Reincarnation Room

Reincarnation Room
Ketemu!


__ADS_3

Mendapat perlakuan seperti ini, tangan Aria mengepal dan bergetar. Ia pun bersiap-siap akan memukul Ryan.


Tapi tentu saja Ryan sudah memprediksi semua ini. Tanpa ada keraguan, Ryan memegang bagian tubuh Aria yang terasa sepi bagai papan cucian dengan lihai.


"Aaah~" Aria tiba-tiba mengeluarkan suara yang imut.


Aksi Ryan ini membuat Aria mengalami sensasi yang belum pernah ia rasakan selama ini. Tinju kecil Aria akhirnya terbang ke tubuh Ryan dengan lembut. Ia tampak sangat menikmati sentuhan Ryan.


Ryan cukup terkejut dengan reaksi Aria yang terlalu berlebihan. Padahal, Ryan hanya bermaksud untuk membuatnya terkejut sehingga Aria tidak jadi memukulnya. Akan tetapi, hasilnya terlalu berlebihan. 


'Anjir, aku nggak nyangka ia sangat sensitif pada bagian itu.'


Ryan lalu berusaha menyadarkan Aria yang pikirannya masih terbang sampai langit ketujuh. "Hei, sadarlah! Sebentar lagi senapan mesin itu akan mulai menembaki kita!"


Di saat yang sama, kamera pengintai pada mobil Remote Control itu sepertinya telah menemukan keberadaan Ryan dan Aria yang turun dari langit.


Senapan mesin yang menempel pada kursi penumpang itu mulai menoleh dan membidik mereka berdua di udara.


Dudududududu


Moncong senapan mesin itu melontarkan peluru yang tak terhitung jumlahnya. Percikan api bagai kembang api terus menerus keluar dari ujung senapan.


Namun, ketika peluru yang tak terhitung jumlahnya melintasi derasnya hujan dan melambung ke atas, Ryan juga mulai melakukan aksinya.


Sambil tangan kirinya memeluk erat Aria, Ryan menggunakan tangan kanannya untuk menarik tali parasut dengan keras.


Seketika itu juga, kain parasut itu menjadi miring, dan hembusan angin kencang langsung menghantam kain parasut.


Akibatnya, Ryan terlempar ke samping terbawa angin yang bergejolak. Peluru-peluru itu pun melintasi ruang kosong yang ada di samping Ryan. Ia benar-benar dapat menghindarinya dengan sempurna.


Sang pelaku yang bersembunyi di suatu tempat sampai tercengang melihat aksi Ryan dari kamera pengawas. Ia tidak menyangka Ryan dapat menghindari serangan senapan mesin dengan sempurna.


Namun, sang pelaku tidak mau menyerah begitu saja. Ia terus menekan tombol tembak dari tempat persembunyiannya dan mengarahkan posisi moncong senapan mesinnya pada Ryan.


Melihat senapan tersebut terus membidiknya, tangan kanan Ryan terus menarik tali parasutnya ke kanan dan ke kiri, membiarkan parasut tersebut berayun bolak-balik bagaikan lilin yang tertiup angin.


Dengan teknik ini, tidak ada satupun peluru yang menggoresnya.


Sambil terus menghindar, Ryan menggunakan parasut seperti paralayang dan terus bergerak mendekati mobil Remote Control tersebut.


Dari pelukan Ryan, Aria sangat terkejut melihat aksi Ryan secara langsung. Sejak menjadi Butei, Aria telah banyak melihat banyak aksi hebat dari para Butei senior dan juga berhadapan dengan penjahat yang bisa menggunakan Kekuatan Khusus.


Namun, Aria belum pernah melihat orang seperti Ryan, yang hanya dengan mengandalkan teknik, dapat melakukan hal-hal luar biasa yang sama seperti pengguna Kemampuan Khusus.


Tentu saja, Aria tidak tahu bahwa rahasia dari teknik penggunaan parasut adalah hasil aplikasi dari Teknik Membunuh Nanaya. Di mana teknik ini dapat membuat penggunanya memanfaatkan lingkungan sekitar untuk bergerak.


Ryan menggunakan kondisi cuaca yang buruk ini sebagai keuntungannya sendiri dalam bergerak di udara.

__ADS_1


Melihat mobil Remote Control yang semakin dekat, Ryan berkata pada Aria, "Apakah kamu bisa membidik ban mobil itu jika kamu menembaknya sekarang?"


Ryan lalu memperjelas rencananya. “Urusan membidik dan menembak mobil itu, aku serahkan semuanya padamu. Sementara itu, serahkan semua urusan penghindaran ini padaku.”


Dari ucapan Ryan, akhirnya Aria paham apa yang direncanakan Ryan. Memahami hal tersebut, Aria segera mengeluarkan dua pistol berwarna perak dan hitam dari sarungnya.


Meski memiliki warna yang berbeda, namun pistol tersebut memiliki jenis yang sama, yaitu Colt M1911.


Dari sudut pandang Ryan, terlihat jelas bahwa kedua senjata tersebut memiliki manik-manik mutiara timbul di atasnya. Selain itu, terdapat ukiran wajah samping wanita dewasa yang mirip dengan Aria pada bagian atas pistol.


Dengan dua pistol di tangannya, Aria mengarahkan moncong pistolnya ke mobil Remote Control yang ada di bawah. Tanpa ada keraguan, Aria langsung menarik pelatuknya.


Dor Dor Dor Dor


Satu persatu peluru meluncur melewati tirai hujan dan mendarat tepat pada ban mobil tersebut.


Ban mobil tersebut tiba-tiba meletus, menyebabkan mobil kehilangan keseimbangan dan terlempar ke sisi jalan dengan cepat.


BOOM


Ledakan terdengar keras. Mobil tersebut pun terbakar dan berangsur-angsur berubah menjadi tumpukan besi tua.


Dampak dari gelombang kejut yang dihasilkan ledakan tersebut menyebabkan terjadinya perubahan angin di sekitarnya.


Namun, hembusan angin yang telah berubah ini sekali lagi dimanfaatkan Ryan. Di bawah kendali Ryan, parasut itu berubah menjadi paralayang yang meluncur ke atap bus.


Tanpa membuang waktu, Ryan berkata langsung kepada Aria, "Sang pelaku kemungkinan besar akan kembali mengirim mobil Remote Control-nya. Jadi kita harus secepatnya menemukan bomnya sebelum hal itu terjadi. Untuk itu, aku akan mengawasi keadaan, sementara kamu mencari bomnya.”


Mendengar rencana Ryan, Aria segera menyetujuinya. “Oke, aku percayakan pengawasan ini padamu.”


Begitu mengatakannya, Aria langsung pergi ke bawah.


Ryan pun tidak tinggal diam. Ia langsung bergelantungan di sisi bus dan masuk ke dalam bus melalui jendela yang telah pecah akibat serangan senapan mesin.


Di dalam bus, Ryan melihat para murid SMA Butei sedang dalam posisi bertiarap. Sepertinya mereka sedang berlindung dari serangan senapan mesin agar tidak mengenai mereka. Dan di antara murid-murid tersebut, ada Kinji di dalamnya.


Melihat Ryan yang baru saja masuk, Kinji berkata dengan lega. "Akhirnya kamu datang."


Satu persatu murid lainnya mendongak dan melihat ke arah Ryan.


"Kita selamat!"


"Seorang Butei peringkat S datang menyelamatkan kita!"


"Apa yang terjadi pada bomnya? Apakah dia sudah menemukannya?"


Para murid yang tiarap itu mulai berdiri dan merasa lega.

__ADS_1


Melihat mereka mulai menurunkan kewaspadaannya, Ryan memperingatkan mereka. "Kita masih belum aman. Rekanku yang juga seorang Butei peringkat S sedang berusaha mencari bomnya di bawah bus."


"Butei peringkat S lainnya?" Kinji terkejut mendengarnya. "Siapa peringkat S yang datang?"


"Dia adalah Quadra Aria, Butei Assault peringkat S. Seharusnya kamu mengenalnya." jawab Ryan.


Kinji mencoba mengingat nama tersebut. "Sepertinya aku tidak tahu."


"Yah, kurasa itu hal wajar untuk seseorang yang ingin pindah dari SMA Butei Tokyo. Tapi, sebagai Inquesta, kamu seharusnya memiliki banyak informasi mengenai Butei peringkat S di sekolah."


Kinji membalas ucapan Ryan dengan sedikit kesal. "Aku tidak peduli. Pokoknya, saat ini aku hanya seorang Butei peringkat E! Ini peringkat yang cocok untukku saat ini!"


Peringkat Butei tidak selalu bisa dipertahankan. Peringkat ini bisa berubah tergantung hasil tes akhir di setiap semester. 


Penilaian ini didasarkan pada kekuatan fisik dan juga teknik. Jika terjadi penurunan kekuatan fisik, seperti sedang terluka, maka peringkat orang tersebut akan mengalami penurunan.


Ini pun juga terjadi pada Kinji. Karena ia secara sengaja tidak mengikuti tes akhir semester 2, akhirnya peringkat ya turun hingga ke peringkat E, yang merupakan peringkat terendah dalam Butei.


Tentu saja Kinji tidak mempedulikannya. Karena dia sejak Kakaknya meninggal, memang ingin segera pindah dari SMA Butei Tokyo dan menjadi murid sekolah biasa.


Saat Ryan sedang berbincang dengan Kinji, tiba-tiba terdengar suara Aria dari alat komunikasi yang terpasang di telinga Ryan. Alat komunikasi ini Aria berikan pada Ryan saat mereka masih ada di dalam Helikopter 


"Ketemu! Aku menemukan Bomnya!"


Ryan pun tersenyum lega mendengar kabar dari Aria.


Melihat ekspresi Ryan, Kinji menebak bahwa rekan Ryan telah berhasil menemukan bomnya. "Apakah bomnya sudah ketemu?"


"Sudah." jawab Ryan dengan singkat.


"Kalian tunggu di sini, aku harus keluar untuk mengamankan bus ini dari serangan kejutan sang pelaku." 


Setelah itu, Ryan melompat ke jendela dan memanjatnya untuk naik ke atap bus.


Pada saat yang sama, Aria naik dari bagian bawah belakang bus. Begitu ia melihat Ryan berdiri di atap mobil, Aria mengangkat tangannya dan menunjukkan sebuah bom plastik kecil.


Melihat hal ini, Ryan menghela nafas lega. Tapi tiba-tiba, Ryan merasa ada sesuatu yang kurang. 


'Ini aneh … sepertinya aku melewatkan sesuatu …' pikir Ryan


Dreet Dreet Dreet Dreet


Mendadak, ponsel Ryan yang ada di sakunya bergetar.


'Hmm? Ada yang meneleponku?'


Saat akan meraih ponsel yang ada di sakunya, perasaan Ryan tiba-tiba terasa tidak enak.

__ADS_1


Bersamaan dengan ponselnya yang terus menerus bergetar, detak jantung Ryan juga berdetak semakin cepat, seakan mara bahaya akan segera menghampirinya.


__ADS_2