
Aku merasakan sebuah tangan melingkari tubuhku sehingga aku tetap bisa berdiri di atas kedua kakiku. Hendra mengganti saluran televisi dan berhenti pada salah satu saluran yang memutar sebuah film lepas. Dia mengajakku untuk duduk. Aku menurut.
“Siapa pun yang telah melakukan semua itu akan mendapatkan ganjarannya, sayang. Jangan kamu pikirkan, ya. Semuanya akan baik-baik saja.” Dia menyeka rambut yang menutupi kedua pipiku.
“Hadi adalah anak kandungmu, Hendra. Dira juga,” kataku pelan.
“Aku tahu. Jangan dengarkan apa yang mereka katakan di berita tadi, sayang.”
“Bukan hanya keluarga, teman-teman, dan tetangga kita saja yang tahu mengenai malam yang aku habiskan bersama Vivaldo. Seluruh dunia akan segera mengetahuinya, Hendra. Dan karena aku, kamu akan kehilangan segalanya. Nama baikmu, rekan bisnismu, bahkan hakmu atas perusahaan itu.” Ya, Tuhan. Mengapa ini terjadi sekarang? Mengapa tidak terungkap saat kami masih berpisah?
“Hei, aku tidak akan kehilangan apa pun. Apa kamu meragukan kemampuanku setelah selama ini mengenalku? Kamu harus kuat, sayang. Ingat, laki-laki itu memanfaatkan situasimu dan kamu tidur bersamanya bukan atas keinginanmu sendiri. Aku pastikan bahwa semua orang akan mengetahui hal itu. Tolong, aku lebih baik kehilangan segalanya daripada kehilangan kamu,” ucapnya memohon.
“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanyaku takut. Dia memasang wajah serius.
“Kamu tidak perlu melakukan apa pun. Cukup tinggallah di sisiku dan rawat anak-anak kita. Biar aku yang mengurus selebihnya.”
“Hendra, Papa dan Mama sangat membenciku. Mereka pasti akan semakin membenciku karena hal ini. Bagaimana kalau mereka tidak akan pernah bisa memaafkan aku?”
“Satu-persatu, sayang. Jangan bebankan dirimu dengan banyak masalah sekaligus. Yang perlu kita jaga sekarang adalah agar Hadi dan Dira tidak terpengaruh dengan keadaan ini. Ada yang sengaja menimbulkan keraguan publik untuk mengguncang keputusan pemegang saham. Aku tidak akan membiarkan mereka lolos setelah berani mempertanyakan legalitas hubunganku dengan putraku.”
Mendengar kalimat terakhirnya itu, darahku mendadak mendidih. Semua orang boleh menghina dan melakukan apa pun yang mereka mau terhadapku. Tetapi tidak dengan anak-anakku. Dosaku bukanlah dosa mereka. Tidak bisa mengalahkan Hendra dengan cara mengukir prestasi, seseorang malah melibatkan anak-anakku?
“Iya. Kamu benar. Masalah yang kita hadapi sekarang adalah kebohongan yang mereka sebarkan. Tangkap mereka semua, Hendra. Kamu tidak boleh membiarkan mereka lolos setelah melibatkan anak-anak dalam urusan orang dewasa,” kataku dengan tegas. Hendra tersenyum.
__ADS_1
“Nah. Ini baru istriku!” Dia mengecup bibirku. “Jangan biarkan siapa pun mencoba memisahkan kita lagi. Aku membutuhkan kamu untuk tetap tegar. Apa kamu mengerti? Jangan biarkan siapa pun melemahkanmu. Aku membutuhkanmu, Za.”
Aku menelan ludah dengan berat. “Iya. Kita bisa menghadapi ini bersama.”
“Benar. Kita bisa menghadapi ini bersama.”
Tidak ingin terpengaruh dengan berita yang sedang viral, aku bersikap senormal mungkin saat kami akan pergi menginap selama dua malam di sebuah tempat yang rahasia. Hadi sangat bersemangat ingin melihat tempat apa yang disebut rahasia oleh papanya tersebut.
Kami bernyanyi bersama sepanjang perjalanan. Dira ikut menyebut lirik yang dia sudah kenali. Untuk lirik yang tidak dia kenal, dia hanya menatap kami dengan bingung. Melihat bibir mungilnya itu menganga heran sangatlah menggemaskan.
“Wah, Pa! Apa kita akan melihat banyak binatang lagi?” tanya Hadi melihat papan besar di pintu masuk resor yang kami tuju.
“Kalau kamu mau, kita bisa pergi ke sana nanti. Sebelumnya, kita ke penginapan dahulu,” kata Hendra misterius. Hm. Vilanya dekat dari tempat ini, untuk apa dia membuang-buang uang untuk sebuah tempat penginapan?
Kami menunggu saat Hendra mengurus administrasi. Kemudian dia mengajak kami menuju kamar kami. Hadi bersorak senang melihat tempat yang disebut kamar oleh Hendra. Kami menginap di sebuah karavan. Ada teras yang terlindung dengan atapnya, lalu di dalam karavan ada sebuah tempat tidur besar, sofa, televisi, kamar mandi, dan hal detail lainnya yang umumnya ada di sebuah kamar hotel.
“Wah, Pa. Tempat ini keren!” Hadi memeriksa apa saja yang ada di karavan tersebut. Dia memeriksa kamar mandi, menaiki tempat tidur, melihat isi setiap laci, bahkan kulkas. Dira meniru apa yang kakaknya lakukan.
“Terima kasih, sayang. Ini tempat yang bagus sekali.” Aku memeluk Hendra dan dia menghadiahiku dengan kecupan di pelipis.
“Kita makan siang sekarang?” tanyanya. Aku mengangguk cepat.
Hadi lebih tertarik untuk berenang ketika papanya menawarkan antara berenang atau melihat binatang. Maka sepanjang hari itu hanya kami manfaatkan dengan berada di resor. Kami juga berjalan-jalan melihat fasilitas penginapan lain yang mereka tawarkan. Tetapi putra kami lebih menyukai apa yang Hendra pilih. Menginap di sebuah karavan.
__ADS_1
Puas berenang, anak-anak mengantuk. Aku dan Hendra bersantai di teras menikmati sejuknya udara pegunungan saat Hadi dan Dira tidur di kamar. Kami memilih salah satu film dan menontonnya lewat tablet milik suamiku. Aku duduk dengan meletakkan kepalaku di dadanya.
Mendengar bunyi benda bergetar, aku menoleh ke arah meja. Ada panggilan video dari Darla. Aku dan Hendra saling tersenyum penuh arti. Dia menghentikan film itu sebentar agar aku bisa bicara dengan teman-temanku. Dan dugaanku benar. Keempat wajah sahabatku muncul di layar.
“Zahara, kamu baik-baik saja?” tanya Qiana khawatir.
“Aku baik-baik saja. Mengapa kalian terlihat khawatir begitu?” tanyaku geli. Mereka menatapku dengan bingung.
“Apa kalian belum tahu apa yang terjadi? Kalian berdua sedang menjadi bahan pembicaraan hampir semua orang di negeri ini,” ucap Qiana lagi.
“Seharusnya kamu bangga kepada sahabatmu ini, Qiana. Dia menghadapi masalah dengan berani,” kata Hendra yang tiba-tiba saja mencium pipiku. Teman-teman segera ber-huu ria melihatnya. Aku menutup wajah dengan tanganku yang bebas, menahan malu.
“Apa kamu yakin kamu baik-baik saja? Kalian baik-baik saja? Keadaan di sini sangat kacau,” kata Darla menambahkan. “Kami melewati rumah kalian dan ada banyak wartawan dengan mobil mereka mengharapkan bisa mewawancarai kalian.”
“Bahkan kantormu juga penuh dengan wartawan, Hendra. Berita utama setiap stasiun televisi hanya menayangkan tentang video Zahara dan laki-laki tidak tahu malu itu, pengangkatan Hendra sebagai Direktur Utama Satya Perkasa Grup, dan kalian harus tahu ini, ada satu stasiun televisi mendapatkan wawancara eksklusif dengan pria itu. Acaranya ditayangkan malam ini,” kata Lindsey.
“Dasar laki-laki tidak tahu malu. Dia malah menumpang tenar dengan tampil di televisi. Orang normal pasti malu membicarakan aibnya. Dia justru terlihat bangga.” Qiana mendengus kesal.
“Apa kamu lupa? Dia itu mantan narapidana. Wawancara itu adalah kesempatan baginya untuk membersihkan namanya juga. Jadi orang-orang tidak akan mengingat dia sebagai penerima suap, tetapi penakluk istri orang. Kalian tahu sendiri bahwa Zahara terkenal tak tersentuh di kalangan kita. Tidak ada seorang pria pun yang Hendra izinkan sekadar menjabat tangannya,” kata Darla.
“Wah, kamu benar juga. Dia pasti bangga sekali bisa menceritakan bahwa dia bukan hanya berhasil memegang tangan Zahara, tetapi juga … laki-laki berengsek,” umpat Claudia. Kami meletakkan telunjuk di depan bibir kami mendengarnya menyebut sumpah serapah terlarang tersebut.
Inikah yang disebut Vivaldo sebagai upaya balas dendamnya? Apa yang akan dia katakan dalam wawancara nanti? Semua omong kosong yang pernah disampaikannya kepada Hendra? Atau dia mau menyombongkan diri seperti yang disampaikan oleh teman-teman? Tidak mungkin. Bila dia begitu yakin bisa membuatku memohon agar dia kembali kepadaku, dia pasti punya rencana lain.
__ADS_1