
Tidak salah lagi. Hendra ingin menciumku. Saat wajah kami sudah begitu dekat, aku memejamkan mataku. Akhirnya, aku bisa merasakan ciumannya lagi. Selamat tinggal tiga tahun yang panjang. Tetapi aku tidak merasakan bibirnya, melainkan sebuah usapan di sudut bibirku.
“Ada saus. Kamu ini kalau makan seperti Hadi saja.” Dia mengambil sehelai tisu dan membantu menyeka bibirku lagi. Men. Jeng. Kel. Kan. Se. Ka. Li. “Ada apa? Mengapa kamu terlihat marah?”
“Tidak ada apa-apa. Aku harus ke kamar mandi.” Aku berdiri. Tetapi dia meraih tanganku lalu aku kembali terduduk dalam satu tarikan saja. Dan aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Dia mencium bibirku. Salah satu tangannya melingkari tubuhku dan menarikku mendekat.
Setelah rasa terkejutku hilang, aku membalas ciumannya. Dia tidak memberiku ciuman khasnya, hanya kecupan-kecupan singkat agar kami tidak melewati batas. Ketika dia menjauhkan wajahnya, aku masih menginginkannya. Tetapi aku berhasil menahan diri untuk tidak meminta lebih.
Aku membuka mata dan menatap kedua matanya. Aku tidak akan pernah melupakan tatapan penuh cintanya itu. Aku tersenyum. Salah satu tangannya membelai pipiku. Mataku terpejam menikmati kehangatannya. “Mengapa kamu membalas ciumanku? Seharusnya kamu menghindariku tadi. Aku membencimu setiap kali kamu memberiku sinyal yang membingungkan.”
Apa?
“Aku perlu ke kamar mandi.” Dia mengambil kedua mangkuk kami yang sudah kosong dan berdiri. Apa maksud ucapannya tadi? Aku memberinya sinyal yang membingungkan? Aku jelas-jelas menginginkan ciumannya. Bukannya memberiku kesempatan untuk bicara, dia malah pergi. Dia masih saja begitu. Menyimpulkan sendiri, lalu memutuskan segalanya sendiri.
Tidak ingin melakukan kebodohan lagi, aku memilih untuk masuk ke kamar dan bersiap tidur. Biar saja dia mau memikirkan apa tentangku, aku tidak peduli. Dia yang menciumku, dia juga yang marah. Benar-benar pria yang tidak bisa aku mengerti cara berpikirnya.
Suara tawa anak-anak membangunkan aku pada pagi itu. Aku melihat ke arah pintu. Ini adalah pagi kedua mereka tidak masuk kamar menemuiku begitu mereka bangun. Ara palsu itu telah mengambil seluruh perhatian Hadi dan Dira dariku.
Aku mandi dan berganti pakaian sebelum keluar dari kamar. Hadi dan Dira segera menyambutku dengan ucapan selamat pagi. Aku membalas salam dari mereka. Saat aku dan Hendra bertemu pandang, aku segera membuang wajahku, tidak mau melihatnya.
Tetapi semua berubah ketika kami pergi tanpa membawa anak anjing itu. Akhirnya, aku tidak perlu mendengar anak-anak memanggil-manggil namanya yang membuat kepalaku sakit. Hendra tidak mau menyebutkan nama tempat yang akan kami datangi. Aku hanya perlu melihat ke arah petunjuk jalan yang diikutinya untuk mengetahui tujuan kami. Wah! Anak-anak akan menyukai ini.
“Mama! Mama!” Dira yang duduk di belakangku bersorak melihat seekor jerapah mendekati mobil.
__ADS_1
“Itu jerapah! Iya, ‘kan, Ma?” tanya Hadi dengan antusias. Aku membenarkannya. “Ah, itu zebra. Papa, apa kita bisa keluar dan mendekati mereka?”
“Tidak di sini. Ada tempat khusus di mana kita bisa memegang mereka, bahkan memberi mereka makan,” jawab Hendra. Aku mengerti apa yang dia khawatirkan. Kami bisa saja membuka jendela. Semua yang ada di sekitar kami adalah hewan jinak, tetapi anak-anak hanya berdua di belakang. Tidak ada orang dewasa yang akan membantu andai sesuatu terjadi.
“Benarkah? Aku bisa memegang zebra?” tanya Hadi tidak sabar. Hendra mengiyakan.
Aku merasa bangga setiap kali Hadi menyebut nama hewan yang dilihatnya dengan benar. Dia telah menghapal semuanya dengan baik. Dira berusaha mengulang setiap nama hewan yang diucapkan oleh kakaknya. Tetapi selebihnya dia hanya tertawa saja melihat hewan yang datang mendekati kaca mobil karena penasaran.
Ketika kami memasuki lokasi berikutnya, aku melihat ke arah Hendra dengan khawatir. Dia mengerti dan menunjuk ke arah tombol yang ada di pintu. Dia sudah mengamankan tombol kaca jendela agar anak-anak tidak sengaja membukanya. Kami sedang berada di bagian hewan liar. Walaupun aku suka melihat harimau dan singa dari dekat, aku tidak mau mengambil risiko yang bisa membahayakan nyawa anak-anakku.
Tempat pertama yang kami datangi adalah lokasi khusus panda. Hadi bersorak senang melihat hewan berambut putih dan hitam itu dibawa mendekati kami. Sesuai janji, dia juga boleh memberi mereka makan. Petugas yang menyediakannya. Dira tertawa sendiri dalam pelukan Hendra setiap kali dia menyentuh kepala mereka. Hanya sesaat, dia langsung menarik tangannya kembali.
Aku ingin melarang tetapi aku tidak tega melihat wajah bahagianya. Jadi, saat Hadi meminta Hendra membelikan sebuah boneka panda untuknya, aku mengizinkan. Kami juga mengunjungi tempat di mana ada anak-anak hewan yang masih kecil. Hal itu mengingatkan aku pada anak anjing di vila. Entah mengapa aku jadi kasihan kepadanya karena ditinggal sendirian.
“Papa, banyak sekali burung di tempat ini!” sorak Hadi saat kami berada di tempat berikutnya. Seorang petugas mengikuti kami dari tempat masuk untuk menjawab semua pertanyaan putraku.
Aku sangat bersyukur dari awal kami tiba di tempat ini, Dira tidak sekali pun memintaku untuk menggendongnya. Aku tidak yakin aku akan sanggup membawanya ke sana kemari seharian. Hendra benar-benar ayah yang baik. Dia kini bisa akrab dengan anak-anak bahkan tanpa kehadiran Ara, ah, maksudku anak anjing itu.
Bagasi mobil penuh dengan boneka binatang milik Hadi dan Dira. Aku menatap Hendra penuh protes. Kami bertengkar hebat saat dia akan membelikan boneka ketiga untuk kedua anak kami. Tetapi Dira yang tertawa di sela-sela perdebatan kami meluluhkan hatiku. Ke mana aku akan meletakkan semua boneka itu nanti di rumah kami?
Untuk makan malam, Hendra tidak membawa kami ke rumah. Kami mampir ke sebuah restoran yang cukup unik. Dia sudah memesan meja yang ada di tengah-tengah kolam, namun aku menolak. Udara malam semakin dingin dan aku tidak membawa jaket untukku maupun anak-anak. Dia tidak menolak saat aku meminta kami duduk di salah satu meja yang ada di lantai dasar.
Hadi ingin makan piza, maka Hendra memesan berbagai makanan khas barat. Piza, burger, spageti, dan salad. Makanan yang disajikan ternyata sangat enak, tidak mengecewakan seperti kebanyakan restoran serupa. Atau bisa jadi yang Hendra pilih adalah menu terbaik mereka. Dia pasti sudah sering makan di sini saat berlibur.
__ADS_1
Mengingat ucapannya bahwa dia menginap di vilanya sebulan sekali untuk berlibur, membuatku bertanya-tanya. Apa dia pernah berkencan dengan seorang wanita ke restoran ini? Atau menginap berdua dengan seorang perempuan di vilanya? Ah, untuk apa aku memikirkan itu? Kami sudah tidak bersama lagi. Dia berhak untuk berkencan dengan siapa saja yang dia mau.
“Ada apa? Apakah makanannya tidak enak?” tanya Hendra. Aku menoleh ke arahnya, lalu menggeleng pelan. “Kamu bisa pesan makanan lain jika ada yang kamu suka.”
“Tidak. Ini sudah cukup. Makanannya enak.”
“Zahara?” Seseorang menyebut namaku. Aku mengangkat kepalaku dan melihat Dicky berdiri di belakang Dira. “Ah, benar. Ini kamu. Hai, Hadi, Dira.” Dia mengusap kepala putriku. Dira mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang menyentuhnya, lalu berteriak panik. Sebelum aku melakukan apa pun, putriku mengejutkanku.
“Papa! Papa!” Dia mengulurkan tangannya kepada Hendra. Papanya segera mengangkatnya dari tempat duduknya dan memangkunya. Dia melihat sesaat ke arah Dicky lalu membenamkan wajahnya di dada Hendra. Pria ini benar-benar tidak mengerti kata tidak.
“Aku sudah bilang, jangan sentuh putriku. Dia tidak suka dekat dengan orang asing,” kataku tidak suka. Dicky mengangkat kedua tangannya meminta maaf.
“Siapa pria ini, Za?” tanya Hendra dengan nada suara dinginnya. Aku menelan ludah dengan berat.
“Ah, maafkan kelancanganku.” Dicky mengulurkan tangannya. “Namaku Dicky. Kamu? Ah, sebentar, sebentar. Aku tahu wajah itu. Kamu Mahendra Perkasa, benar? Pengusaha sukses itu.” Hendra tidak mengalihkan pandangannya dariku.
“Kami sedang makan bersama, dan putriku ketakutan. Bisakah tinggalkan kami? Aku ingin Dira menghabiskan makanannya dengan tenang,” kataku sesopan mungkin. Dia melihat ke arah putriku yang masih nyaman dalam pelukan ayahnya.
“Baiklah. Aku hanya ingin menyapa kalian. Aku duduk di sana bersama teman-temanku.” Dia menunjuk ke arah di mana teman-temannya berada. Mereka melambaikan tangan kepadaku. Tidak ada Helmut di antara mereka. “Sampai nanti. Daah, Hadi. Hendra.” Dia menepuk bahu Hendra.
“Daah, Om,” balas Hadi dengan sopan, lalu dia melanjutkan menikmati pizanya.
Hendra masih menatapku dengan tajam. Apa lagi kesalahanku? Bukan aku yang mengundang pria itu datang mendekati meja kami. Bukan aku juga yang mengizinkan dia menyentuh putriku. Dan jika dia lupa, dialah yang membawa kami ke restoran ini. Aku menundukkan wajahku, tidak bisa melawan tatapannya. Sepertinya nyawaku dalam bahaya malam ini.
__ADS_1