
Hal pertama yang aku lakukan adalah berusaha untuk tidak panik. Kedua, aku memikirkan apa yang akan Hendra lakukan dalam keadaan seperti ini. Ah, iya. Aku mengeluarkan ponselku dari saku dan memilih nomor Zach. Dia pasti tahu apa yang harus dilakukan.
“Apa? Polisi datang untuk melakukan penggeledahan? Lawakan siapa ini?” ucap Zach dengan kesal. “Coba periksa surat yang mereka bawa, apakah … ah, tidak usah. Aku segera ke sana. Kakak jangan izinkan mereka masuk.”
“Jangan izinkan mereka masuk? Tetapi mereka polisi, bagaimana aku bisa menolak pihak yang berwajib melakukan tugas mereka?” tanyaku panik.
“Rumah itu rumah Kakak, bukan milik mereka. Kalau mereka sampai memaksa, maka itu artinya ada yang tidak beres. Aku tutup teleponnya. Aku harus bersiap pergi.” Zach mengakhiri hubungan telepon kami, aku bertukar pandang dengan Abdi.
“Bagaimana, Nyonya?” tanyanya bingung. Aku lebih bingung lagi.
Karena aku adalah kepala keluarga sementara di rumah ini, maka aku tidak bisa bergantung kepada siapa pun. Aku harus melakukan segalanya sendiri. Baiklah. Menghalangi orang tidak dikenal masuk ke rumahku adalah hal yang mudah. Iya, ‘kan?
Ada dua mobil polisi di depan rumah dan dua orang petugas yang berdiri di depan pintu. Mereka menatapku dengan hormat. Aku tersenyum kepada mereka semanis mungkin dengan kepalaku yang tidak berhenti memikirkan apa yang harus aku lakukan untuk menahan mereka sampai adikku sampai di sini.
“Selamat malam, Pak,” sapaku. Tinggi badan mereka tidak setinggi suamiku, jadi aku tidak terlalu merasa terintimidasi. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Kami mendapatkan laporan adanya kepemilikan benda yang terlarang di rumah ini, jadi kami membawa surat perintah untuk melakukan penggeledahan,” kata salah satu petugas sambil menunjuk sebuah surat kepadaku.
“Baik. Pak …” aku membaca nama pada dada kanannya, “Fajar. Saya baca suratnya sebentar.” Aku menerima surat tersebut. Oke. Aku bisa menggunakan cukup banyak waktu untuk membaca surat ini dengan cermat. Cepatlah datang, Zach.
Aku mengerti bahasa Indonesia, tetapi saat membaca surat perintah tersebut, aku seperti sedang membaca bahasa asing. Ada begitu banyak istilah yang samar-samar aku pahami. Yang pasti mereka benar. Ini adalah rumah kediaman Mahendra S. Perkasa, alamatnya benar, begitu juga dengan identitas pribadi lainnya.
Tetapi aku tidak mengerti untuk alasan apa mereka menggeledah rumah kami. Aku tidak terima dengan alasan yang tertera pada surat perintah tersebut. Tindakan pidana kekerasan apa? Suamiku yang mengalami kecelakaan, mengapa malah dia yang dituduh melakukan kekerasan?
“Apa Bapak tidak salah membawa surat perintah?” tanyaku begitu menemukan cara untuk menahan mereka lebih lama di luar rumah. “Suami saya baru saja mengalami kecelakaan dan menderita amnesia. Pihak kepolisian sedang melakukan penyelidikan atas kecelakaan tersebut, lalu mengapa ada tuduhan melakukan tindak kekerasan? Siapa yang suami saya sakiti?”
__ADS_1
“Ibu bisa tanyakan itu kepada atasan saya. Saya dan kedua rekan saya hanya diberi perintah untuk melakukan penggeledahan. Nama kami tertera pada surat perintah tersebut.”
“Mana bisa begitu. Enak saja main perintah, lalu tidak bisa menjelaskan alasannya. Kekerasan apa yang sudah suami saya lakukan? Lalu apa yang mau Bapak geledah? Alat yang digunakan untuk menyakiti korban? Bukankah itu ada di lokasi kejadian?
“Alasannya harus spesifik, Pak. Saya tidak mau rumah saya berantakan gara-gara Anda tidak tahu mau mencari apa, lalu Bapak-bapak tidak mau membantu untuk membereskan semua barang kembali pada tempatnya nanti.” Aku menatap mereka dengan serius.
“Mana orangnya? Siapa yang mengaku telah mengalami kekerasan? Suamiku tidak punya catatan kriminal, untuk apa mendadak ada yang melapor tindak kekerasan sampai mau menggeledah segala. Siapa orangnya?” tantangku. Mereka saling bertukar pandang.
“Ibu tahu apa akibatnya bila menghalangi petugas untuk melakukan penyelidikan, bukan? Yang akan kami lakukan adalah bagian dari penyelidikan sebuah tindak kejahatan. Bila Ibu terus menghalangi tugas kami, itu artinya ada yang Ibu sembunyikan di rumah ini. Dan Ibu bisa kami tangkap juga jika terlibat dalam tindak kejahatan ini,” kata petugas mulai tidak sabar.
Jantungku berdebar dengan cepat. Ada yang tidak beres, aku tahu itu. Tetapi aku tidak tahu bagaimana mencari celah dari kedatangan mereka ini. Aku juga tidak menguasai isi dalam surat perintah. Apa yang perlu aku curigai dari surat ini?
Terdengar geraman dari arah belakangku. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu bahwa Ara berhasil keluar dari ruang keluarga dengan usahanya sendiri, dan berdiri di belakangku. Dia pasti merasakan aku sedang ketakutan, lalu keluar untuk melindungi aku.
Zach, mengapa kamu lama sekali? Bagaimana kalau aku sampai mereka tangkap karena mencoba menghalangi petugas yang membawa surat resmi?
“Sebaiknya Ibu memberi kami jalan. Ibu tidak punya alasan untuk menghalangi kami bertugas,” kata pria itu dengan tegas. Ara menggonggong. “Tolong tenangkan anjing Ibu atau terpaksa kami yang melakukannya.” Tindakan mereka benar-benar mencurigakan.
“Tunggu. Saya berhak untuk tahu bahwa surat ini adalah asli. Tolong, hubungkan saya dengan atasan Bapak,” kataku tanpa bergerak sedikit pun dari depannya.
Mereka saling bertukar pandang. Lalu terdengar bunyi gerbang dibuka diikuti dengan deru halus sepeda motor memasuki pekarangan rumah. Syukurlah! Zach sudah datang. Dia berhenti tepat di depan teras, lalu mematikan mesinnya. Dia bergegas membuka helm dan mendekati aku.
“Selamat malam, Bapak-bapak,” sapa Zach dengan nada bersahabat. “Ah, Fajar. Apa yang kamu lakukan di rumah kakakku?”
“Aku sedang bertugas, jadi bicaralah dengan formal, Zach.” Pria yang semula berwajah garang itu berubah lembut. “Meskipun dia adalah kakakmu, aku tidak bisa mengabaikan tugas.”
__ADS_1
“Tentu saja tidak bisa. Aku tidak akan membuat kamu dan rekan-rekanmu melanggar perintah atasan.” Zach mengambil surat dari tanganku, lalu mulai membacanya dengan cepat. “Pasal-pasal apa ini? Siapa yang melapor telah mengalami kekerasan dari kakak iparku? Apa kalian tidak bekerja sama menyelidiki kecelakaan yang baru dia alami?
“Dan ini lagi, mengapa surat izin penggeledahannya dikeluarkan oleh Ketua Pengadilan Negeri yang bukan dari domisili alamat ini? Rumah ini ada dalam domisili Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, sedangkan yang mengeluarkan surat izin adalah Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Apa hal seremeh ini saja kamu masih tidak mengerti, Fajar?” kata Zach setengah mengejek.
“Apa maksudmu?” Pria bernama Fajar itu mengambil surat tersebut dari tangannya. Dia dan rekan di sebelahnya membaca surat itu bersama. “Iya, kamu benar. Apa atasan kami tidak teliti melihatnya sebelum memberi perintah?”
“Sebaiknya kamu bicarakan ini dengan atasanmu, lalu kembalilah setelah membawa surat yang benar. Bila ada yang memarahimu, kamu bisa sebut nama Pak Oscar. Dia akan dengan senang hati membantu kamu mendapatkan keadilan, jadi atasanmu tidak akan bisa macam-macam.” Zach menepuk bahu Fajar.
“Baiklah. Kami mohon maaf atas keributan yang kami sebabkan, Bu Mahendra. Maafkan kekeliruan kami juga. Selamat malam,” kata pria itu dengan wajah tidak enak. Aku tersenyum.
“Tidak apa-apa, Pak Fajar. Selamat malam,” balasku. Mereka pergi dengan damai, lalu aku mendesah begitu lega. Hampir saja.
“Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Aku curiga ini ada hubungannya dengan wali kota. Dia pasti tidak bisa menyuap orang-orang dari domisili ini sehingga surat izin malah diterbitkan oleh ketua dari pengadilan negeri kota sebelah.” Zach menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Apa wali kota berniat untuk menyita semua bukti korupsi yang dia lakukan?” tanyaku pelan. Zach mengangguk. “Apa yang harus aku lakukan jika mereka datang lagi dan membawa surat yang benar?” Aku kembali merasa khawatir.
“Panggil aku, biar aku yang urus. Sudah. Kakak tidurlah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku dan Pak Oscar sudah mengirim semua bukti yang kami punya mengenai kejahatan wali kota. Kita tunggu saja hasil penyelidikan mereka. Semua masih bisa kita jalankan sesuai rencana.” Zach mengenakan helmnya kembali.
“Hati-hati,” kataku sambil ikut mendekati motornya. “Salamku untuk Rasmi.”
Meskipun masalah semalam sudah selesai, aku tetap khawatir polisi akan datang lagi untuk menggeledah rumah. Aku terlambat bangun pada pagi hari setelah semalaman berusaha untuk tidur. Aku membantu anak-anak mandi dan berpakaian, lalu kami turun ke lantai bawah untuk sarapan.
Terdengar bunyi mobil memasuki pekarangan rumah. Jantungku berdebar lebih cepat. Apakah polisi itu kembali lagi? Abdi berjalan dari arah belakang menuju pintu depan. Aku menyuruh anak-anak ke ruang makan terlebih dahulu.
Begitu pintu terbuka, aku tidak pernah menduga bahwa dia yang datang berkunjung. Abdi melihat ke arahku sambil menahan pintu. Mengapa Mama datang sepagi ini ke rumah kami?
__ADS_1