Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 211 - Hanya Sementara


__ADS_3

“Kamu tahu bahwa mamamu adalah wanita mandiri yang tidak suka bergantung kepada orang lain. Itu sebabnya dia tidak mau memberitahu siapa pun. Dia tidak mau ada yang mengasihaninya. Dia juga tidak mau ada yang berusaha mengubah pikirannya untuk melakukan mastektomi,” jawab Papa.


“Mengubah pikiran Mama mengenai mastektomi? Maksudnya bagaimana, Pa?” tanyaku tidak mengerti.


“Itu adalah operasi besar dan sekali kamu kehilangan bagian penting dari tubuhmu, maka bagian itu tidak akan pernah kembali. Saudaranya sudah pasti tidak akan setuju melihat dia tidak sempurna lagi. Mereka pasti lebih mendukung dia melakukan radioterapi atau kemoterapi. Apalagi stadiumnya masih kecil,” jawab Papa.


“Tetapi itu akan lebih menyakitkan dan membutuhkan waktu lebih lama. Mama tetap kehilangan bagian lain dari tubuhnya. Aku baca dari beberapa artikel kesehatan, kedua pengobatan kanker itu bisa menyebabkan kerontokan rambut, mengurangi selera makan, dan efek samping lainnya. Itu sama saja dengan menyiksa Mama pelan-pelan, Pa.”


“Benar. Tetapi intinya bukan itu. Dokter yang lebih tahu jalan keluar yang terbaik yang bisa mereka tawarkan kepada pasien. Keputusan berikutnya ada di tangan pasien. Siapa pun tidak bisa mencoba untuk memengaruhinya bila dia tidak mau mengikuti prosedur yang lain.”


“Keluarga Mama tidak akan berhenti memengaruhi keputusannya, karena itu Mama merahasiakan penyakitnya,” kataku menyimpulkan.


“Benar.” Papa menganggukkan kepalanya. “Semua telepon dari mereka isinya hanya itu. Mereka protes dan marah kepada mamamu dan aku.” Papa mendesah pelan. “Jangan khawatir. Ini hanya sementara. Lama-kelamaan juga mereka akan berhenti meneror kami.”


Aku pamit pulang karena Papa membutuhkan istirahat. Ara menyambut kedatangan kami dengan salakan bahagianya. Hadi dan Colin berjalan menuruni tangga dengan wajah mengantuk mereka yang baru bangun tidur. Pasti hari ini mereka berenang di kolam sekolah sampai kelelahan begitu.


Kami masuk bersama ke ruang keluarga. Aku membaringkan Dira yang masih terlelap di atas karpet setelah dialasi selimut dan bantal oleh Yuyun. Lalu aku duduk bersama Hadi dan Colin di kanan dan kiriku. Hadi melingkarkan tangannya di tubuhku dengan kepalanya di dadaku. Aku merangkul Colin karena aku tahu dia segan berinisiatif memeluk aku.


“Kalian ingin melakukan apa sore ini?” tanyaku sambil membelai rambut halus mereka.

__ADS_1


“Aku bosan main di rumah. Kita ke taman, yuk, Ma,” usul Hadi. Aku tersenyum kepadanya.


“Bagaimana, Colin? Kamu juga mau ke taman?” tanyaku kepada sahabat putraku itu.


“Mau, Tante.” Dia mengangguk pelan, lalu menjauhkan dirinya dariku. “Tante tadi dari rumah nenek Hadi, ‘kan? Bagaimana kabarnya hari ini?” Aku pikir dia sudah lupa mengenai keadaan Mama setelah beberapa hari ini dia tidak bertanya. Ternyata dia masih memikirkannya.


“Baik. Dari hasil pemeriksaan sementara, tidak ditemukan adanya sel kanker di tubuhnya. Semoga saja hasil pemeriksaan pada bulan depan juga begitu.” Wajah Colin berubah ceria.


“Benarkah, Tante? Itu bagus sekali!” ucapnya senang. Aku ikut tersenyum bersamanya. “Ada banyak kabar bahagia dalam minggu ini.”


“Memangnya ada kabar apa lagi?” tanyaku ingin tahu. Dia melebarkan senyumnya.


“Papa tidak pernah sebahagia sekarang. Papa sering bicara di ponsel atau saling mengirim pesan entah dengan siapa. Wajahnya sangat bahagia. Papa tersenyum terus. Papa sudah lama tidak begitu. Biasanya Papa suka sedih pada malam hari. Papa pikir aku sudah tidur, tetapi aku melihatnya murung saat menemani aku tidur.”


“Hari Sabtu dan hari Minggu juga Papa bahagia. Aku tidak apa-apa tidak ikut jalan-jalan dengan Papa. Asal saat dia datang menjemputku, Papa bahagia,” katanya dengan senyum lebar. Entah mengapa aku malah terharu mendengarnya. Aku mengusap-usap kepalanya.


“Colin anak yang baik,” pujiku dengan tulus. Bertahan sebentar, ya. Kamu akan bahagia saat tahu siapa yang telah membuat papamu berubah begitu. Aku hanya bisa membatin. Will yang lebih berhak mengatakan apa yang dia lakukan di luar sana pada akhir pekan kepada putranya.


Tidak lama kemudian, Dira bangun. Kami sedang asyik menikmati camilan sore. Aku membantu membersihkan wajahnya agar kantuknya berkurang. Liando menemani kami ke taman bermain di dekat rumah. Dia yang memegang tali kalung Ara juga menggandeng tangan Hadi dan Colin. Aku menggendong Dira yang masih mengantuk.

__ADS_1


Taman itu sudah penuh dengan anak-anak yang sedang bermain bersama. Aku membiarkan Hadi dan Colin bergabung bersama mereka. Liando membantu aku mengawasi anak-anak juga Ara. Aku berbicara seadanya dengan para ibu yang menjaga anak mereka. Kami tidak seakrab aku dengan teman-temanku, tetapi aku tidak melupakan mereka setiap kali ada acara di rumah kami. Mereka selalu kami undang.


Kami kembali ke rumah tepat pada pukul lima sore. Hendra akan tiba di rumah pukul enam, aku tidak mau anak-anak belum siap untuk makan malam ketika dia tiba nanti. Aku membantu Dira membersihkan diri, sedangkan Liando membantu Hadi dan Colin.


“Papa pulang …!!” sambut Hadi dan Dira ketika mendengar deru mobil Hendra di pekarangan depan. Colin menyusul mereka saat mendengar bunyi mobil papanya. Luar biasa. Bagaimana mereka bisa membedakan bunyi kendaraan papa mereka masing-masing?


Ara juga tidak mau kalah menyambut kepulangan tuannya. Dia melompat ke pelukan Hendra yang sedang memeluk kedua anak kami. Salakan bahagianya segera memenuhi aula depan rumah kami. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku saja melihat tingkahnya.


Suamiku menatapku penuh arti sambil menunjuk ke arah Will dengan bola matanya. Pria itu sedang menyantap makan malamnya dengan senyum yang tidak juga hilang dari wajahnya. Kami hanya diam dan memutuskan untuk tidak menggodanya. Aku lebih suka membahas tentang perkembangan akademik Hadi di sekolah.


“Kalian harus menunggu sampai Sabtu depan untuk tahu laporan akademik resminya,” kata Will yang tidak mau memberitahu banyak petunjuk mengenai perkembangan Hadi di sekolah.


“Liburan selama tiga bulan nanti, kamu dan Colin ada rencana apa?” tanyaku ingin tahu. Aku dan Hendra sudah punya rencana sendiri untuk keluarga kami.


“Colin ingin mengunjungi neneknya di Amerika, jadi aku berubah pikiran. Kami akan berada di sana selama musim panas. Ada kemah musim panas yang ingin dia ikuti dan aku sudah mendaftarkan namanya.” Wajahnya berubah serius. “Ini waktu yang tepat juga untuk menguji hal yang sedang aku rasakan kepada kalian tahu siapa yang aku maksud.”


“Kamu yakin dengan itu? Kamu tidak takut ada pria kaya raya yang akan menyalipmu?” godaku. Dia mengatakan hal itu sebagai salah satu alasan dia ingin secepatnya bisa dekat dengan Gista. Aku yakin hubungan mereka masih labil, tetapi dia cukup percaya diri menjalani hubungan jarak jauh.


“Bagaimana dengan kalian? Apa rencana kalian selama liburan sekolah nanti?” tanyanya sengaja mengabaikan pertanyaanku. Aku tertawa kecil. Meskipun Hadi terlihat sibuk berbincang dengan Colin, aku tahu bahwa kedua pria muda itu mendengarkan percakapan kami.

__ADS_1


“Rencana kami masih rahasia, tetapi kami akan pergi ke suatu tempat bersama. Mamaku semakin pulih, jadi kami bisa meninggalkan mereka untuk beberapa saat.” Hendra menatap Hadi penuh arti. Dia tahu bahwa putra kami masih berharap bisa mendapatkan petunjuk tempat rahasia apa yang akan kami kunjungi nanti.


“Kita mau pergi ke mana, Pa? Mengapa aku tidak boleh tahu?” rengek Hadi. Aku dan suamiku tertawa geli. Benar, ‘kan? Dia mencuri dengar.


__ADS_2