
“Kalian melakukan perjalanan ke Sabang dan tidak mengajak kami serta?” protes Qiana saat kami makan siang bersama pada hari itu.
Bukannya memedulikan protesnya, aku malah semakin memanasinya dengan menggambarkan betapa indahnya pulau itu dengan pantai, laut, dan pemandangan dalam lautnya yang tidak bisa ditandingkan dengan apa pun.
“Sudah, sudah,” lerai Darla. “Kita bisa menyelam bersama nanti setelah pernikahan putriku di Bali. Kalian mau tinggal di hotel berapa lama? Satu hari? Dua hari?”
“Oh, Darla. Kamu adalah yang terbaik.” Qiana dan Lindsey memegang tangannya yang ada di atas meja dengan riang. Aku hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Kita tidak pernah berlibur bersama, jadi mengapa kita tidak menggunakan momen itu untuk bersenang-senang?” kata Darla dengan wajah ceria.
“Untung saja pernikahan itu dilangsungkan dua minggu setelah kami kembali dari Amerika. Jadi aku tidak akan jet lag lagi,” ucap Lindsey senang. “Jika ada barang atau makanan yang kalian inginkan untuk kami bawa dari sana, tolong beritahu aku.”
“Apakah kamu bisa membawa pulang Brad Pitt untukku?” pinta Qiana yang mengundang tawa kami semua. “Atau Richard Gere juga boleh.”
“Jangan sampai suamimu tahu dan mendengar permintaanmu itu, Qiana. Atau mereka akan minum kopi bersama lagi dan menggosipkan kita,” canda Darla. Kami kembali tertawa bersama. Hendra menceritakan segalanya ketika dia pulang dari pertemuan para suami tersebut. Dan mereka sama sekali tidak membahas mengenai para istri melainkan hobi dan pekerjaan mereka.
Aku menatap mereka satu-persatu. Uang yang mereka miliki pasti berlimpah, tetapi apakah mereka bisa dipercaya untuk menyimpan masalah keluargaku juga pernikahanku? Darla adalah wanita yang baik dan sepertinya dia seorang sahabat yang bisa diandalkan. Namun aku tidak sepenuhnya percaya dia tidak akan menggunakan kelemahanku untuk menjatuhkan aku suatu hari nanti.
Bagaimana kalau mereka malah mengejekku dan menghina Hendra karena urusan keuangan orang tuaku tidak bisa kami tangani sendiri sehingga melibatkan orang lain? Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa agar bisa mendapatkan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat.
Usai makan siang bersama mereka, aku menuju salon karena akan menemani Hendra menghadiri sebuah undangan ulang tahun salah satu rekan bisnis ayah mertuaku. Karena Papa dan Mama juga akan menghadirinya, aku tidak perlu khawatir akan merasa kesepian.
Hendra menjemputku di rumah dan aku sudah siap dengan gaun ungu gelap berkerah sabrina yang panjangnya menutupi hingga mata kakiku. Aku memakai salah satu gelang berlian pemberiannya dan sepatu berhak tinggi berwarna emas. Aku tertawa mendengarnya bersiul pelan. Dia mandi dan berganti pakaian secepatnya, kemudian kami pergi ke lokasi acara.
Sepanjang acara berlangsung, dia tidak pergi dari sisiku walaupun hanya untuk beberapa saat. Mama sampai tidak bisa mengajakku berbincang berdua saja dengannya. Akhirnya, kami berbincang berdua, sedangkan Hendra berdiskusi dengan lawan bicaranya dengan tangannya tetap memegang tanganku.
__ADS_1
“Apakah terjadi sesuatu saat kalian berlibur?” tanya Mama heran. Aku tertawa kecil.
“Tidak, Ma. Kami hanya bersenang-senang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mungkin Hendra hanya tidak mau ada pria lain yang mencoba mengajakku mengobrol berdua saja di sini.” Aku melirik ke arahnya yang sedang mengulum senyum.
“Aku hanya ingin bicara dengan menantuku, masa tidak boleh. Apa aku terlihat seperti seorang pria yang akan membawa lari istrinya darinya?” kata Mama bercanda. Karena pria yang tadi bicara dengannya sudah bergabung dengan grup lain, Hendra melingkarkan kedua tangannya di tubuhku.
“Walaupun Mama adalah ibu mertuanya, Mama tetap harus mendapatkan izinku, suaminya, untuk bisa menghabiskan waktu dengannya,” ucap Hendra setengah bercanda.
“Besok kami akan berbelanja bersama. Aku ingin membeli beberapa keperluan. Kamu tidak akan menghalangiku untuk membawa istrimu bersamaku, ‘kan?” Mama menatap suamiku dengan serius.
“Tentu saja tidak. Mama boleh berbelanja dengan menantu Mama besok.” Hendra tertawa kecil. “Tetapi jangan buat istriku kelelahan. Mama mengerti, ‘kan, maksudku?” Aku segera memukul lengannya begitu memahami maksudnya tersebut. Mama hanya tertawa.
Mama datang ke rumah pada keesokan harinya menjemputku di rumah. Dan aku sangat terkejut melihat mama kandungku juga ikut berbelanja bersama kami. Aku duduk di antara mereka berdua. Kami membicarakan banyak hal bersama selama dalam perjalanan menuju mal.
Kami memasuki butik demi butik sampai menemukan semua barang yang Mama cari. Ibu mertuaku juga membelikan beberapa pakaian dan sepatu untuk ibu kandungku. Aku sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama mereka. Namun mengingat kondisi Mama, aku berpura-pura masih lelah karena baru mengikuti acara pada malam sebelumnya.
“Jangan bilang Mama sudah membuat istriku kelelahan sepanjang hari ini dengan berkeliling semua butik di mal,” ucap Hendra yang memasuki ruang keluarga di mana kami berada.
“Kami sudah berada di sini sejak siang tadi. Kamu jangan menuduh ibumu sendiri sembarangan begitu,” kata Mama pura-pura protes. Hendra mengecup bibirku kemudian memberikan sebuah buket bunga kepadaku. Mawar merah.
“Aku tidak mendapatkan buket juga?” tanya Mama saat Hendra mencium pipinya.
“Mama minta kepada suami Mama, jangan kepadaku.” Hendra tertawa lalu duduk di sisiku. Mama mengambil ponselnya yang bergetar yang ada di atas meja.
“Papamu panjang umur.” Mama tersenyum kemudian menjawab panggilan tersebut.
__ADS_1
“Apakah kamu bersenang-senang hari ini?” tanya Hendra kepadaku. Aku menganggukkan kepalaku.
“Mama juga tadi ikut bersama kami,” ucapku senang.
“Mama kamu?” ucapnya memastikan. Aku menganggukkan kepalaku. “Pasti menyenangkan sekali bisa berbelanja dan makan siang bersama mereka.”
“Iya. Kamu tidak akan percaya berapa banyak pakaian yang dibelikan mamamu untuk mamaku,” bisikku. Hendra tertawa kecil.
“Baiklah, aku tidak akan mengganggu kalian yang sedang dimabuk asmara.” Mama memasukkan ponselnya ke dalam tas. Kami menoleh ke arahnya. “Papamu sudah sampai di rumah dan memintaku segera pulang.”
Kami mengantar Mama sampai di pintu depan dan menunggu sampai mobilnya keluar dari pekarangan, lalu kami masuk ke rumah. Aku mempersilakan Hendra untuk mandi lebih dahulu, sedangkan aku merapikan barang-barang belanjaanku tadi.
Aku membeli dua buah dasi untuk suamiku, aku memasukkannya ke dalam laci khusus dasinya dan meletakkannya di tempat yang masih tersedia. Mendengar bunyi air di kamar mandi sudah berhenti, aku mengambil pakaian gantiku dan memasuki kamar mandi saat Hendra keluar.
Dia benar-benar pria yang rapi. Pakaian kotornya tidak diletakkan begitu saja di lantai kamar mandi tetapi dimasukkan ke dalam keranjang pakaian kotor. Aku meletakkan pakaian gantiku di konter dan bersiap untuk mandi. Tidak seperti Hendra yang suka mandi air panas, aku lebih suka mandi dengan suhu air yang normal. Aku menurunkan suhu air pancuran.
“Sayang, apa kamu tahu di mana jam tanganku pemberian Xavier?” Terdengar suara Hendra dari balik pintu kamar mandi. “Aku ingin memakainya besok.”
“Di dalam kotaknya. Kamu yang menyimpannya sendiri,” jawabku dari bawah pancuran. Setelah selesai membersihkan seluruh sisa busa sabun, aku mematikan air dan keluar dari ruang pancuran.
“Sudah aku periksa, tidak ada di dalam kotak,” ucap Hendra khawatir. Aku berpikir sejenak. Di mana lagi dia meletakkan barang-barangnya?
“Mungkin di dalam laci nakas?” ucapku memberi saran.
“Sudah aku periksa juga,” jawab Hendra sambil mendesah pelan. Aku kembali memikirkan tempat lain di mana aku pernah melihat barang pribadinya. “Tapi akan aku periksa lagi.”
__ADS_1
Aku memulas krim malam ke wajah dan leherku. Perlahan aku menyisir rambut. Lalu tanganku berhenti, aku teringat sesuatu. Oh. Tuhan. Aku segera meletakkan sisir di atas wastafel dan keluar dari kamar mandi. Aku melihat Hendra sedang berdiri di sisi tempat tidurku sambil memegang satu papan obat pencegah kehamilan milikku. Aku menelan ludah dengan berat.
“Mengapa, Za?” tanya Hendra dengan nada terluka.