan susah payah, seharusnya Kristal ini memiliki peran penting bagi Ryan."
Dengan sedikit kepastian, Shana menekan Kristal di tangannya ke tubuh Ryan.
Shiiiii
Semburan cahaya lembut bermekaran dari dalam Kristal, menutupi tubuh Ryan dan tubuh Shana.
"Eh?"
Shana begitu terkejut, karena ia merasa bahwa semua rasa sakit di tubuhnya mulai mereda. Bahkan memar di tubuhnya menghilang seakan ia tidak pernah cedera. Shana juga merasa kekuatannya telah kembali.
Pada saat yang sama, luka serius pada tubuh Ryan juga pulih dan sembuh dengan kecepatan yang terlihat dengan mata telanjang.
Pada saat cahaya Kristal memudar, luka pada tubuh Shana telah benar-benar sembuh.
Luka-luka di tubuh Ryan juga telah pulih. Hanya ada beberapa luka parah yang belum pulih sepenuhnya, seperti luka daging cungkil yang cukup dalam dan luka bekas gigitan.
Namun, sebagian besar lukanya sembuh, dan wajah pucat Ryan mulai kembali cerah. Napasnya juga kini telah menjadi tenang.
Setelah semua itu, Ryan pingsan tak sadarkan diri.
__ADS_1
Melihat efek yang menakjubkan ini, Shana menatap kembali Krista di tangannya. Setelah beberapa saat, Shana menghela napas dan berkata, "Yang terpenting sekarang, aku harus membawanya pulang terlebih dahulu."