
Aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Pengacara apa? Aku hanya mengenal Oscar dan aku belum menghubungi dia sama sekali. Apakah ini ulah Mama? Ada apa dengan ibuku itu? Pernikahanku dengan Za bukanlah urusan siapa pun. Ini murni urusan kami berdua.
Papa juga sama saja. Aku bisa mengurus diriku sendiri, untuk apa dia mengundang wanita ini ke rumah? Kepalaku sakit pagi tadi karena aku mengingat beberapa hal yang sangat menyakitkan. Aku tidak mau mengingatnya lagi. Semua yang berhubungan dengan perempuan ini hanyalah luka.
Dan kepalaku semakin sakit mendengar teriakan ketakutan disertai bunyi gemuruh dari televisi. Aku mengambil remote dan mematikan volume televisi. Ruangan itu mendadak senyap sehingga aku bisa berpikir dengan jernih.
“Aku tidak mengutus siapa pun ke rumah. Setiap urusan hukum pasti aku limpahkan kepada Oscar. Mungkin Mama yang buru-buru ingin kita berpisah yang mengirim pengacara menemui kamu.” Aku mendesah pelan. “Dan aku bukan pengecut.”
“Seorang suami dan ayah yang kabur dari rumah meninggal istri dan anak-anaknya adalah seorang pengecut. Kamu lebih memilih lari dari masalah daripada mendiskusikan dan membicarakannya denganku. Apa kamu pikir hal ini tidak pernah kita alami sebelumnya?” ucapnya kesal.
“Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak mau menjalani ini lagi denganmu. Aku tidak peduli kamu hilang ingatan atau tidak, tetapi aku tidak mau terluka lagi. Aku juga tidak mau anak-anak menderita lagi. Waktumu hanya dua hari. Bila kamu tidak kembali ke rumah pada hari Sabtu nanti, aku anggap kamu memutuskan untuk pergi dari hidup kami selamanya.”
“Apa maksudmu?”
“Perceraian kita sebelumnya masih bisa diperbaiki. Aku sadar, akulah yang salah. Tetapi bila kamu menceraikan aku untuk kedua kalinya, aku tidak akan kembali kepadamu. Sekalipun kamu memohon kepadaku, tidak akan ada lagi kesempatan untuk bersamanya.
“Aku mencintai kamu, Hendra, bukan berarti aku mengizinkan kamu mempermainkan perasaanku seperti ini. Jadi, aku datang ke sini memenuhi permintaan Papa atas dasar tanggung jawabku sebagai seorang istri. Kamu jangan berpikir aku datang untuk membujuk kamu kembali,” katanya dengan tegas. Dia membuang muka dan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
Mengapa aku yang dimarahi? Yang melakukan kesalahan di sini adalah dia, mengapa aku yang merasa bersalah sekarang? Tidak. Ini tidak benar. Kesalahan terbesar dalam sebuah pernikahan itu adalah perselingkuhan. Aku berhak untuk marah kepadanya.
Jangan hukum dia dua kali lipat untuk kesalahan yang sama. Kalimat Papa itu kembali terngiang di kepalaku. Papa ini sebenarnya papaku atau bukan? Bagaimana bisa dia lebih memihak kepada menantunya daripada putranya sendiri?
“Aku tidak bermaksud untuk meninggalkan anak-anak,” kataku membela diri. “Bagaimana keadaan mereka? Apa mereka baik-baik saja?”
“Mereka kehilangan papa mereka. Apa menurutmu mereka akan baik-baik saja? Kamu baru beberapa bulan pulang dan tinggal bersama kami. Hadi lima tahun tumbuh tanpa kehadiranmu, lalu Dira selama dua tahun besar tanpa ayahnya. Coba katakan kepadaku, apa mereka baik-baik saja?”
__ADS_1
Kalimatnya itu membuat aku semakin merasa bersalah. Aku tidak bersama putraku selama lima tahun pertamanya? Apa yang terjadi pada kepalaku? “Maafkan aku. Aku tidak tahu hal itu.”
“Aku berusaha menjelaskan apa yang terjadi, kamu malah tertidur. Apa kamu ingat itu? Lalu saat bangun tidur, kamu mengingat kejadian itu. Bukannya bicara denganku, kamu lebih memilih pergi. Benar-benar pengecut,” umpatnya lagi.
“Mengapa kamu terus mengumpatku seperti ini? Za yang aku kenal tidak begini.”
“Karena kalau aku tidak terus mengumpatmu, aku akan melakukan tindakan bodoh dengan berlutut dan memohon kamu untuk pulang demi anak-anakku. Tetapi aku tidak akan melakukan itu. Jika kamu tidak sayang kepada mereka, aku tidak akan mengemis cintamu demi mereka. Hadi dan Dira terlalu berharga untuk mendapatkan cinta yang terpaksa dari papa mereka sendiri. Pengecut.”
Pintu diketuk sebelum aku sempat memberi respons. Kepala pelayan memberitahukan bahwa pelatihku sudah datang. Saatnya untuk terapi, tetapi percakapan ini akan kami lanjutkan nanti.
Za ikut dengan kami dan menemani aku selama menjalani terapi. Tetapi dia sibuk sendiri dengan ponselnya, entah mengetik apa. Sebentar. Apa yang sedang aku lakukan? Mengapa aku malah memerhatikan dia dan bukan fokus pada instruksi dari pelatihku? Aku segera mengalihkan perhatian dan meneruskan terapi fisikku.
Selesai terapi, aku terpaksa meminta bantuannya untuk menolong aku pindah dari kursi roda ke bak mandi. Aku memejamkan mata saat aroma khas sampo dan berbagai wewangian lain khasnya memasuki penciumanku.
“Kamu bisa melepas pakaianmu sendiri, ‘kan?” tanyanya. Aku tergoda untuk menjawab tidak, tetapi aku segera memukul kepalaku sendiri dalam khayalanku agar tidak bertindak yang memalukan.
Dia datang kembali saat aku sudah selesai mandi. Melihat aku tidak mengenakan apa pun, dia mengambil mantel mandi dan membantu aku untuk memakainya. Kemudian dia memapah aku ke kamar. Sudah ada pakaian bersih yang dia letakkan di tempat tidur.
Aku mengenakan pakaian sendiri, juga berpindah dari tempat tidur ke kursi roda dengan usahaku sendiri. Dia tidak mengatakan akan ke ruangan mana, tetapi aku berasumsi bahwa dia berada di ruang makan. Sebelum aku sampai ke pintu, terdengar deru mobil di depan rumah.
Kepala pelayan bergegas membukakan pintu. Papa dan Mama masuk dengan wajah bahagia. Aku yakin hasil pemeriksaan hari ini sangat baik. Mereka mengajak aku untuk makan siang, maka aku meminta kepala pelayan untuk memanggil istriku, ah, maksudku Za.
“Pemeriksaan hari ini sangat baik. Tidak ditemukan adanya sel kanker. Dan mulai minggu ini, senam yang biasanya aku lakukan bisa dinaikkan tingkat kesulitannya. Bila dalam dua bulan ke depan aku masih bebas dari kanker, aku bisa ikut kelas senam khusus. Jadi, aku tidak perlu sendirian di rumah dengan seorang pelatih,” ucap Mama dengan wajah bahagia.
“Selamat, ya, Tante. Selamat, Ma,” kataku dan Za serentak. Papa melihat kami secara bergantian, lalu tertawa geli.
__ADS_1
“Bagaimana putraku tadi? Apa dia membuat kamu susah?” tanya Papa. Za menggeleng.
“Tidak, Pa. Apa aku sudah bisa pulang?” tanyanya penuh harap.
“Pagi ini dia mengalami sakit kepala hebat, jadi dia tidak bisa dibiarkan melakukan apa pun sendiri. Naava punya perawat yang akan mendampinginya, sedangkan Hendra tidak. Aku harus pergi ke kantor, Nak. Bisakah kamu tinggal sampai aku pulang nanti?” pinta Papa setengah memohon.
Za melihat ke arah aku, lalu kembali kepada Papa. “Baik, Pa.”
“Dan peraturannya masih sama. Jika dia, atau istriku, membuatmu susah, segera hubungi aku,” ucap Papa dengan nada serius. Aku dan Mama serentak menyatakan protes kami, tetapi Papa meminta kami untuk tidak membantah. Kami terpaksa diam.
Begitu Papa pergi ke tempat kerja, Mama masuk ke kamar bersama perawatnya, aku dan Za hanya berdua saja di ruang keluarga. Dia sama sekali tidak mau menoleh ke arahku dan kembali sibuk dengan ponselnya. Apa yang dari tadi dia kerjakan?
Obat mulai bekerja, aku merasa mengantuk. Aku keluar dari ruangan itu menuju kamar. Dari bunyi langkah kakinya di belakangku, sepertinya dia mengikuti aku ke kamar. Karena tenagaku sudah pulih setelah makan siang, aku bisa bergerak sendiri dari kursi roda ke tempat tidur.
Aku tidak peduli apakah dia masih ada di kamar saat aku memejamkan mata, aku membiarkan tidur mengambil alih kesadaranku. Setengah mengantuk, aku merasakan seseorang memperbaiki posisi selimutku, lalu terdengar bunyi bip dari penyejuk ruangan. Aku tersenyum merasakan sebuah kecupan di keningku, lalu terdengar bisikan, ‘”Dasar laki-laki bodoh.”
Mataku terlalu berat untuk dibuka, jadi aku biarkan siapa pun itu untuk mengejek aku. Kepalaku terasa lebih ringan saat aku bangun tidur. Za tidak ada di sekitarku. Satu sisi, hatiku merasa kehilangan, sedangkan di sisi lain, aku merasa lega.
“Tante, sudahlah. Apa Tante tidak lelah mendendam seperti ini? Tolong, perhatikan kesehatan Tante. Aku tidak akan mempersulit apa pun bila Hendra ingin bercerai denganku. Jadi, Tante bisa tenang sekarang,” kata Za dari arah ruang keluarga. Aku yang berniat memutar kenop pintu, membatalkan dan menunggu untuk mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
“Kalau kamu memang tidak berniat mempersulit, mengapa kamu tidak menandatangani surat yang dibawa oleh pengacara ke rumahmu?” tanya Mama sengit.
“Karena aku tahu bukan suamiku yang mengirimnya. Aku tahu maksud siapa pun yang mengirim orang lain ke rumahku tersebut. Bila aku menandatangani surat itu, aku akan dituduh berinisiatif atas perceraian kami,” jawab Za.
“Mengapa? Mengapa begitu sulit untuk menyuruhmu pergi? Aku sangat membencimu dan tidak mau melihat kamu terus menyakiti putraku. Mengapa bukan kamu saja yang berada di dalam kecelakaan itu dan hilang ingatan selamanya? Mengapa harus putraku yang selalu menderita dan jatuh sakit karena dosamu?” ucap Mama dengan penuh kemarahan.
__ADS_1
Aku membuka pintu begitu mendengar isakan Za. “Ma, hentikan!”