Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 31 - Terikat Selamanya


__ADS_3

Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera menandatanganinya. Terlalu banyak butir pada setiap pasal yang membuatku pusing. Pengacara kami adalah orang yang sangat teliti dan memerhatikan segala detail. Aku percaya bahwa dia telah mengerjakan bagiannya dengan baik.


Untuk saat ini, aku hanya membutuhkan jaminan bahwa Mama akan segera menjalani operasi untuk jantungnya dan Zach lepas dari masalahnya dengan orang-orang jahat itu. Aku sudah tidak peduli lagi jika aku harus membayarnya dengan hatiku atau memberi Hendra anak sebanyak yang dia inginkan. Lagi pula bisa jadi sekarang aku sedang mengalami proses menjadi seorang ibu.


“Kamu tidak mau membaca detail lainnya? Kita masih punya banyak waktu. Surat perjanjian ini masih bisa didiskusikan. Oscar akan memperbaiki bagian yang perlu diubah,” ucap Hendra yang sama sekali tidak membuka map yang ada di hadapannya.


“Tidak perlu. Aku hanya ingin semua ini selesai,” ucapku cepat.


Tidak akan ada yang bisa didiskusikan lagi dari surat perjanjian itu. Aku tahu bahwa sedikit banyak isi surat itu adalah aku harus mematuhi suamiku tanpa syarat. Sebagai konsekuensi pelanggaran, suamiku akan memberiku sebuah ganjaran.


Aku tidak mau tahu juga tidak peduli dengan jenis hukuman yang harus aku jalani. Tidak ada yang lebih menyiksa selain tetap menikah dengannya. Suamiku tidak akan pernah menceraikanku. Jenis konsekuensi itu tidak akan ada di dalam surat perjanjian. Jadi, untuk apa lagi didiskusikan?


Dari sudut mataku, aku melihat Hendra menatapku sesaat. Dia melihat ke arah Pak Oscar kemudian mendesah pelan. Aku tidak melihat ke arah suamiku ketika dia membubuhkan tanda tangannya. Aku hanya ingin hal yang telah menghancurkan harga diriku ini segera berakhir.


“Baiklah. Ini untuk Ibu, ini untuk Bapak dan yang satu ini untuk saya simpan,” ucap Pak Oscar sambil memberikan masing-masing berkas kepada kami. Setelah memasukkan berkas miliknya, pria itu berdiri. “Karena tugas saya sudah selesai, saya permisi. Sampai jumpa lagi.”


Hendra berdiri dan mengantar pria itu sampai keluar dari ruangannya. Aku hanya duduk di tempatku semula. Map yang ada di hadapanku tidak aku sentuh sama sekali. Aku tidak ingin menyimpannya, tetapi juga tidak bisa menghancurkannya.


“Maaf, aku harus melakukan ini. Bukan karena aku tidak memercayaimu. Aku hanya ingin sebuah jaminan di mana kamu tidak akan berbohong lagi kepadaku. Atau merencanakan sesuatu di belakangku tanpa sepengetahuanku.” Hendra kembali duduk di sisiku.


“Kamu ingin punya anak? Kita akan memilikinya. Jangan khawatir.” Aku tidak melihat ke arahnya. Aku benar-benar ingin segera pergi dari tempat ini.


“Kamu tahu apa yang paling aku inginkan, Za,” ucapnya pelan.


“Hatiku. Aku tahu,” kataku apa adanya. Aku merasakan jari suamiku di daguku. Aku memejamkan mata saat pria itu mengarahkan wajahku kepadanya.


“Lihat aku, Za,” ucap Hendra dengan nada serius. Aku tidak membuka mataku. “Lihat aku,” pintanya lagi. Dengan enggan, aku membuka mata mendengarnya menaikkan intonasi suaranya.


“Kamu telah berjanji akan mencintaiku di altar. Harusnya aku tidak perlu memohon untuk mendapatkan hakku. Apalagi sampai menggunakan kekuatan hukum untuk memaksamu. Tidak hanya tubuhmu, hatimu adalah milikku. Seperti halnya tubuhku dan hatiku adalah milikmu.

__ADS_1


“Kalau kamu mau terus menggunakan cara kasar, aku akan ikuti permainanmu. Tapi ketahuilah satu hal. Aku yang akan menjadi pemenangnya. Jadi, silakan pilih.” Hendra menarik tangannya kembali dari wajahku. Dia berdiri dan mendekati meja kerjanya.


“Sherry, aku akan keluar. Aku alihkan semua panggilan untukmu,” ucapnya lewat interkom.


Mengetahui bahwa itu adalah sinyal bagi kami untuk pergi dari ruangan ini, aku berdiri. Aku tidak menolak ketika Hendra menggandeng tanganku. Kami beriringan keluar dari ruang kerja tersebut menuju elevator. Kafin sudah menunggu di pintu masuk utama dengan mobil Hendra. Suamiku membukakan pintu mobil untukku, aku masuk lebih dahulu, kemudian dia duduk di sisiku.


Setelah lima belas menit yang panjang, kami tiba di tujuan. Kalau sebelumnya aku suka makan di restoran itu, kali ini aku ingin pergi secepatnya dari sana. Aku hanya ingin berada di kamar saja dan meratapi nasibku. Aku tidak ingin makan, minum, atau melakukan apa pun.


“Aku harap kamu tidak keberatan makan daging siang ini.” Hendra keluar lebih dahulu kemudian membantuku keluar dari mobil. Aku menerima uluran tangannya.


“Aku tidak keberatan,” jawabku setelah aku berdiri di dekatnya. Dia menatapku sesaat, tetapi aku tidak membalas tatapannya itu.


Pelayan restoran menyambut kami dengan ramah dan mengantar kami ke meja yang kosong. Aku melihat tanda reserved pada meja tersebut. Pantas saja ada meja untuk kami. Pada jam makan siang dan makan malam, restoran ini selalu ramai dengan pengunjung. Sulit mendapatkan tempat duduk tanpa memesan lebih dahulu.


Buku menu yang ada di hadapanku segera aku buka. Setelah beberapa saat melihat menu makanan yang tersedia, aku memesan satu set daging lengkap dengan kentang halus dan salad sayur, juga jus lemon. Setelah mencatat pesanan mereka, pelayan itu pergi.


“Aku harap kamu tidak marah berkepanjangan kepada Liando. Dia pria yang baik dan hanya sedang menuruti perintahku. Sama sekali tidak bermaksud membuatmu susah.” Dia menyentuh tanganku yang ada di atas meja.


“Iya.” Dia sepertinya tidak sadar sedang memutar-mutar cincin pernikahan dan pertunangan yang ada di jari manisku dengan jemarinya.


“Apa dia akan menjadi sopir pribadiku untuk seterusnya?” tanyaku tidak suka.


“Tidak. Hanya untuk hari ini saja.” Dia tersenyum. Aku mengerutkan kening mendengarnya.


“Setelah aku menandatangani surat itu, kamu yakin aku tidak akan kabur darimu?” tantangku sambil mengangkat kedua alis mataku.


“Yakin. Karena kalau kamu berani membantah atau kabur dariku, keluargamu yang akan menerima konsekuensinya,” jawabnya dengan santai. Aku menatapnya tidak percaya.


“A, apa?” tanyaku terkejut. Dia tersenyum.

__ADS_1


“Aku sudah bilang supaya kamu membaca surat perjanjian itu dengan saksama. Pada pasal terakhir ada sepuluh butir konsekuensi bila kamu mencoba melanggar setiap pasal dalam perjanjian tersebut. Hanya ada satu butir yang berhubungan langsung denganmu. Sembilan butir lainnya akan dikenakan kepada keluargamu.”


“Kamu tidak akan tega,” ucapku pelan.


“Kamu boleh mencobanya. Aku tidak keberatan menunjukkan kepadamu betapa seriusnya aku dengan ucapanku. Aku tidak pernah membiarkan milikku mencoba pergi dariku tanpa mengetahui konsekuensi dari perbuatannya.” Nada bicara dan tatapan matanya berubah dingin.


“Papa, Mama, dan Zach tidak ada hubungannya dengan masalah di antara kita,” kataku memberanikan diri. Aku tidak suka melihat ekspresinya itu.


“Tapi hanya dengan melibatkan mereka, aku bisa memengaruhi keputusanmu.” Hendra memajukan tubuhnya. “Kamu tidak akan terpengaruh dengan ancaman dikurung di dalam rumah, tidak diberi makan atau minum, apalagi perceraian. Hanya keluargamu yang bisa menggetarkan hatimu.”


“Kamu jahat, Hendra,” kataku dengan suara bergetar.


“Kamu tidak tahu apa yang sanggup aku lakukan, Za. Ini hanya sebagian kecil dari diriku yang sesungguhnya. Sisiku yang lain yang tidak akan membuatmu betah tinggal bersamaku sekaligus membuatmu enggan untuk pergi dariku. Aku tidak menginginkan ini tetapi kamu yang telah berani menantangku. Beraninya kamu meminum obat itu tanpa sepengetahuanku,” ucapnya datar.


Kami tidak bicara lagi begitu makanan dan minuman pesanan kami diantar. Aku memaksakan diri untuk menghabiskan makanan yang ada di hadapanku. Menepati ucapannya tadi, Hendra tidak mengeluarkan ponselnya untuk menjawab telepon atau membalas pesan yang masuk.


Usai makan, dia hanya duduk menatapku yang sedang berusaha keras menghabiskan makananku. Begitu aku meletakkan sendok dan garpu di atas piring, dia mengeluarkan ponselnya, menghubungi seseorang, dan hanya mengucapkan satu kalimat.


Seorang pelayan datang begitu Hendra menekan tombol di hadapannya. Dia membayar tagihan kami menggunakan kartunya. Tidak lama kemudian pelayan tersebut kembali dengan kartu itu dan selembar kertas kecil yang membutuhkan tanda tangannya. Dia membantuku keluar dari kursi lalu menggandengku menuju pintu keluar. Sebuah mobil Audi telah menunggu kami.


“Aku akan tiba di rumah pada jam enam. Kita makan malam seperti biasa pada jam tujuh. Lalu kita akan melakukannya lagi. Aku harap kamu ada di rumah saat aku pulang nanti, menyambutku di depan pintu seperti biasanya.” Hendra membukakan pintu mobil untukku. “Kalau kamu mencoba membantahku, sayang, kamu tahu konsekuensinya.”


“Aku akan menunggu di rumah,” ucapku patuh.


“Bagus.” Dia mencium pipiku.


Aku masuk ke dalam mobil dan Hendra menutup pintu di sisiku. Dia melambaikan tangannya saat mobil bergerak menjauh darinya. Aku tersenyum kecil. Aku menoleh ke arah sisi tempat dudukku. Map perjanjian kami ada di sana. Aku mendesah pelan lalu mengambil map tersebut dan meletakkannya di pangkuanku. Setelah menarik napas panjang, aku membuka sampul map.


Perlahan aku membaca butir demi butir konsekuensi yang akan aku terima bila melanggar perjanjian tersebut. Bahkan hal sesepele membantah suamiku dianggap sebagai pelanggaran. Aku harus menurut dan mematuhinya tanpa syarat.

__ADS_1


Hendra tidak hanya memintaku untuk memberinya anak dan hatiku, dia juga memintaku memberi hidup dan jiwaku kepadanya. Tidak boleh ada pria lain dalam pernikahan kami, bahkan aku tidak boleh menyebut-nyebut mengenai perceraian lagi.


__ADS_2