
Ara berdiri di antara aku dan Gerhard dengan muka sangar. Dia menggonggong begitu keras diikuti dengan geraman marahnya. Aku tidak pernah melihat dia semarah itu sebelumnya. Ara adalah anjing yang baik dan ramah kepada semua orang.
“Apa ini, Zahara? Mengapa ada anjing di rumah ini?” tanya Gerhard panik. Dia hanya berdiri diam di tempat, tidak berani bergerak. “Pergi. Pergi dari sini.” Dia mengayun-ayunkan tas yang dibawanya agar Ara tidak bisa mendekatinya.
“Ara, tenangkan dirimu. Gadis baik tidak boleh bersikap kasar kepada siapa pun.” Aku memegang kalung pada lehernya dan mengusap-usap rambut halus di kepalanya. Tetapi dia masih menyalak marah dan menggeram menakutkan. “Turunlah, Gerhard. Tidak perlu takut. Ara tidak pernah menggigit siapa pun. Aku akan memegang dia.”
“Dokter Gerhard,” panggil Papa yang sedang menggendong Dira. “Ara tidak akan menggigit. Silakan ke sini. Ada makanan ringan juga minuman untuk Dokter.”
“Ti-tidak. Aku harus pergi ke rumah sakit berikutnya. Te-terima kasih. Sampai nanti.” Gerhard segera melesat pergi di saat Ara masih saja menggonggong ke arahnya. Kepala pelayan sudah siap untuk membantu membuka pintu, kemudian menutupnya lagi.
Apa yang sedang terjadi? Mengapa Ara begitu marah kepada Gerhard? Dia tidak melakukan apa pun yang membahayakan kami di rumah ini. Dia hanya datang untuk memeriksa keadaan Mama, lalu keluar. Dia juga tidak melakukan sesuatu yang membahayakan aku.
Melihat tingkahnya, aku jadi teringat dengan sikapnya saat menghadapi Vivaldo. Dia menggigit pergelangan kakinya sampai pria itu melepaskan aku dari cengkeramannya. Tetapi kali ini berbeda. Gerhard sedang menuruni tangga bersamaku, mengapa dia memarahinya?
Ketika deru mobil Gerhard sudah jauh dari depan rumah, barulah Ara berhenti menggeram. Dia menoleh ke arah aku untuk menikmati usapan tanganku pada kepalanya. Inilah sifatnya yang sebenarnya. Penyayang, manja, dan ceria. Ada apa sampai dia tadi berubah menjadi beringas?
“Kamu baik-baik saja?” tanya Papa. Aku menoleh ke arah lantai atas. Semoga saja Mama tidak terganggu mendengar gonggongan Ara.
“Aku baik-baik saja, Pa,” jawabku sambil menuruni tangga. Ara mengikuti aku menuju ruang keluarga sambil menggoyang-goyangkan ekornya.
“Apa yang terjadi sampai Ara menggonggong begitu keras ke arah Dokter Gerhard?” tanya Papa bingung. Dia menutup pintu, lalu duduk di sampingku.
“Aku juga tidak tahu, Pa.” Aku mengusap-usap kepala Ara yang meletakkan kepalanya di pangkuanku. “Ada apa denganmu, ha? Mengapa kamu tiba-tiba galak begitu? Gerhard tidak melakukan apa pun yang bisa membahayakan hidupku.”
“Membahayakan hidupmu? Maksud kamu, saat dia menyelamatkan kamu dari Vivaldo?” tanya Papa. Aku mengangguk. Dira yang duduk di antara kami ikut mengusap-usap kepala Ara. “Kamu dan Gerhard tadi melakukan apa? Kamu yakin dia tidak memberi kesan ingin menyakiti kamu?”
__ADS_1
“Kami hanya bicara, Pa. Tidak, dia tidak melakukan hal yang bisa menyakiti aku,” jawabku pelan. Papa mengangguk pelan. Wajahnya yang semula khawatir terlihat lega.
“Kami sedang bermain saat dia tiba-tiba menggeram dan mulai gelisah. Dia bersikap awas seolah-olah ada orang jahat yang akan datang ke rumah. Lalu dia tiba-tiba saja menggonggong begitu keras dan berlari ke pintu. Aku baru kali ini melihat langsung seekor anjing membuka kenop pintu dengan benar. Apa kalian yang melatihnya?” tanya Papa kagum.
“Tidak, Pa. Dia mempelajarinya sendiri. Tetapi dia hanya bisa membuka kenop pintu yang dibuka dengan menekan ke bawah atau diputar. Dia tidak bisa membuka pintu dengan kenop khusus. Jadi kami harus mengunci pintu jika kami tidak mau ada penyusup yang masuk ke kamar saat kami sedang tidur.” Aku meremas pelan wajah Ara dengan gemas.
“Ara memang anjing yang pintar,” puji Papa. Ara menyalak senang mendengar namanya. “Apa yang terjadi dengan mamamu? Mengapa dia membutuhkan kehadiran dokternya?”
“Mama merasakan nyeri di dada kirinya. Dokter bilang itu hal yang normal. Selama rasa sakitnya bisa diatasi dengan obat, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” jawabku. “Dia memeriksa tekanan darah, gula darah, dan pernapasan Mama. Semua hasilnya normal.”
Papa tersenyum. “Dia pasti sengaja memanggil dokter itu dan membuat-buat alasan supaya kalian berdua bisa bertemu.” Aku juga memikirkan hal yang sama, tetapi aku hanya menyimpan pikiranku itu untuk diriku sendiri.
“Aku mengkhawatirkan keadaan Mama. Apa Mama baik-baik saja, Pa? Sejak operasi, aku tidak pernah melihat Mama bersedih,” tanyaku pelan.
“Mengapa kamu khawatir melihat dia tidak pernah bersedih?” Papa malah balik bertanya.
“Tidak sama sekali. Aku kadang-kadang melihatnya berpikir sendiri, tetapi itu hal yang biasa. Hanya satu hal saja yang membuatku agak janggal. Mamamu tidak memberitahu siapa pun alasan dia tidak menghadiri acara amal atau ikut dalam kegiatan sosial mereka.”
“Ah, itu sebabnya hanya aku dan teman-temanku yang datang menjenguk Mama di rumah sakit. Teman-teman atau keluarga dekat kita tidak,” kataku mengerti.
“Benar. Aku menganggapnya normal karena dia bukan orang yang suka dikasihani. Jadi, aku juga tidak memberitahu siapa pun tanpa izinnya.” Papa terlihat berpikir sejenak. “Bila sikapnya agak aneh, aku akan segera mengabari kamu. Aku mulai mengerti mengapa kamu merasa khawatir.”
“Terima kasih, Pa. Kami pamit pulang, ya, Pa, supaya Papa bisa berisitirahat.” Papa mengangguk, lalu mengantar kami sampai ke teras. Ara menyalak senang saat masuk ke mobil.
“Rasanya tidak percaya melihat dia bisa segarang tadi.” Papa menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku setuju dengan pendapatnya tersebut.
__ADS_1
Sudah lama tidak mampir ke toko bunga, aku meminta Sakti untuk berhenti sejenak di toko langgananku. Bunga lili dan seruni menjadi pilihanku. Pemilik tokonya mengajakku berbincang sejenak saat bunga pilihanku sedang disiapkan oleh karyawannya.
Hadi dan Colin segera menyambut kedatangan kami. Ara bersikap baik dengan tidak melompat ke tubuh tuannya. Hadi bisa jatuh telentang ke belakang tidak kuat menahan berat tubuh dewasa Ara. Mereka sudah mandi dan berganti pakaian. Kami berkumpul di ruang keluarga dan aku menemani mereka bermain sampai suami tersayangku pulang.
“Aku harap kamu tidak lupa dengan janjimu, Hendra. Hari Sabtu ini kita akan kencan ganda,” ucap Will saat dia dan Colin pamit pulang. Putranya sudah tertidur dalam pelukannya, lelah bermain bersama Hadi dan Dira sepanjang sore di taman dekat rumah kami.
“Aku tidak lupa. Silakan berpenampilan sebaik mungkin, kita lihat nanti. Apa Gista akan tertarik kepadamu. Sebaiknya kamu menyiapkan diri andai dia menunjukkan tanda-tanda tidak suka,” kata Hendra dengan serius.
“Dia mungkin akan sedikit jual mahal pada kencan pertama. Tetapi dia tidak akan menolak aku, Hendra.” Will tampak sangat percaya diri. Aku hanya tertawa melihat perdebatan mereka.
Anak-anak bersikap baik dengan tidak melawan saat aku mengajak mereka untuk tidur di kamarnya masing-masing. Aku membantu Dira dan setelah sekian lama, aku membacakan buku cerita untuknya. Biasanya dia sudah tertidur begitu berbaring di ranjangnya.
Melihat Hendra tidak ada di dalam kamar, aku menggunakan kesempatan itu untuk mandi dan berganti pakaian. Dia memasuki kamar mandi untuk menyikat giginya saat aku sedang mengeringkan tubuh. Aku tertawa kecil saat dia memandang tubuhku dari kepala hingga kaki.
“Ingat, kita masih puasa, sayang.” Dia tertawa saat aku mengatakan itu sambil menutup pintu. Aku suka mendengar tawa bahagianya.
Beberapa saat kemudian, Hendra keluar dari kamar mandi hanya dengan celana pendeknya saja. Apa dia tidak takut kedinginan sepanjang malam bila hanya mengenakan itu? Tetapi aku diam saja. Jika dia pikir aku akan tergoda dan tersiksa dengan penampilannya itu, dia salah.
“Ara melakukan sesuatu yang aneh hari ini.” Aku memadamkan lampu di atas nakas, lalu berbaring. Hendra ikut melakukan hal yang sama.
“Apa yang dilakukan oleh gadisku itu?” tanyanya sambil menarik tubuhku mendekat kepadanya. Aku memutar bola mataku mendengar dia memperlakukan anjing itu bagaikan manusia.
“Dia menggonggong begitu keras sambil menggeram ke arah Gerhard. Dia tidak pernah galak kepada siapa pun. Apa menurutmu dia perlu disuntik lagi?” tanyaku khawatir. Dia malah tertawa terbahak-bahak. “Sayang! Aku sedang bicara serius.”
“Ara baik-baik saja. Dia justru telah melakukan tugasnya dengan baik.” Dia masih tertawa.
__ADS_1
“Tugas? Tugas apa?” tanyaku tidak mengerti.