
"Ri-kun?!" Shirayuki terkejut melihat kemunculan Ryan.
"Kamu?!" Mata Jeanne pun terbelalak. Jeanne bahkan tidak menyangka bahwa dia telah diserang di dalam markas sendiri.
"Tunggu!" Aria juga masuk menyusul Ryan. "Bukankah ini operasi rahasia? Kenapa kita malah langsung menyerang dan menunjukkan diri?"
"Kode etik Butei nomor 5, bertindaklah dengan cepat. Mengambil tindakan cepat adalah kunci untuk meraih kemenangan."
Melihat raut wajah Jeanne yang kompleks, Ryan tersenyum tipis. "Karena ada musuh yang bergerak sendirian, maka kita hanya perlu menangkapnya, dan memintanya untuk membawa kita menemui Profesor."
"Dengan begitu, kita tidak perlu bingung lagi dengan bagaimana rupa Professor."
Jeanne yang awalnya terkejut, dengan cepat kembali menjadi tenang, seakan tidak terjadi apa-apa di sana. "Aku tidak menyangka bahwa kalian akan menyerang IU. Ini benar-benar tindakan bodoh."
Sebelum Ryan membalas ucapan Jeanne, Aria membuka mulutnya terlebih dahulu dengan ketus. "Kami memang bodoh, terus kamu mau apa?!"
Aria lalu menodongkan pistolnya ke arah Jeanne. "Durandal, kamu adalah salah satu penjahat yang telah memfitnah Ibuku!"
"Jika aku menangkapmu, maka hukuman Ibuku akan berkurang 107 tahun. Jadi, menyerahlah dan biarkan aku menangkapmu!"
"Kalau kamu bisa menangkapku, silahkan coba." Jeanne melirik Aria. Di wajahnya, terlihat raut wajah kasihan. "Kanzaki Olmes Aria, kamu seharusnya tidak datang ke IU."
Ucapan ini membuat dahi Ryan berkerut. 'Apa maksudnya?'
Aria sendiri tampak bingung. Terlebih lagi, Shirayuki yang masih duduk di tempat tidur ikut membenarkan ucapan Jeanne.
"Jeanne benar, Kanzaki-san." Shirayuki memandang Aria dengan ekspresi pahit dan berkata, "Kamu seharusnya tidak berada di sini."
"Mengapa aku tidak boleh datang ke IU? Apakah kamu ingin mengancamku?" ucap Aria penuh kebingungan.
"Shirayuki …" Ryan akan mengalihkan pandangannya ke arah Shirayuki dan bertanya, "Apa yang terjadi?"
"IU adalah tempat yang mengerikan …" Shirayuki berkata dengan raut wajah penuh keengganan. "Dan pemimpin IU adalah …"
Belum selesai menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba suhu di dalam ruangan menurun drastis. Partikel-partikel air yang ada di udara pun seketika itu berubah menjadi es.
Melihat keadaan seperti ini, Ryan tanpa ragu langsung bertindak.
Slash
Belati tajam di depan leher Jeanne langsung memotong tenggorokannya. Hal ini menyebabkan kepala Jeanne terbang ke udara.
“Ryan?!“
“Ri-kun?!“
Baik Aria dan Shirayuki terkejut dengan aksi Ryan.
Akan tetapi, beberapa detik kemudian, kedua orang tersebut dapat melihat. Kepala Jeanne yang terbang ke udara, secara bertahap membeku dan berubah menjadi bongkahan es.
Tubuh Jeanne juga ikut berubah menjadi bongkahan es. Hal ini membuat Aria dan Shirayuki akhirnya terkejut. “Ini …”
“Tubuh pengganti?!”
Ini adalah salah satu teknik sihir yang dipelajari oleh keturunan Jeanne d’Arc, Ice Avatar.
Mungkin karena generasi pertama Jeanne hampir mati dibakar, maka dari itu, keturunan Jeanne mempelajari sihir es selama beberapa generasi.
__ADS_1
Bisa dibilang, Jeanne bukanlah seorang gadis suci (Saintess), melainkan seorang penyihir.
Menurut standar divisi Supernatural Selective Research SMA Butei, Jeanne adalah seorang Choutei dengan kekuatan sihir es.
Di dalam ruang tahanan, suara Jeanne mendadak terdengar dan bergema di seluruh ruangan. “Sayang sekali, kalian telah memilih target yang salah. Kita sekarang berada di kedalaman laut. Bagiku, ini adalah tempat di mana aku bisa menggunakan kemampuanku sepenuhnya!"
Tak lama kemudian, pintu ruangan tiba-tiba mulai membeku.
"Diam dan tetap tinggal di sini!"
Di luar pintu, Jeanne bersandar di depan pintu sambil tersenyum. "Butei biasa tidak mungkin bisa melawan Choutei."
Dari arah samping, tiba-tiba terdengar suara seorang pria. "Apakah itu benar?"
Jeanne terkejut dan dengan cepat berbalik ke samping untuk melihat siapa yang ada di sampingnya.
Di sana, Ryan berdiri menatap Jeanne dengan senyum manisnya. Belati di tangannya dengan fleksibel bergerak di antara jari-jemarinya.
"Kamu?!" Jeanne mundur selangkah dan meletakkan satu tangannya pada gagang pedang di pinggangnya. "Sejak kapan?!"
"Jika kamu bertanya kapan aku keluar, maka jawabannya adalah setelah aku memotong leher tubuh penggantimu." jawab Ryan dengan seakan ini adalah hal biasa.
"Jeanne d'Arc." Ryan menatap Jeanne dan berkata, "Bawa aku ke profesor."
Jeanne cukup terkejut dengan ucapan Ryan.
Melihat hal ini, Ryan acuh tak acuh dan bersikap seolah-olah berbicara pada dirinya sendiri. "Riko menyembunyikan identitas asli profesor. Begitu juga denganmu dan Shirayuki."
"Itu artinya, kalian tidak ingin Aria tahu identitas asli profesor, bukan begitu?"
Kali ini, Jeanne hanya diam.
"Kamu tidak perlu memprovokasiku, Weapon Wizard." Jeanne melepas tangannya dari gagang pedangnya. "Lagi pula, jika itu kamu, Profesor pasti akan senang bertemu denganmu."
Setelah itu, Jeanne berbalik dan berkata kepada Ryan. "Ikuti aku …"
Ryan mengangguk, segera memalingkan pandangannya ke arah pintu es. "Shirayuki, kamu dan aria tetap di sini. Jangan biarkan Aria keluar."
"Oke, aku mengerti." ucap Shirayuki dari balik pintu es.
"Tunggu, kenapa semuanya jadi seperti ini?" Suara kekanak-kanakan Aria terdengar sangat nyaring.
Namun sayang, Ryan sudah pergi bersama Jeanne.
~***~
Di sepanjang lorong kapal selam, suara langkah kaki terdengar begitu jelas hingga menyebabkan gema yang menyebar ke sekelilingnya.
Ryan berjalan di sepanjang lorong bersama Jeanne, melihat sekeliling dan menatap dengan lalai. Hingga akhirnya, mereka berdua tiba di sebuah aula yang dangat luas.
Aula ini berbentuk bulat, mirip seperti arena bertarung.
Tidak ada panggung maupun tempat duduk di sekitarnya. Akan tetapi, ada lantai dua yang mengelilingi aula seperti tribun di stadion.
Ryan mendadak menghentikan langkahnya. Hal ini karena Ryan dapat melihatnya dengan jelas.
Di area lantai dua, ada banyak sosok yang tiba-tiba muncul dan berdiri di sana. Mereka semua melihat ke bawah, lebih tepatnya, melihat ke arah Ryan.
__ADS_1
Pada saat yang sama, atmosfer yang berat menyeruak di udara, membuat suasana menjadi tegang dan penuh tekanan.
Tanpa Ryan sadari, kini Jeanne sudah menghilang dari tempatnya. Hanya Ryan seorang yang tersisa di aula tersebut.
Mata orang-orang yang ada di lantai dua terfokus pada Ryan. Mereka sangat penasaran dengan Ryan. Seakan-akan Ryan adalah mangsa mereka.
Tidak diragukan lagi, orang-orang yang ada di lantai dua aula itu adalah anggota IU.
Ryan melihat para anggota IU dan berusaha mengidentifikasinya satu persatu anggota berdasarkan informasi yang diberikan Riko.
Sampai akhirnya, Ryan melihat seseorang yang sangat ia kenal. "Kinji?"
Ryan cukup terkejut melihat keberadaan teman sekelasnya itu.
Mata mereka berdua pun bertemu. Kinji hanya bisa tersenyum tak berdaya pada Ryan. Ia tidak mengatakan apa-apa dan hanya berdiri diam di sana.
Di sebelah Kinji, berdiri seorang wanita cantik berambut panjang. Akan tetapi, dia bukanlah seorang wanita.
Dia adalah seorang pria dari keluarga Tohyama, yaitu Tohyama Kenichi. Namun, dengan penampilannya sekarang, lebih tepat untuk memanggilnya Tohyama Kana.
Melihat keberadaan Kana, Ryan akhirnya paham, mengenai alasan kenapa Kinji juga ada di sini.
Seperti yang dikatakan Riko, beberapa Butei dengan kemampuan luar biasa akan IU culik dan membuat kematian palsu untuk mereka.
Jelas, Tohyama Kana adalah salah satunya.
Hanya saja, Tohyama Kana sepertinya tidak sepenuh hati loyal terhadap IU. Jika tidak, Tohyama Kana pasti sudah membunuh Aria sebelum Ryan datang menyelamatkannya.
Sepertinya, Profesor dan Aria memiliki hubungan tertentu. Untuk mencegah Aria melakukan kontak IU, Tohyama Kana ingin memberi ancaman pada Aria dengan berpura-pura untuk membunuhnya.
"Aku jadi penasaran, siapa sebenarnya Profesor itu? Dan apa hubungannya dengan Aria?"
Ryan menatap lurus ke depan. Di sana, ada sebuah pintu.
Suara langkah kaki terdengar semakin mendekat dari arah depan.
Di saat yang, suara karismatik terdengar dari arah depan. "Meskipun ada beberapa penyimpangan, tapi seperti yang sudah aku prediksi, kamu pasti akan datang ke sini, Ryan-kun."
Perlahan, sosok tersebut masuk ke dalam aula melalui pintu yang ada di depan Ryan.
Ketika Ryan melihat sosok Profesor, sang Pemimpin IU dengan jelas, mata Ryan terbelalak. Ia sangat terkejut melihat sosok tersebut.
Sosok tersebut adalah seorang pria tampan, mengenakan mantel dan topi detektif. Pria itu juga terlihat sedang menghisap tembakau dari pipa kayu tembakau di mulutnya.
Melihat sosok karismatik ini, Ryan tidak mungkin tidak mengenalnya. Bahkan lebih dari satu jam yang lalu, Ryan melihat foto pria ini di buku milik Aria.
"Sherlock Holmes …"
Dia adalah detektif terkuat di dunia dan juga kakek Moyang Butei yang telah menjadi legenda di Inggris Raya lebih dari 100 tahun yang lalu.
Dan juga, Kakek Buyut Aria.
Pemimpin IU yang dikenal sebagai Profesor adalah sang Detektif terkenal Inggris, Sherlock Holmes.
"Aku sudah menunggu lama datangnya hari ini."
Detektif terkenal bernama Sherlock memperlihatkan senyum tampan.
__ADS_1
"Dan hari ini, adalah hari ketika halaman sejarah baru akan dibuka.”