Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 102 - Berlibur Sambil Belajar


__ADS_3

“Apakah aku menyakitimu? Aku memaksakan kehendakku kepadamu?” tanya Hendra bertubi-tubi.


“Tidak. Kamu sama sekali tidak menyakitiku.” Aku berusaha untuk meyakinkannya.


“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud melakukan itu. Aku tidak mengingatnya sama sekali. Aku tidak bertanya kepada Kafin karena aku tidak mau menanyakan pertanyaan sepribadi itu. Yang aku ingat, aku sedang makan bersama rekan-rekan kerjaku. Kami memang minum tetapi aku tidak tahu apa yang membuatku sampai mabuk. Mungkin aku hanya ingin melupakan rasa sakit untuk sesaat.”


Dia benar-benar pria yang tidak bisa aku pahami. Bila perpisahan ini begitu menyakitkan baginya, mengapa dia tetap pergi? Aku telah melakukan segalanya yang aku bisa untuk menjaga pernikahan kami. Dia tiba-tiba saja memberikan surat perceraian itu. Apa lagi yang bisa aku lakukan jika dia sudah bertekad untuk bercerai?


Lima tahun berpisah, kami masih sama-sama sendiri. Aku tidak tahu bagaimana dengannya, tetapi aku tidak tertarik dengan pria mana pun di luar sana. Seandainya dia masih mencintaiku, mengapa dia tidak mau memperjuangkan hubungan kami lagi bersamaku?


“Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun. Kamu sudah tahu sekarang, jadi kamu sudah bisa merasa tenang.” Aku tersenyum.


“Terima kasih. Kamu memberiku seorang putri yang sangat cantik.” Dia menatapku dengan mata yang masih merasa bersalah.


“Tidak perlu berterima kasih. Walaupun kedatangannya tidak direncanakan, aku tidak menyesal memilikinya.” Aku menundukkan kepalaku, melihat ke arah tautan kedua tanganku.


“Selagi kita membicarakan dia, apa pria itu pernah menyakitinya?” tanya Hendra. Aku mengerutkan kening tidak mengerti. “Pria yang tadi membuat Dira ketakutan di restoran.”


“Tidak. Kamu tahu bahwa Dira selalu bereaksi seperti itu kepada orang yang belum dikenalnya. Dia juga melakukannya saat kamu datang pertama kali ke rumah,” kataku mengingatkan. Dia mengangguk pelan, lalu sebuah senyuman menghiasi wajahnya. “Ada apa?”


“Aku ingin menambah minumanku, apa kamu juga mau?” Dia melirik ke arah mug-ku yang sudah kosong. Aku menggeleng pelan.


Aku menguap dengan lebar. Sudah saatnya untuk tidur. Aku mengambil mug dari atas meja lalu membawanya ke dapur. Hendra benar-benar membuat minuman hangat lagi. Kalau dia lapar, mengapa dia tidak memakan sesuatu saja?

__ADS_1


“Aku tidur, ya. Selamat malam,” pamitku setelah menguap lagi. Dia menoleh ke arahku. Tiba-tiba saja dia mengecup bibirku, lalu mengucapkan selamat malam. Aku membulatkan mataku. Dia juga melakukan hal yang sama.


“Ma-maafkan aku. Aku tidak bermaksud.” Wajahnya yang putih pucat itu segera bersemu merah.


“Iya. Tidak apa-apa.” Sebelum keadaan semakin canggung, aku bergegas masuk ke kamar.


Hanya sebuah ciuman selamat malam. Tidak berarti apa-apa. Aku terus mengatakan itu di kepalaku untuk tidak menimbulkan harapan di dalam hatiku bahwa dia masih menginginkan kami untuk bersama. Empat hari lagi, maka kami tidak perlu bersama seperti ini.


Keesokan harinya kami pergi tanpa membawa anak anjing itu lagi. Aku jadi kasihan saat melihat wajah sedihnya tadi. Tetapi Hendra adalah majikannya. Jika dia tidak ingin membawanya, maka kami sedang menuju tempat di mana hewan peliharaan tidak diizinkan masuk.


“Kemarin melihat hewan, hari ini tumbuh-tumbuhan? Rencana kamu boleh juga,” pujiku tulus.


“Hadi tidak harus ke sekolah untuk belajar, ‘kan?” Benar juga. Aku sangat menghargai usahanya ini. Dia menolong putra kami keluar dari mobil, lalu berputar dan mengambil Dira dari pelukanku. “Biar aku yang membawanya. Anak papa senang bisa jalan-jalan lagi?” Gadis kecil itu segera tertawa bahagia saat Hendra mencium pipinya.


“Pa, apa kita akan terus tinggal bersama seperti ini?” tanya Hadi saat kami sedang berjalan menuju lokasi berikutnya.


“Apa kamu sudah lapar? Kamu mau makan apa?” tanya Hendra mengalihkan pikiran Hadi. Dia tidak bisa menghindari pertanyaan itu terus. Putra kami akan bertanya lagi nanti.


Hendra tidak mengajak kami makan malam di restoran sehingga aku sangat senang saat mencium aroma masakan begitu pintu vila dibuka. Kami makan lebih dahulu sebelum mandi. Aku tahu dia melakukan ini agar kami tidak bertemu secara tidak sengaja dengan Dicky lagi.


Untuk menghindari insiden yang sama, aku tidak menonton bersamanya atau duduk mengobrol di sofa seperti malam-malam sebelumnya. Udara dingin di tempat ini sepertinya membuat kami tidak bisa menahan dorongan dari dalam diri masing-masing. Aku tidak ingin kejadian pada malam tiga tahun yang lalu itu terulang lagi.


Walaupun orang-orang di dekatku tidak mengatakan hal yang buruk mengenai kehadiran Dira, orang lain tidak akan berpikir serupa. Pasti ada orang di luar sana yang mencap aku sebagai perempuan nakal atau murahan. Aku mengandung saat aku dan suamiku telah dua tahun resmi bercerai. Itu adalah aib. Dan aku yakin, kedua mertuaku semakin membenciku karena hal itu.

__ADS_1


Aku ikut sedih melihat wajah kecewa Hadi dan Dira menatap hujan di teras samping. Kami tidak bisa pergi ke mana pun hari ini. Anak anjing itu bahkan ikut meringkuk sedih di antara paha Hendra dan Hadi. Mengapa mereka malah duduk di lantai dan diam saja menatap hujan?


“Ah, aku punya ide!” Hendra segera berdiri dan menurunkan Dira dari gendongannya. Hadi, Dira, dan anak anjing itu mengikutinya.


“Papa! Papa!” teriak Dira yang tidak bisa mengikuti kecepatan langkah Hendra. Aku menggandeng tangannya dan membawanya bersamaku melihat apa yang sedang dilakukan papanya di sebuah ruangan yang tidak dipakai.


“Nah, ketemu!” sorak Hendra yang keluar sambil membawa sebuah benda berwarna biru. Apa itu? Kami yang penasaran, mengikutinya kembali ke teras samping. “Beri aku ruang, jangan terlalu dekat.” Dia membuka lebar benda itu dan aku mengerti. Ini ide yang sangat bagus!


Aku membantunya memasang tenda yang berbentuk kubah besar tersebut. Kami tidak memerlukan tali atau kayu untuk dipancangkan. Tendanya praktis karena sudah ada kerangkanya sendiri. Sebentar saja kami berhasil mendirikannya. Hadi bersorak senang dan segera masuk ke dalam, sedangkan Dira hanya berdiri sambil memegang celana papanya.


Sambil menggendong Dira, Hendra mengambil beberapa keperluan dari gudang tadi. Bantal, alas tidur, meja kecil, bahkan lampu listrik sebagai penerang. Hadi datang membawa boneka pandanya. Melihat itu, Dira meminta diturunkan dari gendongan papanya dan berjalan sendiri ke kamarnya untuk mengambil boneka panda miliknya.


Kami duduk bersama di dalam tenda dengan minuman hangat di tangan kami masing-masing. Dira duduk di pangkuan Hendra, sedangkan Hadi bersandar di lengan papanya. Anak anjing itu meringkuk di kaki tuannya. Aku duduk tidak jauh dari mereka, mulai merasa sebagai orang asing yang tidak diundang. Hm.


“Pa, apa Papa sayang kepadaku dan Dira?” tanya Hadi pelan.


“Tentu saja, Nak,” jawab Hendra.


“Aku juga sayang Papa.” Hadi memeluk lengan ayahnya.


“Sayang Papa,” ucap Dira meniru kakaknya. Aku tersenyum melihat mereka. Mata Hendra berkaca-kaca mendengar kalimat yang diucapkan kedua anaknya.


“Bagaimana dengan Mama?” tanya Hadi kemudian. “Apa Papa sayang kepada Mama?”

__ADS_1


__ADS_2