
Tetapi tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku telah lama memberikan hatiku kepada pria lain. Tidak semudah itu memalingkan hatiku kepada pria baru sekalipun pria itu adalah suamiku sendiri. Tidak peduli apa pun yang Hendra lakukan, aku tidak akan bisa mencintainya. Bukan. Aku tidak akan mau mencintainya. Aku merapatkan bibirku. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutku.
Aku memejamkan mata ketika suamiku menyeka air mata dari pipiku. Lalu sebuah ciuman mendarat di kelopak mataku, di kedua pipiku, dan berakhir di bibirku. Ciumannya penuh cinta, penuh harap, penuh janji, tidak berubah sejak pertama kali dia menciumku.
“Jam sebelas aku tunggu di ruang kerjaku. Ada berkas yang harus kamu tanda tangani. Setelah selesai, rumah akan segera menjadi milik keluargamu lagi, Mama akan segera mendapat biaya operasi jantungnya, dan Zach lepas dari kesepakatannya bersama para mafia itu.”
Aku menatapnya tidak percaya. Hendra sedang menatapku dengan serius. Berkas yang harus aku tanda tangani? Jantungku mulai berdebar dengan kencang. Sejak kapan kami tidak lagi saling memercayai ucapan masing-masing? Sejak kapan kami membutuhkan surat kesepakatan yang harus ditandatangani?
Oh, Tuhan. Hendra sudah tidak percaya lagi kepadaku. Suamiku kini membutuhkan sebuah berkas untuk memastikan bahwa aku melakukan apa yang aku janjikan. Tubuhku kembali bergetar. Menjadi pihak yang tidak berdaya benar-benar menakutkan.
“Baik,” ucapku dengan suara bergetar. Tatapannya melunak.
“Lalu kita akan makan siang bersama sebagai perayaan,” ucapnya lembut.
“Makan siang bersama?” Aku mengerutkan kening. Perayaan apa yang perlu dimeriahkan dengan makan siang bersama? Hanya dia yang akan bahagia dari penandatanganan kesepakatan itu.
“Iya. Apakah kamu keberatan?” tanyanya. Aku menggeleng cepat, tahu bahwa aku tidak berada pada posisi untuk protes atau menyampaikan pendapatku. “Ayo, kita sarapan.”
Dia menggandeng tanganku menuju ruang makan di lantai bawah. Sarapan untuk kami telah tersaji di atas meja makan. Melihat hanya ada kami berdua di dalam ruangan itu, aku mendesah lega. Aku sedang dalam keadaan yang kacau dan tidak mau siapa pun melihatku dengan wajah tidak bahagia.
Kalau biasanya makanan buatan Yuyun begitu lezat, kali ini aku tidak bisa menikmatinya. Aku harus memaksakan diri untuk mengunyah dan menelan makanan yang ada di dalam mulutku. Aku merasa lega karena Hendra tidak mengajakku bicara. Aku juga memilih untuk diam. Tidak ada hal yang bisa aku katakan lagi. Bila aku ingin Mama segera dioperasi dan Zach lepas dari komplotan mafia itu, aku membutuhkan Hendra. Dan keluargaku membutuhkannya.
Aku menahan diri untuk tetap berdiri di depan pintu mengantar kepergian suamiku, aku meremas kedua tanganku dengan erat. Aku bergegas masuk ke dalam rumah begitu mobil Hendra telah keluar dari gerbang rumah kami. Cepat-cepat aku menaiki tangga menuju lantai atas.
Aku segera membuka laci meja di mana biasanya aku menyembunyikan obat pencegah kehamilanku. Aku tidak menemukan satu tablet pun di dalamnya. Tidak mengherankan. Aku memeriksa semua laci dan lemari. Di bawah tempat tidur, juga tidak ada tanda-tanda obat tersebut.
__ADS_1
Aku memeriksa ruang pakaian hingga ke seluruh sudut-sudut penyimpanan rahasia. Nihil. Tidak ada satu tablet obat pun yang ditinggalkan suamiku. Belum menyerah, aku memeriksa kamar mandi. Setelah memeriksa semua sudut di dalam ruangan itu, aku tidak menemukan apa pun.
Pandanganku kemudian teralih pada tempat sampah yang ada di bawah wastafel. Aku membuka tutup tempat sampah tersebut dan melihat papan obat yang telah kosong. Tidak ada satu tablet pun yang tersisa. Bahkan tablet dari stok obat yang aku simpan di tempat rahasiaku juga dibuang.
“Tidak,” ucapku lemas.
Aku terduduk di lantai. Tanganku menyentuh perutku. Tidak. Aku tidak ingin mempunyai anak. Aku tidak ingin selamanya terpenjara dalam pernikahan tanpa cinta. Ini bukan jenis kehidupan yang ingin aku berikan kepada anakku. Dia tidak boleh tahu bahwa mamanya tidak pernah mencintai papanya. Berbohong kepada makhluk kecil yang begitu polos hanya akan membuat aku semakin tersiksa. Dan aku sudah lelah hidup di dalam kepura-puraan.
Aku menutup wajah dengan kedua tanganku. Aku menangis sepuasnya dan berhenti setelah tidak ada lagi air mata yang menetes. Lelah dengan emosional yang naik turun dengan drastis, aku memilih untuk berbaring di tempat tidur. Aku membiarkan rasa kantuk menguasai diriku dan merebut kesadaranku.
Saat terbangun, aku nyaris menangis membayangkan aku harus pergi menemui suamiku. Aku tidak ingin menemuinya. Tetapi aku harus. Aku masuk ke kamar mandi dengan langkah terseret dan memaksa diriku untuk berdiri di bawah pancuran.
Suasana hatiku sedang tidak baik, maka aku memutuskan untuk memakai pakaian kasual untuk menghindari pemakaian riasan yang lengkap. Aku memakai kemeja putih lengan pendek dan celana jins biru panjang, dilengkapi dengan blazer berwarna cokelat gelap. Setelah memakai bedak wajah dan lipstik, aku keluar dari kamar.
Turun ke lantai bawah, aku melihat Abdi melintas dari pintu depan menuju ke bagian belakang rumah. Aku memberitahunya bahwa aku akan keluar. Pria itu menunduk mengerti. Aku menuju garasi dari pintu samping dan melihat Liando sedang membersihkan mobilku.
“Selamat siang. Terima kasih sudah membersihkan mobilku.” Aku berusaha tersenyum kepadanya.
“Sama-sama, Nyonya.” Liando membukakan pintu mobil bagian belakang untukku. Aku menatapnya bingung. Aku segera membuka tas dan mencari kunci mobilku. “Tuan memberikan kunci mobil Anda kepada saya pagi tadi.”
“Apa?” Pandanganku teralih pada kunci mobil yang dipegang Liando. “Berikan kuncinya kepadaku.”
“Maaf, Nyonya. Tuan memerintahkan saya untuk mengantarkan Anda ke tujuan siang ini.” Dia menjauhkan kunci itu dari jangkauanku dan masih berdiri di samping pintu yang terbuka.
“Aku bisa menyetir sendiri. Terima kasih,” tolakku halus.
__ADS_1
“Tidak untuk hari ini, Nyonya.” Dia bersikeras. Aku bisa merasakan amarahku mulai naik.
“Aku juga majikanmu, Liando. Bukan hanya perintah Hendra yang perlu kalian dengarkan,” ucapku dengan serius. “Berikan kuncinya kepadaku.”
“Maafkan saya. Tapi tidak, Nyonya.” Dia sama sekali tidak takut kepadaku. Bagus sekali.
“Kamu ….” Ucapanku terhenti karena ponsel di dalam tasku bergetar. Aku menghembuskan napas dengan kesal membaca nama Hendra pada layar ponsel. “Ya?”
“Aku yang meminta Liando mengantarmu ke kantorku. Masuk ke mobil sekarang dan jangan beri dia kesulitan. Aku menunggumu di ruanganku,” ucap Hendra dengan tegas.
“Tapi,” Bagaimana dia bisa tahu? Aku melihat ke sekelilingku. Apakah Yuyun atau Abdi yang mengadu kepadanya? Aku adalah nyonya di rumah ini, tetapi hanya perintah suamiku yang didengar.
“Apa aku perlu datang dan menjemputmu sekarang?” Aku merapatkan bibirku mendengar kalimat suamiku tersebut. “Aku anggap sikap diammu sebagai iya. Sampai jumpa di kantorku.”
Tanganku meremas kuat ponsel yang ada di dalam genggamanku. Ponsel itu aku masukkan kembali ke dalam tas. Aku masuk ke dalam mobil tanpa mengatakan apa pun lagi. Liando mengendarai mobil menuju kantor suamiku secepat yang dia bisa.
Aku hanya bisa cemberut sepanjang perjalanan karena kesal dengan keberpihakan para pekerja kami. Aku tidak menunggu sampai Liando memutar untuk membukakan pintu mobil begitu kami tiba di depan gedung perkantoran di mana perusahaan milik keluarga suamiku berada. Aku segera keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju pintu masuk utama.
Aku seharusnya tidak terkejut melihat seorang wanita menyambutku dan menemaniku naik elevator. Wanita tersebut mengantarku sampai masuk ke dalam sebuah ruangan yang sudah aku kenal sebagai ruang kerja suamiku.
Hendra tidak sendirian di dalam ruangannya. Pengacara keluarga kami juga ada di sana. Kedua pria itu berdiri ketika aku berjalan masuk mendekati mereka. Pak Oscar mengulurkan tangannya, aku menjabat tangannya sesaat. Hendra mempersilakan aku untuk duduk di sisinya, sedangkan Pak Oscar duduk di seberang dengan meja ada di antara kami.
“Terima kasih sudah datang, Bu Mahendra. Bapak meminta saya untuk membuatkan sebuah surat perjanjian untuk Anda berdua tanda tangani.” Pak Oscar meletakkan sebuah map di depanku. “Silakan Ibu baca dahulu.”
Aku melihat ke arah Pak Oscar dan Hendra secara bergantian. Aku mengambil map tersebut dan membukanya. Surat tersebut berisi perjanjianku bersama suamiku mengenai tugas dan tanggung jawabku sebagai seorang istri, tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang suami, mengenai hak anak-anak, dan larangan yang tidak boleh aku dan Hendra langgar sebagai suami istri.
__ADS_1
Secara spesifik Hendra memasukkan poin mengenai pelunasan utang keluargaku dan pemberian perlindungan dari pihak mana pun yang berusaha menyakiti atau merugikan kami. Intinya, aku hanya perlu menjadi istri yang baik dan dia akan melindungiku dan keluargaku dari masalah apa pun.