Reincarnation Room

Reincarnation Room
Melawan Akademi Arlequint (III)


__ADS_3

"Wuuooooh!"


Saat ini, di atas arena, tubuh Ardi bersinar dengan cahaya biru, seakan ia diselimuti Crystal biru yang sangat besar, sehingga cahaya yang menyilaukan memenuhi seluruh stadion.


Di saat yang sama, tubuh Ardi juga mengeluarkan respon Mana yang sangat kuat. Hal ini menyebabkan gelombang fluktuasi energi yang tampak berputar seperti pusaran air, menciptakan kekacauan di udara.


"Wow, apa yang sebenarnya terjadi di sini? Ardi tiba-tiba mendadak berubah drastis setelah mempersenjatai tubuhnya dengan baju zirah Rimsy! ”


"Reaksi Mana ini benar-benar kuat."


Kedua komentator cukup terkejut melihat perubahan Ardi. Tak hanya komentator, mata para penonton pun terbelalak melihatnya.


Di salah satu lounge Sirius Dome, Ernesta melihat aksi Ardi bersama Camilla.


Ernesta agak tidak berdaya dan berkata, "Ardi ternyata menggunakannya."


Camilla diam, tetapi wajahnya sedikit tidak menyenangkan. Jika memungkinkan, Camilla sama sekali tidak ingin melihat Ardi menggunakan kekuatan tersebut.


Karena Camilla telah mengatakan sebelumnya, kekuatan ini bukanlah yang kekuatan dikejar oleh Faksi Ferrovius.


Hanya Ernesta dan Camilla sendiri yang mengetahui alasannya. Bahkan para teman sejawatnya di Arlequint tidak mengetahuinya.


Akan tetapi, Ryan ternyata juga mengetahui rahasia kekuatan Ardi.


Di atas arena, Ryan mengangkat tangannya dan menghalangi silaunya cahaya biru.


"Akhirnya dia menggunakannya."


"Adik Seperguruan." Cecily dengan cepat bertanya, "Apakah kamu tahu apa yang terjadi?"


"Iya …" Ryan menatap langsung ke Ardi yang bercahaya biru cerah. "Itu kekuatan Urm Manadyte."


"Urm Manadyte?" Cecily Wong terkejut. Dia memandang Ardi dengan heran dan berkata dengan nada tidak percaya "Mungkinkah inti yang digunakan boneka itu bukan Manadyte, tapi Urm Manadyte?"


Sama seperti Manadyte biasa yang dapat digunakan sebagai inti Lux, Manadyte juga biasa digunakan sebagai sumber energi boneka.


Hanya saja, sejak dulu belum pernah ada yang mencoba membuat boneka dengan inti Urm Manadyte.


Alasannya sangat sederhana, betapapun hebatnya penampilan boneka itu, selama seseorang perlu memanipulasinya dari luar, ada waktu delay yang membuat waktu responnya tidak sebaik Genestella biasa.


Namun, Ardi adalah boneka yang sepenuhnya otonom.


Dengan kata lain, jika itu Ardi, Urm Manadyte bisa digunakan sebagai inti energinya.


"Hanya saja, seperti halnya Orga Lux yang memiliki tingkat kecocokan terhadap penggunanya, jika orang yang berbeda menggunakannya, kekuatan yang dapat digunakan juga akan sama sekali berbeda."


"Dengan Urm Manadyte sebagai intinya, boneka itu sendiri tidak dapat sepenuhnya menggunakan kekuatan ini. Bahkan jika dia tidak bisa mengontrolnya, ada kemungkinan Urm Manadyte tersebut mengamuk."


Ryan menatap tajam ke arah Ardi yang meraung keras, dan berkata kepada Cecily, "Jadi, Ernesta hanya berhasil menahan kekuatan, dan menyerahkan kendali untuk membebaskan kekuatan asli Ardi kepada Rimsy. Dan begitu Rimsy mentransfer kendali kekuatan ke Ardi, kekuatan sejati Ardi akan kembali."


Melihat tubuh Ardi yang semakin terang, fluktuasi kekuatan juga teras semakin kuat, hingga membuat wajah Cecily Wong berkeringat dingin.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Cecily Wong berkata dengan agak tak berdaya. "Kekuatan ini, aku khawatir setara dengan Kakak Pertama."


"Aku tidak tahu seberapa kuat Kakak Pertama." Ryan menyeringai dan berkata, "Namun, Kakak Senior dapat mencoba menghentikannya."


"Aku sesungguhnya tidak ingin melawannya." Cecily Wong mengangkat bahunya, dan kemudian ekspresi di wajahnya berubah dari ekspresi tak berdaya menjadi menyeringai. "Tapi, bagian dari diriku yang lain berteriak untuk bertarung! Momen seperti ini sangatlah langka, aku ingin bertarung sepenuh hati!"


"Benarkah?" Ryan tersenyum tulus. "Ya, aku juga menantikannya."


Selama mengobrol, pancaran biru di tubuh Ardi secara bertahap mulai meredup, memungkinkan penampilannya secara keseluruhan kembali terekspos ke publik.


Kini, tubuh Ardi telah terpasang peralatan dan baju zirah Rimsy, membuat beberapa lapis baju zirah merah muda menempel di atas baju zirah gelap. Di belakangnya, terdapat sayap jetpack merah.



"Hahahaha! Lihat? Inilah kekuatanku yang sebenarnya!"


Tangan Ardi memegang palunya dan mengarahkannya ke Ryan dan Cecily Wong. Dia berteriak, "Kekuatanku telah meningkat beberapa kali lipat. Aku harap kalian dapat terus berjuang dan menjadikan ini pertarungan yang tak terlupakan!"


Suara penuh kepercayaan diri ini membuat pandangan Cecily Wong dan juga Ryan menjadi serius.

__ADS_1


Sementara Rimsy, ia perlahan mundur ke belakang. Dengan memberikan semua baju zirahnya dan juga memberikan kontrol penuh pada Ardi, hal ini membuat Rimsy tidak lagi mampu bertarung.


Jadi, lawan Ryan dan Cecily Wong kali ini hanya Ardi sendiri.


"Aku datang!" seru Ardi.


Ziiiiiiiii


Boom


Bersamaan dengan suara ledakan, sayap jetpack di belakang Ardi menyemburkan cahaya menyilaukan, membuat tubuh besar Ardi terdorong dan melesat ke depan dengan keras.


Kecepatan yang sangat menakjubkan.


Ryan dan Cecily Wong pada saat yang sama terkejut. Tanpa ada keraguan, merek berdua menghentakkan kakinya ke tanah dan bergerak ke samping.


Di saat yang hampir bersamaan, sosok Ardi sudah mendekat.


"Lihatlah ini!"


Ardi mengangkat palu di tangannya, dan dengan kecepatan serta kekuatan yang lebih kuat seperti sebelumnya, dia mengayunkannya.


BOOM


Dalam suara menggelegar seperti guntur, palu itu menghantam tanah, menimbulkan dampak yang mengerikan dan menciptakan gelombang kejut yang menyebar ke segala arah.


Daya hancurnya, dibandingkan dengan serangan sebelumnya, benar-benar seperti bumi dan langit.


Ryan dengan mudahnya menghindari serangan Ardi. Sementara Cecily Wong, ia berhasil mengelak dengan jarak yang sangat tipis. 


Walau begitu, Cecily Wong tetap tidak bisa menghindari gelombang kejut yang dihasilkan dari serangan Ardi. Hal ini membuat tubuh Cecily Wong terguling-guling di lantai.


Melihat kondisi Cecily Wong, Ryan berteriak penuh kekhawatiran. "Kak Cecily!"


Belum sempat Ryan bertindak, Ardi berkata, "Gerakanmu sangat cepat! Ayo kita bertanding, siapa yang lebih cepat di antara kita!"


Setelah mengatakannya, sayap jetpack di belakang Ardi kembali menyala, dan mendorong Ardi seperti mesin jet tempur ke arah Ryan dengan kecepatan tinggi. 


Merasakan angin kencang yang menerpa, Ryan tidak memiliki pilihan lain selain menghindar. Ia pun langsung berakselerasi dari keadaan diam dan bergerak dengan kecepatan maksimum.


Boom


Suara ledakan terdengar keras. Itu adalah suara palu godam Ardi yang menghantam tanah kosong.


"Kamu tidak akan bisa lari!"


Cahaya mesin jet di belakang Ardi semakin terang. Bagaikan kilatan petir, Ardi mengejar Ryan yang telah menjauh.


Swoosh


Dalam suara membelah udara, Ryan bergerak dengan cepat bagai hantu.


Dalam jarak yang dekat, sosok Ardi terus mengejar Ryan sambil terus mengayunkan Wolnir Hammer ke arah Ryan dengan satu tangannya. Tapi Ryan selalu berhasil menghindarinya. 


Tiap kali Wolnir Hammer menghantam tanah, tercipta gelombang ledakan kuat, disertai dengan puing-puing dan debu yang berserakan dimana-mana.


Secara mendadak, seluruh arena berubah seperti medan perang, di mana ledakan demi ledakan terjadi seolah-olah diserang oleh tembakan artileri.


Adegan sensasional ini menyebabkan penonton bersorak dan membuat suasana semakin memanas.


Dari tubuh Ardi, cahaya biru terang tiba-tiba mekar.


Ryan yang terus bergerak, merasakan adanya perubahan mendadak di udara di sekitarnya.


Tak lama kemudian, di sekitar Ryan, dinding seperti kristal tiba-tiba muncul. Seperti sebuah kotak, dinding itu menghalangi Ryan dari sisi atas, kiri, kanan, dan depan, membuat langkah Ryan tiba-tiba terhenti. 


Melihat itu, Ryan sangat terkejut. Ardi telah membuat perisai absolut yang seharusnya digunakan pertahanan, menjadi sebuah kurungan kuat. Hal ini sangat membatasi ruang gerak Ryan. 


Apalagi Ardi hanya menyisakan satu celah. Ia sengaja meninggalkan celah ini agar Ardi dapat menyerang Ryan.


"Sekarang, kamu tidak bisa melarikan diri lagi!"

__ADS_1


Ardi lalu mengangkat palu di tangannya. Cahaya biru menyilaukan dari tubuhnya, menyatu ke dalam Wolnir Hammer.


"Ini adalah serangan terkuat milikku!"


Dengan deklarasi ini, kepala palu godam di tangan Ardi tiba-tiba berputar kencang. Palu itu berubah menjadi roda angin yang berputar sangat cepat dengan cahaya biru.



"Rasakan ini! Wolnir Hammer!"


Kepala Palu Palu Ardi dengan putaran yang sangat cepat, langsung lepas dari gagang panjangnya dan meluncur ke depan.


Di bawah roda angin biru, angin di sekitarnya benar-benar terganggu dan berputar seperti tornado. Ke mana pun mereka lewat, debu-debu di tanah bergulung dan menyebar ke segala penjuru arena.


Kepala palu godam begitu mencolok, seolah-olah itu adalah peluru, melewati ruang kosong dan terbang ke arah Ryan.


Jika Ryan terkena serangan ini, walau menggunakan pertahanan Prana, tetap saja Ryan akan mengalami luka yang serius.


Kali ini, Ryan tidak bisa lagi menghindarinya.


Selain satu celah terbuka yang menghadap langsung ke Ardi, semua arah telah dibatasi oleh perisai biru kristal transparan. Hal ini hanya menyisakan Ryan satu pilihan saja, yaitu bertarung.


Melihat roda angin besar yang datang ke arahnya menembak dengan keras, tangan Ryan memegang sarung Orga Lux di pinggangnya.


BOOM


Detik berikutnya, roda biru mendarat dengan keras di dinding perisai. 


Di bawah suara suara ledakan yang keras, guncang hebat menggetarkan seluruh stadion. Tanah di dalam lingkup perisai pun hancur, puing-puing kerikil bagaikan peluru meluncur ke berbagai arah.


Adegan ini hampir seperti sebuah meteor jatuh di atas arena. 


Asap debu mulai menyebar dari dalam perisai yang menyudutkan Ryan.


"Hahahahahaha!" Ardi tertawa terbahak-bahak, nadanya dipenuhi rasa percaya diri dan juga bangga.


"Bagaimana? Inilah kekuatanku sekarang!"


Diiringi gelak tawa Ardi, para komentator pun langsung berbicara 


"Oooh! Ryan tampaknya telah mengalami pukulan fatal!"


"Kekuatan itu benar-benar tidak bisa diremehkan. Jika kamu terkena pukulannya secara langsung, bahkan Ryan tidak akan bisa bertahan."


Kata-kata dari dua komentator itu langsung membuat penonton satu demi satu mulai bangkit.


Beberapa bersorak untuk Ardi. Beberapa dari mereka memberi semangat pada Ryan. Segala macam sorakan membuat suasana stadion semakin memuncak.


Sampai beberapa saat, suara terkejut dari kedua komentator mulai terdengar.


"Hah? Itu …"


"Mungkinkah itu …"


Bukan hanya para komentator, bahkan Ardi juga melihat ke depan dengan serius.


Di dalam dinding perisai yang dipenuhi asap, sosok Ryan perlahan muncul.


Namun, perhatian semua orang kini tertuju pada senjata yang ada di tangan Ryan.


Sebuah pedang cahaya berwarna putih suci.


Shiiiiiiiiiii


Cahaya putih cemerlang bermekaran dari Urm Manadyte.


Swiiiish


Angin yang bergetar mengalir dan mengelilingi bilah pedang.


Dengan senjata seperti itu di tangannya, Ryan mengangkat kepalanya dan menatap Ardi. Ia kemudian tersenyum menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2