Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 121 - Berita Bahagia


__ADS_3

“Aku sudah memberi Mama peringatan sebelumnya. Mama tidak menggubrisnya, maka aku tidak akan menoleransi sikap Mama lagi. Aku juga akan melakukan hal yang sama bila istriku tidak memberi sikap hormat kepada orang tuaku.” Hendra masih berdiri menahan pintu tetap terbuka.


“Baik. Kami pergi.” Papa berdiri. Kali ini Mama tidak menepis tangan suaminya. Aku ikut berdiri dan mengantar kepergian mereka dengan pandanganku. Hendra melihat ke arahku dan mengulurkan tangannya. Aku menurut dengan berjalan mendekatinya.


Kami mengantar Papa dan Mama sampai teras rumah. Mereka tidak menoleh ke arah kami sama sekali saat memasuki mobil. Mengingat betapa baiknya hubungan kami dahulu, tidak pernah terbersit dalam benakku bahwa hubungan kami akan menjadi seperti ini.


“Mengapa Mama percaya bahwa Hadi adalah putramu tetapi tidak dengan Dira?” tanyaku ingin tahu.


“Aku memberi mereka bukti tes DNA Hadi denganku. Aku tidak melakukan hal yang sama dengan Dira. Jika mereka lebih percaya kepada sehelai dokumen daripada perkataanku, maka mereka tidak pantas menjadi kakek dan nenek dari anak-anakku.” Hendra merangkul bahuku. “Ayo, kita makan siang. Kamu pasti sudah lapar. Jangan lupa hubungi teman-temanmu. Kita makan siang bersama besok di sini.”


Aku melirik jam tanganku. “Sudah terlalu siang untuk berbelanja bahan makanan. Biar Yuyun belanja besok saja.” Aku mulai memikirkan menu apa yang cocok untuk disajikan besok.


“Fahri dan Yuyun sudah pergi belanja saat kamu tidur. Semuanya sudah beres. Tinggal mengundang tamu kehormatannya saja.” Hendra tersenyum penuh arti. Aku berjinjit untuk mencium pipinya. Dia menundukkan kepalanya.


“Terima kasih. Dan maafkan aku yang sudah merusak hubunganmu dengan orang tuamu. Aku janji, aku akan mencari cara untuk memperbaiki hubungan kita dengan mereka.” Aku memeluknya.


Hendra mengajak kami semua untuk bertemu di restoran kesukaanku. Keluargaku datang langsung dari taman bermain, sedangkan kami berangkat dari rumah. Anak-anak segera mendekati papa mereka. Aku tidak melihat Ara ada di antara mereka.


“Liando membawanya ke taman di dekat sini. Restoran tidak mengizinkan binatang peliharaan dibawa ke dalam.” Mama menjawab pertanyaanku. “Aku sangat senang melihat kalian kembali bersama. Akhirnya, aku tidak perlu mendengar keluhan Ara lagi tentang ….”


“Besok datang ke rumah, ya, Ma. Kami mengadakan acara syukuran dan mengundang teman-teman juga.” Aku segera memotong kalimat yang Mama ucapkan agar Hendra tidak mengetahuinya.


“Mama tadi ingin mengatakan …?” tanya Hendra. Aku segera memasukkan sepotong daging ke mulut suamiku tersayang supaya dia tidak menyelesaikan kalimatnya.


“Makan yang banyak, sayang. Berat badanmu berkurang drastis sejak kamu tinggal sendirian.” Aku tersenyum semanis mungkin kepadanya.


Aku tahu ini hanya sementara, tetapi setidaknya aku berhasil menghindari pembicaraan yang hanya akan mempermalukan aku. Bukan hanya adikku Zach, orang tuaku juga tidak segan-segan membuka rahasiaku di depan orang yang ada hubungannya dengan rahasia tersebut.

__ADS_1


“Jadi kali ini kalian benar-benar kembali bersama?” tanya Rasmi ingin tahu. Aku dan Hendra serentak menganggukkan kepala. “Aku ikut bahagia. Tolong, jangan berpisah lagi. Suamiku sangat sedih setiap kali mengingat kalian berdua.”


“Dan ini adalah saat yang tepat. Iya, ‘kan, sayang?” Zach merangkul bahu istrinya. Kami menatap mereka dengan bingung. Rasmi mengangkat kedua tangannya dan menunjukkan sebuah foto hasil USG. Kami spontan berteriak bahagia.


“Oh, Rasmi! Selamat untuk kalian berdua!” Aku berdiri dan mendekatinya. Dia tertawa bahagia saat aku memeluknya dengan erat dan memberi ciuman di kedua pipinya. Aku juga mengucapkan selamat dengan memeluk dan mencium adikku.


Papa, Mama, dan Hendra juga bergantian mengucapkan selamat. Mereka sudah lama menantikan kehadiran anak kedua, akhirnya Tuhan mengabulkan permintaan mereka. Zach dan Rasmi berebut menceritakan awal mula mereka mencurigai kehamilan tersebut. Usia kandungannya sudah dua belas minggu. Mereka sengaja menunggu sebelum memberitahu kabar itu kepada kami.


“Aku akan jadi kakak,” ucap Zeph sambil memeluk mamanya.


“Sama seperti aku,” ucap Hadi tidak mau kalah.


“Nah, Ma. Cucu keempat Mama sebentar lagi akan lahir.” Aku tersenyum penuh arti kepadanya.


“Aku tidak keberatan dengan cucu kelima.” Mama membalasku dengan telak. Semua orang tertawa.


“Tidak akan ada upacara pernikahan khusus, Nak. Hanya makan siang bersama dengan mengundang orang-orang yang kita kenal,” jawab Hendra.


“Papa akan tinggal bersama kami selamanya dan tidak pergi lagi, ‘kan?” tanya Hadi penuh harap.


“Iya. Kita akan tinggal bersama untuk seterusnya.” Hadi segera bersorak senang mendengarnya.


Hendra membacakan buku untuk anak-anak pada malam itu. Mereka berkumpul di kamar Hadi, sedangkan aku mencoba untuk menambah beberapa paragraf pada novel baruku. Aku punya tenggat waktu yang harus aku kejar jika tidak mau terkena denda karena melanggar perjanjian yang tertera pada kontrak.


Ucapan Hendra agar mengubah karakter tokoh utama pada bukuku berikutnya menghantuiku. Karena itu aku mengubah beberapa hal yang membuat cerita pada buku sedikit berubah. Tetapi dia benar, bukuku terasa lebih baik karena hal itu. Semoga saja penerbit mau menerima perubahan tersebut dan pembaca tetap menyambut baik buku karyaku.


Pintu ruanganku diketuk, lalu dibuka. Aku segera menutup semua jendela pada laptop karena aku tahu siapa yang datang. “Saatnya untuk tidur, sayang.” Aku mematikan laptop, lalu berdiri.

__ADS_1


“Anak-anak merepotkanmu dengan pertanyaan mereka yang tidak ada habisnya?” tanyaku ingin tahu. Dia mendesah keras untuk mendramatisir.


“Kamu tidak akan tahu betapa besar pengorbananku untukmu malam ini. Hadi tidak berhenti bertanya mengenai hal yang baru didengarnya. Aku tidak bisa bayangkan apa jadinya jika Dira juga sudah mulai mengajukan pertanyaan serupa.”


“Tidak perlu dibayangkan, jalani saja.” Aku menepuk-nepuk dadanya.


“Jangan berteriak,” katanya membuatku bingung. Dia sedikit berlutut dan sekejap saja aku sudah berada di bahunya. Oh, Tuhan. Kepalaku pusing karena seluruh darahku rasanya mengalir menuju kepalaku. Apalagi kami sedang menaiki tangga. Jarakku dari lantai bawah cukup jauh sehingga mataku berkunang-kunang.


“Kamu benar-benar keterlaluan!” pekikku kesal begitu kami berada di kamar. Dia menurunkan aku begitu kami berada dekat dengan tempat tidur. Tangannya segera membuka tali pada mantel sutraku. Yang benar saja.


“Apa yang kamu lakukan?” Aku menahan tangannya yang sedang beraksi dengan kedua tanganku.


“Aku ingin bercinta dengan istriku,” jawabnya dengan santai. Dia menggunakan tangannya yang bebas untuk melepaskan genggaman tanganku dari tali mantelku.


“Tidak.” Aku menatapnya dengan serius. Dia menelengkan kepalanya.


“Tidak?” tanyanya tidak percaya. Aku mundur selangkah dan dia tidak memaksakan kehendaknya. Dia melepaskan pegangannya pada pakaianku.


“Masih ada satu rahasia yang belum kamu ceritakan kepadaku.” Aku meletakkan kedua tanganku di pinggulku. Dia menatapku dengan bingung.


“Aku sudah menceritakan semua rahasiaku kepadamu.” Dia duduk di tepi tempat tidur. Saat aku melihat tangannya berusaha untuk membuka kaus yang dikenakannya, aku segera melarang.


“Kita perlu bicara, jangan ganggu konsentrasiku dengan memamerkan tubuhmu,” kataku dengan tegas. Dia tertawa kecil. “Ayo, aku tahu bahwa kamu tahu rahasia apa yang aku maksudkan.”


“Aku tidak tahu. Seingatku, aku sudah mengatakan semuanya.” Dia mengangkat kedua bahunya.


Baiklah. Dia pasti berpikir bahwa aku tidak mengetahui rahasianya yang satu ini. “Sejak kapan kamu datang diam-diam ke kamarku dan tidur bersamaku di ranjang ini?”

__ADS_1


__ADS_2