
Aku menitipkan anak-anak di rumah orang tuaku sebelum pergi ke rumah Lindsey untuk bersiap-siap. Penata rias dan rambut sudah siap melakukan tugas mereka. Pada saat memakai gaun, kami dibantu oleh rekan perempuan Irwan.
Mereka memasang mikrofon tanpa kabel dan pemancarnya di tempat tersembunyi pada pakaian dalamku, Rasmi, dan Qiana. Salah satu sisi rambut kami dibiarkan menutupi telinga yang telah disisipi earphone tanpa kabel. Sebuah kamera mini disamarkan menjadi hiasan pada bahu kanan gaunku, batu permata bagian tengah pada mahkota Qiana, dan tas tangan Rasmi.
Meskipun kami sudah menyusun rencana dengan baik, juga mempelajari setiap peran kami tanpa cela, aku tetap gugup. Apalagi aku memegang salah satu peran penting dalam misi serangan balasan ini. Aku tidak pernah bicara dengan Nora sebelumnya, jadi ini adalah tantangan besar untukku.
“Santai saja. Kamu bisa melakukan ini.” Hendra mencium pelipisku sebelum kami keluar dari mobil. Seorang petugas hotel membuka pintu di sisinya. Dia keluar lebih dahulu, mengancing jasnya, lalu mengulurkan tangannya kepadaku. Kilatan lampu kamera segera menyambut kami.
Hendra mengajakku untuk berdiri sesaat dan membiarkan mereka memotret kami. Aku berusaha untuk tersenyum senatural mungkin. Saat seorang wartawan meminta kami untuk berdiri lebih dekat, Hendra melepas gandengan tangannya agar bisa memeluk pinggangku.
Petugas mempersilakan kami masuk setelah foto yang diambil dirasa cukup. Kami diantar menuju pintu masuk aula. Tanpa harus mengisi daftar hadir tamu undangan, kami dipersilakan masuk. Ruangan besar itu telah diisi dengan banyak orang-orang penting yang hanya aku lihat di televisi atau media berita daring. Aku tersenyum melihat ada beberapa kamera televisi juga yang meliput jalannya acara. Bagus.
Keluarga Nora benar-benar bukan orang sembarangan bila orang penting ini bersedia datang ke acara yang mereka adakan. Hendra berjalan menuju meja di mana label nama kami berada dengan sesekali berhenti setiap kali ada yang menyapa dan ingin menjabat tangannya. Mereka tahu bahwa aku tidak akan menjabat tangan mereka, jadi mereka tidak mengulurkan tangan kepadaku.
Rasa gugupku semakin menjadi saat kesempatan untuk melakukan aksi belum juga datang. Kami sudah makan dan acara hiburan masih berlangsung. Saat tamu undangan satu-persatu membawa pasangannya ke depan aula untuk berdansa, Hendra mengulurkan tangannya. Aku menggelengkan kepalaku. Dia tidak menarik uluran tangannya, menunggu sampai aku menerimanya.
Aku mengalah dan membiarkan dia membawaku ke bagian tengah lantai dansa. Para pasangan lainnya memberikan ruang kepada kami. Hendra meletakkan salah satu tangannya di punggungku, sedangkan tangannya yang lain memegang tanganku.
“Aku tidak tahu bahwa dansa adalah bagian dari rencana,” bisikku pelan. Hendra tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku.
“Aku hanya ingin memamerkan kamu di depan semua orang. Kapan lagi aku bisa menunjukkan kepada mereka bahwa kamu jauh lebih menarik daripada pengantin wanita?” Dia mendorong aku menjauh, lalu memutar tubuhku sebelum kembali ke pelukannya lagi. Aku tertawa kecil. “Nah, begitu lebih baik. Jangan tegang, sayang.”
“Terima kasih. Ini sangat menolong.” Karena sudah tidak gugup lagi, aku bisa berdansa dengan nyaman bersamanya mengikuti alunan musik. Tetapi dia sengaja memilih gerakan yang membuat tubuhku menginginkan hal lain yang tidak ada hubungannya dengan pembalasan kami.
“Konsentrasi, sayang. Kita tidak sedang berada di kamar,” bisiknya menggodaku. “Puasa tiga minggu sudah mulai membuatmu hilang kendali?”
“Diam kamu. Jangan memancing amarahku.” Aku merapatkan bibirku saat dia menyentuhkan dadanya ke dadaku, mencegah diriku sendiri mendesah karena rasa nikmat. Tidak berhubungan intim selama beberapa waktu bukanlah masalah. Tetapi bila dia sengaja memberiku aliran listrik begini, ini namanya penyiksaan. “Aku pasti akan membalasmu, Hendra.”
__ADS_1
“Aku dengan senang hati akan menerima hukuman darimu, sayang,” bisiknya dekat di telingaku.
“Hendra, aku mengaktifkan suara untuk merekam percakapan penting.” Terdengar suara Irwan dari earphone yang terpasang di telingaku. “Berhenti membuat seluruh timku mendengar percakapan intimmu dengan istrimu.” Aku dan Hendra spontan tertawa.
“Ini bagian dari misi. Aku menolong istriku agar tidak tegang lagi.” Hendra membela diri.
“Sayang, saatnya sudah tiba. Target keluar dari aula.” Aku melihat Nora berdiri dari kursinya, lalu menuju ke arah pintu. Kami memang belum pernah bertemu, tetapi aku sudah mengenal wajahnya dari video dan foto yang ada di berita.
“Irwan.” Hendra mengajakku kembali ke meja kami.
“Semua sudah pada tempatnya.” Irwan kembali menggunakan suara seriusnya.
Hendra kembali duduk, sedangkan aku berjalan menuju pintu. Aku melihat Darla juga ikut denganku tetapi dia menjaga jarak aman. Irwan memberitahu bahwa Nora menuju toilet wanita. Aku menuju ke sana dengan langkah tenang dan tidak terburu-buru.
Aku memasuki toilet dan menemukan tempat itu tidak ramai. Nora tidak terlihat di mana pun, pasti dia ada dalam salah satu bilik. Aku menggunakan kesempatan itu untuk buang air juga. Saat keluar, aku menuju wastafel dan melihat dia berada di sana dari sudut mataku.
“Maaf, apa kita saling mengenal?” tanyaku sambil mengeringkan tanganku dengan tisu.
“Aku adalah calon istri Mahendra yang dipilih oleh orang tuanya sendiri,” katanya dengan sombong.
“Hendra sudah punya istri, untuk apa lagi Papa dan Mama mencarikannya calon?” tanyaku masih dengan ekspresi bingung.
“Kalian sudah bercerai dan tidak pernah menikah lagi. Kamu bukanlah istrinya, hanya simpanan.” Dia menatapku dari kaki ke kepala. “Lagi pula orang tuanya sudah tidak menganggap kamu sebagai menantu. Apa kamu tidak sadar bahwa kamu hanya mempermalukan keluarga mereka dengan berpura-pura masih menikah dengannya?”
“Maaf, siapa nama kamu?” tanyaku pura-pura tidak tahu. Dia mengangkat kedua alisnya.
“Kamu hidup di hutan? Kamu tidak tahu siapa aku?” katanya tersinggung. “Aku Nora Camillia. Putri dari pemilik Kencana Karya Grup yang punya banyak hotel dan mal di negeri ini. Keluarga Perkasa bahkan membuka beberapa gerai mereka di mal milik kami.” Aku sengaja memintanya menyebut namanya, dia malah menolongku dengan memberi aku nama usaha keluarganya juga.
__ADS_1
“Oh. Maafkan aku. Hendra tidak pernah mengizinkan aku dekat dengan siapa pun atau mengenal rekan-rekan bisnisnya. Karena tugasku menghangatkan ranjangnya setiap malam sudah cukup melelahkan.” Aku memasang wajah menyesal. Seseorang tersedak dan batuk-batuk di earphone.
“Murahan. Mengapa Hendra tidak melihat wanita seperti apa kamu ini sebenarnya? Kamu pasti memelet dia sampai dia tidak bisa lepas darimu.” Dia menggeram pelan. Aku menelengkan kepala dan menatapnya dengan saksama.
“Tunggu sebentar. Kamu jatuh cinta kepada suamiku?” Aku tertawa kecil. “Kamu pikir kamu cukup menarik untuk bisa mengalahkan aku? Dengar, Nona Muda. Hendra mencintai aku bukan baru kemarin sore. Dia memuja aku sejak kami masih sama-sama kuliah. Silakan hitung sendiri sudah berapa tahun hanya ada satu wanita di hatinya.”
Aku menatapnya dari kepala hingga ke kakinya. “Sejak kapan kamu berusaha mendekati dia? Lima tahun adalah waktu yang cukup bila ada perempuan yang mau merebut hatinya. Tetapi lihat apa yang terjadi, Hendra kembali lagi kepadaku.
“Dan kamu tahu? Aku bahkan tidak perlu bersusah payah datang kepadanya dan memintanya untuk kembali. Dia yang datang sendiri. Gadis kecil, kamu bukanlah tandinganku.” Aku tertawa mengejek. “Ah, kamu tahu berita yang akhir-akhir ini viral?”
“Ada apa dengan berita itu? Kamu mau menyangkal bahwa kamu bukan perempuan murahan yang tidur dengan laki-laki lain saat kamu masih istri orang?” tantangnya. Aku tertawa lagi.
“Tidak. Aku memuji otak di balik rencana itu. Dia hampir berhasil menghancurkan pernikahanku dan suamiku.” Aku mendesah pelan untuk mendramatisir. “Bila kamu memang ingin mendapatkan dia, belajarlah darinya. Tetapi aku tidak yakin kamu akan melakukan apa pun untuk bisa menjadi istri Hendra. Iya, ‘kan? Reputasi keluargamu jauh lebih penting.” Aku melenggang menuju pintu.
“Aku sanggup melakukan apa pun untuk mendapatkan Hendra, Zahara.” Kalimat itu menghentikan langkahku. “Kamu kehilangan janinmu, tetapi kamu akan kehilangan salah satu anakmu bila kamu tidak juga pergi darinya.”
“Apa maksudmu?” Aku membalikkan badan agar bisa melihat ke arahnya. Dia tersenyum. “A-apa kamu yang merencanakan semua itu? Yang memberikan rekaman aku dan Vivaldo di hotel kepada Dicky adalah kamu?” Aku menahan diri untuk tidak terpancing emosi.
“Bukan hanya itu. Aku juga yang mendapatkan ide untuk membuat hasil tes palsu tersebut. Kamu bisa lolos, tetapi pada hasil tes selanjutnya, tidak akan ada yang bisa menyangkal bahwa Dira adalah putri kandung Dicky.” Dia tertawa senang. “Aku mau lihat. Apa kalian masih tetap bersama setelah Hendra tahu bahwa putri kecilnya itu ternyata punya ayah kandung yang lain?”
“Hendra adalah ayah kandung Dira,” kataku dengan tegas.
“Kalian berpisah selama lima tahun, lalu mendadak gadis itu muncul entah dari mana. Siapa yang akan percaya bahwa dia adalah anak Hendra? Kamu sedang dekat dengan Dicky pada saat itu, maka lebih masuk akal bila dia adalah ayahnya.” Dia mendekati aku. “Dicky akan memperjuangkan hak asuhnya atas Dira. Bersiap-siaplah, Zahara.”
“Kamu tidak akan berhasil, Nora. Hendra mungkin akan meninggalkan aku. Tetapi dia tidak akan memilih wanita seperti kamu untuk menjadi istrinya. Apalagi jika dia tahu kamu yang merencanakan semua ini.” Badanku bergetar dengan hebat. Mengapa anak-anakku dilibatkan lagi?
“Tidak akan ada yang pernah tahu. Aku yang membujuk Dicky menyebar rekaman CCTV itu, supaya semua orang tahu wanita seperti apa kamu ini. Aku yang mengubah hasil tes itu. Oh, dan aku juga yang mendorong kedua pria itu untuk mendekatimu.” Dia tertawa penuh kemenangan. “Silakan saja kalau kamu mau memberitahu semua itu kepada Hendra. Tidak akan ada yang percaya kepadamu.”
__ADS_1