
Hecate mengangkat Trigon ke atas dan mengumpul Power of Existence yang kaya hingga membentuk sebuah bola cahaya. Ia kemudian menembakkan bola cahaya tersebut yang kemudian terpecah menjadi banyak bola kecil dan meluncur bagai hujan meteor ke atas langit dengan cepat.
"Shana!" teriak Alastor.
"Aku tahu."
Shana dengan jelas menyadari ancaman yang ada di belakangnya. Di bawah peringatan Alastor, Shana bergerak secara zig-zag, mencoba menghindari semua serangan yang datang kepadanya.
Sinar cahaya bagaikan laser tiba-tiba melintas di udara, menggosok tubuh Shana dan terbang ke atas dengan suara tajam membelah langit.
Dengan kecepatannya, Shana berhasil menghindari semua serangan Hecate tanpa luka sedikitpun. Ia pun terus terbang ke atas berusaha menggapai langit biru.
Namun, tiba-tiba saja, di depan Shana muncul rantai besi membentuk jaring penghalang yang berusaha menghentikan laju Shana.
Hal ini tentu membuat Shana terhenti sesaat. Di saat yang sama, sosok jangkung melompat tinggi dan muncul di atas kepala Shana.
"Karena kami telah datang, maka tetaplah di sini!"
Sydonay mengayunkan tombak baja berat dengan tiupan angin sepoi-sepoi ke arah Shana.
Melihat hal ini, Shana ingin menggunakan Nietono no Shana untuk memblokir serangan itu. Tapi, Ryan yang berada di pelukan Shana berkata dengan suara lemah, "Kamu tidak akan bisa menghentikannya."
Mata terbakar Shana menyipit, dan tanpa ragu menghilangkan niat untuk memblokirnya. Ia langsung mengepakkan Wings of Crimson di punggungnya dan bergerak ke samping.
Boom
Tombak baja yang berat itu jatuh dan menghantam ruang kosong seolah-olah menghantam permukaan tanah. Hantaman itu menyebabkan dentuman sonik, serta memicu aliran angin yang mengerikan dan menghempaskannya.
Walau Shaan berhasil menghindar, namun gelombang sonik yang kuat menghantam tubuhnya dan membuat tubuh Shana terbang terpental.
Hal ini membuat ekspresi Shana berubah. "Bagaimana mungkin orang itu bisa menjadi begitu kuat?!"
Sebelumnya, Shana pernah bertarung dengan Sydonay dan mengalami kekalahan telak di Kota Misaki. Semua itu terjadi di saat Shana masih belum pandai menguasai kekuatannya. Maka dari itu, Shana tahu betul seberapa kuat Sydonay.
Namun, pada saat ini, di hadapan serangan Sydonay, Shana yang sudah berhasil menghindar tetap saja terkena dampak serangan secara telak.
Dibandingkan dengan pertarungan mereka sebelumnya, Shana dapat merasakan kekuatan yang digunakan Sydonay pada saat di kota Misaki dan di sini sangat berbeda jauh, benar-benar bagai bumi dan langit. Hal ini membuat Shana benar-benar terpana.
__ADS_1
Tentu saja, Shana tidak tahu, bahwa saat itu, Sydonay tidak menggunakan kekuatan penuhnya. Dia juga tidak menggunakan Treasure Tool (Hogu) miliknya–Shintetsu Nyoi.
Akan tetapi, hari ini Sydonay tampil dengan kekuatan penuhnya, yang tentu sangat kuat. Bahkan di jaman sekarang, tidak ada yang dapat menandinginya. Hanya tiga Dewa Crimson Realm yang dapat mengalahkannya, termasuk Pemimpin Agung–Snake of Festival.
Shana yang masih terus dalam pembelajaran menjadi Flame Haze, tentu belum bisa memanfaatkan kekuatan penuh Alastor, yang merupakan seorang Dewa Penghukuman.
"Tetap di sana!"
Sydonay memegang tombak baja dengan erat, dan menembakkannya seperti peluru meriam membuat udara di sekitar tubuhnya meledak, memicu gelombang angin yang kuat.
Melihat adegan ini, Shana tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa menang melawan Sydonay saat ini. Jika Shana memaksa untuk bertarung, ia pasti akan kehilangan nyawanya. Sydonay yang ada di depannya saat ini terlalu kuat berkali-kali lipat dibanding sebelumnya.
Walau Shana tidak ingin melawan Sydonay, itu bukan berarti Shana dapat melarikan diri dengan mudah.
Clang Clang
Dalam semburan suara tabrakan, rantai api yang berwarna keemasan datang ke arah Shana.
Tak lama kemudian, suara tenang Bel Peol terdengar, "Dapat menangkap Flame Haze dari Dewa Penghukuman, ini jelas merupakan keberuntungan yang tidak disengaja. Kamu akan tinggal bersama pemilik Reiji Maigo di sini!”
Selama berbicara, Treasure Tool (Hogu) berwujud rantai api emas itu satu per satu bergabung membentuk jaring penangkap, yang secara langsung memblokir semua arah lari Shana dan hanya menyisakan arah datangnya tombak Sydonay.
Akan tetapi, suara Ryan kembali terdengar kembali. "Ledakkan apimu! Cepat!"
Mendengar perintah tersebut, tanpa pikir panjang lagi, Shana segera meledakkan api teratai merah yang membakar seluruh tubuhnya.
BOOM
Dalam gemuruh ledakan seperti guntur, api teratai merah berubah menjadi ledakan yang mengguncang ruang.
"Apa?!" Sydonay tak menyangka Shana akan melakukan hal seperti ini. Ia juga tidak dapat mengabaikan nyala api kontraktor Dewa Penghukuman yang legendaris. Maka dari itu, Sydonay memilih untuk mundur.
Di dalam pusat ledakan, Ryan dan Shana sedang berlindung di dalam sebuah perisai penghalang yang memblokir semua efek ledakan. Itu adalah kekuatan cincin Azure milik Ryan.
Di dalam perisai penghalang, Ryan berkata, "Shana, apa kamu percaya padaku?"
Shana terkejut atas pertanyaan yang sangat tiba-tiba ini.
__ADS_1
"Percaya?"
Tampaknya Shana masih bingung dengan pertanyaan Ryan. Ia sama sekali tidak paham mengenai hubungan pertanyaan Ryan itu dengan situasi saat ini.
Menghadapi sikap Shana yang seperti itu, Ryan tidak berkata apa-apa lagi. Setelah terdiam beberapa saat, Ryan menodongkan sebuah pistol ke dahi Shana.
Begitu sentuhan dingin moncong pistol mencapai dahinya, ekspresi Shana benar-benar membeku, bahkan nyala api yang berkobar-kobar di matanya menjadi kaku. "Eh?"
Pistol itu memiliki warna putih dan tampak sudah sangat tua.
"Trigger Happy?" gumam Alastor dari liontin dengan nada terkejut.
Ya, pistol yang ditodongkan Ryan adalah Trigger Happy, sebuah Treasure Tool (Hogu) yang sangat dibanggakan oleh Friagne sebelumnya.
Pistol itu mampu membangunkan Crimson Lord yang tertidur dalam Flame Haze dengan menghancurkan wadah Kontraktornya. Menghancurkan wadah sama artinya dengan membunuh Flame Haze.
Kini, pistol yang menjadi musuh alami Flame Haze itu telah berada di tangan Ryan, dan sedang ditodongkan ke kepala Shana.
Dalam kondisi seperti itu, Shana mengangkat matanya dan dapat melihat jelas ekspresi Ryan yang sangat tenang, tapi juga hangat. Jika orang lain melihatnya, pasti mereka akan mengira Ryan adalah orang yang sangat dingin dan kejam.
Setelah Shana menenangkan diri, ia mengulurkan tangan dan memegang laras Trigger Happy di dahinya. Hanya saja, Shana tidak menyingkirkan pistol tersebut dari dahinya. Ia malah memegang laras pistol yang dingin itu dengan erat, sembari terus menatap Ryan.
Dengan mantap, Shana berkata, "Tembak."
Shana memang belum menjawab pertanyaan Ryan sebelumnya. Namun, kata-kata singkat ini seakan langsung mengungkap isi hati Shana.
"Terima kasih …" bisik Ryan dengan lembut.
Tak lama kemudian, tanpa ragu, Ryan menarik pelatuknya.
DOR
...****************...
Pesan Author
__ADS_1
Season 1 selesai sampai di sini. Akan berlanjut kembali Season 2 tahun depan. Setelah Dunia Shana, nanti Ryan akan bertemu dengan protagonis beban, Subaru dari Re:Zero. Nantikan kelanjutan Kisah Ryan, hanya di Reincarnation Room!
Btw, progress kisah Ryan belum ada 50%, masih jauh dari tamat😁