
Karena pada saat makan siang tadi kami menikmati menu makanan laut, maka pada malam itu kami hanya menikmati hidangan daging ayam dengan sayuran segar. Udara yang sejuk sepertinya membuat selera makanku sangat baik. Aku makan dengan porsi yang lebih besar dari biasanya. Hendra menggodaku dan aku hanya mengabaikannya saja.
“Atau jangan-jangan kamu hamil, sayang..?” Itu adalah candaan yang tidak bisa aku abaikan. Tidak. Aku tidak mungkin hamil. Aku tidak boleh hamil. Tunggu. Aku tidak lupa meminum obatnya, ‘kan? Rasanya iya. Iya, aku meminum obatnya setiap kali dia sudah tertidur.
“Ada apa, sayang? Mengapa kamu terlihat panik begitu?” Aku hampir melompat terkejut merasakan sentuhannya pada tanganku. Ara, jaga sikapmu. Jangan membuatnya curiga.
“Aku tidak apa-apa. Aku tadi melompat-lompat di pantai saat kita bermain air.” Aku menyentuh perutku untuk memberi kesan dramatis. “Jika benar aku hamil, bisa saja terjadi sesuatu kepadanya.”
“Kamu hanya melompat-lompat dan tidak jatuh. Jika kamu hamil, si kecil akan baik-baik saja. Kamu bersikap berlebihan. Hanya jika kamu minum minuman keras, maka ada kemungkinan besar kamu akan melukai janin dalam kandunganmu.” ucap Hendra santai. Aku harus akui bahwa aku terkejut mendengar dia tahu banyak mengenai kehamilan.
“Bagaimana kamu bisa mengetahui hal itu?” tanyaku penasaran.
“Aku ingin kita segera memiliki anak. Tentu saja aku mencari banyak informasi yang aku butuhkan untuk menjagamu dan anak kita nanti,” jawabnya dengan nada bangga. Dia benar-benar serius dengan janjinya kepada kedua orang tua kami. Tidak. Lebih dari itu. Dia benar-benar menginginkan kehadiran seorang anak dalam pernikahan kami.
Wajar saja. Usianya sudah tidak muda lagi. Mendengar orang tua kami terus menanyakan mengenai cucu, pasti dia juga ikut merasakan kerinduan yang sama. Meskipun dia sibuk bekerja dan tidak punya banyak waktu untuk bersantai, pada saat pulang kerja, dia pasti mulai merasakan ada yang kurang di dalam rumah. Aku yang menyambutnya pulang tentu sudah tidak cukup lagi. Dia berharap ada anak-anak yang juga ikut menyambutnya saat kembali ke rumah.
Pada keesokan harinya, kami bangun pagi dan berkemas-kemas untuk kembali ke Banda Aceh. Kapal yang akan kami tumpangi tidak akan berangkat sepagi itu tetapi suamiku masih ingin mengunjungi satu tempat lagi sebelum kami menyeberang. Hanya ada satu tempat yang sangat terkenal yang bisa kami kunjungi tanpa menghabiskan banyak waktu.
__ADS_1
Ketika kami hampir tiba, aku tahu bahwa tebakanku benar. Tugu Kilometer Nol. Hanya ada satu keluarga yang berada di lokasi yang sedang asyik mengambil foto di dekat tugu besar dan artistik tersebut. Aku mendesah lega. Dengan begitu, aku bisa memotret di sekitar tempat tersebut tanpa harus berebutan dengan orang lain.
Monumen ini sudah menjadi simbol tersendiri bagi kota Sabang, maka akan ada yang terasa kurang jika datang berlibur tanpa mendatangi lokasi itu. Aku telah melihat foto tugu ini dari berbagai sudut di situs-situs yang membahas obyek wisata terkenal. Namun melihatnya langsung memberi kesan yang berbeda. Tugu ini sangat indah dengan pemandangan langit biru dan laut di salah satu sudutnya. Apalagi angin yang bertiup masih sejuk karena hari masih pagi.
Tidak berlama-lama di tempat itu, kami segera melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan. Jika kami tidak ingin terlambat mengejar penerbangan kembali ke Jakarta, maka kami tidak boleh ketinggalan kapal yang akan berangkat pagi itu. Aku bersyukur Hendra tidak banyak bicara sehingga aku bisa menikmati pemandangan yang ada di sekitarku.
Aku tidak berhenti tersenyum setiap kali kami bisa melihat pemandangan laut. Meskipun liburan kami tidak lama, tetapi aku sangat menikmati setiap hal yang kami lakukan. Pemandangannya, udaranya, bahkan makanannya. Masih ada banyak tempat wisata lain yang ingin aku kunjungi. Mungkin kami tidak akan bisa kembali ke kota ini dalam waktu dekat.
“Kamu tidak perlu sedih. Kita bisa kembali ke tempat ini kapan saja yang kamu mau,” ucap Hendra seolah-olah bisa membaca pikiranku.
“Aku tahu.” Seingatku, sedari tadi aku tersenyum menikmati pemandangan di sekitarku. Apakah tanpa aku sadari aku sedang memasang wajah bersedih?
Kami bergegas menuju konter check-in lalu menuju ruang tunggu sampai terdengar panggilan masuk ke dalam pesawat. Kami sama-sama mendesah lega ketika duduk di kursi kami masing-masing di kabin pesawat. Kami saling menoleh lalu tertawa bersama.
Hendra tiba-tiba memajukan tubuhnya dan mengecup bibirku. Aku membulatkan mata dan melihat ke sekeliling kami. Orang-orang sedang sibuk dengan barang bawaan mereka dan sepertinya tidak ada yang melihat ke arah kami. Dia tertawa kecil.
“Menyenangkan, bukan? Sesekali melakukan hal yang memacu detak jantung,” ucapnya sambil memasang sabuk pengamannya.
__ADS_1
“Jadi, kamu sengaja melakukan ini?” Aku ikut memasang sabuk pengamanku. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan napasku yang memburu.
“Tentu saja. Aku juga ingin melakukan sesuatu di luar kebiasaan,” ucapnya dengan nada bangga. “Bayangkan betapa menyenangkannya jika kita terlambat mengejar penerbangan, lalu harus merepotkan Sherry untuk mencari tiket penerbangan selanjutnya. Akan lebih menyenangkan lagi jika kita terpaksa bermalam di hotel terdekat dan liburan kita bertambah satu hari lagi.”
“Tapi bukankah besok pagi ada rapat penting?” tanyaku mengingatkannya.
“Mereka tetap harus menunggu sampai aku datang sebelum bisa memulai diskusi apa pun. Aku belum pernah terlambat seumur hidupku. Sesekali aku ingin juga mengalaminya.” Dia mengedipkan sebelah matanya.
Selama penerbangan, kami mendiskusikan mengenai foto mana yang aku ambil yang menarik untuk dimasukkan ke dalam blog. Seperti biasa, Hendra memintaku untuk mengatakan rencanaku sebelum memberikan pendapatnya. Aku senang sekali dia setuju dengan semua foto pilihanku. Dia juga menambahkan beberapa info penting yang perlu aku masukkan ke dalam artikel tersebut nanti.
Tiba di bandara tujuan, aku pamit ke toilet dan meminta suamiku untuk lebih dahulu menuju tempat pengambilan bagasi. Namun dia bersikeras akan menungguku di dekat toilet. Aku tidak melanjutkan perdebatan dan segera masuk dalam antrian di depan salah satu bilik.
Selesai mencuci tangan dan mengeringkannya, aku keluar dari toilet. Aku melihat suamiku sedang menatap layar ponselnya dan seorang wanita menabraknya sehingga ponsel suamiku hampir jatuh dari genggamannya. Ini bukan pertama kalinya aku melihat seorang wanita mencoba untuk bicara atau menarik perhatian Hendra.
Hal yang tidak akan pernah aku lihat, aku lihat di matanya ketika wanita itu terang-terangan menggodanya dengan melepaskan kacamatanya lalu menggantungkannya di bagian tengah kerah kemejanya. Dada wanita itu indah, tetapi dia tidak tahu bahwa Hendra tidak memiliki mata yang sama seperti mata pria lain.
Tatapan tajam dan dingin itu tidak pernah ditujukannya kepadaku. Bahkan setiap kali aku sedang bersamanya atau berada di dekatnya, dia tidak pernah menunjukkan tatapan itu di depanku, sekalipun dia sedang marah besar dengan lawan bicaranya. Aku menunggu sampai dia melihat ke arahku, lalu datang mendekatinya.
__ADS_1
“Kamu sudah selesai?” tanyanya dengan tatapan mata yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Wanita itu membalikkan badannya dan melihat ke arahku. Aku hanya menganggukkan kepalaku.
Hendra meraih tanganku, lalu menggandengku menuju tempat pengambilan bagasi, meninggalkan perempuan itu berdiri di sana dengan wajah dongkol. Dia pasti tahu siapa Hendra. Karena jika tidak, dia tidak akan menggodanya seperti itu. Dia juga pasti tahu bahwa pria ini sudah menikah. Lalu untuk apa dia mencoba menggodanya? Apa dia tidak bisa merayu pria lajang saja?