Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 177 - Doa Mertua


__ADS_3

Aku merasakan Hendra melingkarkan tangannya di pinggangku. Dengan tangannya yang lain, dia menggunakan tisu untuk menyeka air mataku. Tanpa aku sadari, aku sudah menangis lagi. Aku menoleh ke arahnya. Dia tersenyum.


“Kamu yang mengundang mereka. Bagaimana bisa?” tanyaku pelan.


“Orang tua sedang bicara kamu malah tidak mendengarkan,” godanya. Aku cemberut mendengar dia tidak menjawab pertanyaanku.


“Selamat ulang tahun pernikahan untuk Hendra dan Zahara. Kami doakan kalian bahagia. Tetap saling mendukung, memaafkan kekurangan pasangan, dan mendiskusikan segala hal bersama sebelum memutuskan apa pun. Yang paling penting, kesampingkan ego agar masalah tidak semakin rumit.” Papa turun dari podium dan berjalan mendekati kami. Aku memejamkan mata saat dia memeluk aku. Sudah lama rasanya aku tidak merasakan kehangatannya.


“Terima kasih sudah datang, Pa,” ucapku terharu.


“Yang sabar, ya. Mamamu hanya butuh waktu untuk bisa memaafkan kamu.” Papa tersenyum. Aku mengangguk pelan. “Dan maaf, Nora memaksa ingin ikut juga datang ke acara ini.” Oh. Aku bahkan tidak menyadari kehadirannya.


“Tidak apa-apa, Pa. Acara ini terbuka untuk siapa pun yang ingin hadir,” kata Hendra.


Gista melanjutkan acara hingga semua orang yang ingin mengucapkan selamat menyampaikan apa yang telah mereka siapkan kepada kami. Suasana yang semula mengharukan berubah ceria. Para sahabatku bergantian membuka aibku di depan umum. Benar-benar teman yang baik.


Begitu Gista mempersilakan makan siang untuk segera disajikan, para tamu bersorak senang. Aku dan Hendra ikut tertawa mendengarnya. Setelah berdiri mendengarkan nasihat dan ucapan selamat, kami pun duduk di tempat yang sudah disediakan. Penyanyi dan band pendampingnya mengisi acara menghibur kami semua.


“Sejak dia memakai kebayanya, dia menangis tiada henti. Kami semua sampai panik,” ucap Qiana mendramatisir saat kami makan di meja yang sama. Hendra menatapku tidak percaya. Aku hanya tertawa. Apa dia masih percaya bahwa teman-temanku selalu berkata jujur?


“Tetapi kamu lebih panik saat sepatumu mendadak hilang.” Darla memutar bola matanya. Kami tertawa bersama. “Kami datang terlambat karena semuanya berjalan tidak sesuai rencana.”


“Dan kamu memperburuk keadaan dengan memprotes tataan rambutku yang sudah rapi, Darla.” Aku ikut menimpali. Hendra melingkarkan tangannya di bahuku.


“Bisakah kalian berhenti saling mengejek? Makanan ini akan terasa hambar bila ada emosi yang tidak enak di meja ini,” lerai Claudia. “Dan Hendra, berhenti menyentuh istrimu. Kalian sudah cukup memamerkan kemesraan kalian.” Kami kembali tertawa.

__ADS_1


Agar anak-anak tidak bosan, sudah disediakan tempat untuk mereka bisa bermain bersama. Zach yang bertanggung jawab penuh menjaga mereka. Ara juga senang bisa mempunya banyak teman pada siang ini. Dia sangat senang karena kami tidak meninggalkan dia sendiri di rumah.


Kebun ini dihias sangat indah melebihi apa yang aku tunjukkan kepada Hendra. Setiap meja ditutup dengan taplak berwarna putih, begitu juga dengan kursi yang dihiasi dengan pita pada bagian belakangnya. Ada sebuah vas berisi mawar berwarna putih dan merah muda pada setiap meja. Yang paling aku suka, ada balon di beberapa titik.


Mataku kemudian tertuju pada barisan balon di dekat panggung. Hendra menyiapkan lima voucher menginap gratis di hotel miliknya untuk lima pasangan di kamar suite selama tiga hari dua malam, segala akomodasi juga ditanggung. Tetapi hanya kami dan event organizer yang tahu hal itu.


Makanan yang disajikan terdiri dari tiga tahap, makanan pembuka, makanan utama, dan pencuci mulut. Setiap porsi tidak terlalu banyak sehingga setiap menu bisa dihabiskan tanpa kesulitan apa pun. Tetapi pelayan selalu bergerak dari satu meja ke meja lain untuk menambahkan makanan yang diminta apabila habis.


“Sebentar, sayang,” ucap Hendra yang mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya lalu berdiri menjauh dari meja kami. Siapa yang meneleponnya? Katanya, tidak boleh ada gangguan selama acara berlangsung. Mengapa dia malah membiarkan ponselnya aktif?


“Duh, ditinggal sebentar saja sudah cemberut,” goda Qiana. Aku tertawa mendengarnya.


“Dampak dari puasa panjang,” timpal Claudia. Mereka tertawa terbahak-bahak. Baiklah, mereka bisa tertawa puas sekarang. Begitu penderitaanku berakhir, aku akan membalas dendam.


“Sayang, coba lihat siapa yang datang.” Tiba-tiba saja Hendra sudah berdiri di dekatku lagi. Aku menoleh kepadanya, lalu kepada pria dan wanita yang berdiri di sisinya. Mereka tersenyum begitu lebar. Aku mengangakan mulutku, tidak percaya.


“Tentu saja. Apa kamu pikir kami adalah hantu?” kata Xavier. Hendra segera berdiri di antara kami berdua saat aku akan memeluknya.


“Sepertinya Hendra tidak berubah.” Annora tertawa kecil.


“Jangan tersinggung. Tetapi bukan hanya kamu saja yang tidak bisa menyentuh dia,” kata Hendra.


“Iya, dia benar,” kata Mason, Helmut, dan Giovanni serentak. Kami tertawa bersama.


“Apa kalian tidak akan memperkenalkan kami?” tanya Claudia tidak sabar. Hendra meminta seorang pelayan untuk menambahkan kursi agar kami bisa duduk bersama. Mereka saling berkenalan. Aku dan Hendra membiarkan mereka bicara terhadap satu sama lain.

__ADS_1


Aku dan teman-teman saling bertukar pandang saat para pria membicarakan tentang bisnis mereka masing-masing. Mereka malah membahas mengenai perkembangan usaha mereka masing-masing pada acara ulang tahun pernikahan? Terlalu.


Claudia berdiri, lalu menarik tanganku, mengajakku untuk berdiri bersamanya. Aku menurut. Teman-teman yang lain juga ikut berdiri. Dia membawaku ke dekat panggung, kemudian meminta band memainkan musik yang riang. Kami menari bersama mengikuti irama. Satu-persatu tamu juga maju dan menari bersama kami.


Tidak tahu harus menari dengan gaya apa, aku mengikuti gerakan Claudia. Perlahan-lahan dari kami hanya menari berdua dengan gerakan yang sama, wanita dan pria lain yang berada di dekat kami juga tertarik untuk mengikuti tariannya yang energik. Aku sampai tidak peduli bahwa aku memakai kebaya dengan rok yang membuat gerakanku terbatas.


“Mama!!” seru Dira dan Hadi yang berlari ke arahku. Zach mengikuti mereka. Kami tertawa bersama, lalu anak-anak pun ikut menari bersama kami.


Gista mendekati aku dengan kedua tangannya menarik tangan kedua mertuaku. Aku menatapnya tidak percaya. Berani juga dia membawa dua orang yang sangat disegani di perusahaan tempat dia bekerja untuk berdansa bersama para tamu. Papa mengulurkan tangannya kepadaku, ketika pada tangannya yang lain, dia memegang tangan Mama.


“Oh, maaf, Pa.” Tiba-tiba saja Hendra sudah berdiri di antara kami. “Hanya satu pria yang boleh menari bersama ratu pada acara ini.” Papa dan teman-teman tertawa mendengarnya.


“Bisakah kamu berhenti membuat aku malu,” protesku kepadanya. Dia hanya mengangkat kedua bahunya, lalu ikut menari bersama kami.


Wajah semua orang begitu bahagia. Tidak ada beban, kesedihan, luka, atau amarah. Yang ada hanya tawa bahagia yang membebaskan tubuh mereka bergerak mengikuti alunan musik. Ayah mertuaku beberapa kali memanfaatkan keadaan untuk bertukar pasangan dansa. Tentu saja Hendra tidak senang dengan itu.


Musik berubah lembut, Zach mengambil Dira dari gendongan Hendra dan Claudia menarik Hadi untuk menari bersamanya, sengaja memberi kesempatan kepadaku dan suamiku untuk berdansa berdua. Kami sudah lama tidak melakukan ini, maka aku membiarkan dia yang menuntun langkahku. Karena aku lupa caranya berdansa.


“Apa kamu sudah siap dengan bulan madu kita?” bisiknya. Aku memutar bola mataku.


“Apa gunanya bulan madu tanpa bercinta?” Dia malah tertawa.


Sebelum acara berakhir, Gista meminta kepada setiap tamu untuk kembali duduk dan memeriksa nomor yang ada di balik papan nama mereka di atas meja. Nomor itu juga ada di antara gulungan kertas pada wadah kaca. Kertas akan diambil secara acak, dan yang memiliki nomor tersebut boleh memilih salah satu balon. Bila beruntung, ada hadiah menginap gratis di dalamnya.


Keadaan kebun itu menjadi riuh karena para tamu serentak memeriksa nomor mereka. Hanya ada sepuluh balon yang bernomor dengan lima balon yang berisi hadiah. Seorang pria menolong Gista mengambil satu kertas, kemudian nomor itu dibacakan. Seorang pria maju dan menunjukkan nomor yang sama yang dipegangnya. Dia memilih salah satu balon, dan tidak beruntung.

__ADS_1


Hampir setengah jam berlalu dan kelima hadiah pun diterima oleh tiga pasangan dan dua orang yang datang tanpa pasangannya, termasuk Nora. Bagaimana dia bisa beruntung, aku tidak tahu. Padahal dia bukanlah tamu undangan.


“Ayo, taruhan.” Qiana berbisik kepada kami. “Siapa yang akan dia ajak untuk menginap bersama?”


__ADS_2