Reincarnation Room

Reincarnation Room
Identitas Butei Killer


__ADS_3

Melihat aksi Aria seperti itu, Ryan jadi sedikit terkesima. "Cantiknya …"


Ryan sejujur tak menyangka Aria bisa menghindari terjangan peluru ini. Bahkan, pada awalnya Ryan ingin menggunakan kecepatan yang ia miliki untuk membawa lari Aria..


Namun, belum sempat Ryan bergerak, Aria secara tiba-tiba langsung melakukan backflip tanpa melihat arah peluru.


Jika yang menjadi target adalah Butei lain, maka mereka pasti akan mati, kecuali Ryan menyelamatkan mereka. Hal ini dikarenakan tembakan yang dilakukan sang pelaku benar-benar tidak terduga.


Sebenarnya, Aria sama sekali tidak menyadari tembakan ini. Namun, sebagai keturunan Sherlock Holmes, ia dapat merasakan adanya marabahaya yang mendekatinya.


Ini adalah salah satu Kemampuan Khusus yang diturunkan dalam keluarga Holmes, Intuisi.


"Jadi begitu … walau Aria tidak mewarisi kemampuan Deduksi Penalaran yang seharusnya dimiliki oleh setiap keturunan keluarga Holmes, akan tetapi ia mewarisi Kemampuan Intuisi dari kakek buyutnya.”.


Saat Ryan sedang bergumam sendiri sambil terus memperhatikan Aria, tiba-tiba Aria berteriak memanggilnya. “Ryan!”


Aria lalu mengangkat moncong pistolnya ke arah sebuah tangki besar. "Lihat ke sana!"


Mendengar hal tersebut, Ryan segera mengikuti arah moncong pistol Aria dan melihat ke atas tangki besar yang ada di geladak.


Di sana, terlihat sekelebat bayangan hitam berbalik dan menghilang begitu saja dari pandangan Ryan.


"Ryan, kamu melihatnya kan?!" Aria terus memandang ke arah tangki dengan serius.


Ryan sedikit mengangkat bibirnya dan berkata, "Kemungkinan besar, sosok dalam bayangan tersebut adalah Butei Killer itu sendiri!"


“Dengan kata lain, pembunuh berantai yang tidak pernah menampakkan jati dirinya itu, akhirnya mulai bergerak secara langsung.” Ryan mengucapkannya tanpa ada keraguan sedikit pun.


Setelah itu, Ryan dan Aria segera berlari ke arah kabin sambil menghindari tembakan senapan mesin yang terpasang pada speedboat.


~***~


Di bawah pantulan sinar rembulan, sebuah Kapal Tanker melaju dengan kecepatan tinggi membelah lautan.


Kapal itu tidak lain adalah Kapal Tanker Ocean Cradle, yang kini telah menjadi target penanaman bom oleh Butei Killer.


Kapal itu berlayar tanpa tujuan dan semakin menjauh dari Pulau Akademi.


Di sekeliling Kapal Tanker Ocean Cradle, beberapa speedboat yang membawa senapan mesin terus mengikuti dan mengelilingi kapal.


Hal ini sangat mirip dengan insiden bus beberapa hari yang lalu. Hanya saja, kali ini target pemasangan bomnya bukan lagi pada bus, namun sebuah kapal tanker.


Di dekat sebuah tangki yang terletak di geladak kapal tanker, seorang gadis muda sedang duduk di atas tembok pembatas yang menghadap ke laut. Ia tampak menggoyang-goyangkan kaki kecilnya sambil bersenandung.


Suara deburan ombak menjadi pengiring lagu yang ia nyanyikan.

__ADS_1


Gadis muda itu seperti mengekspresikan kegembiraannya melalui nyanyian yang ia persembahkan pada lautan.


Nyanyian yang terdengar sangat merdu ini bergema di geladak dan membuat suasana di sekitarnya menjadi riang.


Tidak lama kemudian, pintu belakang kabin yang terletak dekat sebuah tangki terbuka lebar dan menimbulkan suara yang cukup keras.


Dari pintu tersebut, Ryan dan Aria bergegas keluar dan berhenti di belakang sesosok gadis yang duduk di pagar pembatas membelakangi pintu kabin.


Gadis tersebut seakan tidak peduli dengan kedatangan mereka berdua dan terus menggoyang-goyangkan kaki kecilnya sambil bernyanyi,


Melihat sosok gadis tersebut, Ryan dan Aria menunjukkan reaksi yang berbeda.


"Ka-kamu ... kamu ..." Aria sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.


“Ini nggak mungkin! Bagaimana bisa kamu adalah Butei Killer?!” teriak Ryan sambil mengepalkan tangannya. Ryan adalah orang yang paling terkejut begitu melihat sosok asli dari Butei Killer.


Mendengar teriakan Ryan yang dipenuhi rasa tidak percaya, gadis tersebut akhirnya menghentikan nyanyiannya. Ia lalu berkata seakan sedang berbicara pada dirinya sendiri.


"Ada aroma laut yang menyegarkan."


"Ada sampanye yang manis."


"Ada pria yang aku cintai."


"Dan ada juga musuh yang ingin aku kalahkan."


Setelah mengatakan semua itu, gadis muda tersebut berdiri tepat di atas pagar pembatas. Ia lalu berbalik menghadap Ryan dan Aria.


"Aku sudah lama menunggumu, Olmes."


Seakan ingin bersorak, angin laut yang dingin menerpa dan membuat rambut emas gadis itu berkibar.


Hal ini menyebabkan seragam perempuan Butei yang pinggirannya telah dimodifikasi menjadi renda berlipat seperti gaun putri itu bergoyang-goyang.


Di bawah sinar rembulan, wajah cantik nan imut dari gadis tersebut terlihat semakin jelas. Dan Ryan sangat familiar dengan gadis itu.


Melihat gadis itu, Aria bergumam. "Mine Riko …"


Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Ryan empat hari yang lalu, Riko tidak pernah muncul lagi di sekolah.


Melihat berbagai ekspresi yang dihadirkan Ryan dan Aria, Riko tersenyum menyeringai. Tatapan mata Riko terlihat dipenuhi emosi dan juga dendam.


Tapi, beberapa saat kemudian, senyuman jahat tersebut berubah menjadi senyum biasa, seakan senyuman menyeringai tadi tidak pernah ada.


"Jang jang, Mine Riko di sini …" ucap Riko dengan nada penuh keceriaan.

__ADS_1


"Akan tetapi, kali ini, aku mengizinkan kalian secara khusus untuk mengetahui nama lengkapku. Terutama kamu, Olmes."


Olmes adalah cara orang Perancis untuk menyebut nama Holmes. Dan Riko yang menggunakan pelafalan Perancis ini, menandakan bahwa dia berasal dari Perancis.


"Nama lengkap?" Aria sedikit bingung dengan ucapan Riko.


"Ya, itu benar, nama lengkapku."


Riko kemudian mengangkat pinggiran roknya seolah sedang memberi hormat. "Mine Riko Lupin IV, inilah nama lengkapku."


"Lupin?" Mata Aria terbelalak.


Ryan dan Aria tentu tahu mengenai nama Lupin. Lebih tepatnya, Arsene Lupin, sang pencuri ulung yang pernah aktif mencuri lebih dari 100 tahun yang lalu.


Sebagai pencuri ulung, dia lebih dikenal karena kecerdasannya, pemikirannya yang bijaksana, romantisme, dan kekayaan keluarganya yang sangat besar.


Arsene Lupin sering mencuri harta orang-orang yang mengumpulkan kekayaan dengan cara ilegal. Ia lalu menggunakan sebagian harta yang dicurinya untuk menyelamatkan orang-orang miskin.


Karena tingkat keberhasilannya yang tinggi dalam mencuri, ia mendapat julukan Phantom Thief.


Hal ini menyebabkan Arsene Lupin menjadi salah satu tokoh terkenal dari Perancis.


Tidak mengherankan jika Aria bereaksi terhadap nama ini.


Apalagi, lebih dari seratus tahun yang lalu, detektif terkenal Sherlock Holmes dari Inggris Raya pernah berhadapan langsung dengan Phantom Thief Prancis, Arsene Lupin dan berakhir dengan imbang.


Ini adalah salah satu peristiwa terkenal yang disebutkan dalam buku pelajaran SMA Butei.


Dan hari ini, Riko mengklaim dirinya memiliki nama Lupin, dan menyebut dirinya sebagai Lupin generasi keempat.


"kamu …" Aria mendatangi Riko dan berkata dengan lantang, "Apakah kamu cicit dari Arsene Lupin?!"


"Hahahaha!" Riko tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.



Itu bukan tawa biasa. Meskipun tawa ini terlihat luar biasa manis, tapi itu bukanlah tawa yang seharusnya dimiliki oleh seorang murid SMA, melainkan tawa yang biasa dibuat oleh seorang tentara bayaran.


"Itu benar, cicit Sherlock Olmes! Aku adalah cicit dari Arsene Lupin!"


"Lebih dari 100 tahun yang lalu, kakek buyut kita saling berhadapan dan berakhir seimbang!"


"Dan seratus tahun kemudian, keturunan mereka akhirnya bertemu!"


"Jadi, Olmes keempat, kamu harus mati di sini!"

__ADS_1


"Ini akan menjadi hari di mana, aku, Mine Riko Lupin IV, akan mengalahkanmu!"


__ADS_2