
~Za~
Setelah makan malam seorang diri di ruang makan, aku kembali ke ruangan khusus untukku. Tetapi aku hanya bisa duduk sebentar dan harus segera mematikan laptop karena terdengar bunyi mobil datang dari arah depan rumah. Aku tidak akan bisa lagi kembali ke ruangan ini sampai Hendra sudah pergi lagi ke kantor besok pagi.
“Hai, sayang. Kamu cantik sekali,” ucap Hendra dengan wajah bahagia melihat aku membukakan pintu rumah untuknya. Dia melingkarkan tangannya di pinggangku lalu mengecup bibirku. “Apa kamu sudah makan malam?”
“Sudah. Kamu?” Aku balik bertanya. Suamiku mengangguk riang. Dia memberikan sebuah buket mawar merah kepadaku. Dia tahu bahwa itu bunga kesukaanku.
“Terima kasih.” Aku menerimanya, kemudian mencium aromanya yang harum.
Buket itu aku berikan kepada Yuyun yang berdiri di dekatku untuk ditaruh di dalam vas bunga dan diletakkan di kamar kami. Merasakan Hendra tidak menarik tangannya dari pinggangku, aku tahu bahwa dia ingin aku ikut bersamanya ke kamar. Kami beriringan menaiki tangga menuju lantai atas.
“Apa ada masalah selama aku pergi?” tanyanya saat kami menaiki tangga.
“Tidak. Semuanya terkendali,” jawabku santai.
“Bagus. Aku mendapatkan kontrak selama dua tahun untuk proyek baru Xavier di Indonesia. Dia kecewa kamu tidak bisa ikut bersamaku. Annora mencarimu.” Dia menatapku sesaat.
“Kamu sudah sampaikan permintaan maafku?” Aku tidak melihat ke arahnya.
“Sudah. Dan mereka tidak puas.” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Kamu tahu bahwa aku benci naik pesawat dan sebisa mungkin menghindari bepergian jauh,” ucapku setengah berbohong. Aku membenci pesawat tetapi aku suka bepergian.
“Aku tahu. Tapi sebelumnya kamu tidak keberatan. Karena itu Annora protes keras,” lapornya sambil mendesah pelan. Aku hanya diam. “Bagaimana dengan pertemuan bersama teman-temanmu tadi siang? Darla masih menjadi teman yang terbaik?”
“Iya. Lindsey dan Qiana tidak berhenti menggodaku, Darla membelaku seperti biasanya,” ucapku senang. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Menjadi yang paling muda, memang harus siap menjadi bahan olokan.”
Hendra membuka pintu kamar dan mempersilakan aku masuk lebih dahulu. Dia duduk di tepi tempat tidur dan aku berdiri di antara kedua kakinya. Aku menolong melepaskan ikatan dasinya. Pria itu melingkarkan tangannya di pahaku dengan kepala terangkat agar bisa melihat wajahku dengan saksama. Aku tersenyum sambil melepaskan simpul dasinya.
“Kamu mau mandi sekarang? Aku akan siapkan air panasnya.” Aku membuka kerah kemejanya setelah berhasil membuka simpul dasinya.
“Kamu masih marah kepadaku.” Dia menarikku mendekat. Aku meletakkan kedua tanganku di bahunya. Aku mengerutkan kening, tidak mengerti mengapa dia mengatakan itu. “Kamu tidak mau ikut denganku ke London bukan karena kamu takut naik pesawat.”
“Kejadian itu sudah dua tahun yang lalu, Za. Aku mohon. Aku tahu bahwa aku hampir tidur dengan wanita lain dan aku mengaku salah. Tidak ada alasan yang bisa aku katakan untuk membenarkan perbuatanku itu,” akunya pelan. “Tidak bisakah kamu memaafkan aku dan berhenti menghukumku dengan menjauh dariku? Aku tidak bisa jauh darimu, sayang.”
“Kita sudah membahas ini,” potongku cepat. Aku berusaha lepas dari rangkulannya. Pria itu malah mempererat lingkaran tangannya.
“Iya. Dan itu tidak membuatmu berhenti marah kepadaku. Katakan, apa yang harus aku lakukan untuk bisa mendapatkan maafmu?” ucapnya memohon.
Terdengar ketukan pada pintu kamar kami. Tanpa melepaskan pelukannya, Hendra mempersilakan masuk. Liando datang membawa koper tuannya, Hendra memintanya meletakkan di dekat pintu. Yuyun juga datang membawa vas bunga kristal berisi air dan bunga mawar, dia juga memintanya meletakkannya di dekat pintu.
__ADS_1
Mereka dipersilakan untuk beristirahat karena pekerjaan mereka untuk hari ini sudah selesai. Liando dan Yuyun pamit dan menutup pintu kamar kembali. Setelah kami hanya tinggal berdua saja di dalam kamar, dia melihat ke arahku.
“Aku mencintaimu, Za. Aku sayang kepadamu. Aku ingin kamu bahagia.” Dia mencium tepat di bagian tengah dadaku lalu meletakkan kepalanya di sana. “Aku tidak suka melihatmu marah. Berhentilah marah, sayang. Maafkan aku. Aku janji tidak akan pernah mengulanginya lagi. Dan kamu tahu sendiri, aku setia kepadamu sampai detik ini.”
“Ketika kamu dikhianati, meskipun hanya satu kali, rasanya sama-sama menyakitkan, Hendra,” ucapku dengan nada serius.
Dua tahun yang lalu kami bertengkar hebat. Kedua orang tuaku berkunjung ke rumah dan kami berdebat seperti biasanya. Papa marah karena aku masih menyebut nama Aldo. Setelah empat tahun menikah dengan Hendra, Papa marah karena aku masih memikirkan laki-laki lain yang bukan suamiku. Untuk melawan ucapannya, aku mengatakan sesuatu yang hanya diketahui oleh mereka berdua tetapi tidak pernah mau aku akui.
Aku tidak mencintai suamiku hingga pada hari itu. Dugaan Papa salah saat dia mengatakan bahwa waktu akan menumbuhkan rasa cintaku kepada Hendra karena hingga saat itu, aku tidak merasakan apa pun selain marah, jijik, dan benci kepadanya. Pada saat itulah suamiku masuk ke ruangan.
Kami makan malam dengan suasana yang canggung. Papa dan Mama bergantian berusaha untuk membuka pembicaraan dan Hendra melayani mereka dengan baik. Mereka berbincang seolah-olah tidak ada yang terjadi sebelum kami makan.
Namun begitu kedua orang tuaku pulang, Hendra menarikku ke kamar dan memintaku bicara dengan jujur. Aku mengatakan secara terbuka kepadanya bahwa aku tidak mencintainya. Wajahnya begitu terluka, dia keluar dari rumah dan tidak pulang pada malam itu.
Pada keesokan malamnya, dia pulang ke rumah tetapi tidak mau melihat ke arah wajahku sama sekali. Aku tidak protes. Dan untuk pertama kalinya, kami berbaring di tempat tidur dengan saling memunggungi. Begitu dia tidur, aku memeriksa pakaiannya yang ada di lantai kamar mandi. Tidak ada yang aneh. Aromanya adalah aroma suamiku.
Tidak puas dengan itu, aku menemui sopirnya. Pria itu memberitahuku ke mana tuannya pergi, di mana dia tidur pada malam sebelumnya, dan dengan siapa. Jantungku nyaris berhenti berdetak. Suamiku membawa wanita lain ke kamar hotel. Aku mempersilakan pria itu kembali ke kamarnya dan aku juga melakukan hal yang sama.
Kembali ke kamar, aku melihat Hendra duduk di tepi tempat tidur. Wajahnya pucat pasi dan penuh rasa bersalah. Aku hanya berdiri bersandar pada pintu kamar kami setelah menutupnya. Aku memejamkan mata tidak mau melihat ke arahnya.
Benar, aku tidak mencintainya. Tetapi pengkhianatannya tetap menghancurkan hatiku. Semua janji dan kata-kata cinta yang diucapkannya sampai pada hari itu menjadi tidak berarti. Dia tidak lagi secara eksklusif memberikan tubuhnya kepadaku. Dia telah membaginya dengan wanita lain.
__ADS_1
Setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh Aldo, aku berharap Hendra tidak akan pernah melakukan hal yang sama. Tetapi lagi-lagi aku salah. Semua laki-laki sama saja.
Tanpa bisa aku tahan, aku menangis tersedu-sedu. Kedua kakiku tidak sanggup lagi menahan berat tubuhku, aku meluncur duduk di lantai. Dadaku sesak dan nyeri. Aku tidak tahu bagaimana cara mengurangi rasa sakitnya. Aku memeluk kedua lututku dengan erat. Semua yang mengatakan cinta kepadaku adalah pembohong. Pada akhirnya, mereka akan berkhianat dan memilih untuk hidup bersama wanita lain. Aldo telah melakukannya. Hendra juga akan melakukan hal yang sama.