
Hendra segera membopong Mama dan membawanya keluar dari ruangan. Papa mengikutinya. Aku berusaha untuk menyamakan langkah dengan mereka, tetapi tidak bisa. Zach dan Rasmi datang mendekat saat aku akan menuruni tangga dan membantuku. Aku melihat ke sekelilingku. Keadaan rumah sudah sepi. Hanya ada teman-temanku dan suami mereka.
Para wanita yang baik hati ini pasti membenciku sekarang. Bahkan Claudia yang baru saja begitu bahagia memberi putraku hadiah dan memujiku pasti tidak menyukaiku lagi. Semua orang kini sudah tahu betapa kotornya aku. Kotoran yang sudah sepantasnya dijauhi.
Kafin mengemudikan mobil yang membawa suami dan orang tuaku, sedangkan Zach dan Rasmi membawaku dan mengikuti mereka tidak jauh dari belakang. Aku hanya bisa menangis dalam pelukan calon adik iparku. Jika sesuatu yang buruk terjadi kepada Mama, aku akan menyesal seumur hidup. Akulah yang telah menyebabkan Mama sakit lagi.
“Kak, kamu sedang hamil. Jangan persulit dirimu dengan pikiran negatif. Mama akan baik-baik saja. Mama adalah wanita yang kuat,” ucap Zach mengingatkan aku. “Jadi, kamu juga harus kuat.”
“Kamu masih menganggapku kakakmu setelah mendengar omongan Aldo tadi?” tanyaku tidak percaya. “Aku sudah membuatmu malu.”
“Aku bahkan tidak akan terkejut jika benar anak itu adalah anaknya. Kamu sudah lama mencintainya. Entah apa yang membuatmu akhirnya setuju menikah dengan Kak Hendra, tetapi kita sama, Kak. Kita tidak mudah melepaskan orang yang pernah kita cintai. Tidak peduli sesakit apa pun luka yang sudah dia torehkan,” kata Zach. Aku terisak.
“Maafkan aku. Aku memohon kepada kalian semua, maafkanlah aku,” ucapku.
Sampai di bagian gawat darurat, kami segera mencari Mama di setiap bilik yang ada. Suster segera meminta kami keluar ketika kami memasuki bilik yang tepat. Hanya Papa yang diizinkan tetap berada di kamar rawat. Suamiku mendekat, aku segera mundur menjauhinya.
“Sayang, aku tidak marah kepadamu.” Dia tersenyum kepadaku. Aku menatapnya tidak mengerti. “Laki-laki itu sengaja melakukan ini dan kamu tidak bersalah. Berhenti menyalahkan dirimu, kamu juga tidak perlu menjauh dariku.” Ketika dia mendekatiku lagi, aku tidak menghindar. Tangisku pecah saat berada di dalam pelukannya.
“Maafkan aku. Maafkan aku, Hendra,” isakku memohon pengampunannya.
“Aku sudah memaafkanmu, sayang. Sudah cukup. Berhentilah meminta maaf,” bisiknya.
Setelah memeriksa keadaan Mama, dokter memarahi kami semua. Kondisi Mama bisa lebih buruk jika kami terlambat datang. Kami diminta untuk tidak memberinya berita buruk atau kabar bahagia yang berlebihan yang membuat jantungnya bekerja lebih keras dari biasanya.
__ADS_1
Mama akan dirawat selama beberapa hari sampai keadaannya cukup stabil untuk dirawat di rumah. Kami semua diminta pulang agar kami bisa beristirahat. Hendra menyewa sebuah kamar di rumah sakit untuk Papa sehingga dia bisa menjadi orang pertama yang datang saat Mama membutuhkan sesuatu. Zach dan Rasmi pulang untuk mengambil keperluan Papa dan Mama dari rumah.
Hari bahagia malah berubah menjadi bencana. Aku sangat berharap mulai dari hari ini segalanya bisa berjalan dengan normal. Pulih seperti semula. Hubunganku dan Hendra bisa berjalan seperti sedia kala. Orang tua bisa dengan tenang menantikan kelahiran cucu pertama mereka. Teman-teman juga ikut merasakan kebahagiaan yang dimiliki keluarga kecilku.
Tetapi semuanya sudah hancur. Mama jatuh sakit karena ulahku. Kedua mertuaku bahkan tidak mau repot-repot datang menyusul ke rumah sakit. Mereka pasti sangat membenciku dan keluargaku sekarang. Teman-teman pasti malu dengan perbuatanku dan aku tidak akan heran bila mereka tidak mau lagi bertemu denganku.
Pemandangan di halaman rumah menepis pikiran burukku. Mobil teman-temanku masih ada di pekarangan rumah kami. Hendra membantuku keluar dari mobil dan kami masuk ke rumah bersama. Teman-temanku menyambut kedatanganku. Mereka semua menatapku dengan khawatir.
“Apakah Tante Anya baik-baik saja?” tanya Darla khawatir.
“Mama sudah baik-baik saja. Dia akan menginap beberapa hari di rumah sakit sampai keadaannya stabil.” Hendra yang menjawab.
“Bagaimana dengan kalian? Apa kalian baik-baik saja?” tanya Lindsey.
“Kami baik-baik saja.” Hendra melepaskan genggaman tangannya dan merangkul bahuku. “Kalian pasti sudah lelah. Maaf, sudah membuat kalian menunggu.”
“Terima kasih banyak, Qiana,” ucap Hendra.
“Zahara, kamu baik-baik saja?” tanya Darla. Aku memberanikan diri mengangkat kepalaku dan melihat ke arahnya. Aku mengangguk pelan. “Kami akan datang lagi besok. Aku akan membawakan banyak buah dan bumbu rujak kesukaanmu.”
“Aku akan membawa banyak es krim,” ucap Qiana menimpali.
“Dan aku akan membawa kue juga roti,” kata Lindsey.
__ADS_1
“Kalian sedang membicarakan apa?” tanya Claudia bingung.
“Kami akan datang ke sini besok dan menyebutkan makanan apa yang akan kami bawa,” jawab Lindsey. Claudia terlihat berpikir sejenak.
“Aku akan bawa piza! Aku tidak akan melewatkan pesta makan kalian besok,” ucapnya girang.
“Mengapa? Mengapa kalian masih mau datang? Apa kalian tidak malu berteman dengan orang sepertiku?” Aku tidak bisa menahan isakku lagi.
Teman-teman malah datang mendekat. Hendra melepaskan rangkulannya sehingga mereka bisa memelukku. Aku hanya bisa menangis. Aku telah berbohong kepada mereka. Ketika mereka begitu jujur menceritakan masalah mereka kepadaku, aku malah menutupi setiap kekuranganku. Aibku justru terbongkar di depan banyak orang.
“Hei, yang salah adalah laki-laki itu. Dia tidak berhak mempermalukanmu di depan banyak orang di rumahmu sendiri. Kamu harusnya usir dia atau laporkan ke polisi. Semua orang pernah melakukan kesalahan dan itu normal. Kamu hanya manusia biasa, Zahara.” Claudia mencoba menghiburku.
“Maafkan aku. Aku meminta maaf kepada kalian semua,” isakku.
“Cukup, berhenti menangis. Kamu membutuhkan istirahat. Perhatikan kesehatanmu juga bayimu. Kita akan bicarakan ini besok.” Darla menyeka wajahku. Mereka juga terlihat menitikkan air mata.
Mereka pamit setelah bergantian memeluk dan mencium pipiku. Aku dan Hendra berdiri di teras sampai mobil mereka keluar dari pekarangan rumah kami. Suamiku mempersilakan Abdi dan seluruh pekerja untuk beristirahat, lalu kami berjalan menuju tangga.
Hendra tidak mengatakan apa pun mengenai insiden hari ini. Dia hanya menyuruhku membersihkan diri, lalu bersiap tidur. Tetapi aku tidak bisa tidur. Aku hanya bisa duduk di tepi ranjang, menunggu sampai dia selesai mandi. Aroma sabunnya segera memenuhi kamar saat pintu kamar mandi terbuka.
“Mengapa kamu tidak berbaring?” tanyanya mendekatiku. Dia duduk di sampingku.
“Apakah kita baik-baik saja?” Aku menatap kedua matanya.
__ADS_1
“Kita baik-baik saja.” Dia membelai pipiku. Air mataku mendesak keluar mendengar kalimat itu. “Apa kamu takut aku akan menjauhimu lagi karena ini?” Aku mengangguk.
“Aku takut saat aku bangun esok hari, kamu sudah pergi keluar kota lagi untuk waktu yang lama.”