Reincarnation Room

Reincarnation Room
Melawan Trinity (IV)


__ADS_3

Tanpa ragu, Bel Peol mengendalikan rantai di tangannya dan membuat rantai itu bergerak melingkari tubuhnya, berubah menjadi perisai pertahanan yang kokoh.


Namun, di hadapan perisai pertahanan yang kokoh itu, Ryan tiba-tiba muncul di belakang Bel Peol, menatapnya dengan Mystic Eye of Death Perception. Di saat yang sama, belati tajam di tangan Ryan mulai melambai.


Slash


Di bawah suara tebasan tajam, rantai kokoh yang menari-nari itu dipotong dengan sangat mudah seperti selembar kertas yang rapuh.


Ryan hanya perlu menebas sekali lagi, maka Bel Peol pasti akan tewas. Namun, mengayunkan kembali belati yang telah ditebaskan, tentu akan memiliki jeda waktu.


Meskipun kecepatan serang Ryan sangat mencengangkan, tapi tetap saja aksi Ryan memotong rantai ini membuat Bel Peol memiliki waktu untuk menghindar.


Tapi sayang, senjata Ryan bukan hanya Moon Blade.


Entah sejak kapan Ryan mengeluarkannya, kini di tangan kanan Ryan telah muncul Seraph dengan bentuk belati.


Slash


Belati putih murni itu menghantam dan membelah udara dengan kecepatan luar biasa, melintasi seluruh ruang dan mendarat di tubuh Bel Peol.


Croot


Bilah tajam menembus tubuh, membuat percikan api bagai darah keluar dan bergema dengan jelas di sekeliling.


Seketika itu, tubuh Bel Peol langsung terbelah oleh bilah energi yang tampak suci itu dengan sangat rapi.


Tapi, walau Ryan telah menebas dan membelah tubuh Bel Peol, ia mengerutkan dahinya, menyadari ada sesuatu yang salah.


Shiiiii


Detik berikutnya, tubuh Bel Peol yang telah terbelah menjadi dua bagian, memancarkan cahaya keemasan menyilaukan. Tubuh itu mulai terbakar dan berubah menjadi sebuah rantai yang telah patah. 


Ternyata yang dibunuh oleh Ryan hanyalah sebuah avatar.


Clang Clang


Pada saat ini, suara rantai yang sedang bergerak kembali terdengar.

__ADS_1


Ryan memalingkan matanya dan melihat ke depan.


Di sana, seutas rantai tiba-tiba melilit membentuk sebuah kepompong. Dari dalam kepompong rantai tersebut, muncul nyala api keemasan yang membara. Perlahan-lahan, kepompong tersebut terbuka, menampakkan tubuh asli Bel Peol.


'Apa-apaan ini?! Bagaimana mungkin manusia itu tiba-tiba menjadi sangat kuat?!' teriak Bel Peol dalam benaknya.


Akan tetapi, pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul terkait dengan kekuatan Ryan.


'Tapi, jika dipikir-pikir lagi, kalau memang dia sudah sekuat ini sejak awal dan mampu melawan Trinity sendirian, buat apa dia berlama-lama di Seireiden? Seharusnya dia sudah lama pergi tempat ini dengan kekuatan sebesar itu.' 


'Jenderal tadi berkata bahwa itu adalah kartu As yang disembunyikan oleh manusia itu. Karena ini adalah kekuatan yang hanya digunakan di saat tertentu, itu artinya kekuatan itu pasti memiliki batasan tertentu, sama seperti Treasure Tool (Hogu) milik Trinity.'


Seperti yang diharapkan dari otak dan ahli strategi. Dalam singkat, Bel Peol dapat menganalisa secara akurat tentang kekuatan yang digunakan Ryan.


"Dia memang sangat kuat, tapi manusia itu hanya sendirian. Dan aku tidak percaya jika kekuatan itu tidak memiliki batasan!"


Bel Peol kemudian meninggikan suaranya dan berseru, "Ayo kita menyerangnya bersama-sama!"


Saat suara itu jatuh, dua aura yang sangat kuat mulai bergerak.


"Aster!"


"Haah!"


Pada saat yang sama, sosok bertubuh tinggi tiba-tiba muncul di belakang Ryan dan mengangkat tombak baja yang berat. Nyala api ungu keruh menyelimuti tombak baja, membuat tombak baja tersebut menjelma menjadi tornado api dan meluncur maju ke depan.


Bel Peol, tanpa menunggu aba-aba, mengendalikan rantai yang ada di sekeliling tubuhnya terbang ke arah Ryan bagaikan ular api emas yang membara.


Tiga serangan secara bersamaan muncul dari tiga sisi yang berbeda, membuat Ryan terkepung dalam serangan formasi segitiga. Masing-masing serangan tersebut mengandung kekuatan tak dapat dibayangkan. 


Dalam hal ini, Ryan hanya mengangkat Seraph.


Weeeeng


Belati putih murni itu tiba-tiba bergetar dan  berubah menjadi pedang raksasa. Tanpa ada jeda, bilah pedang cahaya raksasa itu bergerak melintasi ruang, menghadapi tiga serangan mematikan tersebut.


Mystic Eye of Death Perception memancarkan kilau sedingin es. Ryan benar-benar menggunakan kekuatan Mystic Eye of Death Perception sampai batas maksimal. 

__ADS_1


Kini, seluruh padangan Ryan telah ditutupi retakan garis kematian yang tak terhitung jumlahnya. Entah itu api ungu keruh yang menutupi tombak baja, cahaya laser bagai meteor, ataupun rantai baja yang membawa api keemasan, semuanya memiliki garis kematian.


Wuuuush     


Semburan nyala api putih nan suci yang menyelimuti tubuh Ryan meningkat tajam.   


Dengan susah payah, Ryan menggenggam erat Seraph yang sangat besar, dan berusaha mengendalikannya untuk menebas garis kematian yang tercepat pada permukaan ketiga serangan tersebut.


"Aaaah!" Ryan berteriak keras sembari mengayunkan pedang raksasa di tangannya degan cepat.


Slash


Tornado api besar yang dibentuk oleh api ungu keruh terbelah menjadi dua dalam satu tebasan.


Tidak hanya serangan Sydonay saja yang dibunuh, serangan rentetan cahaya meteor juga telah dibunuh dengan mudah. Rantai milik Bel Peol pun mengalami nasib yang sama.


Trinity mencoba yang terbaik untuk menyerang Ryan dengan cara menyerangnya secara bersamaan. Namun, semua serangan maha dahsyat harus tunduk dan dibunuh oleh satu tebasan besar yang membuat seolah-olah seluruh dunia dapat dipotong menjadi dua bagian.


Semua serangan Trinity itu terpotong dan berubah menjadi percikan api yang tersebar dan akhirnya menghilang.


Melihat hal ini terjadi, mata Trinity membelalak hingga batasnya.


Sementara Ryan, setelah selesai menghunus pedang yang dapat membelah dunia, dengan segera menyuntikkan Prana ke dalam Serapah. Seketika itu, Orga Lux berwarna putih murni itu mendadak menyusut ke ukuran semula.


Tak lama setelahnya, Ryan mengumpulkan Prana di bawah telapak kakinya, dan sosoknya langsung berubah menjadi seberkas bayangan putih. Ia meluncur bagaikan meteor, yang tentu membuat para Trinity terkejut.


"!!!"


Melihat Ryan bergerak dengan kecepatan yang mengkhawatirkan ke arahnya, Sydonay, sebagai Crimson Lord terkuat di Trinity, langsung mengambil langkah maju bersama tombak bajanya yang berat.


Tombak Sydonay tidak hanya keras, tapi itu  juga sangat kuat. Serangan tombak Sydonay mampu menyebabkan beberapa distorsi pada ruang di sekitarnya, membuat udara mengalir seperti angin puyuh di sekitar ujung tombaknya. Tanpa waktu yang lama, tusukan tajam tombak baja tersebut langsung menyapa Ryan yang datang ke arahnya.


Menghadapi tusukan tombak yang sangat menakutkan itu, Ryan sama sekali tidak menghindar. Ia pun ikut menyapa balik tombak yang datang menggunakan Seraph.


Daang


Suara tabrakan keras antara bilah energi dengan tombak baja menyeruak keluar dan bergema. Gelombang kuat nan perkasa menyebar ke segala arah. 

__ADS_1


Namun, kedua serangan tersebut memiliki kekuatan yang sama, membuat hantaman antara bilah energi dan tombak baja ini berakhir seimbang.


Walau begitu, saat serangan tersebut berhasil ditahan, Ryan segera mengayunkan Moon Blade yang ada di tangan kirinya. Kilatan cahaya belati yang terang dengan cepat menyerbu Sydonay.


__ADS_2