
Umur putra kami sudah dua tahun empat bulan dan Hendra menepati ucapannya. Tidak satu kali pun dia menunjukkan dirinya di depan kami. Kalau bukan karena Hadi yang menjadi cahaya hidup di dunia gelapku, aku tidak akan sanggup hidup seorang diri.
Aku selalu memberitahunya perkembangan demi perkembangan yang dialami Hadi. Aku mengirim foto atau video hal baru yang dilakukannya. Hendra tidak pernah membalas satu pun pesan dariku. Tetapi aku tahu dia membacanya. Karena ketika aku menyampaikan bahwa putranya membutuhkan sesuatu, barang itu akan tiba di depan rumah dalam waktu beberapa jam saja.
“Isa! Isa!” sorak Hadi saat melihat rumah yang kami datangi. Dia senang sekali bisa bertemu sahabat baiknya, Clarissa, hari ini. Cucu pertama Lindsey yang ciri fisiknya sama seperti aku harapkan. Dia berambut pirang dan bermata biru cerah. Cantik sekali. Aku tidak sabar memiliki cucu yang akan secantik calon menantuku itu.
“Adi!” Gadis kecil itu segera berlari menyambut kedatangan putraku di depan pintu. Mereka berdua berpelukan lalu berlari menuju ruang keluarga. Dua orang pengasuh Clarissa mengikuti mereka. Aku bisa tenang meninggalkan mereka bermain bersama.
“Maaf, aku mendadak meminta kita bertemu di rumah. Edu sedang tidak enak badan dan aku tidak tega meninggalkannya di rumah. Dia sedang tidur, jadi kita bisa bebas berbicara.” Lindsey memeluk kami secara bergantian. “Ayo, kita duduk di ruang baca saja.”
“Apa Edu tidak perlu diperiksa dokter?” tanya Qiana.
“Sudah. Hanya demam karena kelelahan.” Lindsey menenangkan kami.
Cahaya lain yang menerangi duniaku adalah keempat sahabatku dan cinta tanpa syarat mereka. Banyak yang terjadi dalam kehidupan pribadi mereka selama dua tahun terakhir. Tetapi ikatan di antara kami semakin kuat, tidak berkurang sedikit pun.
Keadaanku sebagai janda tidak membuat mereka menjadi waswas bahwa aku akan mengganggu pernikahan mereka. Apalagi penyebab perceraianku adalah karena aku tidur dengan laki-laki lain. Dosa yang tidak bisa dimaafkan oleh Hendra.
“Kamu akan terkejut dengan kabar ini, Zahara. Semalam suamiku melihat Hendra makan malam berdua saja dengan seorang wanita muda dan cantik,” kata Qiana setengah berbisik. Dadaku terasa nyeri, tetapi aku mengabaikannya.
“Mengapa aku harus terkejut? Dia berhak bersama wanita mana pun sekarang.” Aku berusaha untuk tersenyum. Mereka menatapku dengan saksama.
“Jangan tersenyum seperti itu. Kamu kelihatan jelek,” ejek Darla. “Pergi temui dia di apartemennya. Cium dia sampai berlutut memohonmu untuk kembali. Jangan memasang wajah pura-pura bahagia begitu. Kamu tidak bisa lagi membohongi kami.”
__ADS_1
“Jangan, jangan. Aku lebih suka begini.” Qiana tidak setuju. “Aku tidak mau kedamaian hidupku terusik melihat kemesraan mereka.” Mereka tertawa bersama. Benar-benar sahabat yang baik. Mereka berbahagia di atas penderitaanku.
Claudia tidak ikut dalam pertemuan hari ini karena dia kelelahan dan sudah tidur. Andai saja dia ikut mengobrol bersama kami, aku pasti tidak akan bisa berkutik menghadapi godaan mereka berempat. Aku tahu maksud mereka baik. Hanya itu yang membuatku tidak marah berkepanjangan.
Hal yang paling sulit setiap kali kami akan pulang adalah memisahkan Hadi dan Clarissa. Mereka sama-sama tidak mau dipisahkan. Aku membiarkan putraku menangis dalam pelukanku sampai dia tertidur sendiri. Pada saat dia terbangun di kamarnya, dia sudah tidak marah lagi kepadaku.
Karena lelah bermain, aku tidak kesulitan menidurkannya pada malam itu. Aku baru membacakan beberapa lembar halaman buku pilihannya, dia sudah pulas. Setelah merapikan selimutnya dan mencium keningnya, aku meninggalkannya tidur sendiri di kamarnya.
Aku mempersilakan para pekerja untuk beristirahat, tetapi aku masih mendengar bunyi dan suara obrolan dari arah dapur. Karena aku ingin mengambil makanan ringan dan minuman hangat, aku menuju bagian belakang rumah.
“Iya. Semalam juga datang lagi. Kadang-kadang kasihan melihat mereka jadi seperti ini,” kata Yuyun yang kemudian melihat ke arahku. “Ah, Nyonya. Anda membutuhkan sesuatu?”
“Tidak apa-apa. Aku bisa mengambilnya sendiri.” Ada Abdi, Liando, dan Fahri juga di ruangan ini. Mereka sedang menikmati minuman hangat dan kue.
“Jangan, Nyonya. Tuan tidak mengizinkan saya membiarkan Nyonya melakukan pekerjaan apa pun.” Dia membuka lemari es.
“Apakah Nyonya ingin sepotong kue keju atau cokelat?” Yuyun tidak menjawab pertanyaanku.
Aku mengalah dan membiarkan dia menyiapkan camilan untukku. Aku hanya ingin bekerja beberapa saat. Buku keduaku disambut baik oleh pembaca, jadi penerbit memintaku untuk menulis buku ketiga. Kali ini aku berada dalam tahap mengedit naskah karena mereka sudah setuju dengan cerita yang aku siapkan. Pekerjaan yang paling berat dibandingkan menulis naskah di kertas kosong.
Jam pada layar laptopku menunjukkan pukul sepuluh, aku berhenti. Hadi membutuhkan aku tetap bugar, jadi aku tidak bisa kekurangan istirahat. Rumah terasa sepi, para pekerja pasti sudah masuk ke kamar mereka masing-masing.
Aku mandi sepuasnya di bawah pancuran, lalu keluar dari kamar mandi dengan mantel. Saat melihat ke arah tempat tidur, aku memekik terkejut. Bagaimana dia bisa berada di kamarku? Ah, tidak. Ini tidak sepenuhnya kamarku. Ini adalah kamarnya juga.
__ADS_1
“Hendra? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyaku heran. Aku menutup rapat-rapat mantelku dan mengikat talinya dengan erat di pinggangku. Walaupun kami sudah lama tidak bersama, jantungku melompat bahagia melihat dia ada di sini di hadapanku. Aku harus berhati-hati.
“Aku sedang berada di rumahku, di kamarku sendiri, kamu keberatan?” Dia balik bertanya. Cara bicaranya aneh. Apa dia baru saja minum-minum? Dia berdiri dan berjalan sempoyongan ke arahku. Melihat dia tersandung karpet, aku segera mendekatinya agar dia tidak terjatuh. Za, bukan begini yang namanya berhati-hati.
“Apa kamu datang bersama Kafin?” Aku mengajaknya kembali ke tempat tidur agar dia bisa duduk. Aku harus segera menjauh darinya. Tetapi dia malah memelukku dan menghirup rambutku.
“Kamu wangi sekali. Kulitmu juga lembap. Kamu baru selesai mandi?” Dia mencium keningku dan terus meracau. Aku tidak mengenakan apa pun di balik mantel mandiku, jadi sentuhannya itu mulai membuatku tidak nyaman.
“Kamu harus pulang, Hendra.” Aku berusaha melepaskan tangannya yang memeluk tubuhku.
“Aku sudah pulang, sayang. Rumahku adalah di mana kamu berada.” Dia mempererat pelukannya. “Apa kamu tidak merindukanku, Za? Mengapa kamu tetap cantik begini? Mengapa kamu bahagia setelah kita berpisah? Mengapa hanya aku yang menderita?”
“Apa kamu buta? Aku juga menderita sejak hidup sendiri tanpamu,” protesku.
“Mengapa kamu tidak bisa mencintaiku? Apa aku seburuk itu untuk menjadi suamimu? Tolong, cintai aku, Za. Satu hari saja. Tidak. Satu jam saja.” Dia mulai mencium wajahku lagi. Sepertinya dia tidak mendengarkan apa pun yang aku katakan.
“Kamu bau alkohol.” Aku menutup bibirku agar dia tidak bisa menciumnya. “Sebaiknya kamu membersihkan diri. Aku tidak mau melakukan apa pun denganmu dalam keadaan mabuk begini. Lalu kamu harus pulang.”
“Aku sudah pulang. Ini rumahku.” Dia membuka matanya, lalu membingkai wajahku dengan kedua tangannya. “Dan kamu adalah istriku.” Dengan satu kalimat itu, dia tidak lagi terlihat seperti orang mabuk tetapi seperti seorang pria yang punya tekad kuat untuk mengambil kembali apa yang pernah menjadi miliknya.
Tidak butuh waktu lama baginya untuk membuatku menginginkan hal yang sama. Dia mengenal setiap jengkal dari tubuhku. Yang kami lakukan ini tidak benar. Kami sudah tidak bersama lagi. Tetapi kepalaku sedang tidak bisa berpikir dengan jernih. Dan aku terlalu merindukannya untuk menolak kenikmatan yang ditawarkannya.
“Tolong, cintai aku, Za,” pintanya lagi memelas.
__ADS_1
“Aku mencintaimu, Hendra.” Aku tahu bahwa dia akan melupakan kalimat itu saat dia bangun nanti. Hanya itu alasan yang menguatkan aku untuk memberanikan diri mengatakan perasaanku dengan jujur kepadanya. Aku memang seorang pengecut.
Pada pagi hari, aku bangun dan menemukan aku berbaring seorang diri di tempat tidur. Hendra tidak ada lagi di sisiku. Kalau bukan karena rasa sakit pada otot-ototku dan bekas ciumannya di beberapa bagian tubuhku, aku akan menganggap kejadian semalam sebagai mimpi. Bukti yang tidak bisa aku sangkal adalah saat satu bulan kemudian, aku melihat dua garis merah pada testpack yang aku gunakan.