
Swiiish
Semilir angin sejuk bertiup dari kejauhan, melintasi bangunan Rumah Sakit yang megah dan menghampiri taman di atap gedung yang indah.
Di atas atap, angin sejuk ini melewati sepasang pria dan wanita yang saling berciuman dengan intim di bangku taman.
Pada saat ini, bahkan Ryan tidak bisa membantu tetapi melebarkan matanya sendiri. Ia tidak menyangka bahwa kali ini, Sylvia yang menyerangnya duluan.
Meskipun ciuman ini tidak sepanas sebelumnya dan hanya bersentuhan antara bibir tanpa bertukar lidah, tapi ini menunjukkan bahwa sang Diva serius akan perasaannya.
Tak puas hanya seperti itu, Ryan langsung membobol bibir Sylvia dan membiarkan lidahnya menerobos masuk. Mereka pun akhirnya saling bergulat lidah dengan intens.
Semakin lama, suhu tubuh Ryan dan Sylvia meningkat, membuat wajah mereka berdua memerah.
Suara nafas pendek dan suara erangan kenikmatan terdengar menjadi satu, menyebabkan udara dingin di sekitar mereka berubah menjadi panas.
Ryan kemudian mulai menelusupkan kedua tangannya ke dalam bra dan mulai memainkan kedua gunung kembar Sylvia.
"Uhhh~" Sylvia mulai melenguh keenakan.
Setelah 10 menit melakukan semua ini, Ryan berusaha melangkah lebih jauh. Saat tangan Ryan akan membuka celana Sylvia, tiba-tiba saja tangan Ryan dicegah oleh Sylvia.
Ryan pun sadar bahwa Sylvia masih belum siap untuk melangkah ke tahap selanjutnya.
Ryan yang biasanya pasti akan tetap memaksanya seperti yang dilakukannya pada Cecily Wong.
Akan tetapi, karena Ryan begitu mencintai Sylvia, ia tak sanggup untuk menyakiti Sylvia.
Beberapa saat kemudian, Sylvia melepas ciuman mereka dan berkata dengan sedikit malu. "Maafkan aku Ryan, aku masih belum siap untuk melakukan itu."
"Akulah yang seharunya minta maaf, Sylvia." ucap Ryan sambil menggaruk-garuk hidungnya dan tersenyum masam.
"Tapi jujur saja, aku cukup terkejut kamu tiba-tiba menciumku."
Ucapan Ryan ini membuat Sylvia tertawa, "Hahahaha …"
Sylvia dengan pipi kemerahan yang terlihat menawan, tersenyum iseng dan berkata, "Saat di taman, kamu dengan paksa telah menciumku. Walau aku tidak membencinya, tapi aku lebih suka kalau aku yang memulainya duluan."
"Aku benar-benar nggak menyangka kamu adalah tipe wanita yang seperti ini." Ryan menghela nafas dan berkata, "Sebagai Diva terkenal Dunia, tolong jaga sikapmu di tempat umum. Aku takut ketika kita sedang kencan di Mall, kamu tiba-tiba menciumku. Hal itu bisa menjadi berita skandal di media."
"Hahahaha ... aku tidak peduli. Lagipula, aku ingin kembali hidup sebagai wanita biasa, yang bisa berjalan-jalan dengan pria pujaan hatinya dan bermesraan di tempat umum."
Sylvia kemudian berkata dengan terus terang. "Aku menjadi Diva karena aku ingin orang-orang mendengar nyanyianku dan juga untuk mencari Ursula."
"Dan sekarang, aku telah menemukan Ursula. Walau saat ini dia sedang tidak sadar, tapi aku sudah cukup senang dapat melihatnya lagi."
Sylvia menatap Ryan dan berkata dengan lembut, "Saat ini, hal yang ingin aku lakukan adalah bersamamu, Ryan."
Melihat mata berair Sylvia, Ryan tahu bahwa Sylvia sangat serius, dan bukan candaan seperti biasanya. Ia pun berkata, "Kalau begitu, maukah kamu menjadi pacarku?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, Sylvia hanya diam tidak menjawab.
Dalam keheningan itu, Ryan dan Sylvia saling memandang. Tidak ada satupun di antara mereka yang memalingkan wajahnya.
Tangan di bangku kayu berubah menjadi sepasang magnet yang saling menarik dan ditahan tanpa sadar. Jari-jemari mereka bersatu dengan lembut.
Detik berikutnya, jarak antara wajah Ryan dan Sylvia juga mulai saling mendekat, hingga akhirnya bibir mereka saling menempel dengan lembut.
Muuch
Kali ini, tidak lagi ciuman penuh nafsu seperti sebelumnya. Melainkan ciuman penuh cinta dan kasih sayang yang lembut.
Dengan begitu, waktu perlahan berlalu. Saat Ryan melepas ciumannya, tidak diketahui sudah berapa lama berlalu.
"Haaaa~"
Pipi Sylvia agak kemerahan, dan pada saat yang sama menghela nafas lega. Ia kemudian berbisik, "Aku bersedia menjadi pacarmu, Ryan."
Saat mengucapkannya, bahkan Sylvia pun tidak bisa menahan senyum malu-malunya.
__ADS_1
Melihat Sylvia yang seperti ini, Ryan mau tidak mau merasakan kegembiraan di dalam hatinya.
Tapi, begitu mengingat bahwa ia hanya punya waktu tiga hari saja di dunia ini, kegembiraan itu menghilang. Tak lama kemudian, senyum di wajahnya, secara perlahan menghilang. Ia lalu mengangkat kepalanya ke atas dan memandangi hamparan awan di langit.
Suasana hangat ini pun berubah menjadi agak berat.
Mengamati perubahan suasana ini, Sylvia juga perlahan diam dengan ekspresinya sendiri.
Setelah beberapa saat terdiam, Ryan mulai membuka mulutnya.
"Aku ingin bertanya padamu. Jika aku harus meninggalkan kota ini, apakah kamu mau ikut denganku?"
"Meninggalkan kota ini?" Ekspresi Sylvia tiba-tiba membeku.
"Ya, meninggalkan kota ini." Ryan memalingkan matanya dan menatap langsung Sylvia. "Apalagi, tempat yang aku tuju sangat jauh, dan ada kemungkinan aku tidak akan pernah kembali."
"Ini …" Sylvia tidak tahu harus berkata apa setelah mendengarkan pengakuan ini.
Sylvia sebenarnya ingin berpikir bahwa Ryan saat ini sedang bercanda dengan dirinya.
Namun, Sylvia sangat mengenal kepribadian Ryan. Jadi ia tahu kapan Ryan bercanda dan kapan Ryan serius.
Dan kali ini, Sylvia tahu bahwa Ryan berkata serius. Hal ini membuat Sylvia merasa kewalahan.
Saat Sylvia sedang berpikir, tiba-tiba Ryan melanjutkan perkataannya.
"Dalam tiga hari, kurasa aku akan pergi dari sini."
Deg
Mendengar ini, hati Sylvia terasa sakit.
"Pergi dari sini?" Sylvia mau tidak mau bertanya pada Ryan, "Ta-tapi, ke mana kamu akan pergi?"
"Ke tempat yang nggak akan bisa kamu bayangkan." jawab Ryan.
"Bagaimana, apakah kamu mau ikut denganku?"
"Aku tidak akan meninggalkanmu, baik dalam keadaan senang maupun duka."
"Aku akan melindungimu, dan mencintaimu dengan segenap isi hatiku, sampai kematian yang memisahkan kita."
Ketika kata-kata Ryan jatuh, keheningan yang tak dapat dijelaskan mulai meresap di antara keduanya.
Sylvia hanya memiringkan kepalanya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Semua ini terlalu mendadak.
Jari-jemari Sylvia yang sedang memegang tangan Ryan pun menegang. Hatinya benar-benar gelisah.
Ryan juga tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menggenggam tangan Sylvia, seolah memberi tahu gadis itu bahwa dia seharusnya tidak menjadikan hal ini sebagai beban.
Setelah beberapa saat, Sylvia menghela nafas panjang. "Itu tidak terlihat seperti lelucon."
Sylvia lalu berkata, "Meskipun aku tidak tahu apa yang terjadi, itu tidak masalah. Jika hanya ini masalahnya, maka aku akan ikut denganmu."
"Kamu beneran mau ikut denganku?" Ryan tiba-tiba menjadi ragu.
"Tentu saja. Sudah aku bilang kan sebelumnya, bahwa hal yang aku inginkan saat ini adalah bersama denganmu." Sylvia memandang ekspresi ragu-ragu Ryan. Di wajah yang menawan, dia juga memasang senyum nakal dan bergumam, "Meskipun pernyataan cintamu ini tiba-tiba berubah menjadi lamaran pernikahan, jujur saja itu sedikit membuatku sedikit malu."
Ryan tertegun mendengar ucapan Sylvia.
"Jangan bilang aku salah sangka?" Sylvia menatap Ryan dan menertawakannya. "Aku berencana untuk mengikutimu dan selalu bersamamu sehidup semati. Mungkinkah semua ucapanmu itu tadi bukan lamaran ajakan untuk menikah?"
'Anjir, siapa yang mau melamarmu! Aku cuma ingin mengajakmu ke Reincarnation Room agar kejadian seperti Rea tidak terulang lagi.'
'Lagipula, kata temanku dulu, menikah adalah kuburan para Pria. Sudah banyak teman sekantorku dulu yang berakhir menjadi suami takut istri setelah menikah.'
Tentu saja, semua kata-kata ini tidak mungkin diucapkan Ryan secara gamblang di depan Sylvia.
Jadi, Ryan hanya bisa tertawa dan berkata, "Apa kamu nggak penasaran dengan tempat yang aku tuju? Bisa saja tempat yang aku tuju adalah neraka untukmu."
__ADS_1
"Neraka?" Senyum Sylvia menghilang dan dengan ironisnya berkata, "Mungkinkah kamu berpikir bahwa kota ini adalah surga?"
Ucapan ini membuat Ryan kembali terdiam.
Tidak ada yang salah dengan ucapan Sylvia. Di kota ini, atau bahkan dunia ini, sama sekali bukanlah surga.
Kota Asterisk memang tampak damai, tapi itu hanyalah yang terlihat di permukaannya saja.
Misalnya saja, ada banyak orang jahat di Distrik Pembangunan Kembali. Bahkan mereka bermaksud untuk menjual Genestella seperti Ryan dan Sylvia sebagai produk untuk percobaan manusia.
Contoh lainnya adalah keberadaan Laminamors dan Valda yang juga beraktivitas secara diam-diam dari balik kegelapan kota Asterisk.
Sistem Pemerintahan di dunia ini juga sangat lemah. Dengan adanya Integrated Enterprise Foundation, semua pemerintahan di dunia ini ditekan dan hanya menjadi boneka bagi konsorsium.
Dunia ini telah dikuasai Integrated Enterprise Foundation, dan membuat semuanya sangat terdistorsi.
Demi menjaga kesenjangan antara si kaya dan si miskin, serta menstabilkan garis kehidupan ekonomi, Integrated Enterprise Foundation sengaja menciptakan orang-orang miskin. Bahkan mereka membuat negara-negara kecil menjadi medan pertempuran.
Untuk menghasilkan kekayaan dan keuntungan, Integrated Enterprise Foundation menyelenggarakan Festa.
Dengan menawarkan hadiah berupa satu keinginan pemenang Festa akan dikabulkan, banyak orang dengan segala macam keinginan datang ke kota ini untuk mengikuti Festa dan menjadi tontonan warga dunia ini
Jadi, dunia ini sebenarnya tidak lebih baik daripada neraka.
Sylvia adalah Diva paling terkenal di dunia. Tentunya Sylvia telah melihat banyak kegelapan di dunia ini.
“Bahkan jika kamu dapat menyingkirkan semua ketidak adilan di dunia ini dan mengubahnya menjadi surga, aku tetap akan ikut denganmu.”
Sylvia terkekeh dan berkata, "Lagipula, kamu adalah cinta pertamaku."
Ryan hanya menghela nafas dan bertanya pada Sylvia, “Apakah kamu nggak memiliki tanggungan lagi di tempat ini?”
“Tentu saja ada.” Sylvia berkata tanpa ragu, “Seperti para juniorku di sekolah, lalu Lindwurm Festa yang belum pernah aku menangkan, dan juga Ursula yang masih belum bangun. Ada banyak hal yang masih perlu aku selesaikan."
“Tapi, di sisi lain, aku juga tidak ingin terjebak dengan posisi seperti ini terus.” Sylvia menatap lurus ke arah Ryan dan berkata terus terang, "Jadi, jika memungkinkan, bisakah kamu memberiku waktu?”
Saat ini, emosi yang dibawa oleh mata Sylvia terlihat tenang dan juga serius.
Meski Sylvia adalah seorang Diva terkenal di Dunia, tapi Sylvia sama sekali tidak pernah kehilangan jati dirinya. Ia tetap bersikap apa adanya, bahkan sangat blak-blakan jika menyangkut masalah hati.
Tidak akan ada faktor eksternal yang mampu membatasi perasaan Sylvia. Ia akan terus mengejar sesuatu yang menurutnya benar.
Hal ini dibuktikan betapa gigihnya Sylvia dalam mencari gurunya selama bertahun-tahun.
Oleh karena itu, nyanyian Sylvia mampu menembus hati banyak orang.
"Jadi begitu …" gumam Ryan memahami masalah Sylvia.
"Aku nggak ada masalah memberimu waktu untuk menyelesaikan semua tanggunganmu terlebih dahulu."
Ryan lalu mencoba mengkonfirmasi lagi keputusan Sylvia. "Aku harap kamu nggak akan menyesal telah ikut denganku. Karena tempat yang aku tuju, mungkin jauh lebih kejam dari tempat ini."
"Tenang saja." Sylvia memahami kekhawatiran Ryan. Sambil tersenyum, ia berkata, "Aku tidak akan pernah menyesal. Malahan, jika aku tidak mengikutimu, aku pasti akan menyesalinya seumur hidupku."
Melihat keyakinan pada diri Sylvia, akhirnya Ryan menjadi tenang.
Tiba-tiba saja, di tangan Ryan muncul sebuah kertas berukirkan simbol rune misterius. Rune ini membentuk pola seperti kubus, dan memancarkan cahaya redup.
Melihat kertas ini, Sylvia penasaran dan bertanya, "Apa ini?"
"Surat Kontrak." Ryan tersenyum pada Sylvia dan berkata, "Sederhananya, jika kamu bersedia, dengan kekuatan Surat Kontrak ini, aku dan kamu akan saling terikat dan berbagai kehidupan."
"Tapi, sepertinya kali ini kita akan menunda penggunaan Surat Kontrak ini terlebih dahulu." tawa Ryan.
Mendengar penjelasan Ryan, Sylvia tersenyum, lalu mengulurkan tangan dengan cepat dan mengambil Surat Kontrak di tangan Ryan.
Belum sempat Ryan bereaksi, Sylvia berkata, "Untuk saat ini, biarkan aku yang membawanya."
Sylvia kemudian mengulurkan satu jarinya dan menyentuh bibir Ryan.
__ADS_1
Dengan senyuman yang sangat indah, Sylvia melanjutkan perkataannya. "Setelah aku menggunakannya, jangan lupa untuk menjemputku."
"Ya, tentu saja. Aku pasti akan menjemputmu." senyum Ryan dengan tulus.