Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 231 - Terbakar Cemburu


__ADS_3

Aku menyebut nomor kamar dan lantai di mana kamar rawat Hendra berada. Sebelum mengakhiri pembicaraan kami, aku segera menyampaikan apa yang aku butuhkan darinya. “Mengenai apa yang terjadi pada suamiku, apa aku bisa meminta bantuanmu?”


“Kami sudah mulai menyelidikinya. Begitu kami menemukan siapa pelakunya, kami akan mengirim buktinya kepada Ibu. Dan kami juga akan memastikan bahwa pihak yang berwajib menemukan bukti yang sama untuk membantu penyelidikan mereka,” ucapnya berjanji.


“Terima kasih,” ucapku tulus. Aku bersyukur sekali dia yang berinisiatif menghubungi aku. Karena aku tidak akan bisa menemukan nomornya tanpa ponsel Hendra.


“Ibu jangan khawatir. Hendra adalah sahabatku. Aku tidak akan tinggal diam melihat dia mengalami ketidakadilan,” katanya sedikit menggeram.


Begitu percakapan kami berakhir, aku segera menghubungi Gista. Wanita itu menanyakan keadaan suamiku yang aku jawab sesingkat mungkin. Aku tidak mau Papa memarahinya karena terlalu lama bicara denganku lewat telepon.


“Aku butuh bantuanmu, Gista. Tolong urus ponsel dan nomor Hendra, juga tabletnya. Dia akan membutuhkan kedua benda itu nanti. Jika kamu membutuhkan kartu identitasnya, aku akan meminta Sakti untuk mengirimnya ke sana.”


“Saya sudah membeli ponsel dan tablet baru untuk Pak Mahendra, Bu. Keduanya sudah ada di tangan Pak Adhyana. Mengenai nomor lama Bapak, iya, saya akan membutuhkan KTP asli untuk mengurusnya. Begitu KTP-nya saya terima, saya akan mengurusnya sepulang kerja. Saya akan antar kartu barunya besok ke rumah sakit,” jawabnya.


“Terima kasih banyak, Gista.” Aku senang mengetahui bahwa dia bisa diandalkan.


Setelah menikmati beberapa kue yang rasanya sangat enak dan secangkir kopi untuk membantu aku tetap terjaga, kami kembali ke ruang tunggu. Aku mengajak Sakti untuk masuk melihat keadaan Hendra, namun dia menolak. Dia lebih memilih duduk di ruang tunggu.


Aku tidak memaksanya dan masuk ke kamar rawat suamiku sesenyap mungkin. Alangkah terkejutnya aku melihat apa yang sedang terjadi di dalam kamar. Seorang wanita duduk di tepi ranjang dan mendekatkan wajahnya ke wajah suamiku.


“Apa kau sudah gila?!!” teriakku penuh amarah. Aku berlari mendekat dan mendorong tubuhnya menjauh dari suamiku. “Apa hakmu masuk ke kamar ini tanpa izin dan berusaha mencium suamiku?! Keluar! Keluar kau dari kamar ini!!”


Apa yang ada di dalam kepala perempuan gila ini? Enak saja dia masuk ketika tidak ada seorang pun di dalam kamar. Lalu berniat mencium suamiku di saat dia sedang dalam keadaan tidur? Dia benar-benar tidak waras! Dia bahkan berani melotot kepadaku.


“Kau yang gila! Beraninya kau mendorongku ke lantai!” pekiknya tanpa tahu malu.

__ADS_1


“Nyonya, apa yang terjadi?” Sakti menyusul masuk, dan aku melihat dua orang suster berdiri di belakangnya. Pria itu segera mendekati Keva yang terduduk di lantai dan menariknya keluar.


“Kamu tidak bisa melakukan ini kepadaku. Aku bukan seorang penjahat hingga diseret begini. Lepaskan aku!” Keva memberontak dari pegangan tangan Sakti di kedua lengannya.


“Usir dia keluar dari tempat ini! Semoga saja bukan kamu yang telah membuat suamiku celaka. Karena kalau kamu yang menyebabkan dia begini, aku akan memastikan kamu membusuk di penjara. Cari laki-laki lain untuk kamu jadikan suami, dan jangan ganggu suamiku lagi!” pekikku marah.


“Tutup mulutmu! Aku mencintai Hendra. Aku tidak akan pernah mencelakainya!” balas Keva. Aku menatap Sakti dengan tajam karena dia terlalu lama menariknya keluar dari kamar. “Lepaskan aku! Kalian tidak bisa memperlakukan aku seperti ini!”


Dia bilang yang dia lakukan ini adalah cinta? Hendra tidak mencintainya untuk apa dia terus memaksakan kehendaknya? Ini namanya obsesi. Bagaimana dia bisa tahu di kamar mana tepatnya suamiku berada? Apa dia membuntuti salah satu dari keluargaku?


Aku memijat kepalaku yang mendadak sakit, dan hanya bisa diam melihat Sakti menariknya keluar dari kamar. Beberapa orang berdiri di dekat pintu untuk menyaksikan apa yang terjadi sehingga kami berteriak begitu kencang.


“Sayang …?” Aku merasakan sebuah sentuhan di tanganku. Aku menarik napas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan. Tetapi aku belum bisa meredakan amarah yang memenuhi dadaku. “Hei, kamu tidak apa-apa?”


Aku menoleh ke arahnya. Dia sedang menatapku dengan wajah khawatir. “Aku tidak apa-apa.” Aku melihat ke arah suster yang sedang memeriksa keadaan suamiku.


“Ini kesalahan kami,” ucap suster yang berdiri di dekat pintu. Sepertinya dia yang menutup pintu itu kembali. “Kami minta maaf, Bu. Saya sedang mengurus pasien yang menyalakan alarm, sedangkan sahabat saya tidak bisa menahan dirinya untuk ke toilet.”


Aku kembali menarik napas panjang untuk menenangkan diriku. Tidak bisa menahan diri ke toilet? Mengapa dia tidak melakukannya sebelum ada panggilan darurat dari pasien itu? Itu hanya alasan yang dibuat-buat tetapi aku sudah cukup membuat keributan, aku tidak ingin berteriak lagi. Biar bagaimana pun ini rumah sakit.


“Aku memaafkan kalian kali ini. Bila hal ini terulang, aku akan melaporkan keteledoran kalian kepada pihak rumah sakit. Bersyukurlah karena dia tidak mencelakai suamiku. Sekarang, tolong, tinggalkan kami.” Aku menatap wajah kedua suster tersebut. Mereka hanya menundukkan kepala mereka dengan tatapan takut kepadaku.


“Baik, Bu. Kami permisi. Mohon maafkan kami,” kata mereka sebelum keluar dari kamar.


Kami hanya berdua saja, tetapi aku belum berhasil meredakan amarahku. Hendra menarik tanganku agar aku duduk di tepi ranjang. Dia menatapku dengan wajah tersenyum. Aku hanya cemberut, belum bisa membalas senyumnya itu.

__ADS_1


“Ada apa? Dia sudah pergi, mengapa kamu masih marah begini?” tanyanya pelan. Dia menyentuh pipiku. “Dia tidak berhasil menciumku, sayang. Berhenti marah kepadanya. Keva akan semakin puas bila kamu terpancing amarah oleh tingkahnya. Jangan biarkan dia tahu kelemahanmu.”


“Kamu ingat dia?” tanyaku tidak percaya. Dia tertawa. “Kamu ingat dia tetapi butuh waktu lama untuk mengingat aku? Kamu serius, Hendra?”


“Dia adalah perempuan yang membuatku mendapat banyak masalah, dan hampir terjadi perang antara dua pengusaha besar. Untung saja tunangannya bisa meneruskan rencana pernikahan mereka. Kalau tidak, aku akan menjadi musuh bebuyutannya.” Dia melihat ke arah pintu. “Apa yang dia lakukan di sini? Apa dia dan suaminya bercerai?”


“Suaminya meninggal enam bulan yang lalu,” jawabku. Dia terdiam sejenak.


“Keluarganya tidak punya riwayat penyakit jantung. Bagaimana dia bisa sakit? Ah, mungkin dia punya kebiasaan hidup yang buruk.” Dia tersenyum. “Aku senang melihat kamu marah seperti ini.”


“Mengapa kamu malah merasa senang?” tanyaku heran.


“Karena kamu sedang cemburu. Itu artinya kamu benar-benar mencintai aku,” katanya dengan bangga. “Jangan khawatir, sayang. Aku tidak punya perasaan apa pun kepada wanita itu.”


“Aku tahu,” kataku pelan. Aku menunduk dan melihat ke arah tangan kami yang sedang bertautan di atas pangkuannya.


Pintu kamar diketuk, kami melihat ke arah pintu. Seorang perawat pria masuk membawa sebuah kursi roda. Sudah saatnya bagi Hendra untuk menjalani fisioterapi lagi. Aku berdiri dan memberi ruang bagi pria itu untuk menolong suamiku pindah dari rnajang ke kursi roda.


“Kamu akan ikut bersamaku, ‘kan?” tanyanya penuh harap. Aku mengangguk.


Sakti mendekati aku saat kami keluar dari kamar. Dia memberikan sebuah amplop cokelat besar yang aku yakin berasal dari Irwan. Tidak ada nama pengirim juga penerimanya. Aku berterima kasih kepadanya. Sakti kembali ke tempat duduknya.


Aku menoleh ke arah Hendra, dan terpaksa menghentikan langkahku sesaat. Ternyata mereka tidak meneruskan perjalanan mereka menuju ruang terapi tetapi menunggu aku. Melihat suamiku mengulurkan tangannya, aku menerimanya.


“Kamu jangan pergi jauh-jauh. Dan sebaiknya kamu menjaga jarak dengan laki-laki itu meskipun dia adalah pekerja kita,” katanya yang membuatku tidak terkejut. Posesifnya memang sudah akut.

__ADS_1


Sembari menunggu dia menjalani terapi bersama seorang pelatih pria, aku membaca setiap laporan yang ada di dalam amplop cokelat tersebut. Semuanya mengenai Keva Heilyn. Ada apa dengan wanita ini? Mengapa Hendra meminta Irwan untuk menyelidikinya?


__ADS_2